
Hampir tengah malam, Keyno dan Delvin tiba disebuah hotel tak jauh dari lokasi acara yang akan mereka hadiri besok malam, Masih banyak waktu bagi Keyno untuk beristirahat melenturkan otot-otot yang kaku akibat menempuh perjalanan selama 9 jam.
Seperti biasa ia, kegiatan yang tak pernah bosan untuk dilakukannya adalah mengecek cctv, mengawasi wanitanya kapan pun ia mau.
"Hallo Nes, kau belum tidur?" sapa Keyno sesaat setelah ia mendial nomor ponsel Agnes, matanya terus memandangi tablet yang menampilkan Agnes sedang melambai-lambaikan tangan pada kamera cctv, wanita itu tahu betul Keyno sedang melihatnya saat ini.
"Kau sudah tau, kenapa bertanya?" jawab wanita itu ketus.
"Kau terlihat seksi sayang" ucapnya dengan nada sensual, membuat Delvin menoleh seketika saat mengecek berkas-berkas kontrak.
"Aku bisa lebih seksi dari ini" goda Agnes menurunkan lengan bajunya, hingga dada mulusnya sedikit terekspos. "Sayangnya, kau tak disini" senyum simetris itu membuat Keyno frustasi. Ia mengumpati Agnes karena merasa tertekan akan keadaan yang ia alami sekarang.
"Kau bermain-main denganku, honey. Lihatlah saat aku kembali, kau ku makan tak peduli apapun!" Ucapnya menggeram bersamaan dengan tawa renyah Agnes di seberang sana. Sementara adik pusakanya sudah terasa meronta-ronta dari tadi.
"Aku yakin setelah ini kau akan mencari wanitamu" ucap Agnes seketika membuat Keyno tertegun. Raut wajahnya seketika buram saat Agnes menyinggung kebiasaan Keyno yang akan bermain wanita saat ia merasa perlu.
Keyno terdiam. Ia tak menyangkal ucapan Agnes, semua itu benar. Tapi bukan karena ia ingin, tapi karena rasa cemburu dan amarahnya yang terlalu besar pada Agnes hingga ia melampiaskan pada wanita-wanita yang ia temui.
"Aku juga bisa menjamin Mario menjemputmu malam ini" ucap Keyno dingin, tanpa berkata apapun ia mematikan ponselnya.
Entah angin apa, ia merasa tersinggung dengan perkataan Agnes. Biasanya ia merasa bangga dan merasa menang karena berhasil membuat Agnes merasa cemburu. Tapi ada apa kali ini?
Haruskah dirinya mencari mangsa dan berpose panas lalu mengirimkan pada Agnes agar wanita itu menyesal dan menangisi perkataannya?
Keyno menggelengkan kepalanya, mengalihkan fokusnya dari lamunan yang menurutnya tak akan ada jalan keluar. Ia melempar bantal pada Delvin yang berulang kali tak menyahut panggilannya. Delvin tampaknya siaga kali ini, ia mendengarkan musik menggunakan headphone agar tak mendengar pembicaraan sepasang orang gila itu.
"Kau berani sekali, sudah mengancamku sekarang mengabaikanku" omel Keyno setelah Delvin melepas perangkat dan mematikan musiknya.
"Aku sedang menjaga diriku, agar tak terjangkit virus gilamu" ucapnya santai memberikan beberapa kertas untuk Keyno baca.
__ADS_1
"Akh, harusnya aku membawa Agnes kemari" keluh Keyno sambil menarik berkas-berkas itu.
"Kau bahkan menyimpan foto wanita di mobilmu, bagaimana bisa Agnes bertahan dengan lelaki sepertimu?" Ucap Delvin merendahkan Keyno dengan mulut judesnya.
Keyno tak menjawab ia menarik kertas foto yang dari tangan Delvin, foto itu adalah foto yang berikan wanita tua ketika ia bertemu kemarin.
"Kembali lah ke kamarmu, temui aku besok saat makan siang"
Delvin tak menjawab ia hanya menggelengkan kepala melihat kegilaan Keyno pada Agnes meskipun ia berkencan dengan beberapa wanita lain. Ntah lah, hanya mereka berdua yang paham hubungan seperti apa yang sedang terjadi.
...***...
Agnes terbangun dengan wajah sumringah, menjalankan ritual paginya dengan gembira sarapan sepotong roti isian sayur dan daging, mandi dengan sabun aroma terapi yang ia sukai, merias wajahnya dan memakai parfum kesukaannya lalu pergi ke toko bunga ditemani sinar matahari pagi menembus dedaunan. Menyegarkan.
