Semestaku

Semestaku
Emosi


__ADS_3

"Lalu siapa? Aku?" Suara Agnes terdengar meninggi, Ia berpaling masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras, bahkan vas bunga kecil disamping pintu ikut beranjak.


Keyno menyusul, membuka pintu lalu menutupnya kembali. Mendekati Agnes yang sedang berusaha mengelap bibirnya dengan tisu. Perlahan namun pasti Keyno menunggu respon Agnes selanjutnya, Ia melipat tangan di dada dengan angkuhnya mengawasi dan menunggu kata-kata Agnes yang tak kunjung juga terucap. Ia sendiri tahu wanita itu akan mengumpatinya terlihat jelas dari kilatan matanya memandang tak suka pada Keyno.


"Sejak kapan kau pulang?" Agnes bertanya dengan lirihnya. Matanya berubah tajam menembus Keyno. Tak ada lagi airmata yang mendera.


"Sejak kapan kau tanya?" Pria muda itu cukup marah mendengar pertanyaan Agnes yang menurutnya tak masuk akal, tangannya meraih sebuah benda di nakas dan membanting sebuah action figure hingga terpelanting entah kemana "Aku tidak tahu kalau istriku bodoh sekali" sarkasnya.


Agnes berdecih, Ia melempar tas dan jaket yang ia kenakan lalu bangkit berdiri menghampiri Keyno yang seolah ingin menelannya. Pelukan. Bagi Agnes memeluk pria itu saat marah adalah obat mujarab untuk menenangkannya. Meski pun ia sedikit terpaksa melakukannya kali ini.


"Kiss me" Keyno meminta saat Agnes memeluk tubuh tegap itu.


"Kau meminta imbalan?" tanya Agnes


Keyno mendengus, "Tinggal cium saja, apa susahnya" protesnya,


Agnes menuruti permintaan Keyno sambil menggerutu kesal,


Ia mencium prianya di pipi sebelah kiri, namun bagi Keyno itu tidaklah cukup "Hanya itu yang kau berikan setelah menghabiskan waktu seharian dengan pria lain?" tanya Keyno dengan seringai liciknya, Ia menatap Agnes yang memasang rupa asam padanya "Kenapa?" Keyno bertanya.


Agnes tak menjawab hingga membuat Keyno kesal, Lantas ia memegang dagu Agnes agar menatap dirinya. Kemudian mengcengkeram pundak lemah itu dengan keras dan berujung mendorongnya kasar hingga tubuh Agnes melambung ke atas kasur. Keyno mendekat, menyudutkan Agnes yang perlahan bergerak mundur hingga tertahan oleh dashboard kasur. Disinilah, ia terperangkap oleh kemarahan Keyno yang terus menyudutkannya. Hampir saja Agnes meludahi Keyno kalau saja ia tidak ingat bahwa lelaki ini yang memiliki kendali atas hidupnya, membuatnya wanita bodoh dan terlihat lemah. Pria muda itu kembali mencium kasar bibir Agnes, menyesap darah akibat luka ulahnya sendiri sambil meraba bagian lain.


Keyno tak peduli meskipun Agnes mendorong tubuh kekarnya dan menolak ciumannya itu, Agnes tak suka bercumbu jika Keyno sedang marah. Benar-benar setan!


"Tidak ada yang boleh memilikimu selain aku" Keyno menyentuh dagu Agnes memaksa wanitanya mendongak "Kau hanya milikku" Ia kemudian mencium bibir Agnes lagi "Kau mengerti?" nada bicara Keyno berubah lembut.

__ADS_1


Agnes masih terpaku menatap Keyno tidak suka sembari terengah. Ia meraba bibirnya yang serasa menebal beberapa cm bahkan sedikit nyeri dibagian luka tadi.


"Ness, apa masih sakit?"


Keyno menjarak tubuhnya, mengendurkan dominan pelukannya dan meraba bibir manis dengan darah mengalir disudutnya.


