Semestaku

Semestaku
Malang


__ADS_3

Kini Keyno duduk di bibir kasur seraya memperhatikan wajah cantik yang terpejam, menautkan jari jemarinya dengan Agnes, menciumnya dan mengusapnya dengan sayang, bahkan Keyno enggan memalingkan wajahnya walau hanya sedetik pun seperti Agnes akan mati besok saja.


Ini lah Keyno, pria muda dengan cinta yang begitu besar pada wanitanya, tak peduli penilaian orang apapun, ia akan berdiri dibaris paling depan jika ada yang menyakiti Agnesnya, tapi nyatanya tanpa di sadari ia sendiri yang menghunus pedang pada Agnesnya membuat Agnes tak bisa melakukan apapun atas kecintaannya.


Semuanya atas kendali Keyno, kecuali satu, Hidupnya. Agnes merasa tertekan dan bahagia saat bersamaan. Ia bahagia bisa hidup bersama seseorang yang ia cintai, meskipun ia selalu mencoba membantah rasa itu demi memiliki kehidupan yang ia damba, keinginan yang mustahil untuk terwujud. Karena cinta, Keyno dan Agnes menjadi dua pribadi yang saling menyakiti dengan mempertahankan ego yang mereka yakini benar.


"Hhhhhm..--"


Agnes melenguh pelan, mengumpulkan kesadaran akibat tidur panjangnya, hari sudah gelap, di luar, dilangit nan jauh dari jangkauan tampak menyembul sang penjaga malam dengan malu-malu hingga dirinya tampak seperti sabit dengan sinar indah melengkapi malam yang begitu sunyi bagi Keyno. Terus terang saja! Keyno sudah membangunkan Agnes sejak sore tadi, Ia tak kuat melihat Agnes berlama-lama pingsan, akhirnya pria muda itu harus menurunkan egonya dengan mengaktifkan tombol dibelakang pundak leher Agnes, untuk apa? Akui saja, Keyno takkan bisa tanpa Agnes. Lebih baik ia melihat Agnes marah, atau bahkan memukulnya daripada melihat Agnes diam dengan mata terpejam tak berdaya seperti ini.


Tapi karena tubuh Agnes terlihat lelah, sepertinya ia tertidur hingga malam hari. Tidak, lebih tepatnya ia pingsan!


"Tidurmu nyenyak sekali, sayang!" Keyno menyambut Agnes dengan senyum mengembang diwajahnya, Tangannya mengelus rambut Agnes dengan sayang, sesekali ia mencium tipis-tipis puncak kepala istrinya.


Sementara Agnes tak berekspresi apapun, ia tahu apa yang ia alami, ia tahu apa yang dilakukan Keyno, Agnes sudah terlanjur malas untuk membahasnya atau sekedar protes atas perlakuan Keyno padanya, lelaki itu akan selalu melakukan atas apa yang ia mau!


"Kau lapar?" tanya Keyno lagi dan Agnes sama sekali tak tertarik untuk menjawab.


"Sayang, kau marah?" Keyno mengelus pipi Agnes, bertanya dengan raut sedih yang berusaha ia sembunyikan, Agnes masih mengunci mulutnya, bahkan ia membuang muka dari tatapan Keyno.


Bagi Agnes, pertanyaan Keyno sama sekali tak penting, pertanyaan sampah yang seharusnya tak ada di dialog mereka. Tak bisakah lelaki itu melihat Agnes sangat emosi bahkan setelah menamparnya tadi? mengumpat dan berbicara dengan nada tinggi beberapa oktaf diatasnya? Haruskah Agnes perjelas lagi sekarang?

__ADS_1


"Kau marah" Keyno menjawab pertanyaannya sendiri setelah melihat reaksi Agnes begitu dingin.


Lama berdiam, hanya terdengar detik jam berlalu serta tarikan nafas keduanya yang seakan menenangkan diri sebelum akhirnya Keyno bicara lebih dulu.


"Kau tahu, kau satu-satunya yang ku miliki, satu-satunya yang tersisa dihidupku" pria muda itu tertunduk, tapi Agnes masih enggan menatapnya "Kau bukan boneka, kau orang yang paling ku sayangi di dunia ini, ku rasa kau tahu hal ini, tapi akan ku katakan lagi, agar kau selalu ingat!" lirihnya dengan suara serak, suara yang mencuri perhatian Agnes, pria itu tampak begitu lemah jika sedang menangis. Badan berotot sintal, wajah tampan rupawan, sifat kasar dan egoisnya seakan runtuh begitu saja, Agnes berkedip pelan mendengar keluh kesah Keyno. Jujur, Apa yang dikatakan Keyno benar! Dia seorang diri.


Ibarat pohon, Ia hanya sebatang pohon kaktus ditengah panas dan gersangnya gurun sahara, mengembara dan hidup tanpa seorang pun yang lain disana. Duri, yang dimilikinya membuatnya berbahaya untuk di dekati, dia kehilangan semua orang yang ia sayangi sejak belia, saudara, keluarga bahkan semua orang yang mengenalnya menjauhi Keyno karena dia di cap sebagai penyebab kematian seluruh keluarganya, pembawa sial!


