
Keyno tiba di rumahnya, menenteng sebuah paperbag berukuran sedang dan sebuah buket bunga lili berukuran besar, bahkan Keyno harus memeluk buket itu sakingkan besarnya.
Pria muda itu tersenyum senang saat menemukan Agnesnya tengah duduk santai seraya memainkan macbook di sofa. Seluruh ruangan dipenuhi wewangian mawar, kuntum dan kembangnya pun terlihat tertata rapi di setiap ruangan rumah ini, Keyno tersenyum bangga. Ia memeluk tubuh ramping Agnes dan menciuminya berkali-kali.
"Kau mengagetkanku" Ucap Agnes terkejut dan Keyno masih terus menciumnya.
"Kau suka?" Keyno duduk disamping Agnes, mengambil buket bunga yang tadi ia letakkan di meja.
"Aku lebih menyukaimu, Keyno!"
Haha.
Keyno tertawa, Wajah Agnes begitu menggemaskan, Jelas ia berlebihan mengirim bunga sebanyak ini, bahkan halaman depan terlihat berubah merah karena kelopak bunga yang di tabur.
"Kau membuat rumah ini seperti kuburan" Gerutu Agnes. Lagi-lagi Keyno tersenyum dan kembali menciumi wajah yang menurutnya tak ada sandingannya.
"Bukan, rumah ini seperti istana. Kau ratuku!" ucapnya mengambil dan mencium tangan Agnes.
"Mengapa bunga Lili?" tanya Agnes sesaat setelah menyadari isi buket yang ia terima, Lili putih lebih dari seratus kuntum, wanginya menawan tapi Agnes ingin tahu mengapa bukan mawar? seperti yang pria itu kirimkan seharian ini.
"Pengabdian" Keyno menjawab singkat. Lalu tangannya meraih paperbag dan menyerahkan pada Agnes, wanita itu menyingkirkan macbook dari pangkuannya dan mengambil hadiah dari Keyno.
"Aku ingin kau memakainya malam ini" Pinta Keyno.
Agnes memperhatikan hadiah dari Keyno, sebuah dress berbahan satin dengan model V neck tanpa lengan, belahan dadanya sedikit terbuka, terkesan mewah namun tetap simple.
"Apa kau lebih menyukai aku juga dari pada gaun itu?" Tanya Keyno berkedip menggoda Agnes, pipi wanita itu tampak merona, dipastikan ia menerima hadiah itu dengan senang hati.
"Aku akan memakainya" Agnes berlalu menuju kamarnya, meninggalkan Keyno dengan senyum puasnya. Tak sia-sia ia meninggalkan acara pertemuan dengan brandnya hanya untuk memilih gaun yang cocok untuk Agnes.
"Kau sudah siap?" Keyno tampak terpukau sesaat, menyaksikan Agnes memakai gaun berwarna maroon itu, rambutnya di cepol dengan elegan, ntah lah wanita itu membuatnya gelagapan jika sudah berdandan.
"My Universe" gumam Keyno terpana, kakinya perlahan melangkah mendekati Agnes, wanita itu terlalu menarik untuk di tolak, pesonanya bagaikan magnet yang menarik Keyno tanpa punya daya lebih untuk menolak.
"Kau cantik" Keyno berbisik seraya memeluknya lagi.
"Kita akan kemana?" tanya Agnes merapikan dasi Keyno. Lalu mencium bibir tipis pria itu, Bagi Agnes, Keyno lebih memukau apabila sedang takjub seperti saat ini.
"Ke suatu tempat"
...***...
"Dimana Keyno, aku belum melihatnya" Tanya salah seorang tamu di pertemuan itu, Delvin hanya mengatakan jawaban andalannya, Keyno sedang ada urusan yang tak bisa di tinggalkan.
__ADS_1
Siapapun yang bertanya mendapat jawaban yang sama dari Delvin, bahkan ini untuk kesekian kalinya orang-orang bertanya kemana Keyno.
