Semestaku

Semestaku
Hutang ++


__ADS_3

Decitan rem mobil membuat bekas ban diaspal halaman depan, Agnes tergesa berlari memasuki rumahnya. Menuju kamar, membuka jaketnya serta mengacak rambutnya seolah baru saja bangun tidur. Tentu agar terlihat dia benar-benar berada di rumah oleh Keyno.


"Dari mana?" Suara dari kamar mandi membuat Agnes tertegun, Keyno kah? Agnes menoleh ke arah sumber suara, tampak lelaki itu baru saja menyelesaikan acara mandinya.


"Kau dari mana?" tanyanya memperhatikan penampilan Agnes.


"Dari supermarket" Agnes menjawab seadanya.


"oOh" Ucap pria itu mengusap-usap rambutnya dengan handuk, lalu ke meja rias mengambil pelempab dan serum wajahnya. Tampaknya Keyno sedang tidak mau berdebat dengan Agnes, lagipula Agnes membawa totebag yang ntah apa isinya, Keyno meyakini benda di dalam itu lah yang dicari Agnes di supermarket.


"Tapi aku tak melihat mobilmu. Dimana mobilmu?" Agnes berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Bukan urusanmu!" jawabnya ketus.


Agnes mendengus kesal namun disisi lain ia merasa lega, karena Keyno tak menyadari ia pergi ke suatu tempat yang pria itu larang.


"Baiklah, aku akan bersiap!"


"Kau sudah telat sayang" Suara pria itu terdengar berat saat mengatakan kata sayang, meskipun terdengar romantis, tapi dalam kalimat itu terkandung peringatan.


"Kau marah padaku?" tanya Agnes mendekat dan menatap wajah Keyno dari pantulan cermin. wajah tampan itu tak mempedulikannya meski Agnes lama menatapnya.


Agnes tak ambil pusing, ia meninggalkan kamar tersebut dan mencari whity kitty, nama kucingnya. Sementara lelaki di depan cermin itu meliriknya dengan tatapan tak bisa ditebak.


"Mana whity?" Agnes kembali menanyai Keyno karena tak menemukan kucing mereka.


"Nes, kau menemui siapa?" tanya Keyno seraya mensejajarkan dirinya dengan Agnes. Agnes tak menjawab. Kali ini bukan karena takut, tapi ia khawatir Keyno akan histeris mendengar tempat yang akan dia sebutkan seperti terakhir kali.


Agnes menyugar rambutnya, menelan ludahnya kasar dan membuang pandangan ke segala arah. Dia bisa melihat jelas sudut pandang mata Keyno yang tak biasa. Harus apa? Tak ada pilihan lain Agnes harus bisa mengatasi situasi ini.


Ia tahu betul Keyno akan mengamuk jika ia menyinggung tempat itu. Bukan hanya itu, tapi kesadaran lelaki itu juga memudar seakan tersedot kenangan tempat itu. Keyno Lemah. Agnes harus bisa menutupinya bukan?


Agnes memutar otaknya untuk berpikir, sementara bahunya di genggam oleh Keyno meminta jawaban.


"Apa maksudmu?" Agnes menjawab tanpa ragu, persis seperti Agnes sebelumnya. Agnes yang tak mau kalah dan keras kepala.


Melihat pertanyaan Agnes yang tak bisa diajak bicara baik-baik, Keyno mengendurkan tangannya, mengusap pelipisnya lalu duduk disisian kasur. Sejenak ia menarik nafas, lalu kemudian menatap Agnes yang masih menatapnya sedari tadi.


Keyno mengangkat tangan besarnya, lalu menepuk-nepuk kasur disebelahnya mengisyaratkan agar Agnes duduk disampingnya.

__ADS_1


"Ada yang ingin ku bicarakan" ucapnya tenang, karena Agnes tak mengindahkan permintaan pria itu Keyno menariknya dengan keras hingga Agnes terduduk menimpa lelaki itu.


"Apa kau kesakitan akhir-akhir ini?" tanya Keyno memeriksa pinggang, lengan, kening bahkan perut Agnes. Wanita itu tampak risih, ia mengibaskan tangan Keyno dan bertanya "Bicaralah!"


