Semestaku

Semestaku
Kesalahan


__ADS_3

"Kau sudah mempertimbangkan?" tanya Senina dengan suara malaikatnya diseberang telepon. Ia sendiri tak menyangka mendapat respon secepat itu dari Keyno sesuatu yang ia rencanakan sepertinya berjalan lancar. Tepat ketika ia memperhatikan ponselnya saat itu juga benda pipih itu berdering.


"Kau sungguh gegabah, harusnya kau beri aku ruang jika ingin bermain denganku" ucapnya pelan. Sementara Senina hanya berdehem pelan.


"Jika aku memberi ruang kau mau bermain?" tanya wanita itu dengan senyuman simetris menghiasi wajahnya.


"Aku pemain tangguh" Keyno menjawab yakin.


Senina hanya tertawa mendengar jawaban pria muda itu, dari penilaiannya Keyno hanya lelaki biasa dengan segudang kelemahan yang berusaha melawan dan bertingkah seolah ia bisa segalanya.


"Jelaskan padaku apa yang membuatmu begitu dendam pada suamimu?"


"Apa perlu kau tahu?" tanyanya berhati-hati untuk menjawab pertanyaan Keyno.


"Aku perlu tahu agar bisa memenuhi keinginanmu!"


Keyno tak main-main, ia sudah memutuskan akan masuk dalam dunia yang dimaksud Senina, tak peduli apapun yang mereka katakan, mendekati Senina adalah cara yang paling baik agar ia bisa menyerahkan wanita ini ke madam MJ


"Uang!" Jawab Senina terjeda.


"Tak hanya itu, lelaki sialan itu mengambil proyek yang sedang kami kembangkan senilai triliunan"


"Kenapa tak kau bunuh saja dia? Kenapa harus aku?"


"Kami butuh umpan!"


"Sialaann!" Keyno memaki Senina dengan geram. Ia terlibat perang dua belah pihak yang tak terbayangkan sebelumnya. Ditambah lagi ia punya saudara? Ah Keyno menganggap itu tak penting, sekalipun ada ia tak peduli, Ia tak butuh saudara, Ia hanya butuh Agnes.


"Kau tau aku juga berpotensi menyerangmu?" Tanya Keyno kemudian, dan wanita itu menjawab dengan tenang bahwa ia tahu segala kemampuan Keyno. Ibarat batu kerikil kecil, seperti itulah perumpamaan Keyno baginya.

__ADS_1


"Victory" Senina tercengang saat Keyno menyebut kata itu, ia menegakkan tubuhnya dari sandaran kursi dan menyuruh Keyno mengulang ucapannya.


"Kau tau Victory?"


"Kau tak menyangka bukan? Dengar wanita sialan", Keyno menekankan ucapannya "Aku tak seperti yang kau pikirkan. Aku tak terduga, aku juga bisa menghancurkanmu sebelum kau menghancurkan aku. Jadi, jika ingin bermain adil beri aku ruang untuk menunjukkan siapa aku!" Jelas Keyno membuat Senina terdiam.


"Temui aku di Menara Xena tanggal 24!" pungkasnya lalu mematikan ponsel secara sepihak.


"Kau membuat kesepakatan?" tanya wanita itu lagi namun ponselnya sudah tak tersambung.


Keyno segera kembali ke hotel dan mengemasi keperluannya, ia juga sempat adu mulut dengan Delvin karena temannya itu menganggap Keyno gila membatalkan semua kehadirannya di acara penting dan memilih pulang saat itu juga.


Namun, saat Keyno mengatakan ia tak peduli dengan kariernya, Delvin mengalah dan mengikuti perkataan Keyno dan pulang bersama pria itu.


Pertengahan malam, Keyno tiba di kediamannya. Pertama-tama yang ia lakukan adalah mencari keberadaan Agnes, memastikan wanita itu aman dan sudah tidur adalah hal utama bagi Keyno. Ia tertunduk lega saat mendapati wanitanya sudah terlelap di kamar mereka ditemani cahaya remang-remang dari lampu tidur memantulkan benda-benda angkasa dilangit kamarnya. Bergerak perlahan, memutar dan kembali ke tempatnya semula. Indah. Pemandangan yang sangat disukai Agnes.


Keyno menghela nafas, lengkungan senyum terukir diwajahnya. Agnes, wanita ini sangat menyukai benda-benda langit dan angkasa luar. Ia bermimpi suatu saat bisa terbang ke Mars atau ke Saturnus, Planet gas dengan cincin indah melingkarinya. Mimpi yang selalu Keyno anggap gila ketika Agnes membicarakan itu.


Keyno tak menyusul Agnes terlelap atau berada disamping wanita itu untuk memeluk dan memberinya kehangatan. Pria muda itu memilih pergi ke ruang kerjanya. Ia menelpon beberapa orang untuk menyelidiki latar belakang keluarga Sanders. Memastikan obat-obatan Agnes cukup dan mencari tahu apa saja kegiatan Agnes hari ini.


