Semestaku

Semestaku
Break or Fract?


__ADS_3

Sejenak Keyno terpaku akan pemandangan dihadapannya, pria muda itu lunglai dengan otot dan sendi-sendi melemah tak kuasa melihat wanitanya tergeletak lemah dengan mata tertutup, serta luka sayat di sepanjang lengan kirinya, Keyno juga bisa melihat jejak airmata di pipi Agnes. Pastilah wanita ini punya alasan kuat mengapa ia melakukan hal seserius ini.


"No, Agnes...!"


"Wake up, please! Why.. why..?"


Keyno mengambil kepala Agnes dan menepuk pipinya, tangannya yang besar sudah terasa kebas akibat gemetar yang sulit di kontrolnya. Ketakutan kembali menghantuinya. Ia tak bisa berpikir secara terarah sekarang, satu-satunya yang terpikir adalah mengambil kain panjang penutup kasur dan membalutkannya pada lengan Agnes, berharap aliran darah yang mengucur disana berhenti. Sebelum itu ia sudah menghubungi rumah sakit terdekat agar pertolongan segera tiba.


"Key...." Lirih Agnes perlahan membuka mata, mata sayu itu menatap kosong seraya tertawa hambar, "Biarkan saja, aku tidak akan mati!" lanjutnya, kali ini ia tersenyum, senyum mengerikan daripada wajah pucat sebelumnya, Ia menarik tangan kirinya dan menunjuk hasil ulahnya lalu kembali berkata "Aku masih hidup, aku tidak akan mati Key" pungkasnya.


Keyno hanya mendengar, tidak marah atau pun membalas ucapan Agnes meskipun hatinya meradang. Sebesar itukah keinginan Agnes untuk meninggalkannya? Tidak. Keyno takkan membiarkan Agnes melakukan itu. Ia takkan pernah bisa menerima kepergian Agnes. Saat ini yang dapat ia lakukan adalah mendekap tubuh lemah yang terisi ambisi menggelora untuk memisahkan jiwa dan raga, mencium wanitanya dan membiarkan kemeja putihnya kotor akibat tindakan gila wanitanya.


Agnes mengcengkeram kuat lengan kemeja Keyno, meraung dengan suara tertahan sebagai bentuk protes pada semesta yang seolah tak merestui keinginannya, tangan luka itu masih kuat memukul dada Keyno beberapa kali. Manusia normal akan mati jika mengeluarkan darah sebanyak itu, tapi hal itu tidak berlaku bagi Agnes.


"Ness... tenanglah..!" Keyno membujuk namun tak menghentikan pukulan Agnes ia masih terus mengusap puncak kepala Agnes dan sesekali menciumnya.


Airmatanya sudah menitik mengenai wajah Agnes, Keyno terlalu lemah mengerahkan tenaga untuk membendung airmatanya. Tidak, ia tidak bisa melihat semua ini.


Agnes kembali meraung dan berteriak, tapi kali ini suaranya perlahan memudar. Tubuhnya melemas, benar-benar lemas bahkan matanya kembali tertutup. Dia pingsan.


Keyno menghela nafas, jatuh terduduk untuk sesaat sebelum mengendurkan pelukannya, Ia menatap wajah Agnes, mengusap air mata serta noda darah di pipi dan lehernya.


"Dokter dan perawat akan tiba sebentar lagi, bersabarlah" ucapnya pelan seraya membetulkan rambut Agnes yang menggumpal akibat lembab dan keringatnya.


Segera saja Keyno menggendong tubuh Agnes, membawanya ke kamar dan meletakkannya diatas kasur. Menyiapkan air hangat serta handuk kecil untuk membersihkan luka serta noda yang ada. Keyno juga menggantikan handuk piyama Agnes dengan piyama bersih yang baru.


Tak lama berselang seorang dokter serta dua orang perawat tiba membawa peralatan medis serta dua kantong darah yang sudah Keyno pesan sebelumnya. Dokter itu tahu pasien ini melakukan tindak bunuh diri hingga mengeluarkan banyak darah, dan Keyno yang memberi kode itu melalui pesan singkatnya.


"Luka sebanyak ini?" tanya sang dokter berkerut.


"Tolong obati dan balut lukanya" Pinta Keyno pada dokter berparas cantik itu "Ku rasa dia terlalu banyak tekanan hingga melakukan hal senekat ini" lanjutnya


"Kau menghubungi orang yang tepat pak!" Ucap dokter itu lalu melakukan pekerjaannya dengan lihai, memeriksa dan kembali membersihkan luka lalu menggunakan peralatan medis dan obat agar steril sebelum akhirnya dibalut kembali menggunakan perban.


"Cepat lakukan sebelum terbangun, Agnes benci dokter" Tegas Keyno kemudian.

__ADS_1


"Keadaannya baik meskipun ia kehilangan banyak darah. Ini luar biasa pak!" Ucap sang dokter setelah selesai melakukan tugasnya, pandangannya menelisik pada Agnes dan Keyno karena menurutnya ini pasien teraneh dengan keajaiban menghampirinya.


"Terimakasih sudah membantu. Kalian bisa pulang sekarang" Tutur Keyno halus seraya membukakan pintu pertanda ia benar-benar serius pada ucapannya, petugas medis itu saling pandang sebelum mereka akhirnya paham dan mengerti.


