Semestaku

Semestaku
Lost Mind


__ADS_3

Pertengkaran seperti biasa terjadi antara Keyno dan Agnes. Mereka yang awalnya baik-baik saja, malah terkesan mengumbar kemesraan, nyatanya tidak seperti itu. Hubungan yang terlihat kokoh diluar namun hancur di dalam meskipun Keyno tak pernah menerimanya. Ia mencintai Agnes, wanita yang baru saja Keyno tampar karena terus saja memaki dan menyudutkan Keyno, memaksakan kehendaknya dan mengancam Keyno secara terang-terangan, bukan juga karena Agnes tak peduli, tapi ia ingin tau sejauh mana cinta yang selalu di katakan Keyno, ia ingin bukti yang ia yakini benar meski pun Keyno tak pernah sedikit pun mengubah pendiriannya.


"Kau takkan pernah paham!" Agnes setengah membentak, Menatap Keyno tidak suka dengan tangan gemetar berpengangan pada sofa.


"Kau tahu aku takkan pernah paham, tapi kenapa kau selalu memaksaku untuk paham?!" Keyno mengcengkeram kedua bahu Agnes, menatapnya tajam hingga Agnes benar-benar tersudut "Apa susahnya menjalani hidup tanpa memikirkan hal itu?" Ia menggeram marah. Keyno sudah bilang berkali-kali kalau ia tak ingin membahas masalah ini.


"Bagaimana jika aku tidak mau?" Agnes tak mau kalah, "Aku tidak mau mengikuti kata-katamu yang selalu menganggapku wanitamu, tapi kau tak pernah mempertimbangkan permintaanku" Agnes tersenyum miring, lalu berkata dengan lantang "Katakan, cinta seperti apa yang kau punya untukku?" teriaknya dengan nafas terengah.


"Kau ingin aku memenuhi permintaanmu?" tanya Keyno pelan namun penuh penekanan "Lalu aku kehilanganmu?" Keyno memegang dagu Agnes "Permintaan konyol seperti apa yang baru kau katakan, Agnes?" tanya Keyno, pandangannya tajam penuh amarah. "Aku sudah katakan berulang kali, aku akan menuruti segalanya kecuali satu...." Keyno menjeda "Kecuali permintaan konyol mu itu" Lanjutnya.


"Kau egois key, Egois!!" teriak Agnes.


"Aku tak peduli!!"


"Keyno, Apa kau lupa dari mana aku berasal? Kau lupa siapa aku? kau lupa semua tentang aku?" Tanya Agnes bertubi-tubi dengan suara yang perlahan meninggi dan menggeram.


"Ya, aku lupa! Bahkan aku tak mau mengingatnya" Keyno membalas "Kau untukku dan aku untukmu, tak ada yang lebih penting dari itu" tegasnya.


"Kau Egois!" Marah Agnes "Buat aku berhenti mencintaimu!" Pinta Agnes "Aku membencimu, sangat!" Ucapnya pasrah sambil mengusap airmata yang berjatuhan. Agnes berharap ada keajaiban saat ini, malaikat kematian mencabut nyawanya, dengan begitu ia takkan terjebak lagi pada lingkaran cinta yang selalu membuatnya gelisah.


"Nes, lihat aku!" Keyno mengusap airmata Agnes dengan lembut, tampaknya ia mulai khawatir akan Agnesnya yang sudah terlihat sedih tak karuan, bibirnya pucat dan tangannya masih gemetar "Aku memang berbeda denganmu, aku fana tak abadi sepertimu. Tapi kenapa tak pernah kau pikirkan untuk membuat ku abadi juga sama sepertimu?" tanyanya.


"Kau berharap terlalu jauh Key, Jangan merusak tatanan alam lagi, cukup aku yang melewati garis batas itu!" Agnes menjeda "Hidup abadi hanya siksaan, bukan kebahagiaan seperti yang kamu bayangkan!" Pungkasnya.


"Itu alasanmu ingin meninggalkan aku?" tanyanya lagi.


"Aku tak meninggalkanmu, kita bisa pergi bersama!"


"Tidak" Mendengar hal itu, Keyno menggeleng cepat. Ia memeluk Agnes dengan kuat sambil mengatakan bahwa ia takkan pernah merelakan Agnes sampai kapan pun. Ia sedang berusaha, berusaha menyeimbangkan diri seperti Agnesnya, Ia juga sedang berusaha bagaimana caranya agar Agnes tidak meninggalkannya meskipun nyatanya usaha itu tidak tahu harus bagaimana.

__ADS_1


"Aku akan melupakan pembicaraan kita ini, Menganggap perdebatan ini tak pernah ada" Ucap Keyno mengecup puncak kepala Agnes, mengusap dan membelai rambut wanitanya.


"Key... Kau harus sadar siapa dirimu"


Pria muda itu melepaskan pelukan, menatap Agnesnya seraya tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa "Kau tidak lelah terus bertengkar? lebih baik kita belanja, itu kan janjiku tadi pagi?" bujuknya.


"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, Key!"


"Agnes, kau menyukai tas limited edition dari brand LV kan? Ah, aku sudah memesan untukmu, tapi kita harus menjemputnya" ucapnya seraya tersenyum dan mendaratkan ciuman berkali-kali di pipi Agnes "Ku tunggu di mobil 10 menit lagi" bisiknya.


