
Bulan ketiga ditahun cantik dengan segala kisahnya, Agnes terbangun disuatu pagi yang mendung. Gelap, diluar terdengar rintik hujan beriringan menyambut pagi dengan segala kesibukannya.
Agnes terantuk saat memalingkan wajahnya mengenai bahu Keyno. Agnes mengamati wajah tidur Keyno yang nampak kelelahan. Pria muda itu baru saja pulang setelah menyelesaikan syuting iklan produk yang mengontraknya menjelang subuh, bukan karena Keyno terlalu keras bekerja hingga baru pulang di jam yang seharusnya ia sudah beristirahat, melainkan permintaanya sendiri untuk kejar syuting karena ia ingin cuti untuk menemani Agnes ke sebuah pulau sesuai janjinya di waktu mendatang. Ia pun harus menyanggupi untuk melakukan syuting lebih awal bahkan memadatkan jadwal-jadwalnya.
Keyno tetaplah Keyno, Ia menyanggupi apapun itu demi wanitanya, pria muda dengan wajah rupawan dan garis rahang sempurna serta mata bulat sayu kini tengah terlelap layaknya bayi disamping Agnes. Punggung tangan Agnes merayap mengelus halus pipi Keyno, menyingkirkan helaian rambut halus yang telah panjang lelakinya.
"Kau selalu manis" Agnes berbisik, menikmati udara dingin yang serasa menyeruak menyelimuti dirinya "Kau terlalu manis" ucapnya lagi "Harusnya aku sudah bahagia memilikimu saja? tapi mengapa kamu?" tanyanya "Aku tahu Key, aku yang tak pernah berubah dari dulu"
Tarikan nafas Agnes membuatnya mengingat kepingan kenangan di benaknya. Dimana seorang Keyno lah yang tega mencelakainya, seorang Keyno lah yang melakukan sesuatu itu padanya, anehnya tak ada rasa apapun. Ia bagaikan menonton film yang diperankan oleh dirinya sendiri. Sakit, tapi hanya sebatas ingatan.
"Mengapa sulit memahami mu Key?" lirih wanita itu.
ucapan demi ucapan di utarakan oleh Agnes meskipun hanya bagai siulan yang tak pernah di dengar oleh Keyno. Udara dingin yang menyapa, tak serta merta membuat perhatian Agnes teralihkan dari Keyno yang senantiasa yang tak ingin jauh darinya. Desah4n halus diikuti deruan nafas teratur yang mengalun menyentuh kulit Agnes memicu lukisan bulan sabit di wajah wanita berparas anggun itu sampai akhirnya ia beranjak. Memakai pakaian hangatnya dan berjalan menuju meja dapur untuk mencari sesuatu mengisi perutnya pagi ini.
Namun sejenak Agnes tertegun saat membuka lemari pendingin, ia kemudian mengambil yogurt dan sebuah apel. Dengan langkah santai, ia berselonjor di sofa dan menyalakan TV untuk melihat berita terbaru atau perkiraan cuaca hari ini, wanita itu menyeting volume kecil pada benda elektronik itu takut saja jika Keyno terbangun mendengar sesuatu yang gaduh.
Ia membatalkan niatnya ingin menikmati roti bakar dengan slice keju serta parutan kacang almond yang di stoknya, takut saja suara berisik itu menganggu tidur lelap Keyno.
Agnes menggigit apel merah dengan santainya, buah ini adalah salah satu hal yang ia sukai selain Keyno. Selain sehat, buah ini juga bisa menjaga bentuk tubuh untuk menunjang program dietnya.
Agnes mendengus saat TV menampilkan berita bahwa di lain titik di kota ini terjadi badai, bahkan memicu kebanjiran. Terang saja, Agnes ada pekerjaan hari ini bersama klien nya, tapi seperti akan batal karena cuaca buruk melanda serta beberapa jalan di tutup sementara. Agnes mengambil botol yogurt dan membukanya. Mungkin karena sedang kesal atau terburu-buru yogurt itu tumpah membasahi paha dan celananya. Membuatnya menggerutu pelan serta mengibaskan bajunya yang terkena.
"Ah, menyebalkan!"
