
Makan siang pasangan itu berakhir diselingi umpatan Agnes karena Keyno terus menggodanya.
"Kalau aku presiden, pasti kau jadi negaraku" ucap Agnes meletakkan piring kotor di wastafel saat Keyno mencuci peralatan yang baru saja mereka gunakan.
"Ku pastikan kau kalah sebelum pemilihan" jawab pria itu santai.
"Kau tak mau jadi negaraku?" Agnes kembali mendekat dan merangkul bahu pria itu dengan sikap santainya.
"Kau hanya akan memerintahku"
Agnes tertawa mendengar jawaban kritis Keyno, tentu saja. Pertanyaan itu hanya semata-mata untuk menyinggung ketenangan Keyno. "Aku akan memerintah dan menindasmu" lanjutnya menepuk pundak Keyno yang baru saja ia elus-elus.
"Aku akan membumihanguskan lelaki egois di negaraku" lanjutnya lagi dengan nada geram.
"Hmmmm.." Keyno masih terus fokus akan kegiatannya.
"Aku akan memenjarakan pria yang bermain wanita sembarangan" Lanjut Agnes seraya melirik sekilas ke wajah datar Keyno.
"Lakukan sesukamu!" jawab pria itu tak ambil pusing seraya mengelap piring-piring itu. Sementara Agnes mendengus kesal karena Keyno tak meladeni lagi percakapannya.
"Aku akan pergi. Tetap lah tinggal. Jangan berkeliaran!" Secepat kilat Keyno mencium pipi Agnes dan menyambar kunci mobil di meja setelah menerima pesan dari ponselnya, lalu berlari pergi tanpa mendengarkan teriakan Agnes yang menanyainya hendak kemana.
"Tadi saja ia mengatakan akan menemaniku, membatalkan semua jadwal demi aku, Bullshit!" gerutu Agnes dibalik jendela mengintip mobil hitam suaminya melesat pergi meninggalkan rumah mereka.
Agnes kembali duduk menikmati tegukan terakhir jus jeruknya, kemudian mengambil laptop dan sebuah notebook kecil yang berisi tulisan-tulisannya beberapa bulan terakhir.
Ia kemudian menelpon seseorang dan meminta janji temu segera siang ini. Tak berapa lama setelah itu, ia meninggalkan rumah.
...***...
Seorang wanita tengah menikmati kopi hangatnya saat Keyno tiba menerobos pintu cafe dengan tergesa. Menarik kursi dengan kasar hingga menimbulkan deritan dan menghempaskan tubuhnya didepan wanita yang tampak tenang melihat kegrusukan Keyno.
"Aku takkan lama, katakan apa maumu!" Ucap Keyno langsung ke inti dengan tatapan tak ingin menolerir apapun yang akan dikatakan wanita dihadapannya.
"Kau terburu-buru sekali, minum lah kopi lebih dulu" Jawab wanita itu santai, lalu memanggil pelayan dan memesan kopi untuk Keyno tanpa mendengar penolakan pria itu.
"Apa istrimu sekarat?" tanya wanita itu lagi, membuat Keyno menghela nafas berat hendak mengumpat namun tertahan saat wanita itu berkata lagi.
"Aku bahkan mengosongkan jadwalku untuk menemuimu" Wanita itu meletakkan cangkir putih melamin mahal itu di atas tatakannya. Keyno mengendurkan duduknya, berusaha santai dan menarik kata-kata yang ingin ia sampaikan setelah mendengar kalimat yang tak bisa dibantahnya.
"Aku tak bisa berlama-lama. Kau tahu kenapa. Kita bisa dalam bahaya jika bertemu ditempat seperti ini"
"Kau lupa siapa aku?" tanya wanita itu dengan tatapan tajam dan Keyno hanya mengangguk malas mendengar ucapan itu.
__ADS_1
"Jadi apa ingin kau sampaikan padaku?"
"Harusnya kau bertanya, apa yang bisa kau lakukan untukku terlebih dulu?" Ucap wanita itu dengan sombongnya.
Kuping Keyno panas mendengar ucapan wanita dihadapannya, ingin sekali ia membogem wajah dihadapannya. Wanita itu menelisik wajah Keyno, mencari kesungguhan dan keyakinan dari aura pria ini.
"Kau harus menemukan dia" Keyno mengambil lembar foto yang disodorkan wanita itu. Seorang perempuan dengan rambut panjang bermata sipit, sepertinya orang Asia.
"Kau bercanda? Jelas kau yang punya jaringan handal dan peralatan canggih. Mengapa harus aku?" Tanya Keyno tertawa hambar.
"Dia lemah terhadap lelaki sepertimu" Kalimat itu membuat Keyno tertegun dan menatap wanita itu seakan baru saja menangkap sesuatu.
"Apa?!"
