Semestaku

Semestaku
Dunia baru


__ADS_3

Udara segar menyeruak menembus rongga dada, mengalir mengantarkan kedamaian yang terasa tenang hingga ke sanubari. Jelas saja, rintik hujan kecil menemani malam hingga fajar menyapa, membuat tempat yang dipenuhi pepohonan hijau ini terasa begitu sejuk dan menenangkan.


Agnes menguncir rambutnya pelan, menyisakan helaian halus yang menjuntai di sekitar pipinya. Tubuh mulusnya di balut oleh dress floral daisy selutut dipadukan dengan outer warna putih menutup kedua lengannya. Dia tampak anggun, tentu saja semua pakaian itu atas selera Keyno, karena memang dia yang membelinya kemarin.


Kakinya jenjangnya melangkah melalui ambang pintu kaca, berjalan sedikit berjingkat dan sesekali melompat mengekspresikan perasaan yang begitu damai pagi ini, ia menghela nafas dalam-dalam, menikmati semua pemandangan di tempat ini.


Kupu-kupu tampak terbang dari satu kembang ke kembang yang lain, menyesap madunya dan membantu penyerbukan tanaman itu agar selalu bisa menghasilkan benih-benih indah, untuk menghiasi dan mengisi lahan cantik ini.


Bagaimana pun hidupnya, Agnes adalah wanita kuat yang selalu bisa mengatasi bagaimana pun buruk keadaan. Ia akan selalu bisa bahagia, meskipun Keyno berkali-kali menyakitinya. Tidak, Keyno tak menyakitinya pria itu hanya sedang mempertahankan pendapatnya untuk kebaikan wanitanya dan Agnes tahu hal itu.


Argghh... Sekeras apapun Agnes menolak, ia takkan bisa menyangkal hatinya dan perasaan terdalamnya bahwa Keyno lah pemenang segala medali dan trofi hidupnya, tak peduli berulang kali kecewanya dia karena ulah pria itu, Agnes akan tetap mencintainya.


Agnes memetik setangkai bunga mawar putih, tidak besar. Namun bunga itu mencuri perhatiannya karena dihinggapi beberapa ekor kupu-kupu bersayap ungu, bahkan ketika wanita itu memetiknya kupu-kupu itu tak bergeming seakan ingin berteman dan lebih dekat pada Agnes. Wanita itu takjub, ia memandangi kuntum itu cukup lama, jika dihitung ada 16 belas kelopak bunga bergandengan dan mekar, membentuk satu kesatuan yang indah. Dan kupu-kupu itu masih bertengger disana sebelum akhirnya terbang karena jemari halus Agnes ingin mengelus mereka.


Di kejauhan sana, samar dari fokusnya pada mawar tampak seorang lelaki sedang berjongkok dengan senyuman menawan, meskipun wajahnya sedikit tertutup oleh rambut mode commanya tapi tak menyurutkan karisma dan pesonanya.


Senyum lembut menenangkan keresahan jiwa terpancar dari wajah Agnes. Bagaimana tidak? Ia bagaikan melihat seorang prianya sedang bermain dengan anaknya, satu kerinduan terbesar dalam hidupnya walaupun mungkin takkan pernah terwujud.


Agnes melangkah menuju keberadaan Keyno, menghampiri laki-lakinya dan kucing kesayangannya, ia ingin memeluk mereka, melupakan segenap apapun yang terjadi dihari-hari kemarin.


Jleb


Keyno menoleh ke samping saat suara benda terjatuh mengusik telinganya, disana terjerambab tubuh kurus Agnes dengan mata terpejam, ntah apa sebab wanita itu terjatuh diatas hamparan rumput hijau di antara tanaman hias dan bunga bermekaran.

__ADS_1


"Nes..!!"


Secepat kilat Keyno berlari ke arah Agnes, memangku kepala wanita itu ke atas pahanya. Panik. Keyno teramat panik hingga tangannya kembali bergetar saat ia berusaha menggoyangkan tubuh Agnes agar wanita itu tersadar.


"Nes, jangan bercanda!" Ucap Keyno tertahan mendapati Agnes tak bergerak sedikit pun setelah memanggil berulang kali dan mengecek bagian tubuh wanita itu jika saja ada yang kembali terluka.


"Kau melakukan apa lagi?" tanyanya dengan suara bergetar khawatir.


Seperdetik kemudian, Keyno mengangkat tubuh lemah itu dan membawanya masuk ke dalam vila, membiarkan wanita itu terbaring tenang di atas sofa bulu berwarna abu, Keyno kemudian membuka outer serta sendal yang tersisa sebelah kiri, sebelah kanan? ntah lah Keyno tak menghiraukan benda itu tertinggal dimana.


