
Kini Keyno berada di lantai 5 bangunan megah berlokasi di tepi danau, tempat ini di lengkapi dengan landasan pesawat mini dan beberapa helikopter keperluan perusahaan. Terletak di sudut utara ibu kota negaranya yang terkenal dengan kepandaian manusia dan teknologi tinggi.
Sebut saja, Gedung ini adalah gedung tersembunyi yang selalu Keyno datangi akhir-akhir ini. Disana, ia bertemu dengan Professor Banner, Pria berusia 60an dengan segudang keahlian dan kepintarannya. Bahkan lebih dari itu, ia adalah ilmuwan masa kini. Sejumlah penemuannya bahkan di gunakan manusia untuk membantu mempermudah kehidupan manusia termasuk Keyno.
Markas itu di sangga beberapa pilar di tengahnya, di sisi kiri ada ruangan khusus yang tak sembarang orang masuk. Di lobbi utama terdapat benda besar berbentuk piringan dan memancarkan hologram berbentuk manusia yang lebih tepat di katakan resepsionis, melayani semua keperluan tamu dan di kendalikan oleh sistem cerdas yang beroperasi di bawah sana. Dunia menyebutnya AI - Artificial Intelegent- Kecerdasan buatan yang bermutasi dan berkembang seiring waktu layaknya manusia jika memiliki tubuh.
Di sana Keyno tengah duduk di sebuah ruangan dan ranjang persegi dimana tubuh Agnes terbaring di hadapannya. Bersama seorang pria berjubah putih yang siap melakukan operasi pada Agnes. Ruangan ini di lengkapi sensor suara dan pendeteksi laser hingga benar-benar tak sembarang orang bisa masuk ke tempat canggih ini, kecuali Keyno dengan segala obsesinya. Ia menerobos masuk membopong tubuh terkulai Agnes, bahkan menarik kerah leher kemeja sang professor agar segera menyelamatkan Agnesnya.
Tak banyak protes, sang professor berusaha menyanggupi meskipun ia tengah kesal pada Keyno yang seolah tak menghormatinya, tapi laki-laki berumur lebih dari setengah abad itu tetap saja melakukan kemauan Keyno karena ia telah lama mengenal anak itu. Lelaki dengan cinta yang teramat besar pada wanitanya.
"Sudah saatnya mengganti chip itu" Ucapnya seraya memandang Keyno yang tengah duduk memegangi tangan Agnes.
"Apapun itu lakukan, Buat Agnes bangun!" Ucapnya setengah berteriak dengan tidak sabar. Kemudian tangannya mengusap lengan Agnes yang mulai terasa dingin.
Prof. Banner mengambil nafas dalam-dalam saat melihat kelakuan dan raut wajah Keyno yang tak bersahabat, wajah yang dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran tergambar jelas dari pandangannya. Ia sendiri bisa menebak apa jadinya jika wanita di hadapannya ini benar-benar lenyap.
Tak banyak bicara, Banner mengambil benda berbentuk smartphone namun sangat tipis dan tembus pandang di kedua sisinya dan mengibaskan ke udara, sistem mengambang di udara menampilkan beberapa perintah dalam bahasa inggris lalu kemudian menggeser dan memilihnya seperti sedang mengutak atik komputer, bedanya ini mengambang di udara. Sejurus kemudian, ruangan yang di dominasi warna putih itu meredup, menyisakan satu lampu terang benderang menyorot tepat pada tubuh Agnes.
__ADS_1
Selanjutnya, ranjang itu secara otomatis memposisikan Agnes dengan segala penyangga otomatis membuat tubuhnya sedikit terangkat dan tangan terbuka lebar. Keyno sedikit menjauh, memberi jarak agar benda-benda canggih itu berjalan sesuai fungsinya. Hingga pada akhirnya, Agnes pada posisi duduk dan beberapa benda menyangga dan menyokong tubuhnya. Kepalanya terpasang helm yang di lengkapi sistem elektronik yang terhubung ke layar pintar di sudut ruangan.
Sesaat kemudian, Prof Banner mulai melakukan kegiatannya. Ia tetap mempersilahkan Keyno berada disana, karena sekalipun ia memerintah pria itu menghindar dan menjauh, ia takkan pernah di dengar oleh pria muda keras kepala itu.
Tubuh Agnes mulai dingin saat Banner membedah dan menyayat lengan bagian atas Agnes, mengorek dan mengambil benda tipis persegi dibawah kulit tipis wanita itu. Membersihkannya, lalu meletakkan pada kotak kecil berbentuk kaca, ntah apa namanya Keyno pun tak tahu yang jelas benda persegi tipis itu disinari laser berwarna biru seperti sedang menyeterilkannya.
Keyno masih terus menggenggam tangan kiri Agnes, mengusap dan menciumnya mengucapkan kata-kata tak ingin di tinggalkan berulang kali, hanya itu yang dapat ia lakukan untuk menetralkan kegugupan yang menghantuinya.