"Dia pernah memiliki orang terdekat mirip sepertimu. Bawakan saja dia padaku"
"Jika kau menyuruhku mengkhianati Agnes, Anggap saja aku tak pernah meminta bantuanmu"
"Tidur dengan putri CEO Sunt Group, berkencan dengan manager hotel bahkan tidur dengan rekan model ternama negara ini, jika foto-foto itu tersebar pasti akan jadi kesempatan menarik untuk membuat kinerja media lebih baik" Wanita itu tersenyum kembali meneguk kopinya. Sementara Keyno mati-matian menahan emosi mendengar penuturan halus mengandung ancaman baginya.
"Aku tahu Agnes menerima apa adanya laki-laki kotor sepertimu, tapi jika publik tahu bukan hanya kau yang terancam tapi Agency mu, bahkan Agnes akan menjadi wanita paling menderita di dunia karena banyak yang akan mengincar nyawamu"
"Dasar brengsekk!!"
Serpihan cangkir berserakan dilantai sesaat setelah Keyno berang dan mencengkeram kerah kemeja wanita itu dengan brutal. Urat-urat tangannya bahkan bermunculan ingin menghabisi wanita yang berkata sialan di depan matanya ini.
"Calm down!" Wanita itu memegang tangan Keyno dan mengisyaratakan untuk melepas cengkremannya.
"Ubah cara berpikirmu, aku hanya memintamu menemukan wanita itu dan membawanya padaku, jika kau setuju aku akan memberi tahu apa yang kau mau, simple kan?"
Keyno tertunduk pasrah melepaskan cekalannya, ia kembali memandangi foto itu lalu mengangguk dengan ekspresi terpaksa tak ada pilihan lain.
"Hmm, yang kau cari ada di Moscow, aku akan memberikan koordinat dan informasi seputar tempat itu setelah kau berhasil membawa wanita itu. Jadi harap kerja samanya pak Keyno!" Wanita itu tersenyum lalu beranjak meninggalkan tempat itu kemudian diikuti dua bodyguard yang sedari tadi berjaga disana.
Ponselnya bergetar, Keyno merogoh ponselnya dan mengangkat panggilan itu tanpa bersuara.
"Key, kau disana?" tanya suara dibalik panggilan itu.
"Hmmm. Bicaralah!"
"Besok kita akan ada pemotretan di kota A, jadi siapkan dirimu kita akan menginap sehari disana!" Ucap Delvin memberitahu jadwal Keyno
"Kenapa menginap?"
__ADS_1
"Ayo lah, kau tahu disana pemotretan tak hanya satu produk, akan memakan waktu lama jika harus pulang pergi. Jangan lupa beri tahu Agnes" lanjutnya lagi.
"Hmmm.." panggilan pun terputus.
...***...
Agnes baru tiba di sebuah tempat yang ia bicarakan bersama Keyno beberapa waktu lalu. Tempat yang menjadi saksi bisu pertemuan dia dengan Keyno, kenangan manis yang akan selalu ia ingat.
"Apa yang terjadi?" gumam Agnes melihat pemandangan dihadapannya sudah rata dengan tanah, tak ada lagi bangunan yang ingin ia tuju"toko bunga" yang ingin ia kunjungi.
Bahkan bukan hanya gedung itu, gedung lain disekitar tempat ini pun sudah tak ada lagi. Agnes segera turun dari mobilnya, dan kebetulan melihat seorang pekerja yang sepertinya bertanggung jawab ditempat itu.
"Excusme sir, Apa toko bunga yang disini dulu pindah?" tanya Agnes sopan.
"Sudah tidak berbisnis lagi" ucap lelaki paruh baya itu.
"Tiba-tiba saja?" Tanya Agnes heran, padahal baru beberapa hari lalu ia datang dan melihat antusias pekerja dan pelanggan disana cukup ramai, tempat ini juga bukan tempat yang sepi tapi kenapa tiba-tiba dirobohkan?
"Boleh saya tahu penanggung jawab proyek ini, ada hal mendesak. Saya ingin menemui pemilik toko bunga itu" Pinta Agnes kemudian.
Agnes memasuki mobilnya, kemudian menghubungi sebuah nomor yang diberikan kepadanya tadi.
"Hallo"
"Edward Tone?"
"Yes, i am....."
Lama Agnes berbicara dengan penanggungjawab proyek itu yang diketahui bernama Edward Tone. Sesaat setelah menutup telepon Agnes termenung, dahinya mengerut karena berusaha menghubungkan sesuatu yang menurutnya janggal.
jarinya mengetuk-ngetuk stir mobil memikirkan teka-teki yang hendak dipecahkannya. Bersamaan dengan itu ponselnya berdering. Siapa lagi, Keyno!
"Ya, ada apa?"
"Aku sebentar lagi pulang, bersiaplah kita akan membawa White ke salonnya"
"Kau dimana?" tanya Agnes tak mengindahkan perkataan Keyno barusan.
"Sebentar lagi sampai"
Secepat kilat Agnes mematikan ponselnya, dan menyalakan mobil meninggalkan tempat itu berharap ia tiba lebih dulu daripada Keyno.
Aishhh... Si brengsek itu..
__ADS_1
...***...
See next episode readers