
"Kau yakin tak ingin melanjutkan?"
Keyno menggeleng tenang.
"Kau akan menyesal" Ucap Agnes dengan nada dingin.
"No baby" Tutur Keyno tenang, lalu menangkup kedua pipi Agnes yang tampak menggemaskan bagi Keyno, wanita itu tengah kesal mendengar jawaban Keyno.
"Why? Bukankah tadi siang kau memintaku, Keyno?"
"Tidak, jangan sekarang!"
Agnes tersenyum remeh, lalu menjarak tubuhnya dari Keyno hingga pria muda itu bisa bangun dan meraup kemejanya kembali. Sementara Agnes berjalan menjauh menuju balkon yang belum tertutup sedari tadi, tangan kecilnya meraih sekaleng bir yang memang terletak disisi meja balkon tersebut. Sepertinya bekasnya tadi malam yang belum sempat ia minum. Wanita itu meneguk minuman itu dengan rakus hingga kandas ke dasarnya, lalu Agnes membanting kaleng itu hingga menimbulkan suara yang mencuri perhatian Keyno.
"Kau masih marah padaku?" Keyno muncul di belakang Agnes, menatap punggung wanita itu dengan intens seraya berpangku tangan dengan angkuh. Tak ada jawaban yang terdengar dari mulut Agnes, ia sibuk menggerutu dalam diam hanya urat-urat tangannya terlihat menyembul karena Agnes mencengkeram begitu kuat pagar balkon, seperdetik kemudian dia membanting dan memukulkan tangannya ke pagar besi berlapis stainless warna krem itu.
"Agnes..!!" Teriak Keyno
Keyno terkejut mendapati Agnes tiba-tiba memukul pagar balkon, terus terang sedari tadi Keyno sibuk memperhatikan siluit Agnes dari samping, hidung mancung, bulu mata lentik dan rambut halus yang melayang tertiup angin malam sungguh menawan dan sayang untuk dilewatkan.
Agnes terus saja memukulkan tangannya ke balkon seperti hendak memecahkan es batu menggunakan palu, bedanya ini tangannya. Tak peduli memar atau mungkin tulangnya yang sudah retak dibagian sana ia terus membanting hingga beberapa kali sebelum Keyno menghentikannya.
"Hey, Nes.. !"
Keyno memegang kedua lengan Agnes, Disekitaran lengan dan punggung tangannya tampak membiru, tak ada ada darah disana, namun melihat tangan Agnes bergetar hebat cukup membuktikan bahwa itu sangat sakit.
"Apa yang salah dengan pagar itu, ha?" tanya Keyno setelah membalikkan tubuh Agnes lalu mendekapnya, membiarkan Agnes terus menyerang dan memukulnya dengan sisa kekuatan yang ada. Hingga tubuh wanita itu berangsur melemah.
__ADS_1
"Kau hanya menyakiti tubuhmu jika seperti ini" ucap Keyno lagi menciumi puncak kepala Agnes, sama sekali tak ada jawaban dari Agnes tubuhnya Ambruk kalau saja Keyno tak kuat menahannya, Agnes pingsan.
...***...
Suara ponsel nyaring terdengar mengisi ruangan, Keyno terbangun dengan jam yang menunjukkan pukul 11 siang, Sial, dia terlambat ke acara pemotretan hari ini.
Sementara Agnes, mana Agnes?
Keyno tak menemukan Agnes di sisinya, secepat kilat ia bangkit dan berlari ke kamar mandi, menerobos pintu kaca yang terbuka setengah dengan tergesa. Tak ada, Ia tak menemukan Agnes disana. Keyno berlari ke balkon, ruang kerja, dapur bahkan halaman belakang tapi ia tak menemukan Agnes sama sekali. Di penuhi perasaan panik dan nafas terengah ia kembali berbalik mencari ponselnya di kamar dan menghubungi Agnes.
Lagi-lagi Keyno dibuat kesal saat mendengar bunyi nyaring ponsel Agnes di sofa, tergeletak tak beraturan bagaikan sampah yang tak berguna.
