
"Hari ini kau ingin makan apa?" tanya Keyno saat mendapati Agnes sedang duduk menikmati coffee late, tangan sekal pria muda itu merayap ke bagian perut Agnes, memeluknya dengan sayang. Agnes menoleh sekilas kala menyadari Keyno tiba mendekapnya.
"Tak ada" lalu kembali menyesap minuman. Merasa Agnes mengacuhkannya, Keyno memutar kursi bar tersebut, memaksa Agnes agar menghadap dirinya.
"Kau tak ingin sesuatu?" Keyno menatap Agnes dengan tatapan sayu, tangannya menjalar menyentuh rambut Agnes kemudian dia tersenyum, senyum semanis gula yang mematikan. Agnes berkedip lalu menyunggingkan senyum miring, Ia tahu lelakinya tidak suka jika diacuhkan.
"Aku tidak ingin apa-apa, Key. Aku.. aku---"
"Aku apa? Kau diet? Keyno memotong ucapan Agnes "Aku tak suka kau diet" lanjutnya.
Agnes menghela nafasnya, sedikit bergerak dengan senyum sumbang menghiasi wajahnya, tangan mulusnya meraih dasi yang telah terpasang rapi di leher Keyno menariknya perlahan, semakin lama semakin kencang. Keyno menyeringai, Ia mendekatkan wajahnya pada Agnes hingga hidung mereka saling menyentuh.
"Kau mau bermain adil?" Keyno bertanya lagi, memperhatikan Agnes dan membiarkan wanita itu melakukan apa yang ia suka pada dirinya.
"Tak boleh ada jejak orang lain disini" Agnes mendesis, menunjuk bagian leher yang sudah terkeskpos dengan jejak kebiruan "Lihat! Begitu banyak benda menyebalkan ini dan kau membiarkannya!"
"Kau cemburu?" Keyno menyeringai.
"Cemburu?" wanita berambut lurus itu berdecih "Tak akan" katanya.
"Ah, sayangku cemburu rupanya" Ucap Keyno senang.
Jutaan kali pun Agnes mengelak, Keyno takkan pernah mendengarkannya. Yang sekarang bisa ia lakukan hanya diam ketika Keyno mengatakan perasaan Agnes yang sebenarnya Ia karang sendiri. Setelah melonggarkan dasi dan membuka dua kancing kemeja bagian atas Keyno, Agnes mengecup bekas-bekas kissmark yang cukup banyak di area dada dan leher Keyno.
"Kau juga milikku, Key!" Ucap Agnes dengan nada penuh penekanan seraya menatap mata Keyno yang sayu.
"Ah, bibirmu jadi kotor karena membersihkan bekas wanita jal4ng itu" Keyno nampak sedih, tentu saja itu palsu. Ia kemudian mengusap bibir Agnes sebelum menciumnya "Lain kali, akan ku gigit bibir mereka agar tak berani membuat bekas lagi" bujuknya
"Aku tak ingin makan" lirih Agnes mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa? Apa kau baik-baik saja?" tanya Keyno. Lalu memeriksa bagian perut Agnes karena takut sakit yang kemarin datang lagi, namun Agnes menyingkirkan tangan Keyno setelah beberapa detik.
__ADS_1
"Kita pergi, bukan kah kau menyuruhku meminta sesuatu padamu?" Agnes memeluk tubuh Keyno, sangat erat bahkan terlampau erat.
"Kau ingin kita kencan? dinner romantis?"
"Ya"
Keyno tersenyum lalu mengecup dengan sayang puncak kepala Agnes "Baik lah, Apapun ku lakukan untukmu" katanya.
"Tidak semua" Agnes menyangkal ucapan Keyno dan Keyno mengakuinya "Ya, kecuali satu" ucap Keyno.
Keyno memandang wajah Agnes dengan sayang, pandangan penuh cinta seakan tak ingin berpaling walau hanya sedetik saja "Kau di rumah saja, tunggu aku!" Ucapnya.
"Kenapa? bukan kah kau memintaku menemanimu ke studio?"
Keyno tak menghiraukan pertanyaan Agnes, fokusnya tertuju pada bibir wanitanya "Apa masih sakit?" Tanya Keyno meraba ujung bibir Agnes bekas luka kemarin.
"Tidak, jika kau tak menambahnya lagi"
"You're mine" bisiknya.
"But, you're fvck**-----"
"Ssstttt!!" Keyno memotong ucapan Agnes dengan menempelkan jari telunjuknya pada bibir Agnes "Sudah ku katakan, bibir ini tak boleh berkata kasar padaku!" lanjutnya kemudian mengecup singkat bibir pucat itu.
