Semestaku

Semestaku
Gelisah


__ADS_3

Keyno terbangun karena sinar matahari seakan mengajaknya bertengkar, bagaimana tidak cahaya menyilaukan itu jatuh menerpa tepat dipelupuk matanya. Hal pertama yang ia ucapkan ketika bangun adalah mengumpati Delvin, Kebiasaan managernya membuka gorden selebar samudera agar lelaki itu segera bangun tanpa repot memanggil atau menggoyangkan tubuhnya yang sulit sekali dibangunkan jika dalam keadaan teler begini.


Jam bundar dengan hiasan angka romawi di dinding menunjukkan pukul 9 pagi hari. Keyno mendengus, seandainya tak terbangun ia masih punya banyak waktu untuk tidur. Efek mabuk akibat banyak menenggak minuman semalam membuat dirinya ingin bermalasan.


Lelaki berbadan atletis itu berusaha bangkit mencari ponselnya, meski rambutnya tampak kusut dan kaku tak mengurangi ketampanan paripurnanya.


Ia menarik nafas kesal berkali-kali sebelum membanting ponselnya ke atas kasur, nomor yang ia tuju tak bisa dihubungi.


Sejenak termenung, Ia meraih kembali ponsel yang tergeletak diantara bantal-bantal, membuka rekaman cctv di rumahnya. Ia mengamati dengan saksama tak ada tanda-tanda orang dirumah, bahkan terakhir ia melihat Agnes waktu cctv menunjukkan kemarin.


"Vin..."


Keyno melompat dengan tergesa berlari mencari keberadaan Delvin, tak peduli dengan dada yang terekspos bebas dan masih mengenakan bokser pendek ia menggedor pintu kamar Delvin yang berjarak 2 kamar darinya.


"Vin, keluar lah!" Teriaknya mengetuk kasar.


Hampir saja Keyno jatuh terperosok saat Delvin membuka pintu, namun itu tak mengalihkan perhatiannya dari pertanyaan yang ingin ia lontarkan.


"Vin, kemarin Agnes menghubungimu dia bicara apa?" tanya Keyno terburu-terburu, tak sabar mendengar jawaban yang akan dikatakan Delvin.


"Ah iya, aku lupa memberitahumu" Delvin menarik tangan Keyno dan menutup pintu agar tak ada yang melihat penampilan absurd Keyno.


"Kemana?"


"Dia bilang akan pergi ke desa meninjau perkebunan. Dia sudah mengirimkan alamat padaku"


"Kenapa dia tak bilang padaku"


"Kau tak bisa dihubungi, lagipula kau semalam mabuk" Ucap Delvin acuh. Ia menuang air putih ke gelas dan memberikan pada Keyno.


"Kau sepertinya menderita panik akut" Dia kemudian mengambil ponselnya dan menunjukkan alamat yang dikirimkan Agnes kepada lelaki berwajah khawatir di depannya.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?" Tanya Keyno gelisah. Seperti yang dikatakan Delvin, Keyno sulit mengendalikan dirinya jika Agnes tak bisa dihubungi seperti ini, apalagi tidak berada dirumah malah ditempat asing dimana Keyno tak bisa melihat dan mengawasinya.

__ADS_1


"Kau terlihat bodoh jika panik begini, Agnes akan baik-baik saja. Aku sudah mengirim orang kesana" Jawab Delvin siaga yang sudah memahami situasi ini akan terjadi.


"Bahkan kau sudah memperkerjakan puluhan orang untuk menjaga Agnes, kenapa kau bersikap seperti orang gila sekarang?"


"Vin, Aku hanya ingin memastikan Agnes baik-baik saja. Lagipula kau baru memberitahuku, jadi aku sangat takut terjadi sesuatu padanya"


"Kadang aku heran apa isi otak dibalik wajah tampan mu ini, Kau mencintai Agnes tapi kebiasaanmu tidur dengan wanita lain tak pernah berubah. Kau yang egois, Agnes bekerja pun kau pantau seolah kau yang memiliki hidupnya" Gerutu Delvin berlalu memasuki kamar mandi. Pria itu sangat jengkel akan kelakukan Keyno yang tak pernah logis.


Bagaimana tidak? kalau saja semalam Delvin tak menggebrak kamar hotel dilantai bawah ia pasti sudah tidur dengan wanita bar yang ia temui diacara semalam. Mengingat mereka dalam masa dinas, Delvin harus bersikap tegas untuk memperingatkan Keyno, jika tidak Delvin tak mau ambil pusing. Cukup baginya memapah Keyno yang mabuk bahkan muntah di bajunya. Beberapa kali juga ia melayangkan tinju ke wajah Keyno. Ia merasa marah sebagai teman dan manager Keyno, perbuatannya sungguh membuat dirinya sebagai lelaki sakit hati, apalagi Agnes. Delvin tak bisa menangkap nalar bagaimana hubungan Keyno dan Agnes bertahan hingga sekarang.


Jika dia jadi Agnes, pasti lah Keyno sudah menjadi mayat. Dan sekarang? Ia mencari Agnes karena tak bisa dihubungi? Delvin meredam emosinya dibawah guyuran air dingin. Ia bersumpah untuk tidak ikut campur sejak dulu, tapi kali ini sepertinya ia lepas kendali.


