Semestaku

Semestaku
Suicide


__ADS_3

Keyno tengah duduk bersandar di kursi kebesarannya, menyandarkan kepalanya dan perlahan memejam mata karena merasa kelelahan oleh aktivitas seharian yang dua kali lipat lebih sibuk dari biasanya.


Sementara stylish rambut masih terus menata rambut bagian depannya beberapa catokan lagi, pemotretan selanjutnya yaitu produk iklan kosmetik pria, untuk mendukung penampilannya tentu rambut pun berpengaruh dan salah satu detil penting untuk diperhatikan.


"15 Menit lagi" Delvin datang mendekati Keyno, lalu menepuk bahu pria muda itu dengan selembar kertas yang ia bawa, sepertinya itu jadwal kegiatan Keyno sepanjang hari ini.


"Percepat saja, aku ingin segera pulang! " jawab Keyno tanpa membuka matanya, sementara Delvin menggelengkan kepala mendengar jawaban Keyno.


"Kau selalu sesukamu! "


"Pak Delvin yang terhormat, Aku ada urusan. Bisakah setelah ini aku pulang?" Kali ini Keyno membuka matanya bersamaan dengan semprotan hair spray di rambutnya. "Awwh.. " mata Keyno menyipit karena siaga jika hair spray itu mengenai matanya, stylish tersebut hanya bisa minta maaf karena tak mengira jika model mereka akan bangun dan membuka mata tiba-tiba, hanya itu yang dapat dia lakukan sekarang.


"Tidak bisa. Masih ada dua pemotretan lagi hingga malam" Jelas Delvin acuh, kemudian berlalu mengecek beberapa crew lain.


Keyno menghela nafas, tangannya terulur menjangkau tabletnya yang terletak di meja di depan cermin besar. Kemudian dia membuka tablet itu dan kemudian tersenyum lebar, menawan.


Benda pipih berbentuk persegi seukuran buku tulis itu menampilkan gambar seorang wanita sedang berbaring, memakai piyama mandi dengan rambut yang terbungkus handuk, wanita itu sedang menonton film kartun yang tak bisa dilihat jelas oleh Keyno. Bibirnya menarik senyum, jari jemarinya mengusap pelan layar tablet itu, bergerak perlahan seakan menyentuh wajah Agnesnya yang tak seberapa jelas di dalam sana.


"Kebiasaanmu sayang" ucapnya pelan. "Kenapa kau jauh-jauh ke villa jika hanya ingin menonton kartun" ucapnya kemudian.


Ponselnya berdering, nomor rumah. Keyno tersenyum sesaat sebelum menerima telepon itu.


"Key, kau dimana?" tanya wanita diseberang sana bahkan sebelum Keyno mengatakan hallo


"Aku di studio. Kenapa?"


"Apa kau mencariku? Tanya Agnes lagi "Jam berapa kau pulang?" lanjutnya.


"Aku tahu kau kemana, dan pulang? aku pulang agak malam, kenapa? kau merindukanku?" tanya Keyno dengan pedenya, Ia masih memperhatikan layar tablet yang memperlihatkan Agnes memegang gagang telepon.

__ADS_1


"Tidak!"


"Kau rindu" Keyno menjawab pertanyaan dengan alibinya sendiri "Aku akan menyusulmu nanti" ucapnya kemudian


"Baiklah, hati-hati aku akan beristirahat" Agnes menutup telepon tersebut, Sementara Keyno sedikit berkerut dan bingung, namun sejurus kemudian dia melemparkan ponselnya saat mendengar teriakan Delvin.


"Key, Ayo mulai!" Delvin datang menghampiri dan menarik tangan Keyno agar bergerak lebih gesit. Tak banyak yang pria muda itu lakukan, demi kelancaran proses syuting ia menuruti semua kemauan dan permintaan managernya.


"1 2 3! Action! "


"Kamera rolling on"


"Action! "


"Cut"


"take one more again"


"Okay, good job" kata terakhir dari sutradara kala mengakhiri syuting kali ini, Tanpa menunggu lama lagi, Keyno berlalu menyambar tabletnya dan berlari keluar tanpa mempedulikan ada banyak staff dan kru yang masih sibuk pada pekerjaan mereka.


