
Warning!!
"Sayang, kau ingin membunuhku?"
"Belum tapi Akan ku lakukan jika ingin!" Lantas wanita itu menyesap bibir pria itu dengan brutalnya.
Haha
Keyno tertawa "Kau menyerangku" Senyumnya puas kala mendapati Agnes tak memperdulikan ucapannya, Wanita itu berlanjut menciumi dirinya dengan sensual. Keyno menikmati setiap sentuhan memabukkan itu, Bahkan wanita berkulit mulus itu menggigit bibirnya sebelum akhirnya melepaskan gesper yang masih melilit dipinggangnya.
Agnes menarik Keyno dan berjalan mundur secara perlahan tanpa melepas tautan bibir, hingga pinggangnya menabrak sandaran sofa. Sementara Keyno, pria muda itu mengikuti ritme langkah kaki Agnes, hingga dirinya di dorong kasar oleh Agnes dan jatuh terjengkang ke atas sofa besar diruangan tersebut.
Tak perlu aba-aba apapun, Agnes menarik pakaian yang tersisa menutupi tubuh bagi4n b4wah pria itu "Kau milikku, Keyno" Agnes berkata lirih di depan wajah Keyno dengan hidung yang saling bertaut.
"Yes, Aku milikmu. Lakukan sesukamu" Jawabnya dan mengecup singkat b1bir Agnes.
Agnes mencium setiap bagian tubuh berorot pria itu, meninggalkan jejak kebiruan disana.
"Ag-- Agness-- aah"!
Suara Keyno terdengar sangat indah saat mendes4hk4n nama Agnes. Wajah tampan tak bercela itu mendongak, tubuhnya mengej4ng mencari udara ketika Agnes mempercepat tempo permainannya sampai Ia merasakan klim4ks untuk pertama kalinya. Tubuh berotot sintal itu lemas dengan nafas terengah tapi ia suka dengan itu. Agnes berkedip lalu tersenyum seperti habis memenangkan pertandingan.
"Kau menyukainya" Keyno dengan mata sayunya menyeringai, Sementara Agnes masih terduduk diatas pahanya sambil mengusap cairan berbentuk mayonaise yang mengenai wajahnya.
Tak ada jawaban. Keyno lantas bangkit dan membalikkan keadaan dan sekarang Agnes terlent4ng dengan mata terbuka lebar.
"I am yours and you're mine" lirihnya sempurna. Pria muda itu menarik resleting jeans Agnes dan melepasnya perlahan hingga Agnes sendiri terdorong untuk menurunkan dan mempermudah apa yang Keyno lakukan. Keyno melakukan hal yang sama seperti yang baru saja Agnes lakukan padanya.
"Keyno--"
"Hmmm?"
"Key.. pliss"
"Ingin lebih?"
"Keyno.. "
"Akh...!!"
__ADS_1
Agnes mengeluarkan suara-suara merdu di telinga dibarenginKeyno yang menggigit tali br4 hitam Agnes kemudian menurunkan tali br4 miliknya. Keyno sangat menyukai ini. Mengendus bahkan menyesap leher kemudian memainkan ujung benda kenyal yang tadi terbungkus rapat oleh bra yang Agnes pakai. Des4han-des4han meluncur bebas dari mulut mereka berdua Tidak ada yang tahu, tidak ada yang melihat, tidak ada yang mendengar. Hanya benda-benda mati termasuk lukisan, vas bunga dan pernak pernik yang tersusun dilemari hiasan menjadi saksi bisu bahwa sekarang Keyno berhasil memasuki Agnesnya.
Keyno memulai ritual diiringi suara tercekat nikm4t mereka keluarkan, membuat suhu ruangan yang semula dingin berubah hangat, bahkan cenderung panas, Agnes dan Keyno tak berhenti melakukannya. Meracau hingga mengeluarkan kata-kata tak pantas sudah menjadi kebiasaan mereka berdua.
