Semestaku

Semestaku
Biar aku saja.


__ADS_3

24 Okt (sehari sebelumnya)


Jalanan mulus tanpa lubang terbentang tanpa cela membelah gurun pasir disebelah selatan negara ini. Sebuah mobil bermerk porsche melaju dengan kegilaannya memacu kecepatan tinggi bak disirkuit formula. Roda roda beningnya berputar sempurna mengantarkan pria muda beserta seorang wanita bersamanya ke sebuah tempat yang sangat asing bagi si wanita.


Setelah melalui berbagai macam pemeriksaan keamanan, Kendaraan tersebut terdengar berdecit kala rem memaksa rodanya berhenti berputar di depan sebuah markas rahasia di ujung gurun. Bangunannya tak megah, hanya seperti sebuah proyek pembangunan kuno yang tak pernah usai terburu dimakan zaman.


Pria itu Keyno. Sepatu pantofelnya terdengar berderap memasuki area itu, disampingnya berjalan Senina Sanders dengan kacamata bertengger dihidungnya.


Sesaat gerbang utama terbuka otomotis, terdengar suara nyaring nan tegas menyapa mereka "Mr. Keyno. Madam MJ telah menunggu anda" seorang wanita berwajah rusia menyambut Keyno dan Senina lalu meminta mereka mengikutinya. Keyno tampak tenang, ini kali kedua ia menginjakkan kaki di markas sialan yang memproduksi segala macam benda yang menghancurkan hidupnya dan Agnes. Sementara Senina, ia tampak mengamati setiap ruangan yang mereka lalui, meskipun bersikap tenang Keyno bisa menangkap bahwa Senina sedikit terkesima pada semua kecanggihan ditempat ini. Bagaimana tidak? Sekilas dari luar hanya seperti seonggok bangunan tua tak berpenghuni, namun setelah melewati beberapa pintu keamanan, bangunan tua itu berubah seperti markas teknologi kelas dunia. Setiap ruangan dilengkapi keamanan tingkat tinggi dan kecanggihan seakan diluar logika manusia.


Bangunan itu ternyata berada dibawah tanah, sepuluh lantai ke inti bumi berisi semua eksperimen dan macam-macam percobaan genetik. Tepat disatu layar besar, terlihat beberapa cairan sedang menjalankan fungsinya dan memperlihatkan beberapa orang yang terlihat mirip. Kembar? Tidak. Jelas itu bukan kembar semuanya serupa.


Senina menatap Keyno. Hal yang tak ingin ia percaya ternyata benar adanya. Kalimat tempo hari yang keluar dari mulut Keyno benar adanya. Pria muda itu melempar senyum dan mengangkat bahu setelah menyadari keterkejutan Senina melihat semua ini. Lihat sendiri kan?


"Kau seperti anak kecil menemukan mainan baru" celetuk Keyno menyindir. Tempo hari wanita ini terlihat begitu kejam dan mematikan berbanding terbalik dengan saat ini, terlihat lugu dan polos mengamati ruangan yang mungkin baru pertama dilihatnya.


"Apa rencanamu membawaku kemari?" tanyanya masih tetap mengawasi ruangan.

__ADS_1


"Kau lihat sendiri"


Tak berselang lama, mereka masuk ke sebuah ruangan dimana seorang wanita paruh baya berada. Wanita itu menyambut kedua anak manusia itu dengan hangat dan mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Terkesan seperti bertemu keluarga" Ucap Keyno klise kemudian duduk diikuti Senina lalu kemudian madam MJ.


"Apakah ini bisnis?" Senina membuka lebih dulu percakapannya. Dan kedua orang diruangan itu hanya saling pandang tanpa ingin cepat menjawab.


"Ternyata cukup mudah membawanya kemari" ucap Keyno tersenyum sombong seraya menyilang kedua kakinya, Senina menajamkan pendengarannya, Apa laki-laki itu menganggapnya mudah?


