Semestaku

Semestaku
Dulu


__ADS_3

"Senina Sanders" Ucap Keyno santai. Lalu berjalan mengitari wanita itu dengan tatapan menginterupsi. Sementara wanita itu tersenyum devil seraya menatap Keyno, Anggapan Keyno bukan tandingannya adalah isi pikiran wanita dengan body tangguh bak Selena Gomez ini.


"Kau sudah mencari tahu bukan? Bahwa keluarga Sanders tidak segampang yang kau pikirkan. Aku bisa saja meledakkan gedung ini seketika" tambah wanita itu.


"Kalau begitu kau takkan pernah tahu informasi mengenai victory" ucap Keyno masih tetap santai.


"Kau tahu kan kenapa kau masih hidup hingga sekarang?" tanya wanita itu lagi.


"Maksudmu kenapa kalian belum membunuhku?"


"Jika kau tak punya saudara, lalu mengapa kalian sangat mirip?" tanyanya lagi.


"Aku tak ingin tahu apa yang kau bicarakan, aku datang untuk membuat kesepakatan" ucap Keyno.


Wanita itu tertawa lalu raut wajahnya berubah datar seketika. tangannya menarik benda berpelatuk yang dia tarik dari balik coatnya. Namun, permainan sepertinya akan imbang sebab Keyno pun menodongkan pistol tepat saat Senina mengarahkan padanya.


"Aku bisa saja menghubungi orangku untuk melenyapkanmu, sebab menara ini adalah wilayahku" Keyno berucap "Kau tahu kenapa aku tertarik membuat penawaran daripada membunuhmu?" tanya Keyno dengan nada sombongnya.


"Kau ingin mengulur waktu?" tebak wanita itu

__ADS_1


"Karena aku butuh umpan" Ucap Keyno mengulangi perkataan Senina ketika wanita itu mendesaknya tempo hari.


Senina terdiam, kemudian ia menghela nafas berat lalu menampilkan senyum devil dibalik lipstik merah maronnya "Jadi, apa yang kau tawarkan padaku?" tanyanya seraya memutar peluru pada revolver.


"Bisa turunkan mainanmu dulu?, kau terlihat sedang mengancam bukan sedang berbisnis!" pinta Keyno menurunkan pistolnya lebih dulu. Wanita itu pun dengan berat hati mengikuti perkataan Keyno.


"Victory sudah mengelabuimu dengan membuat kloning dengan DNA ku, suamimu yang mirip denganku pastilah robot hidup yang diprogram untuk menjalankan misi" ucap Keyno menunjukkan beberapa foto yang mendukung ucapannya.


Wanita itu terdiam, bagai di skak kalimat mematikan oleh pria berwajah tegas dihadapannya mendengar kenyataan jika selama ini ialah yang terlihat bodoh, bahkan sangat dungu dimata Keyno, orang yang selalu ia anggap lebih rendah darinya.


Menyembunyikan kegugupannya, Senina mencoba mengimbangi diri, takut saja jika Keyno mengada-ngada "Lalu mengapa berlagak tidak tahu?" tanyanya sedikit ragu.


"Kau licik" ucap Senina geram.


"Sudah kuberi informasi rahasia, sekarang kau harus ikut denganku ke suatu tempat!"


"Bagaimana jika aku tak mau?"


"Bukankah kita sedang membuat kesepakatan? Hanya seorang pecundang yang mengingkari dan lari dari ucapannya" sindir Keyno seraya melayangkan pandangan ke arah gedung-gedung tinggi menjulang disekeliling mereka.

__ADS_1


Wanita itu beberapa kali mengumpat, dan ingin membogem Keyno namun ntah alasan apa ia mengikuti arah langkah kaki pria itu


Keyno tak menanggapi lagi ucapan Senina yang tampak tak suka akan kenyataan yang di dengarnya.


...***...


Ditempat lain, Agnes sedang memijat pelipisnya. Duduk termangu di depan kaca besar tempatnya biasa berias, dress tidur yang mengekspos bahunya menampilkan tulang selangka yang sangat ideal bagi pecinta kesempurnaan bentuk tubuh.


Tangan lentik dengan kuku bak barbie menyusuri lengan dan belakang lehernya, berkali-kali Agnes menyadari siapa dirinya. Memikirkan kembali semua yang terjadi. Ingatan yang tiba-tiba muncul dan dirinya yang ia percaya seorang dewi tiba-tiba muncul membuatnya sering terjatuh, bahkan kemarin ia harus merangkat dibawah guyuran shower karena lepas kendali akan isi otak di kepalanya.


Semuanya samar-samar, Ingatan Agnes hidup ribuan tahun tampak samar-samar, semua seperti movie yang tak berkesudahan. Agnes tak mengerti semua ini ilusi, atau hanya khayalan dirinya.


Tapi satu hal yang Agnes yakini, ada sesuatu yang besar yang harus dia tahu. Jika Keyno tak mau memberitahunya maka ia akan mencari tahu sendiri.


Semenjak kejadian beberapa bulan lalu, Agnes mengubah tujuan hidupnya. Ia tidak lagi terobsesi pada seorang anak melainkan dia ingin tahu apa yang terjadi dengan Keyno, dirinya dan mereka berdua dimasa lalu.


"Argghhh" Agnes meringis. Saat ia mengangkat lengannya, bekas sayatan chip yang lepas tempo hari membuatnya harus merintih karena terantuk sisir yang ia pakai.


"Apa yang terjadi sebenarnya?"

__ADS_1


...***...


__ADS_2