Tubuh kekarnya ambruk menimpa Agnes yang sibuk mengatur nafas dan degup jantung yang tak beraturan sesaat setelah ia mencapai puncak. Agnes diam, hanya tangannya terulur mengusap punggung Keyno, lalu mencium kepalanya.
Sejurus kemudian Keyno mengangkat kepalanya, menatap Agnes dan menyingkir dari tubuh Agnes.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya, aku baik" Agnes berucap lemah.
"Kau kelelah----.."
"Peluk aku" Agnes meminta.
Segera saja Keyno memeluknya, mendaratkan kecupan-kecupan kecil tanda sayang dan terimakasih di wajah Agnes.
Agnes memeluk tubuh tanpa busan4 Keyno, menikmati sentuhan halus tangan Keyno mengusap punggungnya.
"Beritahu aku jika kau butuh, Bukan Mario!" Keyno mengecup kening Agnes lalu mencium tangannya "Atau ku buat kau terus seperti ini"
"Tapi aku mencintaimu" Keyno menyeringai, lalu memberi sedikit jarak pada wajah mereka, menatap wajah lelah Agnes dengan sayunya "Jangan pernah berpikir aku akan berhenti mencintaimu" Agnes tersenyum tipis, lalu Keyno mendekatkan wajahnya lagi dan mencium kening Agnes dalam-dalam.
"Dan jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkan aku"
"Kau selalu membuatku marah"
"Aku takkan marah jika kau menuruti aku"
"Aku tidak mau" Agnes mengeratkan pelukan.
"Jangan salahkan aku jika aku memaksa menyuntikmu, atau berlaku kasar padamu"
"Bajingan, kau selalu menjadi pemenang"
Keyno hanya tertawa mendengar umpatan yang keluar dari mulut Agnes, baginya itu sebuah lawakan yang menghiburnya. Karena sejujurnya, Ia tahu wanita ini sangat mencintainya bahkan sampai rela kehilangan kekuatan dewinya demi dirinya. Lelaki yang menakhlukan hatinya.
"Dokter Kim. Dia punya cara...--"
__ADS_1
"Apa?" Agnes memotong cepat ucapan Keyno, Ia sudah tahu kemana arah omongan itu.
"Rahim mu harus di operasi"
"Kenapa?"
"Bukankah kau bosan minum obatmu, dan tak mau aku memaksa menyuntikkan obat padamu?"
"Kau gila" Agnes menolak.
"Karena mu" Keyno menyeringai lagi.
"Sampai kapanpun aku takkan menuruti permintaan gila mu itu" Agnes masih terus pada pendiriannya.
"Aku takkan memaksa jika kau menurut dan tak mengeluh meminum obatmu"
Agnes mengangguk pelan, tak ada pilihan lain, pria ini akan melakukan apapun yang ia mau.
"Sure?"
"Aku tak berjanji" Jawab Agnes.
"Aku mengawasimu"
Mereka kembali berpelukan berbagi kehangatan sebelum akhirnya mereka pergi membersihkan diri, menikmati waktu berdua mengisi kekosongan jadwal yang hari ini Keyno pending.
Setelah mereka menikmati macam-macam hidangan yang di pesan Keyno, Agnes mengeluh sakit. Badannya terasa panas dan di perutnya---
Sangat sakit di perutnya.
Keyno merasa gugup dan tegang, sekian tahun bersama, ini pertama kalinya Agnes mengeluh sakit. Tidak mungkin. Agnes, tubuh dewinya tidak akan pernah terserang penyakit seperti ini. Apa yang terjadi? Keyno tampak gusar. Bahkan tangannya seolah gemetar saat melihat Agnes meringkuk kesakitan, Jari jemarinya sudah sangat lemah saat akan mendial nomor dokter Kim, hingga tanpa sadar ponselnya jatuh ke lantai.
Tidak, Agnes tak boleh sakit ya Agnesnya tak boleh sakit. Dia tidak boleh seperti ini.
"Nessss---------"
...***...
Demi apapun cinta membuatmu bertahan. Mencintai dan menyayangi belahan jiwa yang selalu berbeda pemikiran dengannya.
__ADS_1
see u next episode