Tak ada yang aneh, sebelum Keyno menemukan catatan di laci mejanya. Catatan kalender kecil berisi hari-hari pentingnya bersama Agnes. Di helaian catatan itu terselip foto-foto lawas ketika mereka awal berkenalan, bermain, berlibur dan banyak lagi.


Pikiran Keyno melayang kembali ke masa lalu, dimana ia menggendong Agnes saat wanita itu kelelahan mendaki bukit. Berat badan Agnes memang tak membuat dirinya mengeluh berat namun banyaknya batu dan semak membuatnya tersandung hingga mereka harus jatuh berguling dan terperosok ke dalam jurang. Beruntung tak ada luka serius, namun mereka harus menunggu bantuan datang hingga mbenar-benar aman untuk turun ke bawah.


Keyno beralih ke foto berikutnya, sebuah gambar yang membuat senyumannya memudar. Tak ada yang menyadari betapa foto itu memilukan selain Keyno, bagaimana tidak? Foto itu memperlihatkan dua anak manusia tersenyum bahagia bergandengan tangan, tawa lepas menghiasi kebahagiaan mereka ditangan Agnes terdapat bunga Lily putih yang menjadi simbol cintanya kala itu. Bahagia bukan, namun tidak bagi Keyno.


Pria muda itu meneguk air putih di mejanya, menenangkan ingatan yang berkecamuk dipikirannya. Ia bisa merasakan bagaimana mencekamnya hari itu, bagaimana ia melewati malam sebelum hari itu tiba, sebelum perayaan aniversary pernikahan mereka. Keyno lemah tak berdaya diatas kursi canggih sebelum dua orang berkebangsaan Spanyol menyuntikkan sesuatu ke tubuhnya dan menjalankan program diagnose di komputer kecil dihadapannya.


Bagaikan menonton film Hollywood, Keyno baru merasakan sakit ketika Agnes sudah bersimbah darah dipangkuannya. Tergeletak tak berdaya. Semua berhenti. Dunia Keyno gelap.

__ADS_1


"Arghhhhhhhh" Keyno berteriak mengacak rambutnya. Melemparkan gelas berisi air minumnya hingga berserakan tak terarah dilantai berubin putih bersih itu. Lalu mengoyak dan mencabik-cabik foto itu. Ia terjatuh dibawah mejanya, meraup oksigen sebanyak mungkin saat ia merasakan sesak teramat sangat di dadanya. Perlahan ia menarik diri dan bersandar di kaki meja, berusaha bernafas meski terengah, menenangkan degub jantungnya yang serasa akan berhenti sebelum seseorang datang menghampirinya.


Wanita berambut panjang, mengenakan celana pendek hitam memperlihatkan kaki jenjangnya dan sandal berbulu hangat sedang berjongkok dihadapan Keyno, memanggil namanya berkali-kali... Sayup sayup Keyno bisa mendengarnya hingga Keyno tak tahu lagi. Semuanya gelap.


...***...


Suara derap langkah kaki dengan keras membangunkan Agnes. Ia tertidur disamping Keyno yang dilengkapi infus dan alat bantu pernapasan.


"Apa yang terjadi pada laki-laki gila ini?" tanya Delvin memeriksa mata tangan dan kepala Keyno barangkali ada yang terbentur, benjol atau luka. Terlihat jelas bahwa Delvin sangat mengkhawatirkan Keyno meskipun perkataannya tidak demikian.


"Dia kelelahan. Dia sesak nafas hingga harus dibantu alat ini!" Agnes menjelaskan seraya membenahi rambut dan mengikatnya agar rapi.


"Akh, Kau mengejutkanku" Delvin bernapas lega. "Aku membawakan bubur dan makanan lainnya. Sarapan lah!" ucapnya penuh perhatian.


"Apa yang kalian lakukan hingga dia kelelahan seperti ini?"


"Apa yang kami lakukan?" Delvin balik bertanya heran, sejauh ini tak ada pekerjaan berat yang mereka lakukan bahkan boleh dikatakan Keyno lebih banyak bersenang-senang daripada bekerja.


"Karma!" celetuknya kesal memandang Keyno. "Anggap saja ini balasan karena Keyno sering mempermainkanmu" ucapnya lagi.


Agnes tak menjawab ia hanya menghela nafas tak menanggapi ucapan Delvin. Selalu seperti itu, mereka takkan pernah akur.


"Kenapa kalian tiba-tiba pulang?" tanyanya lagi


"Ku kira karenamu!" Jawab Delvin acuh, duduk mengambil buah apel yang sedang di potong Agnes dan memakannya. "Apalagi yang membuat si gila itu berlari tengah malam dan membatalkan ini itu kalau bukan karenamu" ucapnya masih kesal.


"Vin, sejak kapan kau mengenal Keyno?" pertanyaan Agnes membuat Delvin berhenti mengunyah. Ia berkerut heran mendengar pertanyaan Agnes.


"Apa ketika dia sudah terkenal?" tanya Agnes lagi.

__ADS_1


...***...


See u next episode


__ADS_2