"Kau dingin sekali" decih Keyno. Lalu menyempurnakan posisi duduk mereka.


"Aku heran kenapa kau jarang mencari masalah akhir-akhir ini" ucap Keyno dengan tatapan curiga sedang mengawasi Agnes. "Biasanya kau selalu berteriak, memberontak, bahkan memukul ku. Apa yang kau rencanakan?" tanya Keyno kali ini tersenyum dengan tulus. Agnes memalingkan wajahnya. Menatap foto nikah yang terpampang besar di sudut kamar.


Keyno mengikuti arah pandangan Agnes, lalu mengangguk tanda mengerti. "Kau cantik" pujinya diikuti senyuman kagum pada foto tersebut.


"Apa yang kau curigai dariku?" tanya Agnes dengan tenang.


"Setiap hari bertengkar denganmu rasanya memberi kesan tersendiri bagiku, tapi sekarang kau menjadi lebih pendiam dan penurut. Aku hanya bertanya apa aku terlalu menyakitimu hingga kau tak berkutik lagi?" tanya lelaki itu kembali menatap sisi kanan wajah Agnes, wanita itu masih memandangi diri mereka yang dibalut pakaian serasi penuh cinta, dalam foto itu tangan mereka saling mengapit dan menggenggam, tersenyum bagaikan itulah puncak terindah dunia yang mereka temui.


"Aku sedang berusaha menjadi yang kau mau" jawab Agnes.


Keyno mengusap puncak kepala Agnes. Terdengar aneh mendengar penuturan Agnes yang baru saja di dengarnya "Kau belajar dari siapa jadi istri yang baik?" ucapnya sedikit tertawa. Agnes tak menanggapi. Sejujurnya ia mengkhawatirkan Keyno, rahasia apa yang di simpan Keyno hingga membuat lelaki ini sering berubah-ubah sikap. Dan kali ini ia menunjukkan sisi lembutnya.


"Kapan kau selesai syuting?" Tanya Agnes dengan binar mata bahagia, sangat berbeda dari beberapa detik yang lalu. Hanya ini cara ia mengelabui sikap angkuh Keyno, berubah seperti bunglon sesuai waktu dan kondisi yang diperlukan. Agnes sadar ini cara pengecut, tapi harus seperti ini untuk mendekati Keyno.


"Kau ingin berlibur secepatnya?" dan wanita berambut lurus itu mengangguk gembira.


"Delvin pasti akan mengusirku" Jawab Agnes. Seperti sebelumnya, hanya acara tertentu yang memperbolehkan Keyno membawa pasangannya, bukan karena perusahaan terlalu toxic. Tapi Keyno lah masalahnya, pria muda itu takkan fokus bekerja jika Agnes bersamanya, perhatiannya, pikirannya, jiwa raga bahkan dunianya hanya tertuju pada Agnes. Itu lah alasan Delvin melarang Agnes ikut dengan mereka. Seringkali karena ulahnya itu ia mengacaukan acara syuting dan tentu Delvin lah yang selalu bertanggung jawab atas semua itu.


Keyno tertawa, ia paham gurauan Agnes ia merangkul bahu Agnes dan membawa ke pelukannya "Jadi, kau tunggu aku kembali. Kau akan aman disini" ucap Keyno seraya mencium puncak kepala Agnes.


"Hmmm!" Agnes hanya mengangguk. Tak peduli berapa kali harus ia akui, ia sangat menyukai posisi seperti ini, tangannya bisa melingkar indah dipinggang Keyno, wajahnya bisa ia sembunyikan didada bidang lelaki itu menikmati aroma alami dan bau sabun khas pria yang masih menempel di tubuh lelakinya membuat Agnes terlena bahkan tak mendengar apa yang dikatakan Keyno lagi.


"Aku akan menghubungimu tiap jam. Tapi jangan tolak telp--- mmphh" Keyno terperanjat beberapa cm saat bibirnya dibungkam oleh Agnes secara tiba-tiba.


