Semestaku

Semestaku
Ancaman


__ADS_3

Keyno meneguk kopi digelas kertas yang baru saja ia dapatkan di cafe jebolan Amerika itu. Ia masih duduk termenung di dalam mobil hitam disamping bangunan cafe yang bergaya Eropa itu, sesekali ia menghela nafas kasar seraya memperhatikan keadaan sekitar. Tangan kanannya meraih sebuah foto yang tergeletak di balik kemudi. Foto wanita cantik berwajah oriental yang diberikan wanita separuh tua tempo hari, dunia mengenalnya Madam MJ.


"Senina Sanders" ucapnya pelan seraya menjentikkan jarinya di stir mobil.


Keyno terbatuk saat hendak meneguk kopinya lagi, ia lupa kopi itu masih panas, bahkan masih berasap. Ia meletakkan kopi di cup holder mobilnya dan meninggalkan area pertigaan itu.


Sebelum sampai dicafe, Keyno menepati janjinya makan siang bersama Mr. Sanders. Selain membicarakan bisnis, Mr Sanders juga membicarakan pengalaman bagaimana ia bisa sesukses sekarang. Namun, ada yang menarik dari cerita si bapak tua itu. Dia mempunyai mantan menantu yang mirip sekali dengan Keyno. Anak Mr Sanders hanya senina, dengan kata lain mantan suami Senina lah yang mirip dengannya.


Saat ia bertanya lebih jauh, Mr Sanders dihubungi asistennya dan segera pergi karena ada hal mendesak. Sehingga Keyno merasa digantung untuk mendapatkan informasi penting itu.


Keyno tiba ditepi danau dipinggiran kota. Duduk bersandar pada satu kursi kosong dibawah pohon rindang. Angin sepoi-sepoi menerpa rambut dan kemejanya membuat bajunya menggembung dan mengembang, Keyno tak peduli matanya memicing melihat pemandangan danau buatan dihadapannya.


Ia membuka penutup cup kopinya, tentu saja alasannya agar segera dingin. Ia tak mau lidahnya kelu lagi karena meminum kopi panas, menyebalkan bukan saat akan menikmati makanan enak, malah terasa hambar.


Otaknya terus berpikir memikirkan hal apa yang terjadi pada Agnes. Kepingan ingatan yang tersisa itu pasti akan membuat Agnes bertanya-tanya bahkan mungkin membuatnya tak bisa tidur. Tapi anehnya, hingga sekarang Agnes bersikap seperti biasa, tak ada tanda-tanda ia curiga atau menanyakan hal semacam itu pada Keyno. Wanita seperti Agnes tak mungkin diam saja, ia pasti mencari tahu kebenarannya tapi Keyno kesulitan menebaknya ditambah lagi jadwalnya di kota A diperpanjang menjadi seminggu.


Sebagai Brand Ambassador paling Top, ia tak bisa menolak begitu saja kegiatan yang ada di kota ini, akan sangat merepotkan jika bersikeras untuk menyudahinya. Keyno harus bersikap tenang meski dalam hati ia menyumpahi manajemen yang membuat jadwal seenak jidat.


Pria muda itu menghela nafas lagi, Sejurus kemudian ia menghubungi prof B untuk menanyakan kemungkinan yang akan terjadi pada Agnes.


"Dia bisa mengalami ilusi. Dia akan sulit membedakan mana yang nyata dan yang bukan" Prof B menjelaskan dampaknya "Apa kau belum memberi penjelasan padanya?"


"Harusnya ku beri tahu dia lebih awal" Keluh Keyno dengan suara lesu merasa bersalah. "Prof, kau ingat saat membedah Agnes? Aku mengatakan untuk menerima apapun konsekuensinya bahkan jika Agnes membenci dan membunuhku?" tanya Keyno menjeda ucapannya.

__ADS_1


"Tapi sebelum itu terjadi aku harus mencari bukti dan menjelaskan semuanya pada Agnes. Prof Tolong, beri tahu aku apa yang harus ku lakukan untuk mengontrol Agnes?" tanyanya lagi.


