
Pukul 06 pagi
Agnes berangkat lebih dulu setelah memohon restu Keyno agar mengizinkannya pergi bekerja. Lelaki itu melarangnya pergi kemana pun karena kondisinya semalam, tapi bukan Agnes namanya jika ia menurut saja. Setelah melalui perdebatan panjang, Akhirnya Keyno menurunkan egonya dan membiarkan Agnes pergi, Ia pun tak bisa bertindak banyak mengawasi Agnes karena manajernya sudah mengubungi berkali-kali hanya untuk memastikan Keyno tidak lupa pada jadwalnya pagi ini.
Agnes mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Janji dengan klientnya sejam lagi, ia harus mengejar waktu agar on time tiba disana.
1 jam perjalanan, Agnes merasakan mobilnya oleng, Ia menepi dan mencoba mengecek ban mobilnya.
"Sial" Agnes menendang ban depan kiri mobil. Ban tersebut mendadak kempes bahkan cenderung meleber sama sekali tak ada angin lagi. Sepertinya paku.
Agnes mendial nomor Naki, asisten dan karyawan tokonya mencoba meminta bantuan untuk menjemputnya. Sementara ia sudah menghubungungi pihak pengelola jalan untuk mengamankan mobilnya. Lokasi tujuan berada disudut kota, karena ia ingin meninjau langsung perkebunan bunga yang akan dibelinya.
Naki tak menjawab ponselnya. Agnes beralih menghubungi Keyno, barangkali pria itu sedang senggang dan bisa membantunya.
1 kali
2 kali
.
.
10 kali
Tak ada panggilan yang diterima Keyno hingga Agnes kesal dan mengumpati Keyno.
Wanita itu Bertolak pinggang dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sepi disini, kendaraan satu dua yang lewat kiri kanan hutan belukar. Ia mengiggit bibir memikirkan kepada siapa lagi ia meminta bantuan.
"Mario"
Satu nama yang menjadi pilihan terakhir Agnes. Benar saja, pria itu tiba 20 menit setelah mendapat telepon dari Agnes. Entah bagaimana ceritanya hingga tiba secepat itu Agnes tak pernah bertanya.
"Tadi aku ingin menawarkan untuk mengantarmu ke toko" Ucap Mario "Tapi kau sudah menelpon lebih dulu, kebetulan hari ini aku tak ada jadwal" Mario membuka pintu mobil Agnes dan menuntunnya keluar untuk pindah ke mobilnya.
"Maaf aku merepotkanmu"
"Tidak, aku akan menemanimu sehari penuh" Ucap Mario mengecup tangan Agnes, lalu merangkul pundak wanita itu dan membukakan pintu pada mobilnya.
__ADS_1
"Kau tak menghubungi Keyno?" tanya Mario.
"Dia sibuk" Jawab Agnes singkat.
"Sejujurnya, aku sangat cemburu" Ucap Mario diselingi tawanya, Agnes tertawa lalu memeluk Mario dan menikmati aroma maskulin pria itu.
"Ayo masuk. Aku harus segera tiba di lokasi" Ajak Agnes, mereka kemudian memasuki mobil dan meninggalkan mobil Agnes terparkir dipinggir jalan.
Siang hari, Agnes dan Mario kembali ke toko. Ia menemani Agnes mengerjakan apapun yang ia bisa. Memang mereka layaknya temen seperti biasa, tak ada yang tahu hubungan mereka sejauh apa hanya Keyno lah yang tahu itu.
Sementara di tempat lain, Keyno tengah memasang muka masam, mengcengkeram pagar balkon berlantai 10 sebuah hotel kenamaan. Melempar gelas anggur yang sudah kosong diteguknya. Pemotretan sudah selesai 1 jam yang lalu, Ia sedang marah dan kesal.
"Sayang...." Seseorang memeluknya dari belakang dengan lembut, perlahan dan merayap mendekapnya. Keyno menghela nafas, lalu berbalik dengan wajah berubah manis "Hmm? kau cantik" Ucapnya mengusap wajah wanita itu.
"Kau tampak kesal"
"Iya, tapi hilang ketika melihatmu" Ia memeluk erat wanita yang ia temui dilokasi pemotretan tadi dan memutuskan untuk membawanya ke hotel. Seperti biasa, tak ada perasaan suka yang mendasari apa yang Keyno lakukan sekarang. Ia hanya marah dan kesal saat mengetahui Agnes pergi bersama Mario.
Tadi setelah pemotretan pertama selesai, Keyno mengecek ponselnya dan mendapati banyak panggilan dari Agnes, lantas ia menghubunginya kembali tapi tak menerima jawaban walaupun dihubungi berkali-kali. Ia kemudian memutuskan menunda jadwal selanjutnya untuk menyusul Agnes saja. Namun ia belum tenang sebelum memastikan keadaan Agnes, didasari Khawatir takut terjadi sesuatu pada Agnes, Keyno mengambil ipad dan membuka kamera cctv yang terpasang di mobil Agnes. Tapi pemandangan yang ia terima membuat darahnya mendidih dan emosinya membuncah seketika. Ia bahkan membuang asal kotak sarapan yang ia beli untuk diberikan pada Agnes.
