Semestaku

Semestaku
i want u


__ADS_3

"Kau mencurigaiku?" tanya Keyno.


Agnes tak langsung menjawab, ia melepaskan rengkuhan Keyno dan menjarak tubuhnya agar lekas menjauh.


Keyno menghela nafas, ia tak protes apalagi marah. Ia menganggukkan kepala, berpaling dan berjalan perlahan menuju jendela kaca dengan tirai menjuntai yang terbuka lebar menampilkan taman asri di lengkapi mancur layaknya kastil istana kediaman mereka.


"Apa kau berencana meninggalkan aku?" suara itu tenang. Langkah kakinya terhenti tepat didepan pemandangan itu.


Agnes mendekati Keyno dan menatap pohon rindang nan hijau diluar sana, searah dengan pandangan Keyno.


"Menurutmu? Apa hanya itu yang bisa ku lakukan?" tanyanya tak kalah tenang. Pertanyaan mematikan yang harus Keyno dengar dari mulut manis Agnes, terkesan santai. Tapi bagi Keyno jawaban itu bagaikan malapetaka yang mendera hati dan perasaanya, mendatangkan rasa takut yang tak berujung.


"Kau bisa melakukan lebih?" tanya Keyno lagi tersenyum remeh, tangannya merayap masuk ke saku celananya lalu memutar tubuh dan menatap Agnes dengan tatapan yang sulit diartikan


Agnes hanya menghela nafas, ia kemudian menarik lengan Keyno. sedikit memaksa, ia berjalan menggiring Keyno agar mengikutinya.


"Istirahatlah! Aku takkan menanyaimu apapun" ucap Agnes menuntun Keyno menuju kamarnya. Keyno menurut, sesaat ia tertawa kecil kala menyadari sesuatu


"Ah, kau perhatian juga ternyata" ucapnya.


"Bisa kau jelaskan kenapa kau seperti akan mati semalam?" tanya Agnes lagi.

__ADS_1


"Kau bilang takkan menanyaiku apapun" Ucap Keyno menaiki satu persatu anak tangga di dampingi Agnes yang merangkul pinggang ramping lelakinya dengan wajah dingin


"Ah iya" Agnes melepaskan rangkulannya. mempersilahkan Keyno untuk istirahat ketika sudah tiba di area kamar mereka. Namun, Keyno menolak, Saat Agnes akan beranjak ia menahan tangan Agnes dan menarik wanita itu dalam kungkungannya.


"Istirahatku adalah kau tidak boleh pergi" Ucap Keyno menatap manik indah Agnes, sementara Agnes menatapnya tanpa memperlihatkan ekspresi apapun. Wajah tenang Agnes membuat Keyno tersenyum "Kau sudah paham rupanya" ucap Keyno menyadari sesuatu dari raut wajah Agnes.


Agnes lalu tertawa sedikit "Paham apanya?"


Sebelum menjawab Keyno mengesampingkan tubuh Agnes lalu menatap wanita itu bertopang pada tangannya "Kau tak biasa bersikap seperti ini" ucapnya seraya menatap Agnes, namun wanita itu berusaha membangunkan diri disusul oleh pertanyaan Keyno yang masih ingin tahu ada apa dengan wanitanya "Apa aku tampak lebih menawan jika bersikap seperti ini?" kata Agnes.


"Sangat!" Keyno menjawab tanpa ragu.


"Kau harusnya lebih paham, ada banyak jawaban yang ingin ku ketahui darimu" ucap Agnes lagi, raut wajahnya melemah, nada suaranya lembut bahkan hampir tak terdengar oleh Keyno


Tak ada jawaban apapun dari Agnes, dan Keyno lelaki itu membawa Agnes dalam pelukannya. Ia tahu, Agnes tengah diliputi ketakutan dan kebingungan. Memberikan pelukan setidaknya dapat menenangkan wanita ini walau mungkin hanya sebentar. Keyno tak bisa, ia belum bisa menjelaskan apapun sekarang.


"Keyno.. Kau ingat toko bunga itu? Agnes tiba-tiba bertanya, ia menoleh dan menatap Keyno yang tengah menatap dirinya sedari tadi "Kenapa kau membelinya dan menghancurkannya?" Tanyanya ingin tahu.


Keyno berkerut berusaha mencerna makna perkataan Agnes, "Toko bunga itu---"


"Aa Kau sudah tahu itu rupanya" Keyno tertawa kecil, pandangannya beralih pada benda-benda disekitar. Meski tak diperlihatkan, Keyno sedang menyembunyikan kemarahannya. Berani sekali Agnes mencari tahu semua itu.

__ADS_1


"Kau diam?" tanya Agnes mendesak Keyno. Tangannya merayap ke rahang tegas Keyno, menyuruh lelaki itu agar menatap dirinya.


"Lalu apa rencanamu?" tanya Keyno berusaha tenang. Tidak tahu apa yang sedang Keyno pikirkan hingga ia bisa bersikap tenang seperti ini.


"Aku akan mencari jawaban sendiri, jika kau tak mau" ucapnya dengan ekspresi tak mau kalah, Keyno paham beginilah seorang Agnes wanita keras kepala yang selalu ia coba ikat dengan tali cintanya.


Keyno menghela nafas, ia kemudian menangkup wajah serius Agnes "Kau sangat ingin tahu?"


"Ya"


"Agnesku sayang, kau tahu suamimu ini bagaimana kan? Menurutmu, kenapa aku menghancurkannya?" Agnes membuang pandangan malas sekali mendengar jawaban Keyno yang akan terdengar seperti bualan kesombongan. Jika berada di mode ini tak ada lagi Keyno si serius yang penyayang atau pemarah, Agnes hanya akan menemui Keyno narsis dengan sikap sombong mendaging.


Benar saja, percuma menanyakan hal semacam ini pada Keyno. Lelaki itu takkan pernah menganggapnya serius. Jika serius sekalipun mungkin Agnes juga tak sanggup mendengarkan jawabannya.


"Ku lakukan untukmu" Jawab Keyno pada akhirnya setelah melontarkan guyonan yang menurut Agnes sama sekali tak menarik.


"Awalnya, ku kira aku yang sakit. Tapi setelah mendengar jawabanmu ternyata kau yang sakit" Ucap Agnes beranjak pergi tanpa mempedulikan bagaimana tanggapan Keyno. Keyno hanya terdiam mendengar perkataan Agnes membiarkan wanita itu berlalu tanpa ada niat untuk menahannya.


Sesaat kemudian Keyno menerima panggilan telepon. Tak lama setelah itu ia berangkat menuju tempat si penelpon.


"Tak ku sangka kau yang telat datang kemari" Ucap seorang wanita dengan jaket panjang modis melengkapi sepatu bootsnya. Wanita itu tampak tangguh dengan riasan kental dan tatapan tajam.

__ADS_1


"24 di menara Xena, apa hadiahmu untukku?" Ucapnya kemudian dengan suara berubah tegas meminta Keyno agar segera menjawab.


"Senina Sanders" Ucap Keyno santai. Lalu berjalan mengitari wanita itu dengan tatapan menginterupsi.


__ADS_2