
Sore hari, saat langit jingga menyelimuti setengah cakrawala dengan pesona cahaya yang memanjakan mata menerpa pepohonan. Memberi kesan damai dan manis saat dua orang sedang diliputi rasa sayang yang mendalam sedang bercengkrama menikmati suasana ini.
Disana disebuah kursi kayu berwarna putih dibawah pohon Ara, Keyno memberikan dadanya sebagai sandaran untuk wanitanya meletakkan lelah. Lelah yang mungkin hanya bisa dirasakan Agnes meski dia sudah berusaha membagi rasa itu pada lelakinya. Bukan Keyno tak punya perasaan hingga tak bisa memahami apa yang dirasakan Agnes, namun adanya semacam satu logaritma yang tak bisa dijelaskan hingga Keyno benar-benar tak bisa memahami secara sempurna bagaimana ia mencintai dan dicintai oleh Agnes, wanitanya.
"Aku akan pergi malam ini" bibir tipis Agnes berucap dengan suara merdu di pendengaran Keyno. Lelaki itu merangkul dan merapatkan tubuhnya pada Agnes.
"Kemana?"
Keyno memusatkan atensinya pada Agnes yang sudah duduk normal seraya menguncir asal rambutnya "Janji temu dengan temanku" jawab Agnes singkat.
"Siapa?"
"Tera. Apa kau ingat? Wanita yang mengundang kita ke pernikahannya saat kau akan ke luar negeri dan pasportmu ketinggalan?"
Hmm, Keyno berdehem. Membentangkan tangannya pada sandaran kursi seraya mengingat orang yang dimaksud Agnes. Sejurus kemudian ia mengangguk "Teraly Zoe?" tanyanya memastikan.
Agnes mengangguk "Kau tahu Key, dia sudah memiliki dua orang anak, mereka kembar. Aku terkejut ketika dia sudah disini, terakhir dia menghubungiku bahkan hanya saat pernikahannya itu"
"Lalu darimana kau tau dia punya anak kembar?" tanya Keyno seraya merapikan anak-anak rambut yang berjuntaian dileher wanitanya
"Dia memberitahuku"
__ADS_1
Keyno diam. Ia hanya memberi elusan kecil pada bahu Agnes. Seraya menatap lurus ke depan menikmati pemandangan sore di taman bunga yang di desain khusus untuk Agnes. Indah. tapi jika diminta untuk membandingkan. Jelas lebih indah wanita disampingnya. Tak ada yang bisa melebihi Agnes. itulah Keyno.
"Kau keberatan?" tanya Agnes lagi.
Keyno tertawa. lalu menyentil jidat Agnes hingga membuat wanita itu mengaduh kesakitan "Sejak kapan kau meminta izinku?" tanyanya.
"Bukankah aku tampak lebih baik?" Agnes bertanya. Memancing Keyno agar berpikir bahwa dia telah bertransformasi menjadi wanita yang tak memberontak seperti biasanya. Ia beranjak beberapa langkah dan memetik sekuntum mawar yang kebetulan mekar tak jauh dari tempat mereka duduk, lantas mencium dan menghirup dalam-dalam wangi yang ditangkap indera penciumannya. Agnes menyukai aroma bunga, Keyno tak heran melihat tingkah Agnes yang tengah menghirup ketenangan yang mengalir dalam ruang jiwanya.
"Boleh?" Rayunya. Berhenti dari kegiatannya dan menatap Keyno. Lengkungan senyuman terukir diwajahnya membuat Keyno turut bahagia menyaksikan senyum merekah di bibir pink istrinya.
"Kau selalu pergi sesukamu. Kenapa sekarang kau perlu izinku?" Keyno bertanya "Apa kau akan menurut jika tak kuizinkan?" Keyno menjeda ucapannya "tidak kan?" katanya menyimpulkan jawaban Agnes. Keyno tau Agnes hanya berbasa-basi, Seperti kebiasaan wanita itu ia takkan mendengar ucapan Keyno. Pria muda itu lebih tau bagaimana sifat Agnesnya.
Wanita itu kembali duduk disamping Keyno, mendaratkan telapak tangannya pada lengan Keyno dan memberikan bunga dalam genggamannya pada pria muda itu. "Aku mencintaimu, sangat!" kalimat itu mengalun indah dipendengaran Keyno, refleks ia tersenyum dan mengambil bunga itu dengan perasaan hangat. "Aku lebih mencintaimu" Ucapnya seraya membawa Agnes dalam dekapannya.
...***...
Jam dinding menunjukkan pukul 02.00 dini hari, Pria berkulit putih dengan baju tipis membalut tubuhnya terjaga saat udara dingin menyelimuti dirinya. Ternyata ia mendapati satu jendela dikamarnya tak tertutup sempurna, membuat angin malam masuk tanpa permisi menganggu tidur tenangnya.