Sudah cukup beban kehilangan di pikul Keyno, tapi ia tertimpa lagi oleh kemalangan tiada akhir, dia dicap pembawa kematian dan kesialan oleh orang lain, menjadikannya makhluk asing daripada yang asing di dunia ini. Sadis!


"Nes, kau tahu aku begitu mencintaimu, kau tahu seberapa besar kekhawatiranku padamu, kau tahu semua tentang aku!" lirihnya.


Agnes menelan ludahnya dengan susah payah, matanya berembun. Jika dipikir kembali, Keyno akan tumbang dan runtuh tanpa dirinya, benar! Agnes mengakui hal itu. Agnes bagaikan suntik booster penguat Keyno, pemberi hidup dan harapan bagi lelaki malang dengan keputusasaan menghantui jiwa, jika Agnes pergi? Keyno hanya lah cangkang kosong tanpa jiwa! Ia hidup tapi sebenarnya mati. Agnes sadar hal itu.


Merasa ada sentuhan merambat dipundaknya, Keyno mendongak. Airmata memang tak mengalir dipipinya, tapi mata merah dengan gurat sedih yang sulit disembunyikan cukup membuat Agnes merasa lelaki ini benar-benar mengatakan isi hatinya.


"Im here for you" Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Agnes, lalu mendekap prianya dengan segudang rasa bercampur satu. Pria muda itu melemas, lengannya terasa begitu tak berdaya. Mungkin jika Agnes membunuh Keyno saat ini, mudah! Tapi, Hal itu takkan pernah dilakukan Agnes meskipun sejujurnya ia pernah berpikir seperti itu.


"Nes, kau tahu semua tentangku!" Ucapnya "Berhenti menuntut hal-hal yang tak bisa ku lakukan! Kau bisa marah padaku, benci padaku, tapi jangan sesekali pergi dariku!" lirihnya.


Agnes tak mengatakan apapun, dia hanya tersenyum simpul memandang wajah prianya yang tampak merah!

__ADS_1


Agnes mengusap pipi Keyno "Kau begitu menyukaiku hingga kau menangis?" Agnes menjeda ucapannya, lalu mencium singkat bibir tipis semerah leci itu "Maka aku akan membuatmu semakin menyukaiku!" Lanjutnya lalu kembali menyesap bibir prianya.


"Itu artinya kau akan terus membuatku menangisimu?" tanya Keyno dingin.


Agnes menggeleng, tangannya mengalung pada leher Keyno. Hembusan nafas mereka bahkan saling menyapa, Hangat!


"Berhenti mengingat masa lalu burukmu!" Agnes mulai menciumi leher dan setiap inci tubuh lelaki itu, mengelus dan membelainya sementara Keyno diam merasa terbuai, Agnes seperti mengambilnya dari lubang kegelapan, membawanya terbang ke tempat tinggi hingga membuatnya melenguh nikmat.


"Ness..!"


Suara Keyno tercekat saat Agnes berhasil melucuti kemeja putihnya, ntah bagaimana caranya Keyno tak sadar, padahal baju itu terpasang rapi ditubuhnya, tak memberi ruang untuk Keyno berpikir kini Agnes meraih tubuh sintal itu lebih dekat lagi hingga Keyno bisa merasakan halusnya kulit wanitanya, Sulit di lewatkan, Keyno benar-benar hilang akal oleh kelakuan Agnes yang bertindak sebagai dominan untuk permainan kali ini.


Agnes mendorong Keyno hingga tersudut ke dashboard kasur, mendekat dan menindih pria itu dengan menggebu-gebu, tangannya dengan lihai memainkan nippl3 yang membuat libido laki-laki Keyno unjuk diri, Agnes tak berhenti ia terus memanjakan Keyno dengan gerakan dan sentuhan yang membuat Keyno mabuk kepayang, Hingga Agnes tiba-tiba menghentikan kegiatannya karena Keyno, pria itu hanya diam tanpa merespon apapun kegiatan Agnes, bahkan memasang wajah ceria dan tersenyum menatapnya.


"Kau sengaja kan?" Tanya Keyno setelah menyadari Agnes berhenti dari aktivitasnya, tubuh kekar itu bahkan sekarang terlihat bercak-bercak merah keunguan yang membuat tubuh Keyno seperti bertato, tentu saja itu hasil karya seni Agnes.


"Apanya?" Agnes berkerut, bertanya dengan wajah bingung.


"Aku tidak bodoh sayang!" Ucap Keyno menarik tengkuk Agnes agar mendekat lagi padanya "Kau sengaja memancingku kan?" tanya lagi, kali ini senyum lebar menghiasi wajahnya, senyum yang sulit dilewatkan oleh siapapun yang memandangnya.


"Kau tahu aku kehabisan stok pengaman dan obatmu!" Keyno menjeda "Kau pintar, tapi aku juga tidak bodoh" Ucap Keyno lagi, membuat Agnes berdecih lalu mencium kembali pria itu "Kau yakin tak ingin melanjutkan?" tanyanya sedikit berbisik.

__ADS_1


...----...


__ADS_2