
"Ness!!!"
"Sayang!!"
Keyno beberapa kali berteriak marah pada si penelpon sebelum ia mematikan ponsel. Dalam hati ia tak mau menduga-duga, tapi perkataan si laki-laki yang selalu dimusuhinya membuat Keyno panas. Bagaimana mungkin Agnes bersama Keyno? Argghh.... Keyno meremas stir mobilnya saat melaju menuju tempat terakhir yang ia lacak, ingin sekali ia menghajar Mario yang selama ini menjadi pelarian Agnes. Ah apa yang terjadi?
"Mario brengsek!" umpatnya "Berani dia membawa Agnesku" Keyno terus saja mengumpati Keyno sepanjang jalan, Menjelang jam tiga subuh ia tiba di apartamen Mario. Menaiki lift tergesa dan menerobos masuk ke apartemen Mario. Ntah bagaimana caranya ia mengetahui keamanan rumah Mario, hanya dia yang tau. Lelaki itu menuju kamar dan langsung membogem wajah Mario.
"Keparat, apa yang kau lakukan disini, huh?" Mario tersudut dengan bibir berdarah, kaget bercampur marah ia mengumpati Keyno yang seperti t3roris menyerang dirinya. Brutal.
"Mana Agnes?" Keyno kembali melayangkan tinju ke wajah ganteng Mario saat lelaki itu hendak membuka mulut kembali untuk memaki Keyno, hingga Mario benar-benar tersungkur di kepala kasur dengan Keyno diatas tanpa punya kesempatan melawan menghadapi keberangan Keyno.
"Kau sembunyikan dimana Agnes?" tanya Keyno dengan nada tinggi, berteriak lantang seraya mencengkeram rahang Mario. Sementara Mario, ia berkerut saat mendengar lontaran nama Agnes yang selalu ditanyakan Keyno. Mengapa Keyno menuduhnya? Jelas-jelas ia sedang tertidur lelap sebelum Keyno datang. Bahkan untuk beberapa bulan terakhir ia tak pernah berkomunikasi dengan Agnes.
__ADS_1
"Ohh, kau rupanya mencari Agnes" Ucap Mario mengibaskan tangan Keyno. Merapikan rambut dan bajunya yang berantakan akibat serangan Keyno. "Kau tidak becus menjaganya, mengapa tak kau titipkan padaku?" Jawabnya santai lalu bangkit berdiri. Membenahi sudut bibir yang terbercak cairan merah.
"Berengsek! Dimana Agnes?" Keyno kembali mencengkeram kerah baju Mario, namun Mario hanya tersenyum devil sebelum akhirnya Keyno kembali mendaratkan pukulan di rahang lelaki itu. Tak mau kalah, Mario menghantam dan menumbuk Keyno dengan kegeraman dan rasa marah luar biasa. Bukankah Keyno yang tak becus menjaga Agnes? Mengapa harus dirinya yang disalahkan? Keyno suaminya, harusnya Keyno lebih tau itu!
"Kau gila!" Marah Mario dengan nada suara terengah "Kau lihat sendiri, tak ada Agnes disini" Mario berdecih mencoba bangkit dari posisinya setelah puas memberi dan menerima pukulan-pukulan aduhai pada pria muda yang selalu tersulut emosi itu.
Fokus Keyno tercuri kala ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari kiranya ada bentuk tubuh wanita yang saat ini ia dambakan, Keyno beranjak, melangkahkan kakinya ke setiap sudut dan ruangan apartemen Keyno. Namun, ia tak menemukan apapun. Hal tersebut semakin di dukung Mario yang menunjukkan panggilan terakhirnya bersama Agnes sebulan yang lalu. Keyno menggeram, Ingin sekali ia menghabisi mulut Mario akibat mengumpatinya kembali ditengah kekalutan. Jika bukan bersama Mario, lalu tadi siapa? Dan kenapa alamat IP yang dia lacak menunjukkan tempat ini?
"Kau tahu nomorku kan? Bagaimana bisa kau terkecoh." Suara Mario seakan memancing hiu keluar dari sarangnya. Keyno diam, ia mencoba berpikir ulang seraya mengamati penampilan lelaki itu, saat ini Mario menggunakan piyama tidur, tak ada bekas siapapun di apartemennya, perbandingan si penelpon dan waktu ia sampai kemari tidak sinkron, jika memang benar Agnes bersama Mario, mengapa Agnes berteriak? Bukankah Keyno tahu jika Mario mencintai Agnes? Lelaki yang selalu bersikap lembut pada Agnes? Keyno memutar kembali otaknya untuk menemukan titik terang apa yang sebenarnya terjadi?
Anggap saja Agnes diculik oleh seseorang. Dan orang itu sangat mengenal Keyno, namun Keyno terlalu gegabah hingga melimpahkan semuanya Pada Mario. AHHH
"Jika ketahuan kau menyembunyikan Agnes, kau tamat!" ancam Keyno menunjuk kening Mario geram, kemudian dia berlalu seraya membanting pintu hingga suara hentakannya bisa di dengar ke lorong-lorong apartemen. Menggelegar!
__ADS_1
Mario berpikir sejenak, Jika Keyno seperti itu pastilah memang terjadi sesuatu pada Agnes. Tak mau tinggal diam, Mario mencoba bergerak mencari keberadaan Agnes, ya, wanita orang lain yang ia cintai segenap hati.
"Dimana kau Ness??"
Mario memungut ponselnya yang sempat terpelanting dilantai, mengumpati Keyno yang membuat penampilannya sangat berantakan, bagian bawah dagunya terasa nyeri, Mario benar--benar ingin menghancurkan Keyno jika terjadi sesuatu pada Agnes.
Sekali lagi Mario memperhatikan layar ponselnya, membuka box pesan yang menampilkan obrolan terakhirnya dan Agnes. Bukan obrolan. Hanya berbicara sepihak. Mario tak pernah menerima balasan dari Agnes. Cukup tau diri, Mario tak menuntut lebih, mungkin saja Agnes memang sudah bahagia bersama Keyno hingga tak pernah menghubunginya. Mario cukup mengerti itu.
Tapi hari ini suami dari wanita yang ia sayangi, menyerang dirinya. Apa yang salah?
"Agnes diculik!" Mario berlari ke basement menuju kendaraannya, kemudian melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan gedung berlantai 35 itu.
...**...
__ADS_1