Tak tinggal diam, Keyno mengambil ponsel Agnes dan mendial nomor Naki, menanyakan karyawan itu dimana keberadaan Agnes dengan setengah memaki karena tak sabar mendengar jawaban yang diberikan. Keyno segera memutus sambungan telepon saat jawaban Naki tak sesuai harapannya.
Kemana Agnes?
Bersyukurlah Agnes tubuhnya sangat kuat, Meskipun secara nalar manusia biasa ia akan kesakitan akibat kelakuannya tadi malam, Namun Agnes, ia tak pernah mengeluh sakit, Hanya saja ia akan melemas dan berujung pingsan lalu setelah ia bangun semua akan kembali baik-baik saja.
Keyno tau Agnes kuat, tapi jika itu menyangkut nyawa Agnes apalagi berpotensi membuat dia kehilangan Agnes, pria muda ini bersumpah takkan membiarkan hal sekecil apapun terjadi mengusik Agnesnya.
Keyno bernafas lega saat ia menatap layar tabletnya, menampilkan Agnes sedang berkendara seraya bersenandung kecil. Keyno memperbesar cctv yang terhubung ke mobil Agnes, memperhatikan jalan dan rambu lalu lintas guna mencari tahu kemana tujuan Agnes dan yes, Keyno tahu kemana arah jalan itu.
Vila Bosscha
"Mau apa dia kesana?" tanya Keyno menggigit jarinya, gelisah dan resah ia rasakan bersamaan.
"Kenapa tak membawa ponsel?"
__ADS_1
Sesaat ketika Keyno menyambar jas ia dikejutkan dengan dering ponselnya sendiri.
Delvin?
"Hmm?, Aku tak bekerja hari ini!" ucapnya ketika mengangkat telepon.
"Kau gila!"
"Ayo lah, pak! Ada urusan yang harus ku selesaikan!" Keyno berbicara sedikit membujuk, bahkan menyebut embel-embel bapak yang takkan pernah ia ucapkan jika tidak sedang merayu.
"10 menit lagi aku tiba di rumahmu, jangan main-main. Atau ini akan berakhir di meja hijau?" Tegas Delvin lalu panggilan terputus.
Keyno menghela nafas berat, lalu kembali menatap layar tabletnya yang masih menampilkan Agnes. Wanita itu sedang berhenti dipinggir jalan, menggendong seekor kucing yang menghalangi jalan mobilnya, tak di ragukan lagi Agnes penyuka kucing, bahkan jika dibandingkan Keyno, Agnes bisa lebih memanjakan kucing dari pada pria itu.
Tak begitu jelas apa yang dikatakan Agnes pada si kucing itu, Keyno hanya menatapnya seraya mengukir senyum, pasti lah Agnes sedang bercanda atau mengobrol hal yang lucu pada kucing itu. Ia tampak senang dan baik-baik saja!
"Keyno, keluar kauuuu!!!" teriak Delvin dari pintu depan, membuyarkan lamunan Keyno.
"Sialan, manager cerewet itu meneriaki aku!" ucapnya kesal lalu berlalu dengan terpaksa.
"Kau di denda karena berteriak di depan rumahku!"
"Kau akan kubunuh jika terus seperti ini!" Jawab Delvin dengan muka yang memerah, tampaknya manager Keyno ini benar-benar marah bahkan sampai menjemputnya seperti ini, "Kau tak bisa seperti ini, kau teladan bagi kandidat lain yang sedang training, kau juga model utama brand-brand andalan Agency yang sudah kau tanda tangani, kau akan dituntut jika...--"
"Sssttttt,!!" Keyno memotong ucapan Delvin yang menggebu-gebu "Maafkan aku pak. Aku akan memenuhi jadwalku yang tertunda hari ini juga" Ucapnya tersenyum lalu menarik tangan Delvin agar segera masuk ke mobil.
...----...
__ADS_1