Semestaku

Semestaku
Bad Memories


__ADS_3

Hari ini cerah, cherry blossom bermekaran mengubah beberapa tempat menjadi nuansa merah muda menenangkan. Bermekaran di sepanjang jalan kota dan bertaburan di tanah. Indah, sungguh indah.


Tapi pemandangan itu hanya disaksikan Agnes melalui layar televisi. Dia ingin kembali ke kota menyaksikan musim semi, musim kesukaannya namun jika beberapa hari ini sepertinya ia tak bisa ke sana, kecuali Keyno lelaki itu mengizinkannya.


Agnes menarik nafas perlahan, menoleh pada lengan kirinya yang terbalut perban putih, tidak sakit. Sepertinya luka-luka itu telah mengering. Agnes membuka lilitan kain tipis itu, membuang beberapa kain medis dan kapas yang menempel.


Sejenak ia terpaku pada bekas sayatan-sayatan itu. Benar, apapun yang ia lakukan Keyno takkan pernah membiarkan dirinya pergi, meninggalkan lelaki itu sama saja membuat lobang penderitaan bagi Keyno, jika ia terjebak belum tentu Keyno bisa menyelamatkan dirinya sendiri, bukan kah itu lebih sakit dari keinginan Agnes yang selama ini tak pernah terwujud?


CLEK


Deritan pintu kamar villa itu membawa pikiran Agnes kembali normal. Keyno muncul dari balik pintu dengan penampilan santainya, kaos putih dan celana loose pants nya serta sandal rumahan yang terlihat lucu membalut kakinya. Tapi bukan itu yang membuat Agnes berdecak kagum, ia menggendong sesuatu. Kucing dengan bulu tebal berwarna putih. Kucing yang sangat di inginkan Agnes. Ah menggemaskan, kucing itu menatapnya tenang seakan sangat nyaman dalam gendongan pria itu.


"Kau sudah bangun?" Keyno menutup pintu tanpa memutar tubuhnya, tangan kanannya mengapit kucing yang bernama sama dengannya, keyno. Tentu saja itu Agnes yang menamainya.


"Aku membawanya untukmu, aku pergi ke petshop sekitar sini untuk memastikan dia aman bersamamu" Keyno berjalan mendekat dan membiarkan kucing itu terbebas di atas kasur, di pangkuan Agnes.


"Bagaimana kau bisa menemukannya?" Tanya Agnes penasaran, tentu tidak mudah jika mencari kucing kecil ini di tengah hutan.


"Apapun ku lakukan untukmu" jawab Keyno dingin. Pandangannya tercuri oleh lengan Agnes yang tak terbalut perban lagi "Sudah sembuh?" tanya Keyno seraya mengambil tangan Agnes, membolak balikkan tangan itu memperhatikan luka sayatan yang sudah mengering sempurna.


"Ajaib memang" ucapnya tersenyum senang.


Agnes mengelus kucing itu, bulu yang tebal, mata bulat berwarna biru, serta warnanya yang cantik membuat wanita itu jatuh cinta.


"Sakingkan ajaibnya, aku ingin selalu mencobanya" Jawab Agnes asal, tapi Keyno cepat membekap mulut wanita itu dengan telunjuknya.


"Aku tak pernah mengizinkanmu mengulangi kesalahan yang sama" ucapnya tegas "Bersiaplah, aku akan mengajakmu makan di halaman depan" Keyno mengusap puncak kepala Agnes, lalu mengusap puncak kepala si kucing keyno. Mereka berdua lucu, pantas saja Agnes sangat ingin mengadopsi binatang itu.

__ADS_1


"Aku takkan berterimakasih padamu" Ucap Agnes terjeda "Kau tahu alasan ku kemari untuk apa?" Agnes bertanya membiarkan si keyno lepas dan melompat mendusel setiap benda di kamar itu.


"Ingin melarikan diri dariku?" Keyno menjawab, jawaban yang ia yakini benar meskipun Agnes tak pernah membenarkan hal itu.


"Kau tak bisa lari dariku!" Pungkasnya lalu meninggalkan Agnes yang masih berdiam diri di kamar besar berhalamankan hutan buatan nan hijau diluar sana.


Agnes menarik nafas lagi. Keyno. Apapun yang ia lakukan selalu saja dibawah pengawasan Keyno. Hingga ia tak punya privasi lagi sebagai makhluk individu, Keyno benar-benar membuat Agnes frustasi. Bahkan tujuannya kemari ingin menenangkan diri tanpa pria itu malah begini kejadiannya.


"Pakai lah ini, aku membelinya untukmu" Keyno kembali muncul dari balik daun pintu. Menyodorkan beberapa potong pakaian harian yang terlihat sangat nyaman dengan udara cerah hari ini, Price tagnya bahkan masih menempel disana. Keyno benar-benar memperhatikan wanitanya.


"Kau tak bertanya mengapa aku melakukan hal kemarin?" Agnes memancing pembicaraan seraya menerima helaian benang itu.


Keyno berkerut. Langkahnya kembali tertegun saat dirinya sudah berpaling menjauh.


