
"Ahh, aku akan menyiapkan makan siang"
"Tak perlu, Begini saja aku sudah kenyang" ucapnya seraya mengeratkan pelukan.
"Bukan untukmu, untukku..." Agnes tertawa membuat Keyno menyerang dan menghujani wajahnya dengan kecupan-kecupan manis.
"Key, stop.. "
"Tidak!"
"Tak boleh kemana-mana, disini saja" sambung Keyno membawa Agnes dalam pelukannya secara sepihak, tubuh ramping itu terkungkung rapi dibawah kuasa Keyno hingga membuat Agnes menghembuskan nafas pasrah.
"Aku lelah jadi temani aku" celotehnya seraya menghirup aroma tubuh wanitanya di area perpotongan leher jenjang itu.
"Maka tidurlah, biarkan aku bangun" pinta Agnes tanpa menolak sedikitpun perlakuan Keyno, jujur dia juga menyukai jika Keyno manja seperti ini.
"Aku akan memesan makanan untukmu" Lelaki dengan mata sayu karena kurang tidur itu meraih ponselnya lalu menekan sebuah nomor telepon dan mengatakan menu pesanannya, kemudian menutupnya dengan terburu dan kembali meraih pinggang Agnes, menciumnya lalu kembali menutup mata indahnya.
Agnes hanya diam tak bergeming, betapa ia sangat beruntung memiliki Keyno, lelaki tampan mapan sedang memeluknya seakan tak ingin terlepas saat ini.
Tapi...
Mimpi..
Bukan Mimpi
Agnes sangat meyakini apa yang dilihatnya beberapa minggu terakhir bukan mimpi. Agnes bukanlah wanita naif, bukan wanita lugu dan polos. Ia wanita pintar dan punya segudang keahlian. Hanya saja, dibawah kendali Keyno ia seakan takhluk.
Untuk kali ini, ia merahasiakan apa yang ia alami dengan sangat rapi sesuatu yang ingin ia tahu, sesuatu yang mungkin Keyno sembunyikan dibalik sifat posesif dan temperamennya.
Jari jemari lentik itu terulur mengelus lengan berotot Keyno, salah satu dari jari itu melingkar cincin berlian pertanda hubungan terikat dan takkan pernah berakhir, Agnes mendongak sedikit, kembali menatap lelakinya, menatap dalam wajah teduh kelelahan yang sedang terpaut dialam mimpi.
__ADS_1
"Sebenarnya aku ini apa bagimu?" lirihnya.
"Nyawaku"
Keyno menjawab tanpa membuka matanya membuat Agnes terkejut dan sontak menarik tangannya dari lengan lelaki itu.
"Sudah ku katakan, kau segalanya bagiku" tambahnya lagi.
"Kau tidak tidur" Kesal Agnes menjauhkan diri dari Keyno lalu bangkit, bersamaan dengan itu bel rumah berbunyi.
"Aku saja" Secepat kilat Keyno sudah berjalan mendahului Agnes untuk membuka pintu depan yang ia yakini pengantar makanan. Agnes tak peduli, ia mengikuti langkah kaki Keyno seraya mengomel lebih baik Keyno dikamar saja karena lelaki itu tak mengenakan baju dan hanya mengenakan bokser rumahan.
"Kau takut aku menjadi milik orang lain?" tanya Keyno berbalik badan dan menggoda Agnes.
"Kau sudah berkali-kali menjadi milik orang lain" Balas Agnes merasa tak mau kalah.
"Tidak. Aku hanya milikmu!" Jawabnya kembali santai lalu meneruskan langkah membuka pintu depan.
Ok, Agnes bukan wanita bodoh. Tapi mengapa disini Agnes seakan menjadi korban Keyno?
Sama seperti Keyno, Agnes adalah wanita dominan. Ia tak mau dikuasai Keyno, tapi ntah bagaimana trik dan cara Keyno hingga ia bisa membuat Agnes begitu takhluk padanya. Orang mungkin takkan percaya, tapi inilah cinta bagi mereka.
"Pesananmu sayang!" seorang wanita berperawakan tinggi dengan baju seperti belum jadi menyodorkan beberapa kotak makanan yang tadi dipesan Keyno.
"Kau merangkap jadi kurir sekarang?" tanya Keyno penuh sindiran lalu mengambil benda itu dengan terburu.
"Huft" Wanita itu memainkan tangannya, menghindari tangkapan Keyno. lalu menatap ruangan kosong dibalik badan Keyno "Kau tak menyuruh aku masuk?" tanyanya sedikit berbisik.
"Tidak, ini bukan areamu!" Tegas Keyno.
"Wanitamu di dalam?" tanyanya lagi seraya tersenyum simpul. "Jika dia tahu, kau akan menderita Key!" bisiknya kemudian
__ADS_1
"Pergilah!!" ucapnya dengan ekspresi datar menahan emosi.
BRAAKKK
Keyno menutup pintu dengan cukup keras. Ia bahkan menendang pintu berkali-kali melampiaskan amarah yang baru saja ia dapatkan ketika mendengar perkataan wanita itu.
Suara Keyno bahkan membuat Agnes berlari ke arahnya, setengah terkejut ia memanggil Keyno yang sedang mengacak rambut frustasi.
"Apa yang terjadi? Siapa?" tanya Agnes mendekat.
"Nes, kau suka pasta kan? Ayo kubuatkan untukmu" Keyno menarik tangan Agnes agar segera menjauhi pintu. Tak terlihat lagi Keyno yang sedang marah, saat ini wajah itu dihiasi senyuman, manis sangat manis untuk Agnes lewatkan.
"Kau tak menerima pesanannya?" tanya Agnes menyelidik
"Kurir itu pernah jadi teman tidurku di hotel, aku punya prinsip takkan berhubungan 2x dengan orang yang sama" jawab Keyno enteng seraya membuka pintu kulkas mencari persediaan bahan makanan. Ia hanya berbicara asal tadi ingin membuatkan Agnes pasta tanpa ia tahu ada bahan atau tidak.
"Aku tak sudi jika ia yang membawakan makanan untukmu" lanjutnya.
Agnes mengangguk santai lalu bergumam kecil "bajingan" terdengar samar oleh Keyno.
"Kau mengatai aku?"
"Ya!"
"Kau cemburu?" Keyno tersenyum sumbang.
"Tak usah dijawab, aku sudah tahu jawabanmu Agnesku" Keyno bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri, asyik dengan kegiatannya dan sesekali memandangi Agnes yang sepertinya tak peduli.
"Kau manis bahkan jika sedang marah atau bersikap cuek padaku" ucapnya.
"Key,....?"
__ADS_1