
Tak banyak yang Agnes lakukan, ia kembali duduk menahan segudang kekhawatiran yang sedang ia lawan. Di sudut sana, Keyno masih terdiam duduk tenang memeluk lutut, samar-samar terdengar isakan sendu, Agnes yakin, bahkan siapa pun yang tak mengenal Keyno jika mendengar rintihannya bisa merasakan bahwa Keyno tengah berduka.
"Key...."
Agnes kembali memanggil nama itu, nama lelaki yang menjadi kata favoritenya. Nama yang selalu ia kecam namun disisi lain nama itu juga yang selalu ia sanjung. Tangan wanita itu meremas ujung piyamanya dengan gusar, sementara tangan kirinya masih terhubung pada infus yang merentang ke ujung kasur. Agnes menatap tubuh nyata Keyno dengan tatapan sayu seolah dunia sedang menghujani pria itu dengan penderitaan tapi Agnes tak bisa memberi payung untuknya.
"Key...."
Agnes kembali menyebut nama itu. Memastikan Keyno menjawabnya untuk kali ini, "Key, katakan apa yang terjadi?" ucapnya pelan berharap Keyno tak meradang mendengar ucapannya.
Keyno mengangkat wajahnya, menatap kosong wanita yang sedang memandangnya iba. Iris mata indah yang biasa menatap hangat itu kini berubah merah dengan gurat kesedihan menghiasi wajahnya, disana tergambar sejuta sengsara menyusuri nadi seakan menyebar melalui aliran darahnya hingga seluruh tubuhnya begitu lemah lunglai, tanpa ada jiwa di dalamnya. Ia hidup, tapi sebenarnya mati. Mungkin itu satu kalimat yang bisa menggambarkan Keyno untuk saat ini.
Kepingan kenangan yang selalu ingin ia lupakan berhamburan di ingatannya, terbang melayang menjadi gambar besar yang seakan mengejeknya agar tetap mengingat semua itu.
Cairan berwarna merah mengucur membasahi baju putihnya, wanita yang ia cintai dengan sepenuh jiwa raga menghembuskan nafas terakhir di pelukannya. Bukan karena ia sakit, bukan pula kecelakaan. Wanita itu hanya korban keegoisan seorang anak manusia bernama Keyno Irawan.
"Key, please tell me what happenned on you?" (Key, tolong katakan padaku apa yang terjadi padamu)
"Im here, Im here with you, for you" (Aku disini, aku disini denganmu, untukmu)
"You are not alone" (Kamu tak sendiri)
Agnes terus saja berucap untuk menenangkan lelakinya dan benar, Ucapan Agnes bagaikan obat mujarab penyembuh segala penyakit, penenang segala kekacauan dan penghibur bagi segala kesedihan. Keyno masih menatapnya, tatapan yang semula kosong dengan kesenduan meralat ke jiwa kini beralih menjadi hangat. Seolah baru tersadar dari sengatan semesta yang melumpuhkan.
"Ness..." lirihnya
Keyno bangkit bersamaan dengan jatuhnya air mata beningnya, berlari ke arah Agnes dan memeluknya dengan erat, sangat erat, teramat erat seakan tak ingin melepasnya.
Lama Hening, Agnes membiarkan Keyno mendekapnya agar lelaki itu bisa lebih tenang.
"Nes, if im crazy. Do u still love me?" (Jika aku gila apakah kamu masih mencintaiku?) Keyno bertanya dengan lirih.
"What do you mean?" (apa maksudmu?)
__ADS_1
Agnes merenggangkan pelukan perlahan, menatap wajah sayu itu dengan sedikit mendongak. Tangannya yang tak terluka mengelus rahang tegas Keyno. "Kenapa kau bertanya begitu?" kata Agnes.
"Aku bahkan tak bisa berhenti mencintai mu meski pun sering kali kau tak mengenalku. Kau begitu egois" jawabnya klise.
"Katakan Key, apa yang membuatmu begitu gelisah?" Tanya Agnes lagi "Apa yang terjadi padamu?" desaknya bertanya dengan tatapan khawatir dan haus akan jawaban Keyno.