"Dasar anak berandal" Delvin berdecih saat Keyno sengaja menabrak bahunya seraya mengedipkan mata pertanda bahwa pekerjaannya sudah beres, jadi tak ada alasan Delvin untuk menahannya, ia bebas sekarang.


"Lunas!" Ucapnya tertawa kecil "Byeee" Keyno melenggang keluar studio dan melambaikan tangan tanpa menoleh pada Delvin, sementara manager itu hanya berkacak pinggang kesal karena seharusnya Keyno mengikuti briefing bersama sutradara iklan pasca pengambilan video untuk evaluasi.


Keyno tak peduli lagi, ia berjalan dengan langkah lebar menuju mobilnya, satu-satunya hal yang ia pikirkan saat ini adalah Agnes, wanita itu akan selalu menyita pikirannya tak peduli kapan dan dimanapun.


Bagai air sungai yang terus mengalir tanpa mengenal musim, seperti itu pula rindu Keyno pada Agnes, tak pernah berhenti. Pria muda itu akan selalu memantau Agnes dan mengawasi wanita itu jika matanya tak dapat menangkap sosok Agnes disekitarnya. Kali ini Keyno mengecek tabletnya lagi, memastikan wanitanya sudah tertidur karena keasikan menonton, seperti kebiasaannya.


JLAB

__ADS_1


Keyno tampak mengutak atik tabletnya, menekan tombol yang sama secara berulang,


play


play


play


Tapi layar itu gelap, tetap gelap bahkan setelah beberapa kali ia mengutak atiknya.


"Apa yang terjadi? " Keyno bertanya dengan resah, jemarinya kembali berselancar mencari titik lain yang dapat menampilkan Agnes di semua sudut villa.


Tak ada.


Tak ada petunjuk, bahkan semua cctv di villa itu tak bisa terhubung padanya.


"Sialan, apa yang kau lakukan nes" gumam Keyno seraya menyalakan mesin mobil dan menderu pergi dari parkiran agensi nya. Wajahnya berubah panik dengan gurat ketakutan menghampiri, Keyno bahkan beberapa kali menelan salivanya sendiri takut saja sesuatu terjadi.


Kecepatan yang ia pacu mengkhawatirkan pengguna jalan lain, Keyno menancap gas dengan kecepatan penuh. Firasatnya Agnes sengaja memblokir semua cctv agar Keyno berhenti mengawasinya. Apalagi mood wanita itu sedang tidak baik sejak semalam, ponsel tak dibawa dan pergi ke tempat yang jauh tanpa pamit pada Keyno membuatnya tambah resah tak terkira.


Sudah 30 menit berlalu, Jalanan terasa begitu panjang dan mobilnya serasa bergerak begitu lambat padahal mobil itu sudah mencapai kecepatan rata-rata, Keyno khalaf ia terus menambah kecepatan mobil dan mendahului pengendara lain yang juga mengebut. Di pikirannya hanya satu, jangan sampai terjadi sesuatu pada Agnesnya.


Berkat kelihaian dan keberuntungannya, ia berhasil menembus jalan kota dan sekarang beralih ke jalan aspal di lereng perbukitan, asri dan sejuk disana tak dapat menenangkan kekhawatiran Keyno yang semakin membuncah.


Seakan semesta melindungi gerak perjalanan Keyno, ia selamat hingga mencapai villa. Villa Bosscha, Villa pribadi yang ia beli dan Agnes saat mereka awal menikah. Tempat ini adalah salah satu hal yang disukai Agnes, letaknya yang jauh dari perkotaan dan keasrian masih terjaga membuat mereka menjadikan tempat ini destinasi healing terbaik saat penat pekerjaan melanda keduanya, tapi itu dulu sebelum pertengkaran sering terjadi antara mereka.


Keyno berlari masuk mencari keberadaan Agnes, memanggil nama wanita itu ke segala penjuru ruangan tapi tak ada sahutan sama sekali. Hingga di pojok ruangan kamar yang tadi ditempati Agnes, Keyno melihat teronggok sebentuk tubuh lemah tak berdaya bersimbah darah.


Keyno termangu, lututnya melemas, meski yakin siapa yang ada disana ia masih berusaha melawan pikirannya. Perlahan mendekat dan dia jatuh terkulai saat menyaksikan pemandangan di hadapannya benar-benar nyata adanya.

__ADS_1


"Agnes.... !"


...---...


__ADS_2