"Berapa kali pun aku bertanya, jawaban mu tetap sama" Jawab Keyno lalu kembali mendekat dan meraih pundak Agnes "Apapun alasanmu, aku tak pernah setuju kau menyakiti dirimu sendiri" kata Keyno menatap dalam iris mata Agnes "Mulutku bahkan berbusa mengatakan ini, tapi kau tak pernah mendengarku" lanjutnya.


"Kenapa?" Keyno lebih dulu bergerak mendekati kucing itu, mengelusnya dan kucing itu diam.


"Dia lapar, mandi lah! aku akan membawa keyno lebih dulu" Ucap pria itu lalu melangkah keluar seakan tak ingin berlama-lama di samping wanita keras kepala itu.


Lagi-lagi Agnes mendengus. Mengalihkan pandangan pada beberapa potong pakaian yang ia terima lalu bangkit dan tak banyak berpikir lagi, ia mandi dan bersiap sarapan di halaman outdoor yang terlihat seperti cafe terbuka dengan ragam hiasan cantik. Tempat itu bisa terlihat dari sudut kamar mereka, Indah memang.


Keyno selalu membuatnya terpukau, selalu saja ada hal tak terduga yang ia lakukan hingga membuat Agnes seketika luluh dan tahkluk.


Disisi lain, Keyno membiarkan si kucing bermain di taman bunga setelah memberinya makanan, ia yakin sejauh apapun kucing itu berkelana hewan berkaki empat itu takkan bisa melewati pagar pembatas yang begitu tinggi dan rapat, pada akhirnya kucing itu akan tetap disana.


Tubuh tegap itu berdiri kokoh di tepian kolam kecil tempat air mancur beriak dan beraktivitas, memuntahkan air dari bawah sana membentuk lengkungan indah lalu kembali jatuh pada sisi tenang di bawahnya. Gemericik air kolam sedikit bising, tapi tak mempengaruhi lamunan Keyno.

__ADS_1


Kalau saja tadi malam Agnes tak membahas tempat mengenaskan itu, pasti lah Keyno sedang menemani Agnes mandi saat ini, bahkan mungkin lebih dari sekedar mandi. Nyatanya, pertanyaan Agnes itu mampu mengusik ketenangan bawah sadarnya, membuatnya mengingat sesuatu yang susah payah ia lupakan. Jika saja orang yang mengingatkan hal itu bukan Agnes, pasti lah orang itu sudah tak bernyawa saat ini. Sadis, tapi begitu lah gambarannya, Keyno benar-benar bersumpah tak ingin mengingatnya lagi.


Ia hanya ingin memulai hidup baru dan dunia baru yang ia ciptakan untuk Agnesnya, wanita yang menjadi sumber kehidupannya, tempatnya bernafas dan kembali dari segala kepelikan hatinya.


Kepingan ingatan bagaikan denyaran listrik, menyala dan berdesir ketika dua aliran tak selaras, begitu pun ingatannya sebagian terlihat jelas dan yang lainnya samar tak terarah.


Bagaikan kaset lama yang di putar kembali, semua terlihat abu-abu, jari telunjuknya menarik pemantik dan mengarahkan pada wanitanya, tak tahu apa yang ia lakukan, Wanita itu tumbang setelah bunyi ledakan kecil bergema. Agnesnya....


Arggghhh


Keyno memijat pelipisnya, menendang asal bebatuan kecil sebagai pelampiasan kekalutan dan kehampaannya, Matanya kembali berkaca. Nafasnya terengah meskipun tidak sedang berlari, dadanya naik turun berusaha menetralkan hembusan nafas yang terlalu cepat seirama dengan detak jantungnya.


"Ness, maafkan aku...!" lirihnya pelan.


"Meoonggg..." si kucing menduselkan badannya pada mata kaki Pria itu, membuatnya kembali tersadar ke alam nyata dan melupakan kaset rusak yang ia putar.


Meoong.. meoww ...meongg..


"Kau masih lapar?" Keyno berjongkok, mengelus lembut punggung si kucing itu. Sementara kucing itu tampak menangkap tangan Keyno dan mengapitnya, menepuk-nepuk tangan pria itu seolah mengajak bermain.


"Ahhh lucu.." tanpa sadar Keyno tersenyum melihat tingkah kucing itu.


Di kejauhan sana, dua pasang mata memperhatikan Keyno dengan saksama, bibirnya mengukir senyum saat pria itu berjongkok dan bercanda dengan kucing putih itu. Pemandangan itu setara dengan melihat seorang ayah dan putranya, sungguh ini menyenangkan. Agnes berkaca-kaca lalu melangkah mendekat sebelum akhirnya ia jatuh pingsan.


...------...


Mohon maaf jika banyak perumpamaan pada tulisan ini. Itu semua semata-mata karena othor lebih menyinggung perasaan. Akan di perbaiki lagi. Othor sedang berproses. Kritik dan saran ku terima secara terbuka. luv u guys🥰💜

__ADS_1


__ADS_2