Keyno menggeleng perlahan, sudut bibirnya perlahan melengkung menampilkan bulan sabit yang indah meski dengan cahaya redup, walaupun lelaki ini memberikan senyum terbaiknya, matanya tak bisa berbohong. Indera penglihatan itu tampak mengkilat oleh air mata yang membumbung hendak terjatuh.
"Jika aku melakukan kesalahan besar, apa maaf mu masih tersedia untukku?" Keyno kembali mendekap tubuh Agnes.
"Kau selalu menyakitiku" Jawab Agnes "Tapi sialnya, aku selalu punya alasan untuk memaafkanmu" lanjutnya.
"Jika aku punya satu permintaan dengan menukar nyawaku, apakah kau mau menerimanya?" tanya Keyno lagi.
"Apa yang kau katakan?" Agnes kembali bertanya dengan resah.
"Jawab saja"
"Karena kau takut kehilanganku?"
"Lebih dari itu"
Kembali Hening. Hanya terdengar gerimis hujan menemani kesunyian malam di tengah dua raga saling memeluk.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Agnes pada akhirnya.
Keyno tak menjawab, tangannya mengusap puncak kepala Agnes sementara pandagannya tertuju pada bingkai kecil diatas nakas. Foto dirinya dan Agnes sedang duduk bersama menikmati riak ombak lautan lepas.
Betapa waktu sangat berpihak padanya. Alam dan teknologi bisa membuatnya mendapatkan apa yang seharusnya sudah hilang. Bahkan sekarang diam dan menetap disisinya. Argg Keyno terharu.
"Aku akan menemanimu kemana pun, tapi tidak ke tempat yang kau sebutkan tadi" ucapnya setelah sekian lama berdiam diri, tenggelam dalam lamunan tak bertepi.
"Apa kau punya kenangan buruk sebelum kisah kita ada pada tempat itu?" tanya Agnes menyelidik dengan sifat keingintahuannnya yang tinggi.
__ADS_1
Keyno mengangguk singkat, namun enggan memperpanjang penjelasan. Ia hanya diam dan diam ketika Agnes menanyakan hal yang mengarah pada tempat itu.
Lama berselang, Agnes seakan mendongeng menceritakan kisah masa lalu seorang pria yang disembuhkan oleh seorang wanita yang mencintainya. Film tepatnya. Agnes sedang menceritakan film kesukaannya.
Saat ini, Mereka juga sudah berganti posisi dan bersiap tidur. Kejadian tadi, Agnes memilih melupakan dan tak mau mengungkitnya, meskipun hatinya dipenuhi rasa penasaran.
Hingga akhirnya Agnes tertegun saat mendapati lelaki disampingnya sudah tertidur pulas disampingnya. Iya memberi selimut, tersenyum simpul seraya memasukkan kakinya dalam selimut agar tetap hangat.
"Tidur lah Key, semoga kau baik-baik saja" Agnes kemudian mengecup Pipi Keyno dengan sayang mencurahkan segenap kasih sayang pada Lelaki malang yang belakangan ini sering bersikap aneh.
"Kau menyembunyikan sesuatu yang tak ku tahu" lirih Agnes.
Agnes kembali hanyut pada pikirannya, sikap Aneh Keyno seakan membuatnya tak ingin berhenti memikirkan pria disampingnya itu.
"Apa ada hubungan dengan keluargamu sayang?" tanya Agnes pada raga yang sedang melepas penat itu.
"Baiklah, aku takkan membahasnya lagi" Ucap Agnes memutuskan sendiri.
...๐๐๐...
Keyno berlari dengan langkah lebar. Sebelum akhirnya memaki seseorang dihadapannya. Ia tampak begitu kesal dan menjambak rambut wanita disampingnya.
Dorrrr... !!!
Wanita itu tumbang setelah benda berpemantik itu melesatkan butiran baja menembus kepala wanita itu. Ia jatuh terkapar dan tak bergerak seketika.
Nessssssss.....!!
...***...
**Thank u buat yang selalu support, semoga kalian selalu sehat dan hari-hari kalian selalu menyenangkan. Banyak kisah antara Agnes dan Key yang belum terungkap dan seiring berjalan waktu akan aku jelasin dikit demi sedikit.
Semangat, salam manis semanis coklat dari aku @janesln๐ฅฐ**
__ADS_1