Delvin menggeram, Sebenarnya Keyno hadir di acara ini tapi ia tak bisa fokus dan terus memikirkan Agnesnya, Bayangkan saja di tengah perjamuan bersama brand-brand ternama Keyno mengacuhkan orang-orang penting disana dan memilih memantau tabletnya yang memperlihatkan sambungan cctv ke rumahnya, siapa lagi? Agnes lah tontonan favoritnya. Ia tersenyum senang bahkan tertawa lepas saat melihat tingkah Agnes, wanita itu begitu kesal menerima kiriman bunga yang tak ada hentinya. Semua kegiatan wanita itu berada dalam pengawasannya. Agnes tidur, Agnes makan semuanya terpantau oleh Keyno. Dan itu berlangsung seharian ini, Keyno hanya fokus ketika pemotretan, setelahnya ia akan memantau tabletnya.
Saat break makan siang pun, Keyno menunjukkan kegiatan Agnes pada Delvin, beribu-ribu kali mengucapkan bahwa wanitanya sangat cantik sampai Delvin bosan mendengarnya.
Gila
Delvin selalu mengatakan bahwa Keyno Gila, tapi modelnya itu hanya menanggapi dengan tawa renyah, ia hanya mengatakan bahwa Delvin tidak tahu rasanya mencintai orang yang tepat, Keyno sedang menyinggung hubungan percintaan manajernya yang kandas beberapa tahun lalu. Delvin kena skak, ia tak bisa berkata lagi.
Itu lah sebabnya Delvin menyuruh Keyno pulang saja daripada acara semakin berantakan, Keyno si keras kepala itu takkan pernah menghentikan kesukaannya, lebih baik Delvin mencari jalan pintas agar kepalanya tidak terus berdenyut akibat ulah Keyno. Antisipasi.
"Keyno tak datang?" Tanya salah seorang kemudian. Delvin mengenali orang ini, Mario.
"Ya. Apa urusanmu?" tanya Delvin tak suka.
"Ia tak lupa hari bahagia wanitanya" Ujar Mario meneguk minumannya, meskipun berbicara santai tapi dari pandangan matanya Mario menahan kekecewaan.
"Apa urusanmu kemari?"
"Hei, semua orang ada disini! Aku juga memiliki peran penting diantara brand-brand ini" Mario membenarkan jasnya lalu mengibaskan dengan angkuh, setelah puas berbincang dengan Delvin ia berlalu pergi ntah kemana.
...***...
Keyno tiba disebuah restorant private yang telah dipesannya, meja dengan taburan bunga dan lilin menghiasi ruangan itu, Romantis sesuai permintaan Agnes.
"Ini bonekaku"
"Bukan, ini punyaku"
Dua orang anak kecil berumur lima tahun terlihat memperebutkan sebuah boneka kelinci, seakan tak ingin kalah satu sama lain mereka terus berdebat.
"Aku yang duluan menerimanya"
"Aku yang duluan"
"Aku akan melaporkan pada mama dan papa"
"Aku tidak takut, mama akan membelaku"
"Pokoknya ini punyaku"
"Punyaku...!!"
__ADS_1
Mendengar perkelahian kecil itu Agnes tersenyum. Ia terpaku menatap kedua anak kecil itu, sepertinya mereka kembar. Mereka berdandan serupa dan mengenakan gaun yang mirip.
Ia menyesap minumannya lalu menatap Keyno yang sudah sedari tadi menatapnya.
"Kau semakin cantik" kata Keyno. Ia bahkan menyangga dagunya untuk memperhatikan Agnes "Terus lah seperti itu" katanya kemudian.
"Keyno, mereka lucu. Apa kau tak lihat?" tanya Agnes.
"Satu-satunya yang ku lihat hanya dirimu, Mine!" jawab Keyno.
"Mereka sangat menggemaskan"
"Agnes... kita bisa mengadopsi anak jika kau mau" Keyno mengusap pipi Agnes, lalu menyuapi sepotong cake smoothies kepada wanitanya.