Aishhhh, Anggap saja Agnes sedang tidak waras, ia melvmat lips pria itu dengan kasar mengigit b1bir bawah pria itu hingga terasa nyeri, memiringkan wajahnya dan mencari posisi ternyaman untuk melanjutkan aktivitasnya.


Keyno tersenyum devil menyadari kelakuan istrinya yang sangat buas, Keyno pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu dia membalas sesapan kedua benda kenyal itu.


Beberapa saat ditengah kegiatan yang mereka tekuni, terdengar ponsel Keyno berdering. Bukan hanya sekali, berkali-kali. Lelaki itu menulikan pendengarannya ia tetap fokus pada kegiatan panas yang menurutnya sayang untuk dilewatkan.


Hingga....


"Hallo, Vin.. Bicaralah, Keyno mendengarmu"! Ucap Agnes tiba-tiba membuat Keyno seketika terhenti.

__ADS_1


Agnes menarik tubuhnya dari kungkungan Keyno dan mengedipkan mata nakal, seakan mengejek Pria seksi ini. Dengan terpaksa pria itu mengambil ponsel dan mengumpat managernya yang sudah tak heran lagi mendengar deru napas tersengal disaat menjawab telponnya. Delvin sudah terbiasa, selain tebal muka ia juga harus tebal telinga.


"Besok ada penutupan Akses jalan ke kota A, kita harus percepat jadwal. Berkemas lah, ku tunggu di Bandara jam 3!" Sambungan telepon pun terputus secara sepihak bahkan Keyno belum sempat mengatakan apapun.


"Bedebah itu!" kesalnya.


Keyno melempar ponsel itu seakan tak ada harganya, dan menarik kemeja Agnes yang sedang wanita pakai untuk membalut tubuh tanpa benangnya. "Kau tak bertanggung jawab!" ucapnya berat, secepat kilat Agnes sudah kembali dalam kendalinya.


"Itu lah aku" Jawab Agnes tertawa melihat raut setengah mati Keyno menahan sesuatu. Ia meraih ponsel Keyno dan membuka notif pesan yang baru saja masuk.


"Kalau kau telat, Aku berhenti jadi managermu!" bunyi pesan tersebut.


"Sepertinya ada ancaman baru" Ucap Agnes memperlihatkan pesan itu. Keyno menghela nafas sejenak sebelum ia mencium kening Agnes dan bangkit berdiri untuk melupakan hajatnya.


"Siapa dia mengancamku, lihat saja. Aku yang akan memecatnya" Gerutu Keyno seraya mengemasi barang-barang pribadinya. Sementara Agnes hanya memandangi Keyno seraya tersenyum merasa terhibut melihat prianya mengomel bahkan mengatakan hal-hal yang ia tak mengerti.


"Nes, ku anggap ini hutangmu, bayar saat aku kembali" ucapnya dengan nada kesal menunjuk Agnes yang masih menertawainya.


"Hmmm! Ku tunggu kau kembali" Jawab Agnes santai.


"Ah, iya Whity sudah ku titipkan suster!" Keyno mengambil berkasnya di laci dan melempar selembar kertas pada Agnes. Alamat serta jam besuk untuk whity.


"Kau menyewa perawat khusus untuk whity?"


Ah, harusnya Agnes tak perlu menanyakan itu, lelaki itu bahkan sering melakukan hal yang tak masuk akal lebih dari ini.


"Not bad" ucapnya mangut-manggut "Pergi lah! sebelum Delvin membunuhmu!" teriakan itu hanya terdengar samar oleh Keyno yang sudah diambang pintu depan.


...***...


"Kita mulai, proses pencabutan chip ini bisa memakan waktu 2 jam. Apa kau siap?" tanya prof B pada Agnes yang sudah dipasangi alat-alat canggih menyangga tubuhnya.


Agnes mengangguk, ia tak banyak bicara.


"Aku melakukan ini bukan karena permintaanmu, melainkan aku bertanggung jawab melepas dan menanam chip ini. Jadi, jangan kecewakan Keyno apapun alasanmu. Dia mempertaruhkan hidupnya untukmu"


...***...


See u next episode 🙌

__ADS_1


__ADS_2