Agnes tidak tahu lagi harus bagaimana menjelaskannya pada Keyno. Ia tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana lagi cara menyampaikan keinginannya yang jelas-jelas di tentang Keyno. Lelaki itu sedang berbohong, dari tatapan matanya ia menyimpan kekhawatiran akan ucapan Agnes, tapi obsesinya pada Agnes, kecintaannya pada Agnes membuatnya kalaf dan seolah tak ada hal penting selain Agnesnya.


Sekarang yang bisa Agnes lakukan hanya menatap punggung pria tersebut berjalan menjauhinya, membuka pintu dan hilang dibarengi tertutupnya pintu tersebut.


Agnes terpaku, perasaan bimbang menguasai hatinya. Antara tinggal atau pergi, antara memutuskan sembunyi atau melarikan diri. Kenyataannya, ia hanya tak ingin Keyno pergi meninggalkannya, Pria muda itu, pria yang dengan segenap jiwa raganya mencintai Agnes mengidap penyakit mematikan yang pria itu sendiri tak pernah tahu. Keyno mengalami sakit "Eternalis" atau semacam 'kutukan'. Tentu saja semua itu karena kehadiran Agnes di hidupnya, Makhluk lain yang melanggar tatanan garis batas manusia dan dunianya. Tapi apa lagi? cinta membuatnya seperti ini.


Disisi lain, Agnes juga ingin hidup normal. Seperti manusia pada umumnya, memiliki anak bersama Keyno, bukti cinta yang nyata, tak apa jika ia harus mati setelah melahirkan anak itu asal Keyno terhindar dari 'kutukan' akibat dirinya mencintai manusia. Bukan kah impas? Tapi kebenaran ini lah yang selalu Keyno tolak. Ia hanya hidup berdasarkan waktu saat ini.


Agnes menghela nafas, memutuskan untuk pergi mengikuti ajakan Keyno, tak peduli dengan matanya yang memerah dan sembab disekitar pipi akibat tamparan Keyno tadi. Ia hanya mengambil tas dan jaketnya lalu menyusul Keyno yang sudah menunggu di mobil.


Di sebuah gerai brand tas ternama, Keyno memberikan tas yang tadi ia maksud, tersenyum ramah pada pegawai yang melayani disana. Tak lupa mereka meminta berfoto dan tanda tangan Keyno. Sebagai model papan atas saat ini, tentu orang-orang mengenali Keyno dengan mudah, seperti kali ini. Keyno tak sengaja berpapasan dengan seorang ibu lansia di supermarket saat menemani Agnes memilih kebutuhan harian.


"Maaf.."


"Ya?" Jawab Agnes tersenyum ramah, diiringi Keyno merangkul bahu Agnes.


"Apa benar kau Keyno Irawan yang selalu di TV?"


"Ya, ada yang bisa ku bantu bu?" Jawab Keyno tak kalah ramah.

__ADS_1


"Cucu ku sangat mengidolakanmu, boleh aku meminta foto dan tanda tanganmu?"


"Tentu boleh!" Keyno tersenyum, sementara ibu itu terlihat terharu, tangan renta mengeluarkan sebuah ponsel dari tasnya dan bersiap untuk memfoto Agnes dan Keyno.


"Bagaimana jika berselfie bertiga?" Keyno memberi saran dan langsung mengambil ponsel si ibu.


1 2 3 chesee!!!


Keyno kemudian mengambil sapu tangan di sakunya, lalu mengambil spidol yang selalu tersimpan di tasnya, membubuhkan tanda tangan pada benda persegi empat itu kemudian menyerahkan pada si ibu lansia. Agnes menjauh lebih dulu, Ia memberi ruang pada Keyno dan fansnya untuk beriteraksi, public figure! Agnes memahami profesi Keyno.


"Terimakasih tuan Keyno!" ujarnya senang bahkan terlihat hampir menangis dengan tangan sedikit gemetar menerima pemberian itu.


"Salam untuk cucumu, hati-hati saat pulang" Ucap Keyno mengakhiri pembicaraan lalu menyusul Agnes membeli barang lain untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka seminggu ke depan.


"Kau bisa juga bersikap manis" Agnes memuji Keyno seraya mengambil sekotak susu full cream di tempatnya.


"Mereka lah yang membuatku seperti ini" Jawab Keyno rendah hati "Lagi pula, memangnya aku tak pernah bersikap manis padamu?" tanyanya.


Agnes berdecih, kembali mengambil beberapa cake kering dari tempatnya "Kau pikir menamparku itu manis?" Agnes berkata dengan kesal "Berengsek ya tetap saja brengsek" ucapnya.


Keyno tertawa, wajah Agnes terlihat lebih menarik jika sedang kesal. Keyno merangkul pinggang Agnes lalu mendaratkan ciuman di pipi Agnes, tak peduli dengan orang sekitar ia terus mencium Agnes sampai Agnes mendorong Keyno sedikit kasar.


"Key...! Ini tempat umum!" sergahnya.


"Kau pikir aku peduli?" jawabnya acuh.


...----...


...Terlepas baik buruknya aku memperlakukanmu, ketahui lah ada hati dan jiwa yang lebih hancur ketika kau meninggalkannya. -Keyno Irawan...

__ADS_1


__ADS_2