Sekarang ia memilih mencari kesenangan sendiri. Melampiaskan kekesalannya pada Agnes.
"Teleponmu berbunyi dari tadi" Wanita itu memberitahu.
"Akan kumatikan nanti"
Lalu melanjutkan aktivitas mereka menjelang sore. Bagi Keyno semua selesai saat dia sudah merasa puas dan kekesalannya mereda. Wanita-wanita itu hanya perlu uang bukan hatinya. Hatinya terlalu mahal untuk dimiliki seseorang, dan baginya Agnes lah yang sanggup membeli hatinya. Tidak, dia bahkan menyerahkan hatinya pada Agnes.
Sementara di tempat lain, tepatnya di apartemen Mario. Agnes terbaring dipelukannya, diranjang megah milik pria itu. Mereka tampak baru bangun dari tidur, dan pakaian sudah berserakan di lantai. Mereka melakukannya lagi.
Mario mencium kening Agnes, memperhatikan wanita itu menghubungi Keyno berkali-kali, tapi hanya suara operator yang terdengar.
"Kenapa?"
"Dia mencariku tadi"
"Katakan padaku jika dia menyakitimu!" ucap Mario.
__ADS_1
Agnes menggeleng, lalu ia bangkit dan memasang pakaiannya. Agnes sendiri paham, Keyno sedang mengawasinya. Apalagi, chip ditubuhnya bisa memberi tahu Keyno dimana ia berada dengan mudah. Keyno Egois.
Tak banyak bicara Agnes memilih pulang. Bagaimana pun buruknya hubungan dan komunikasi Agnes dan Keyno, Mereka tak pernah saling melepas. Tetap saja, tempat pulang terbaik mereka adalah rumah.
Agnes membuka pintu perlahan, menyimpan sepatu tingginya dan mengganti sendal rumahan.
"Masih ingat punya rumah?" Suara Keyno terdengar datar dan dingin menyapa Agnes. Ia tak menoleh, matanya sibuk memperhatikan karakter game yang sedang ia mainkan di komputernya.
"Kau masih ingat punya istri?" Agnes bertanya tak kalah sinis.
"Kau mempermasalahkan aku bermain bersama jal4ng?"
Agnes berkacak pinggang, Ingin sekali ia melempar sepatu yang baru dilepasnya pada punggung Keyno. Pria itu selalu saja membuatnya emosi.
"Aku akan mandi" Agnes mengalah, memilih menyudahi perdebatan. Dan Keyno segera bangkit dan menghadang jalan Agnes.
"Aku harus memastikan bau siapa yang melekat padamu" Keyno memeluk Agnes, tapi wanita itu memberontak.
"Diam!" Bentaknya
Tanpa sadar Agnes diam, menatap wajah Keyno dengan tatapan sayu. Jelas, Ia berkhianat. Tapi Keyno lebih dulu. Dengan mudahnya Keyno mengirim posenya bersama wanita, Membuat Agnes tak ingin kalah. Jika Keyno bisa, maka dia juga bisa. Hanya saja ia tidak seperti Keyno selalu berganti pasangan, sementara Agnes selalu setia pada Mario
Keyno mencium bibir Agnes, bahkan mengigitnya hingga sedikit berdarah.
"Berengsek" Agnes mendorong tubuh Keyno dengan kasar hingga terhempas ke tembok, lantas mendekat dan menamparnya. Ia tak suka melayani Keyno ketika sedang marah seperti ini, lelaki itu hanya mementingkan emosinya.
Agnes menjatuhkan airmatanya, jujur ia sakit mendapat perlakuan seperti ini. Tapi perasaannya mengalahkan logika. Ia berlari ke kamar hingga terisak sambil memegang bibirnya yang terasa pedih.
"Nes... !"
"Agnes..."
Keyno mengekorinya, wajah marahnya berubah khawatir. Ia mengejar Agnes dan memeluknya lagi, walaupun Agnes memberontak Keyno tetap tak melepasnya.
"Jangan seperti ini Nes. Hiduplah hanya untukku" lirihnya, Keyno mengusap bibir Agnes yang berdarah karena ulahnya, lalu mengusap airmata yang juga jatuh karenanya.
"Lalu apa kau bisa hanya hidup untukku?" Tantang Agnes ketika melihat jejak kebiruan disekitar leher Keyno. Ia ingat jelas itu bukan perbuatannya. Ia tak pernah membuat sesuatu ditempat terbuka yang akan menganggu pemotretan Keyno
__ADS_1
"Jadi, menurutmu aku yang salah?" tanya Keyno kemudian.
...--------...