Merasa tak terima oleh perkataan Keyno yang seakan merendahkannya. Ia tak ingin kalah, lantas ia menjawab "Aku hanya penasaran dengan apa yang ingin kau tunjukkan padaku. Jika mau, kau sudah membusuk"


"Langsung ke intinya" Senina memotong pembicaraan sebelum Keyno menjawab. wanita itu sudah merasa malas dengan basa basi, ia hanya penasaran apa dan bagaimana seorang wanita setengah tua ini bisa mengenalnya bahkan menyuruh si bedebah Keyno membawa dirinya kesini.


"Keyno. Kau boleh pergi. Aku telah mengirimkan pesan kepadamu. Silahkan cek setelah kau keluar dari sini!" Madam MJ berucap pada Keyno.


"OK. Baiklah" ucapnya tanpa berkomentar banyak. Ntah apa yang direncanakan Keyno hingga ia terlihat baik dan seolah sedang bekerja sama dengan wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Keyno beranjak. Namun ditahan oleh Senina, "Kau harus tetap tinggal" Ucapnya mengcekram tangan Keyno saat Keyno melangkahkan kaki. Keyno tersenyum sejenak lalu menjawab "Kau takut?" ledeknya "Bukankah kau membawa senjata, kau bebas menembak jika kau mau" ucapnya lalu mengibaskan tangan Senina dan beranjak pergi. Senina mendengus kesal, bisa-bisanya seorang Keyno meledek dan mengatainya. Ingin sekali Senina mematahkan kaki-kaki Keyno yang berjalan seolah tak ada rasa beban meninggalkan dirinya.


"Keyno sialan" rungut Senina dalam hati menatap kepergian Keyno. Terus terang Senina merasa gentar, mungkin saja ia akan dijadikan bahan eksperimen selanjutnya, setelah Keyno. Namun jika dilihat kembali, Madam MJ bukanlah wanita yang ditakuti, penampilannya seperti seorang ibu yang berwibawa dan suka sekali kedamaian, tak mungkin ia melakukan hal lebih.


"Apa keperluan mu memintaku kemari?" Senina memantapkan nada bicaranya, meminta keterangan jelas dari mulut seorang wanita yang sedari tadi menatapnya.


"Senina Sanders. Apa kau ingin memastikan kenyataan mengenai suamimu?"


...***...


Keyno tiba di agency tempatnya bernaung, berjalan tergesa dan menemui Delvin untuk mendiskusikan sesuatu. Sesaat setelah itu, ia pergi meninggalkan secarik kertas pada Delvin untuk disampaikan pada pimpinan yang merekrutnya bahwa ia benar-benar tak ingin merangkap sebagai seorang model lagi.


Keyno sudah memutuskan ia akan fokus pada masalahnya dan Agnes. Kini ia telah mendapatkan satu informasi yang dikejarnya selama ini. Moscow. Satu kota yang selalu berputar dikepalanya.


Bahkan ia sudah bersiap untuk berangkat segera ke kota tersebut. Tiket perjalanan dan hotel sudah diurus oleh Delvin. Besok ia benar-benar akan pergi. Dan Agnes. Ia berencana menitipkan Agnes pada prof B dan menonaktifkan sistem sementara. Apa Keyno jahat melakukan hal seperti itu dengan mudah pada seorang yang punya perasaan seperti Agnes? Tidak, baginya. Ini semua Keyno lakukan agar Agnes tak terluka. Agar ia tetap terawat, tetap baik. Biar saja dia yang terluka, dan menyembuhkan luka itu sendiri. Agnes tak perlu.


Menjelang sore hari, Keyno berkutat diruang kerjanya. Hingga Agnes datang menghampirinya untuk mengajaknya menikmati sapaan mentari senja. Meski sibuk, Keyno mengalah, memberikan waktu berharganya pada Agnes yang dengan manja memintanya untuk beranjak. Ditaman mereka duduk saling merangkul dan bercerita. Sang surya Menjingga diluar sana. mereka menikmati pemandangan Benda bulat yang terlihat menggantung sempurna, Agnes menyukai pemandangan itu. Menenangkan dan menghanyutkan. Seakan semua kesakitan, kepiluan tenggelam dalam rona senja yang menerpa rambut dan kulit putihnya.

__ADS_1


"Aku akan pergi malam ini" bibir tipis itu berucap manis, tangan lembutnya memegang tangan besar Keyno "Aku terlalu mencintaimu" bisiknya pelan.


...***...


__ADS_2