"Nes.. apa sakit?" desis Keyno


"Kau tahu ini sakit berengsek!"


"Ma..maaf, maafkan aku.." Keyno memeluk Agnes dengan lembut, sangat berlawanan dengan apa yang baru saja ia lakukan.


Agnes mengeluh, Bibirnya benar-benar pedih, mungkin ia akan kesulitan untuk menikmati makanan nanti. Keyno sialan!


"Minggir!" Agnes melepaskan pelukan Keyno yang tak ia balas, lalu bangkit turun dari kasur "Aku akan mandi!" Agnes berlalu tanpa mempedulikan Keyno yang menatapnya sayu, Entah, tidak tahu apa yang terjadi pada lelaki sejenis Keyno.


"Cute" pujinya ketika menyadari sandalnya, lalu tangannya meraih gagang kulkas dan mengambil macam-macam sayur, bumbu dan daging segar untuk di olah, untuk makan malam wanitanya, tuan putrinya.


Suara detak pisau terdengar begitu cekatan kala Keyno memotong daun bawang dengan lihai, memasukkan daging ayam potong dadu dan bawang putih diikuti bumbu yang lain,


menambahkan kecap dan gula aren yang menjadi resep ayam manisnya. Sengaja ia memilih masakan dominan manis, bibir Agnes akan kesulitan jika ia memakan sesuatu yang asin. Lagi pula ini makanan kesukaan Agnes, wanita itu takkan menolak.


Keyno tersenyum puas saat makanan sudah siap dan tertata rapi di meja. Ia juga menambahkan sup telur ikan kesukaan Agnes. Tak lupa, Keyno mengganti bunga mawar yang telah layu dalam vasnya dengan bunga yang masih segar. Membuang tangkai kering dan layu itu meletakkan mawar merah beberapa kuntum disana, wangi khasnya menyeruak berpadu indah dengan harum masakan yang ia siapkan untuk Agnes.


"Kau memasak?" Agnes datang menghampiri. Menarik kursi lalu meminum air putih yang sudah tersedia disana.

__ADS_1


"Kau lapar bukan?" tanya Keyno.


Agnes tersenyum simpul. Pria ini bisa-bisanya membuat pesona setelah meluluh lantakkan hatinya, bahkan membuat bibirnya cacat sementara dan menebal. Mengapa dia terlihat sangat manis saat seperti ini? Agnes lemah. Bagaimana pun buruknya hubungan mereka, mereka akan tetap kembali baik-baik saja, melupakan yang terjadi seperti angin lalu. Ironis memang, ini lah sebuah hubungan diluar nalar. Orang lain hanya melihat mereka bertahan untuk saling menyakiti, nyatanya mereka saling mencintai hingga saling menyakiti.


"Hmmm" Agnes mengangguk dan Keyno mengambilkan nasi untuk wanitanya, mengisi piring putih itu dengan berbagai macam lauk kesukaan Agnes, bahkan menyuapinya dengan sayang.


"Kau suka?" Agnes mengangguk lagi, tatapannya berubah hangat penuh cinta, sesekali ia mengaduh karena masih merasakan perih. Sementara Keyno hanya terkekeh gemas.


"Jangan bermain-main lagi" Ucapnya kemudian.


Telepon Agnes berdering terdengar sayup di dalam kamar, Agnes berdiri dan setengah berlari mengambil ponselnya yang belum ia keluarkan dari dalam tas.


"Nes..."


"Besok ada acara wedding, dan pemilik acara mempercayakan kita untuk mendekor ruangannya"


Belum sempat Agnes menjawab Keyno lebih dulu merebut ponsel itu dan mengatakan "Lanjutkan! Besok akan ku kirim tim!"


"Key..!!"


"Apa?" Keyno mendekat, "Aku takkan membiarkanmu pergi dengan kondisi bibir seperti ini" ucapnya kemudian.


...----...


...**Dari sebuah kisah yang tak pernah dimulai,...

__ADS_1


...namun ada rasa yang tak pernah usai....


...-JL**...


__ADS_2