__ADS_1
Meskipun mengomel, Agnes beranjak dan mengambil tisu untuk mengelap sofa yang terkena tumpahan yogurt. Beberapa kali Agnes terdengar mendengus karena detik berikutnya ia menendang sebuah kaleng minuman yang tergeletak di lantai hingga membuat karpet bulu dibawah sana kotor dan basah, dan ya Agnes harus membersihkannya lagi.
Wanita itu sibuk mengepel dan mengeringkan lantai sebelum ia mendengar suara ponsel Keyno berdering. Ia lantas menghampiri ponsel Keyno dan hendak mengangkatnya namun terputus sebelum ia mendengar jawaban.
"Siapa? tak ada nama?" gumam Agnes bingung.
Agnes memeriksa kontak baru yang barusan menghubungi suaminya. Benar-benar nomor tak dikenal tanpa nama, dari hal itu Agnes iseng untuk membuka seluruh daftar kontak di ponsel Keyno dan menyadari bahwa Keyno hanya menyimpan nomornya saja.
"Berlebihan" Ucapnya malas.
Selanjutnya ia beralih ke pesan masuk dan chat-chat yang bertumpuk, cukup banyak wanita yang mengajak Keyno berkencan atau sekedar mengajak bertemu dengan alasan makan malam atau mengundang untuk datang ke pesta. Lebih parahnya lagi Keyno tak pernah membalas pesan tersebut, bahkan membuka atau membacanya.
Agnes melirik ke arah Keyno yang masih terlelap. Wajah dinginnya tak berekspresi apapun mengetahui jika lelakinya menolak berbagai macam wanita hanya karena dirinya, nampaknya Agnes tak terlalu membanggakan hal itu.
Agnes mencari kemungkinan nomor prof di kotak sampah dan riwayat pesan, disanakan seharusnya Keyno menempatkan jika ia sudah tak membutuhkan lagi? atau setelah selesai bertukar informasi.
Tak berapa lama, Agnes menemukan sesuatu yang dicarinya. Lantas ia segera menghubungi seseorang itu hingga terdengar jawaban dari seberang sana.
"Pak Prof B...."
...***...
Keyno terbangun menjelang jam berdenting tepat di jam 12. Tengah hari, tapi kali ini seperti masih pagi, gelap dengan rintik gerimis yang enggan berhenti menemani tidurnya setengah hari ini. Awalnya ia bangun ingin menutup tirai yang terbuka lebar karena kilat sesekali menampakkan diri namun terhenti saat ia menyadari Agnes tengah tertidur pulas di dadanya. Tak ingin membangunkan dan menganggu mimpi wanitanya, Keyno mengurungkan niatnya dan hanya meraih selimut agar menutupi sebagian wajah Agnes agar tak terganggu oleh pancaran sinar kilat yang menyambar ganas di luar sana. Ia tersenyum, ia ingin membiarkan Agnes terlelap sama seperti Agnes membiarkan dirinya istirahat, namun Keyno salah, Agnes hanya berpura-pura tidur setelah Keyno mengusap puncak kepalanya.
__ADS_1
"Hey..." sapa Keyno tersenyum seraya meraba pipi Agnes dengan ibu jarinya "Kenapa bangun?" tanya Keyno.
"Kau mengangguku!" Jawab Agnes seraya menenggelamkan wajahnya lebih dalam ke dada prianya.
"Maaf...."
"Tidak..." balas Agnes menggeleng lucu lalu mengecup bibir Keyno "Kau tak ada pekerjaan siang ini?" tanyanya.
"Hmm, Kalaupun ada. Aku akan membatalkannya" tangan Keyno melingkar mengurung di perut Agnes.
"Ahh, aku akan menyiapkan makan siang"
"Tak perlu, Begini saja aku sudah kenyang" ucapnya seraya mengeratkan pelukan.
"Bukan untukmu, untukku..." Agnes tertawa yang dihujani kecupan oleh Keyno karena Agnes tampak menggemaskan saat sedang menggoda dirinya..
"Key, stop.. "
...******...
Hallo pembaca, Maafkan othor lama ga up. semua ini karena aku tenggelam dalam lautan luka dalam, aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang🥺😀
-Butiran debu 🎶🎵
__ADS_1
semoga kalian selalu sehatt... salam Agnes Keyno.