"Tak ada yang bisa ku katakan. Cara terbaik mengontrolnya adalah berada di dekatnya"


Lagi-lagi Keyno menghela nafas. Meneguk habis kopinya meremas cup kertas itu dan melemparnya kasar ke tengah danau. Pikirannya dipenuhi kemungkinan Agnes mengetahui kebenaran, meski ingatan itu samar, ia takut Agnes benar-benar membenci dirinya. Itulah ketakutan Keyno. Sementara dia belum bisa membuktikan apa-apa bahwa itu semua kesalahpahaman.


Keyno meninggalkan area danau itu dengan kecepatan tinggi, sebelum pergi ia dihubungi Senina untuk mengajak bertemu.


"Apa ini?" Keyno bertanya mengenai sebuah map coklat yang disodorkan Senina. Keyno membuka dan membacanya. Sebelum ia membuka mulut untuk bertanya Senina lebih dulu menjelaskan "Ku ambil saat kau mabuk di kamar 1508 tadi malam" ucapnya singkat. Sialan ternyata wanita semalam suruhan Senina.


Argg.. Keyno berdecak kagum. Wanita dihadapannya ternyata bukan wanita sembarangan, berani sekali dia mengambil sampel rambut Keyno lalu melakukan test DNA dengan mantan suaminya. Hasilnya sesuai dugaan Senina, mereka berasal dari keluarga yang sama. Pantas saja mirip.


"Omong kosong apa ini?" tanyanya "Aku tak pernah punya saudara semacam itu"


"Kau tau apa yang dilakukan saudaramu kepada kami?"


"Bukan urusanku!"


"Saat melihatmu pertama kali, kami ingin sekali menembak kepalamu, atau mengirim bom ke rumahmu tapi Mr Sanders menahanku agar mencari tahu informasi lebih jauh, dan ternyata kau dan bedebah itu bukan lah orang yang sama dan aku mengganti metodeku. Jadi, kau harus menggantikan saudaramu karena telah mengambil project triliunan dari kami"


Keyno menggebrak meja dihadapannya, jika saja Senina lelaki ia sudah membogem wajah cantik dengan bulu mata lentik itu, bahkan mungkin mematahkan tulang rahang pipinya. Tangan Keyno mengepal keras "Apa yang dibicarakan wanita gila ini" teriaknya.


Wanita itu hanya berpangku tangan, ia memasang wajah tak suka pada Keyno terlebih lagi saat Keyno memakinya. Beberapa orang bodyguard memegang Keyno ia tak bisa melawan meski sudah berusaha karena jumlah mereka cukup banyak. Sebuah tamparan keras mendarat dipipinya, Keras, tampak merah membekas dipipinya. Senina menampar Keyno dua kali lalu menyiramnya dengan segelas minuman.

__ADS_1


"Kau harus menuruti perkataanku jika ingin selamat" ancamnya lalu pergi begitu saja, sementara Keyno berusaha terlihat tegar menyeimbangkan tubuhnya yang sempoyongan.


"Wanita berengsek" ucapnya menahan amarah.


"Saudara? Aku punya saudara? Siapa yang mengarang cerita itu?" Keyno tertawa tak percaya akan apa yang ia alami ini.


"Dia baru saja mengancamku, memangnya siapa dia hah?" Keyno berteriak kasar.


...***...


"Vin, aku akan pulang malam ini" Ucap Keyno saat tiba di hotel, membuat managernya kaget bahkan ingin menjitak kepala Keyno mendengar keputusannya itu.


"Kau gila?"


"Aku tak peduli. Bahkan jika aku bukan model atau orang terkenal lagi. Terserah. Aku pulang" ucapnya lalu mengambil barang-barang yang dianggapnya penting. "Kau juga harus pulang bersamaku, Agnes dalam bahaya, dan keluarga Sanders merencanakan sesuatu"


Delvin masih bingung harus mengatakan apa, sementara Keyno grasak grusuk mencari keperluannya "Jelaskan dulu apa yang terjadi!"


"Aku baru saja diancam dan di tuduh, si bedebah Sanders itu sengaja mendekatiku untuk menjebakku. Kita harus pulang segera, aku harus bicara pada madam MJ"


Delvin tak ingin percaya tapi melihat keseriusan Keyno ia hanya mengikut dan tak banyak protes.


Mereka memesan tiket lebih awal agar tiba sesegera mungkin di kota kediaman mereka. Sebelum berangkat, Keyno sempat menghubungi Senina dan membuat kesepakatan dan mengajaknya bertemu disuatu tempat.

__ADS_1


...***...


__ADS_2