
"Sudah berapa lama kau tak minum obatmu?" tanyanya membuat Agnes menyadari sesuatu.
"Keyno!!!!!!!"
"Kau kira ini hutan teriak-teriak?" Omel Keyno keluar dari mobil, berjalan perlahan mendekati tepi danau dengan rambut dan pakaian tampak melambai diterpa angin.
Agnes tahu Keyno sedang menyindirnya, yang mana ia membuang obat-obatan tempo hari ke danau tersebut. Tapi bagaimana Keyno tahu? Ah Agnes melupakan sesuatu, Dia melupakan fakta bahwa dirinya selalu diawasi oleh Keyno. F*ck!
Keyno tampak melambaikan tangan pada Agnes, mengajaknya keluar agar menikmati pemandangan. Dengan malas, wanita itu membuka seatbeltnya dan keluar dari mobil melangkah perlahan mendekati Keyno yang duduk santai dikursi yang memang diperuntukkan untuk pengunjung yang datang.
"Kau tahu aku membuangnya disini?" tanya Agnes berbasa basi, memperjelas maksud ajakan Keyno ke tempat ini.
"Yang ingin kutanyakan kenapa kau buang jauh-jauh ke sini?" Tanya Keyno ke intinya, "Bukankah kau bisa membuang di tong sampah dimana pun, tidak disini" lanjutnya.
Agnes diam, Ia tahu apa maksud perkataan Keyno. Beberapa hari lalu, ia datang bersama Naki sekedar mengobrol ringan seputar bisnis mereka dan berjalan-jalan di sekitaran danau menikmati angin sore. Dan saat Keyno menelpon tak sengaja ia menarik obat ditas saat hendak mengambil ponselnya, berawal dari hal itu ia ilfeel dan berniat membuang obat itu karena kekesalannya pada Keyno yang menyuruhnya segera pulang tanpa alasan jelas.
Bukan karena hal itu saja, Keyno bercerita akan tidur dengan seseorang yang dikenal Agnes. Lelaki bajingan! Bukan Agnes namanya jika ia kalah, dengan segenap emosi yang ada dia mengiyakan ajakan Mario yang kebetulan mengajaknya makan malam, dan berakhir menyewa hotel untuk malam itu, begitupun dengan Keyno lelaki itu dengan kekesalan penuh setelah mengetahui Agnesnya tak pulang, ia semakin menjadi-jadi bercinta dengan jal4ngnya.
"Katakan saja apa yang ingin kau lakukan!" Ucap Agnes tak ingin berlama-lama berada ditempat tersebut.
"Aku ingin mengajakmu menikmati keindahan ini, apa kau tak suka?"
Agnes menatap Keyno dengan tatapan malas penuh kesal, Ia sendiri tahu, Keyno sedang mencoba bersikap manis padanya meskipun pria itu tengah kesal. Tapi Agnes tidak tahu persis apa penyebab lelaki itu marah hari ini. Jika ingin mempermasalahkan obat yang dibuang? bukan kah sejak kemarin harusnya Keyno marah?
"Key, kau terlihat aneh. Apa kau masih marah karena aku membuangnya?"
"Tidak!"
"Lalu apa?"
__ADS_1
"Hanya merindukanmu!"
"Tidak! Ada yang kau sembunyikan" Agnes mulai curiga saat Keyno melempar batu kecil-kecil ke tengah danau, raut wajahnya berubah serius, dan lelaki itu seolah tak mau menatap Agnes, dari tadi ia hanya mengedarkan pandangan ke sekeliling, selalu menghindari kontak mata dengan Agnesnya.
"Katakanlah jika ada sesuatu Key!" Agnes memilih duduk disampingnya, mengelus pundak lelaki itu agar tak canggung.
"Tak ada! Aku hanya bosan! cium aku!" pintanya kemudian, mengubah raut wajah menyedihkan itu menjadi seringai khasnya, membuat Agnes pasrah mengikuti kemauannya dengan gerutuan kesal.
"Apa kau sedang berakting meminta aku mengasihanimu?" tanya Agnes tersenyum sumbang sesaat setelah ia mencium bibir suaminya. Menatap bola mata hitam itu yang tadi selalu menghindari tatapannya.
"Tidak! Aku hanya ingin membuktikan bahwa kau milikku!" Ucapnya lagi mencium Agnes dengan kasar, tidak tahu apa maksudnya. Agnes memukul Keyno karena lelaki itu menggigit bibirnya. Agresif!
"Aku merindukanmu, sangat rindu!" ucapnya lagi.
Agnes berdecih, memang Keyno selalu melakukan semua hal sesukanya, tanpa mempertimbangkan hal lain yang membuat orang lain terluka ataupun tersakiti.