Tungkainya melangkah teratur menuju jendela beberapa langkah disudut kanan kamar bernuansa abu-abu itu. Menarik pengait jendela itu secara manual karena remote kontrol tak ia temukan. Dengan wajah mengantuk, ia menarik gorden putih kombinasi abu itu.
Kesadaran Keyno terkumpul sempurna saat ia kembali ke ranjang namun tak mendapati Agnes disana, hanya sebuah guling bermotif bunga yang tergelatak dibalik selimut. Lantas pria itu memeriksa kamar mandi barangkali Agnes tertidur disana seperti kebiasaannya setelah pergi bersama teman-temannya. Kerap kali Keyno yang harus mengangkat tubuh lemas Agnes ke ranjang.
__ADS_1
Tak ada. Tak ada siapapun disana. Ia kemudian keluar kamar, mencari keberadaan Agnes ke ruangan lain, kaki atletisnya menuruni anak tangga dengan tergesa tujuan keduanya adalah sofa dilantai bawah, biasanya Agnes akan terbaring disana karena tak sanggup lagi untuk menaiki tangga. Ia meracau, tertidur dan terbangun dibawah selimut hangat dikamarnya. Siapa lagi yang memindahkannya? Agnes tak perlu bertanya, hal itu seperti rutinitas Keyno sebagai prianya. Bukan Keyno tak marah, kerap kali pria itu menghukum Agnes agar tidak pergi bersama teman-temannya. Tapi bukan Agnes namanya jika ia selalu menurut Keyno. Hingga akhirnya, Ada titik dimana Keyno pasrah dan mempersilahkan Agnes berlaku sesukanya.
Keyno menyalakan lampu, menyapu seluruh ruangan dengan pandangan khawatir. Tetap ia tak menemukan Agnes. Keyno mulai resah, ia berlari menuju kamar mencari benda pipih yang bisa menghubungkannya dengan Agnes, menekan kontak wanita itu namun tak kunjung ada jawaban setelah dihubungi beberapa kali. Keyno mendengus. Barangkali terjadi sesuatu pada Agnes hingga ia tak pulang. Sial, Keyno mulai merutuki dirinya yang teledor dan tak mengawasi Agnes setelah kepergiannya tadi, pria itu terbuai dengan tidurnya hingga ia tak menunggu Agnes pulang, bahkan tak mengecek dimana keberadaan Agnes seperti kebiasaannya.
Keyno membuka pesan singkat yang baru ia lihat setelah cukup fokus, pesan dari Agnes.
"Key, aku mencintaimu!"
Satu kalimat yang selalu terdengar indah di telinga Keyno, namun tidak kali ini, kalimat itu bagaikan pesan peringatan. Jelas ini ancaman, pasti lah Agnes sedang melakukan sesuatu yang tak Keyno ketahui.
Pria itu berlarian ke ruang kerjanya, mengakses segala sistem yang menghubungkan dirinya dengan perangkat yang terpasang pada Agnes. Namun, semuanya failed ia sama sekali tak bisa menemukan apapun. Keyno berang. Marah. khawatir sangat bercampur satu.
Keyno kembali berlarian mencari ponselnya menghubungi siapa saja yang dikenal Agnes untuk bertanya, tak peduli dini hari sekalipun Ia bahkan mendatangi Delvin managernya dan membangunkan pria itu untuk membantunya mencari Agnes karena tak bisa menghubungi Tera, orang terakhir yang ditemui Agnes.
"Kau terlalu cemas, jantungmu bisa berhenti jika begini" Ucap Delvin menatap kesal Pria dengan mafas terengah itu. Ia terlihat kekanakan, frustasi resah, gelisah. Ia tak bisa berpikir jernih, ada semacam syndrome kepanikan seakan ia benar-benar akan kehilangan Agnes.
"Minum!" Nada bicara Delvin memerintah.
Delvin memberikan sebotol air mineral setelah menyuruh paksa Keyno agar duduk terlebih dahulu, menenangkan diri seraya mencari arah dan tujuan untuk mencari Agnes. Bukan yang pertama Keyno seperti ini, Sedikit banyaknya Delvin memahami bagaimana dan kenapa Keyno mempunyai kepribadian seperti ini. Ia tahu betul Keyno takkan bisa tanpa Agnes.
Ditengah kekalutannya, Keyno mendapati ponselnya berdering. Keyno berharap itu Agnes, namun air mukanya berubah seketika saat mendengar suara seorang yang ia kenal mengatakan jika Agnes dalam bahaya. Ya, Agnes sedang berteriak kesakitan. Keyno hafal nada suara itu.
__ADS_1
...***...