"Kau ingin menyudahinya atau kita lanjutkan?" Tanya Keyno mengedipkan mata dan Agnes buru-buru merapikan kerah kemeja dan dasi baju Keyno yang ia buka secara berantakan tadi.
"Kau tunggu lah di rumah, Aku akan menyelesaikan pekerjaanku sebelum si manajer itu bertambah tua" Ucapnya, sedari tadi dia mengabaikan telepon managernya, mungkin jika bukan karena Keyno model nomor satu saat ini, Delvin sudah menghajarnya hingga babak belur, bagaimana tidak modelnya yang satu ini, selalu saja membatalkan janji dan jadwal secara tiba-tiba, membuatnya pusing bukan kepalang mengatur jadwal ulang dengan pihak manajemen dan klien. Sialan!
"Hallo pak Delvin?" Keyno menjawab telepon dengan sikap angkuh dan gurauannya, Menggoda managernya yang ia sendiri sudah tahu bahwa pria itu sedang marah pada dirinya.
"30 menit lagi kalau kau tak datang, ku bunuh kau!" Ucap suara dari seberang telepon.
__ADS_1
Keyno menyeringai "Ku pastikan, aku akan tiba sebelum kau membunuhku" lalu mematikan panggilan. Keyno menoleh pada Agnes yang menatapnya sedari tadi "Aku pergi, kau tetap di rumah. Aku akan menjemputmu sore nanti" Keyno mengecup puncak kepala Agnes sebelum ia pergi meninggalkan wanita lemah itu.
Agnes hanya diam tak bergeming, menatap kepergian Keyno dengan tatapan sayu. Ah lelaki itu, bisa-bisanya membuatnya jatuh cinta dan tak berkutik. Agnes tak bisa memungkiri kenyataan bahwa dirinya juga tak bisa hidup tanpa Keyno, tetapi lekaki itu selalu saja berlaku seolah-olah Agnes lah miliknya, terlepas dari diri Agnes sendiri pemilik raga dan jiwa yang seharusnya ia jaga.
Hari ini jadwal Agnes padat, tapi karena Ulah Keyno ia seolah menjadi pengangguran tanpa masa depan, pergi kemana pun ia merasa enggan, bukan karena takut pada Keyno, tapi penampilannya akan membuat orang bertanya-tanya apa yang terjadi pada bibirnya, dan seribu kali ditanya pun, Agnes takkan pernah mengakui itu ulah Keyno. Tidak! Keyno tak pernah mendapat review buruk dari Agnes. Seburuk apapun perlakuan Keyno, Agnes selalu menganggap lelaki itu yang termanis. Bulshitt!!
1 jam kemudian setelah Agnes melakukan aktivitasnya, Ia mendapati kiriman boucket bunga mawar satu truk, sangat banyak dan sangat mubazir jika di pikir-pikir. Bahkan Ia bingung sekarang harus menempatkan bunga-bunga itu dimana. Seluruh ruangan dipenuhi bucket bunga mawar, bahkan halaman depan sudah tergeletak tak terarah bunga-bunga itu. Tahu kan ini ulah siapa? Yap, Keyno mengirimkan bunga-bunga itu untuk Agnes, Tanda cintanya, tanda sayangnya yang selalu melimpah-limpah pada Agnesnya, Ia ingin hari ini menjadi hari spesial untuk dirinya dan Agnes, dan dia sangat menyesal karena tak bisa menunda pekerjaannya.
Ponsel Agnes terus saja berdenting, menandakan pesan masuk tanpa henti. Dan tentu saja Agnes sudah bisa menebak pengirim pesan itu. Keyno.
"Sayang, apa kau menyukai bunganya?"
"Sayang, sudah ku pesan makan siang untukmu!"
"Kau harus makan, aku tak mau kau diet"
"Istriku, i miss you"
"Aku hari ini lelah, tapi teringat kita akan kencan aku semangat lagi!"
"Tunggu aku!"
"I love you more than i can say, My Agnes"
Agnes hanya melewatkan pesan-pesan itu, pesan yang menurutnya tidak seberapa penting. Tatapannya kembali pasrah saat sebuah truk bunga datang, dan pegawai jasa pengiriman itu menabur kembang di halaman rumahnya.
"Benar-benar Keyno gila" gerutu Agnes.
...-----...
..."Aku mencintaimu lebih dari apa yang bisa ku katakan"...
__ADS_1
...-Keyno Irawan...