Keyno mengutak-atik komputer ruangan Delvin, mencari sesuatu yang belum ia temukan saat Delvin keluar dari kamar mandi.


"Apalagi sekarang?" tanyanya.


"Aku tak bisa melacak keberadaan Agnes"


Delvin mengacak pinggang frustasi. Air menetes dari rambutnya yang basah sudah tak ia pedulikan, ia mencari ponselnya dan menghubungi salah satu orang suruhan Keyno untuk mengirim foto dan Video keberadaan Agnes.


Siapa sangka, Keyno tertawa hingga hampir menangis melihat video yang diperlihatkan Delvin. Ia memejamkan matanya seakan sedang meredam luka yang menggerogoti tubuhnya. "Syukurlah, kau baik-baik saja sayang" lirihnya.


"Key. Apa yang sebenarnya kau pikirkan?" tanya Delvin merendahkan suaranya. Banyak sekali pertanyaan yang ingin Delvin lontarkan untuk mencari jawaban atas sikap tak masuk akal sepasang pasutri ini. Keyno begitu mencintai Agnes, semua orang tau itu bahkan burung-burung di udara ngengat dan semut ditanah tau tak perlu di ceritakan lagi semua tau betapa Keyno mencintai Agnes. Tapi yang tak bisa dicerna logika adalah mengapa mereka saling menyakiti? Bertahan untuk saling menyakiti atas mencintai? Mereka berdua sama gilanya. Delvin menarik kembali pertanyaannya. "Lupakan!"


"Aku sudah menyuruh mereka menjaga Agnes. Dia akan aman saat kau tak disana. Nanti juga Agnes akan menghubungimu" Jelas Delvin melemparkan handuk pada Keyno "Kembali lah ke kamarmu, kita ada acara makan siang bersama pak Xander" Delvin mendorong Keyno dan mempersilahkannya keluar.


"Beritahu aku jika Agnes menghubungimu"


"Atau aku akan melaporkanmu ke polisi telah menyerang orang tak berdaya semalam" teriaknya


...***...


Di sudut kota lain, tepat jam 1 siang Agnes menemui Edward Tone penananggung jawab pembangunan tempat toko bunga dulu.

__ADS_1


Dimana menurut keterangan Edward Tone, lelaki muda perawakan tinggi yang membeli property di sekitar toko. Dan dia juga yang memberi perintah untuk menghancurkan dan membangun kembali area itu.


"Siapa pak?" tanya Agnes penasaran, memastikan dugaannya salah.


"Irawan Keyno" Jawab bapak itu menyebutkan aksen nama Amerika.


"Pak Irawan memerintahkan untuk menghancurkan dan membangun kembali tempat ini, serta menanggung jawab semua kompensasi dan biaya masing-masing penyewa. Kami sendiri bingung, jika dilihat dari segi bisnis tak ada keuntungan yang didapat dengan membangun dan memberi dana ganti rugi pada penyewa. Mungkin ada alasan lain" Ucap lelaki itu, Agnes hanya mengangguk.


"Sepertinya dia sangat kaya" ucap Agnes tertawa hambar. Menyembunyikan kebingungannya.


Setelah berpamitan, Agnes memutar otak apa alasan Keyno melakukan ini? Investasi? Tidak. Ini bukan investasi. Masih banyak tempat yang layak secara bisnis untuk menanamkan modal. Kenapa Keyno rela merugi? Kenapa dia bertindak tiba-tiba membeli property yang harganya miliaran lalu menghancurkannya?


Telepon Agnes berdering membuyarkan lamunannya, ia kembali mematikan mesin mobilnya dan menjawab telepon dari Keyno.


"Hm?"


"Kau baik-baik sajakn?" tanya Keyno dengan nada gelisah.


"Key, memangnya apa yang akan terjadi padaku? Kau selalu menanyakan aku seakan aku akan hilang saja" Agnes menggerutu dengan nada ketusnya "Ada apa? Pekerjaanmu senggang?" tanyanya kemudian.


"Kau tadi tak bisa dihubungi"


"Gimana rasanya? Tadi malam kau juga tak bisa dihubungi" celetuk Agnes enteng. Ia bisa menebak dari nada bicara Keyno lelaki itu kesal padanya sama seperti dirinya tadi malam.


"Nes, jangan bilang kau sedang merencanakan sesuatu" ucap Keyno yang disambut tawa oleh Agnes.


"Kau akan cepat tua karena selalu mencurigaiku. Come on baby, Everything gonna be okay. Jaga saja dirimu disitu kalau tidak kau akan mati karena merindukanku"


Keyno tertawa kecil mendengar ocehan Agnes. Sedikit tenang. Ia lalu menutup telepon dan berpesan agar Agnes selalu mengaktifkan ponselnya.


"Lelaki sialan kesayanganku" decih Agnes saat menutup telepon "Sebenarnya ada apa denganmu?"


Dengan helaan nafas panjang Agnes menekan pedal gas dan melaju menuju rumahnya. Tak ada Keyno, membuatnya sedikit tenang dan lebih leluasa.

__ADS_1


Sebelum pulang ia melemparkan Chip yang dicabut dari tubuhnya ke sungai, hanyut bersama derasnya arus yang ntah bermuara dimana. Sekarang, Keyno tak bisa lagi melacak keberadaannya.


...***...


__ADS_2