Keyno hanya duduk seraya tertunduk diatas kursi kayu yang sengaja ia tarik dari meja kerja, sesekali ia memandangi Agnes yang masih terbuai dengan tidurnya.


"Ness, aku tak bisa melihatmu seperti ini" lirihnya pelan.


...💐💐💐...


Sore berganti malam, suara jangkrik begitu nyaring mengisi kekosongan malam perbukitan yang dipenuhi pepohonan rindang, rintik gerimis terdengar nyaring menyeruak dibalik jendela yang sengaja Keyno buka setengah, sederhana saja ia ingin menikmati suara-suara alam yang menenangkan itu.


"Vin..." Suara Keyno terdengar lemah saat menjawab sapaan dari Delvin, managernya.


"Hmm? Ada apa kau menghubungiku malam begini?" Delvin bertanya "Tidurlah, besok jadwalmu masih padat!" Tegas Delvin dari kejauhan.


"Aku butuh libur Vin, beri aku waktu lagi" pintanya setelah menyadari akhir-akhir ini ia sering merepotkan.


"Ada apa denganmu?" tanya Delvin "Kau sedang berakting?" tanya Delvin curiga karena menangkap nada suara tak biasa dari modelnya seakan mencoba merayunya.


"Berikan saja dia obat, besok jadwalmu yang sudah di re-schedule sebelumnya"


"Dia mencoba bunuh diri, Vin" Keyno berkata lirih, namun Delvin masih bisa mendengarnya "Aku ingin memastikan keadaanya hingga beberapa hari ke depan" katanya.


"What?"


"Bu.. bu ..bunuh diri? maksudmu? Ah kau tidak bercandakan?" Delvin bertanya dengan kegugupan karena keterkejutannya mendengar berita besar itu.


"Apa aku terdengar sedang bercanda? Aku takkan membuat bunuh diri sebagai lelucon" jawab Keyno.


Akhirnya Delvin mengalah dan menyetujui untuk menunda jadwal Keyno, serta dia yang akan bertanggung jawab pada pihak manajemen atas musibah yang dialami Keyno.


Keyno mengucapkan terimakasih sebelum akhirnya mengakhiri percakapan lalu menyimpan ponselnya diatas meja.


"Kau tidak menyukainya?"

__ADS_1


Keyno menoleh menyadari Agnes sudah sadar dan sedang menatapnya dengan pandangan sayu menyedihkan.


"Im okay" Ucap Agnes singkat lalu menjeda ucapannya, sementara Keyno diam menatap Agnes "I did that cause I was bored" lanjutnya seperti membicarakan mainan yang baru saja ia rusak.


"Hmmm, kau merawatku? pasti kau menghabiskan banyak uang untuk ini, mungkin juga kau akan banyak menghabiskan waktu untukku, merepotkan sekali bukan?" tanyanya tanpa beban.


Keyno menarik nafas dalam-dalam sebelum dia mendekati Agnes yang sedang berusaha mendudukan diri untuk bersandar di kepala kasur.


"Kenapa?" Agnes mengusap pipi dingin Keyno


"Apa kau ingin benar-benar pergi dariku, Nes?" tanya Keyno tak kalah dingin dari suhu tubuhnya.


"Aku sedang berusaha menjadi Agnes yang benar-benar kau cintai Key" Agnes berucap seraya mengulas senyum "Setelah ini aku akan mencoba melompat dari rooftop ke lantai dasar, sepertinya menyenangkan" tambahnya.


Pandangan berbinar Agnes sanggup membuat Keyno menjatuhkan airmata. Sangat tidak bisa bagi Keyno menerima kepergian Agnes, sampai kapan pun ia takkan bisa. Ia sangat membutuhkan wanita itu untuk hidupnya. Agnes nyawanya.


Keyno tak bisa membayangkan dunianya tanpa ada Agnes di dalamnya, terlalu lemah bahkan terkesan kekanakan tapi itu nyata bagi Keyno. Jika dipikir kembali ia bisa saja hidup tanpa Agnes, menemukan dunia baru dengan hidup yang ia miliki sekarang, tampan, kaya raya, siapa yang menolak menjadi pendamping Keyno? tentu semuanya ingin. Tapi sayangnya Keyno tidak mau, Ia sudah mengunci hati dan jiwanya serta mengikatnya dengan kuat pada seorang wanita, pendamping hidup yang tak pernah tergantikan oleh siapapun, tentu saja itu Agnesnya.


"Aku bercanda..." Kata Agnes setelahnya.


"Kau menganggap semua ini lelucon?" tanya Keyno


"Mmm, rasanya menyenangkan bukan?" tanya Agnes tanpa beban.


"Kau gila" Geram Keyno seraya meremas rahang Agnes sementara wanita itu masih menampilkan senyum menawannya.


"Ahhkkk... lepas brengsekk!" Ucap Agnes meminta seraya mengumpat saat cengkeraman Keyno semakin kuat, Keyno melepasnya disertai Agnes yang terbatuk-batuk setelahnya.


"Kau suka?" Keyno marah. "Tidak, aku takkan pernah membiarkanmu pergi" serunya.


"Aku tahu..." jawab Agnes "Aku lebih tahu Key.."


...---...


see u next episode.

__ADS_1


__ADS_2