"Key, aku butuh waktu satu jam memeriksa dan memindahkan jaringan dari chip itu ke chip yang baru" Ucap sang professor pelan "Kemungkinan terburuknya adalah Agnes terlambat bangun atau tidak bangun sama sekali" lanjutnya dengan hati-hati agar Keyno tak lekas meradang mendengar ucapannya.
"Aku telah mempersiapkan 50% nya, sekarang tinggal menambahkan sensor dan sidik jarimu lalu memprogramnya ulang. Ku harap kau tak membuat keributan!" ucap professor itu tegas bahkan seperti sedang memberi perintah pada Keyno agar tetap diam.
Air mata Keyno mengalir begitu saja, Ia masih berusaha agar tubuh Agnes tetap hangat dengan cara apapun. Ia menggosokkan kedua telapak tangannya hingga hangat lalu menempelkan pada bagian leher Agnes, agar wanita itu tak kedinginan dan membeku. Tubuh mati Agnes, memiliki masa batas ketahanan selama 3 jam sebelum akhirnya tubuh itu berubah menjadi dingin seutuhnya. Membekukan semua aliran darah dan, memecahkan sistem syaraf karena tumpukan hemoglobin hingga membuat tubuh Agnes jadi mayat seutuhnya.
"Kau harus tetap hangat, harus" Lirih Keyno membalutkan selendang persegi ke tubuh Agnes yang lain.
Satu jam berlalu bagaikan satu hari bagi Keyno, prof. Banner sudah menutup kembali luka Agnes sebelum menyetel dan menyelaraskan beberapa kawat yang merentang mengikuti urat dan nadinya. Asisten AI yang merespon perintah lelaki tua itu juga sedang memeriksa sistem kecerdasan buatan yang di tanam di tulang belakang Agnes. Memastikan agar tak ada virus asing yang menganggu dan menghancurkan sistem yang terbangun berupa ingatan semu yang di usulkan Keyno.
__ADS_1
Jika dipikirkan sepintas, Keyno Egois. Memang Egois. Tubuh Agnes seutuhnya miliknya, bahkan dalam keadaan sadar pun ia selalu mendominasi Agnes. Tapi bukan itu penilaian akhirnya, ini semua adalah bentuk nyata begitu besarnya kecintaan dirinya pada sosok Agnes yang tak pernah tergantikan oleh siapa pun. Agnes Semestanya, tempat terindah untuk pulang dan menetap.
Prof itu kemudian menyuntikkan obat penenang dan perangsang agar sistem saraf wanita itu bekerja sesuai perkiraan. Sepanjang proses pembedahan, Keyno tak henti-hentinya berucap, mengeluarkan kata-kata yang tak bisa dipahami, Ia sangat gugup bahkan sesekali tangannya bergetar menyaksikan Agnes di sakiti. Sejujurnya, ia tak kuasa melihat semua ini. Ia tak mau menyakiti Agnes, tapi mau bagaimana lagi, jika ini adalah salah satu proses yang harus di lalui agar ia bisa melihat Agnes tertawa atau marah bahkan memukul dan menamparnya lagi.
Keyno berkedip, air mata merembes membasahi bulu matanya hingga tampak menggumpal dan kusut. Tangan besarnya masih setia menggengam tangan dingin Agnes. Mengusapnya bahkan menciumnya berkali-kali. "Nes, kau bisa merasakan ini kan?" lirihnya.
"Setelah ini, kau harus bangun dan kau bisa memukulku sepuasmu" Keyno mengambil tangan Agnes lalu menempelkan pada kedua pipinya "Kau suka itu kan?" tanya Keyno dengan kilatan mata sayu "Iya kau suka, aku tahu itu" Ucapnya menjawab pertanyaan yang ia ajukan sendiri.
"Jangan tinggalkan aku..." Lirih Keyno mengecupnya gusar "Tetaplah tinggal...." ucapnya dengan suara tercekat di tenggorokan.
Pria itu terus saja bergumul dengan ingatan masa lalunya. Saat kemarahannya yang tak terkendali menyebabkan dirinya menarik benda berpelatuk itu, kesalahpahaman yang mendera hingga menyebabkan Agnes kehilangan nyawa hidupnya. Keyno tidak menderita gangguan bipolar, Disease, skizofrenia, Antisietas atau gangguan kejiwaan lainnya. Anak ini hanya memilik obsesi yang tak pernah orang lain memahaminya dengan nalar. Pria muda itu baik-baik saja. Dia juga sangat populer, model papan atas yang menduduki rata-rata pendapatan fantasfis yang sering dikontrak brand-brand ternama, bahkan sebelum jadi model dia memiliki banyak teman. Namun bukan itu titik masalahnya, Bukan itu yang menyebabkan Keyno terobsesi pada Agnes, Tapi...
Keyno sendirian...
Dia kesepian..
Semuanya palsu..
__ADS_1
Semuanya tidak nyata..
...----...