"Kenapa tak kau ajak jal4ngmu kemari? Bukan kah mereka lebih menarik hingga kau tak bisa berhenti dari kebiasaan burukmu?" tanya Agnes memojokkan Keyno, menganggap semua perlakuannya benar-benar buruk.
Pertanyaan itu membuat Agnes mengerti mengapa Keyno bersikap aneh. Ia tersenyum lagi, mengelus kulit mulus Keyno yang masih dilapisi make up karena habis syuting produk endorsment "Kau sungguh ingin tahu?" tanya Agnes pelan.
"Hmm, katakan semua yang belum ku ketahui" pintanya sedikit memohon dengan tatapan yang jelas sulit untuk dilewatkan oleh Agnes, manusia ini terlalu mempesona meskipun sikapnya selalu berubah-rubah.
"Sebelumnya aku ingin bertanya, apa yang kau lakukan hari ini jika kau mati besok?"
Keyno terdiam, pertanyaan sederhana Agnes membuat Keyno kesulitan menjawabnya. "Aku akan menuruti permintaanmu!" Keyno bersuara pada akhirnya.
"Maka lakukanlah!"
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Apa kau percaya padaku?"
"Aku hanya percaya kau mencintaiku!" Jawab Keyno lantang, masih memandangi wajah Agnes tanpa ingin melewatkannya.
"Sinting!"
"Nes, ayo lah! Apa kau bisa hamil bersama pria lain?" Tanya Keyno lagi dan Agnes merasa pertanyaan Keyno adalah pertanyaan langka, ia pun belum pernah memberitahu hal ini pada Keyno.
"Apa kau bisa ham---"
"Tidak! kecuali aku mencintainya!"
Haha
Keyno tertawa ia merasa berhasil memancing jawaban yang ia impikan. Jawaban yang sudah ia duga sebelumnya "Maka dari itu aku tak melarangmu bercinta dengan siapapun, tapi lakukan tanpa sepegetahuanku" Bisik Keyno penuh kemenanangan.
"Malam ini, tidur denganku!" pintanya lagi.
"Kau menawarkan diri?" Agnes duduk, menatap danau dengan ketenangannya. Ia merasa dipermainkan oleh Keyno, tenang namun penuh emosi ia melayangkan tamparan pada pipi Keyno, membuat wajah tampan itu memerah dan sedikit bengkak.Agnes menatap Keyno tajam, seakan ingin memakannya, "Aku bukan boneka yang kau mainkan sesukamu!" Ucapnya pelan namun penuh penekanan di depan wajah Keyno.
Dan....
Agnes seketika pingsan saat Keyno memeluknya secara paksa, berusaha menyentuh tombol yang terkoneksi dengan sidik jari pria itu, ya hanya Keyno yang bisa menggunakan tombol itu.
Tubuh Agnes ambruk kalau saja Keyno tak sigap menangkapnya, pria itu lalu meletakkan Agnes dan membaringkan wanitanya dikursi penumpang mobilnya. "Maaf Nes, aku sengaja memancingmu agar memberi jawaban!" Ucap Keyno saat dia sudah duduk di dalam mobil, mengelus dan merapikan rambut Agnes yang menutupi wajahnya "Aku khawatir kau mengandung anak Mario karena kau tak minum obatmu lagi!" Ucapnya. "Setelah ini aku akan pertimbangkan untuk menuruti keinginanmu!" Lirihnya.
Binar mata yang tadi tajam berubah redup, Keyno tak bisa menahan kesedihannya, melawan logikanya sebagai manusia. Ia masih menganggap apa yang dialaminya tidak nyata, tetapi kenyataan seolah-olah mematahkan setiap mimpinya. Agnesnya akan meninggalkan dirinya, sesuatu yang harus terjadi namun ia menolak hal itu terjadi. Keyno Egois, tampaknya dua kata itu cukup menggambarkan bagaimana seorang Keyno terjebak dalam jalinan cinta yang semestinya memang tak pernah ada.
Keyno mencintai Agnesnya dengan segenap hati, tapi wanita itu tak bisa ia kendalikan sepenuhnya, meskipun ia memiliki akses penuh pada diri Agnes, tetap saja Keyno merasa wanita itu punya hidupnya sendiri, membebaskannya pergi kemana pun wanita itu mau adalah salah satu bentuk sayang Keyno, tapi Ia benar-benar tak bisa mengontrol diri akan kecemburuannya saat Agnes berhubungan dengan pria lain. Ia terlampau berkuasa pada diri Agnes, tapi cinta yang ia yakini membuatnya menempuh jalan yang salah. Melampiaskan pada wanita-wanita diluar sana? dengan alasan bukan Agnesnya yang tersakiti, nyatanya dia sedang menyakiti dirinya sendiri dan Agnesnya.
__ADS_1
Rumit.
...-----...