"Key, Apa salahnya kau-----"
"Sssttt!" Keyno memotong ucapan Agnes "Aku tidak mau marah denganmu sekarang" Lalu ia bangkit berdiri dan melerai kedua bocah kecil itu kemudian mengantar mereka kembali pada orangtuanya, meskipun private tempat ini juga di kunjungi oleh orang-orang yang sama sepertinya, ingin makan malam romantis.
Agnes mengigit bibirnya, ada kegelisahan yang tak mampu ia bendung, ia hanya menggulung-gulung pasta dengan garpunya tanpa berniat untuk memakannya.Sampai Keyno kembali pun, Agnes masih melakukannya.
"Harusnya ku booking keseluruhan tempat ini, agar tak ada yang menganggu" mengusap pipi Agnes lagi "Aku tak mau kau banyak pikiran" ucapnya dibarengi tatapan lembut penuh kekhawatiran.
Agnes diam, dia tak berselera lagi meskipun Keyno, pria itu terus saja memandangnya, bahkan mengambil tangannya dan menciumnya berkali-kali. Harusnya Agnes mengikuti saja perkataan Keyno, mengadopsi anak. Itu adalah cara paling tepat jika ia ingin menjadi seorang ibu dan merawat anak-anak seperti wanita pada umumnya. Tapi bukan itu masalahnya, Agnes ingin murni bukti cinta Keyno dan dirinya, bukan orang lain. Ah Keyno takkan pernah memahami rumus penting ini.
"Memikirkan sesuatu..?" tanya Keyno
"Ya, pekerjaan ku hari ini..." Bohong Agnes.
"Kau tak boleh memikirkannya" kata Keyno "Satu-satunya yang boleh kau pikirkan adalah aku" Ia tersenyum, menganggap ucapannya adalah kebenaran yang harus diakui Agnes.
"Untuk apa? Kau sehat, kau kuat, kau ada dihadapanku? untuk apa aku memikirkanmu?" tanya Agnes setengah menggidik, Ia tahu ia tak boleh membahas masalah ini atau Keyno akan marah nantinya.
"Bagaimana jika kita pindah ke tempat lain saja?" tanya Keyno mulai curiga, "Kau pasti terganggu oleh dua bocah tadi"
"Tidak, aku justru senang melihatnya" elak Agnes.
"Benarkah? kau boleh senang melihatnya, tapi jangan berharap sesuatu yang tak pernah ku izinkan akan terjadi sayang" Ucap Keyno mencium punggung tangan Agnes, Wanita itu cukup paham apa maksud dari perkataan Keyno. Ia menarik tangannya dari genggaman Keyno. Kembali memandangi makanannya meski tak berniat memakannya.
"Keyno.."
"Jangan katakan lagi, aku sudah memberimu pilihan tapi jangan paksa aku menuruti keinginanmu yang satu itu" Belum sempat Agnes menjawab ia berkata lagi "jangan bahas lagi atau kita pergi saja dari sini" Keyno lagi-lagi meminta.
Tak kunjung berucap, Kini Keyno yang terlihat gusar dan khawatir. Ia menghela nafas panjang dan melipat kedua tangannya kesal sambil menatap Agnes yang tak berselera makan. Beberapa saat kemudian, pria angkuh itu beranjak dari kursinya tak perduli dengan makanan Agnes yang belum habis, Ia menyambar pergelangan tangan Agnes lalu menyeret wanitanya dengan cukup kasar. Bukan Keyno tak peduli dengan apa yang dirasakan Agnes, tapi membayangkan Agnes terbaring lemah tak sadarkan diri menjadi ketakutan terbesarnya, ketakutan akibat pikirannya sendiri, ia takkan pernah sanggup mengambil resiko yang selalu di gaung-gaungkan oleh Agnes. Have a children!
__ADS_1
...----...
see u next episode