Ia memeriksa beberapa titik utama untuk memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja. Terang saja, ia melakukan semuanya dengan tangan bergetar dan hembusan nafas terengah. Saking khawatirnya, Keyno bahkan kesulitan mengatur nafasnya sendiri.


Keyno menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia menghubungi seseorang. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi, Pasti lah terjadi sesuatu pada Agnes. Bukan, bukan karena wanita ini menyakiti dirinya sendiri lagi, melainkan ada sesuatu yang Keyno sadari.


...💐💐💐...


Naki menjaga toko bunga hari ini, sudah beberapa hari ia tanpa Agnes. Tak ada kabar apapun baik dari Agnes maupun suaminya Keyno. Tadi pagi, Ia hanya melihat berita sekilas bahwa model Keyno Irawan sedang syuting iklan produk unggulan perdana dalam negeri itu. Tentu itu menghebohkan karena sebelumnya tak ada yang merilis produk serupa itu dalam negeri.


Pria ini bukanlah semata-mata karyawan Agnes, ia adalah sahabat Agnes sejak dulu, Pria ini lah yang menemani Agnes dan menjadi saudara terdekatnya, orang kepercayaan Agnes setelah Keyno.


Ia juga mempunyai kekasih bernama Oliv, kekasih yang sama berharganya dengan Agnes. Tak jarang, mereka menghabiskan waktu bertiga karena Keyno sangat sangat jarang bergabung bersama mereka. Selain sulit menemukan jadwal yang pas, Keyno juga tidak suka jika ada orang lain selain Agnes bersamanya.


Kali ini, Naki menekan nomor ponsel Agnes untuk menanyakan bagaimana keadaan wanita itu dan ingin Memastikan sahabatnya baik-baik saja karena tak terdengar kabar apapun walau hanya cuitan burung-burung di udara.

__ADS_1


"Ada apa?"


Naki terkejut, namun ia bisa mengenali suara ini. Siapa lagi? suara anak manusia yang dicintai Agnes hingga ke tulang-tulang.


"Hm, Keyno?" Naki berdehem sebelum melanjutkan kata-katanya "Aku ingin tahu bagaimana kabar Agnes sudah beberapa hari dia tak kemari, apakah dia baik?" tanya Naki pelan.


"Dia baik. Dia bersamaku. Apa lagi?" Pertanyaan Keyno terkesan acuh dan dingin membuat Naki enggan melanjutkan percakapan.


"Jika hanya itu, ku tegaskan lagi. Dia baik, aku sedang bersamanya. Jika tak ada lagi, ku tutup. Jaga baik-baik toko istriku!" Singkat, lugas, padat dan jelas begitu lah jika berbicara dengan Keyno. Sambungan telepon terputus. Naki hanya menghela nafas pelan, sudah biasa Keyno bersikap seperti itu padanya. Ia tahu, lelaki itu akan selalu merasa cemburu siapapun laki-laki yang menghubungi Agnes. Dan hal itu ia anggap wajar karena ia tahu betapa besar cinta pria itu pada wanitanya. Tak bisa di lukiskan dengan kuas dan di gambarkan dengan tinta.


Sementara di samping Agnes terbaring, Keyno tengah memegangi tangan istrinya gusar. Mengusap dan sesekali menciumi punggung tangan itu seakan tak ingin apapun terjadi pada Agnes. Mulutnya terus saja berucap hal-hal yang ingin ia lakukan bersama Agnes, kebahagiaan, keceriaan, dunia baru dan kehidupan baru serta janjinya pada Agnes.


Berbisik dan berbincang seolah Agnes menanggapinya, matanya merah dengan sudut berembun. Kilatan mata itu sanggup membuat siapa saja yang melihatnya hancur dan berantakan, tak ada yang lebih sakit selain melihat seseorang sedang menahan sakit dan berusaha terlihat kuat.


"Ness... ingat janjiku? dunia baru yang sedang ku persiapkan untukmu, untuk kita" lirihnya terbata-bata, tangannya bergetar halus mengusap jemari Agnes. "Kau selalu bilang bahwa kau akan selalu di sisiku, tak peduli bagaimanapun sikapku.."


"Berhenti lah menjadi sempurna, kau saja sudah sempurna untukku" Keyno terus saja berucap sebelum akhirnya decitan rem mobil mendarat di halaman Villa.


Sebuah mobil sport dengan kecepatan tinggi dengan seorang supir yang ia tunggu sedari tadi menghampirinya dan mengatakan sesuatu.


Singkat saja, Keyno mengangkat tubuh Agnes ke dalam mobil dan memerintahkan seseorang disana menuju lokasi yang ia sebutkan.


"Sudah saatnya mengganti chip itu"

__ADS_1


...-----...


__ADS_2