Agnes tiba di depan tokonya, sebelum turun ia mengecek ponselnya. Aneh, tak ada panggilan dari Keyno. Biasanya, lelaki itu akan membuat ponsel Agnes seakan meledak oleh panggilannya yang takkan pernah berhenti sebelum diangkat.
"Ehhm, ku tebak dia sedang kelelahan dengan jalangnya" Ucap Agnes dengan wajah sinis. Ia pun memblokir nomor Keyno dan meninggalkan ponselnya tergeletak di mobil.
"Nes, kau baik-baik saja kan?" tanya Naki membawakan dua cup matchalate dingin dan menyerahkan salah satunya pada Agnes. Wanita itu menerimanya dan segera menyeruput minuman hijau dengan wangi khas itu.
Agnes berdiri dari kursi kerjanya, memilih duduk bersama Naki diatas sofa untuk mengobrol lebih jauh.
"Kapan aku terlihat tak baik?" tanya Agnes menaikkan alisnya seraya tersenyum.
Naki tertawa. Guyonan klasik yang menegaskan Agnes selalu tidak baik-baik saja selama ini.
"Keyno jarang terlihat kemari dan kau tampak bahagia. Jadi, aku memastikan apakah kau baik-baik saja?" ucap Naki kemudian.
"Harusnya kau bertanya begitu saat aku menangis" jawab Agnes kembali menyeruput minumannya.
__ADS_1
Hm, Naki hanya mengangkat bahunya. Ia tahu Agnes bukan wanita lemah yang memperlihatkan tangisnya. Wanita tangguh ini takkan menjual kesedihannya. Tentu saja, Naki paham itu. Tapi melihat Agnes ceria seperti sekarang adalah hal baru baginya.
Sebelum pulang Agnes menyempatkan diri menelpon Delvin untuk memberitahu dia akan ke perkebunan cabang yang baru di pedesaan. Hal ini ia lakukan karena Keyno tak bisa dihubungi sejak semalam. Ia juga menjelaskan bahwa disana tidak ada sinyal karena berada di tempat terpencil, Ia juga mengirimkan alamat lengkap tujuannya agar Keyno tak mencarinya kemana-mana.
"Ada apa?" tanya Keyno mendekati Delvin yang bertelepon sangat lama tak seperti biasanya. Suasana sangat ramai di gala premier yang dihadiri artis-artis dan model-model brand yang mengusung acara ini.
"Agnes" Jawab Delvin sedikit berbisik sesaat setelah telepon tertutup.
"Dia menanyakanku?" tanya Keyno hendak merebut ponsel Delvin, tapi ia di pelototi oleh pemilik ponsel itu karena salah satu petinggi acara sedang berjalan ke arah mereka.
"Keyno Irawan, nice to meet you. You are very handsome"
"Mr. Sanders?" Tanya Keyno memastikan dan pria setengah tua itu mengangguk tanpa ragu.
"Nice to meet u too, Mr. U look so younger" Keyno mengulurkan tangannya sebagai sikap ramahnya pada orang penting di acara bergengsi ini.
"Dan ini putriku, Senina Sanders" ucapnya mengenalkan seorang wanita yang dirangkulnya.
"Cantik" Ucap Keyno menarik tangan wanita itu dan mencium punggung tangan lembutnya. Wanita itu tersipu, ia menyukai cara gentle Keyno menciumnya di depan sang ayah.
Perbincangan mereka pun berlangsung cukup lama, ditemani beberapa gelas wine membuat mereka mudah membuka diri satu sama lain.
"Cukup Key!" Sergah Delvin mengambil gelas wine yang kelima dari tangan Keyno, lelaki keras kepala ini kalau tak diperhatikan akan bertingkah semaunya. "Kau akan mabuk jika terus minum" bisik Delvin menepuk pundak Keyno dengan keras. Pukulan halilintar yang sakitnya terasa sampai ke tulang guna menyadarkan Keyno bahwa ucapan managernya harus di dengar.
"Okay!" Keyno mengangguk. Meskipun belum mabuk, ia menyadari ucapan Delvin ada benarnya.
"Managermu sangat perhatian" Senina sedikit mencodongkan tubuhnya dan berbisik pada Keyno.
"Ya, dia sudah seperti orangtua ku" ucap Keyno balas berbisik seraya terkekeh mengusik ketenangan Delvin. "Dan kau so hottie" bisiknya yang membuat wanita mana pun akan merinding mendengarkan bisikan itu.
__ADS_1
...***...