
Untuk kedua kalinya dalam beberapa menit itu, hati kecil Mingyu yang selama ini diam mengamuk marah. Hati kecilnya berteriak, 'Dasar bajingan, apa yang sedang kau lakukan?'
Tapi kali ini, Mingyu tidak ragu sedikit pun. Ia tahu persis apa yang sedang dilakukannya. "Nah," ujarnya tersenyum menenangkan dan menatap mata hazel kehijauan yang besar itu sambil menyesuaikan tindakan dengan perkataannya, "ciuman adalah sesuatu yang harus dirasakan bersama. Aku akan meletakkan tanganku di lenganmu, lalu aku akan menarikmu mendekat."
Bingun mendengar begitu banyak peraturan dalam ciuman, Lisa melihat ke bawah ke arah jemari panjang dan kuat yang dengan lembut melingkari lengannya, lalu ke arah bagian depan kemeja putih pria itu, sebelum ia akhirnya mengangkat matanya dengan malu untuk menatap mata Mingyu. "Dimana harus ku letakkan tanganku?"
Mingyu menahan tawanya, berikut jawaban tak sopan yang otomatis ingin keluar dari bibirnya, namun alih-alih ia bertanya, "Kau ingin meletakkannya dimana?"
"Di dalam kantongku?" usul Lisa penuh harap. Mingyu, yang tiba-tiba merasa ingin tertawa keras-keras dan bukan merayu, akhirnya berhasil melanjutkan. "Intinya aku ingin memberitahu," ujarnya kalem, "bahwa kau tidak dilarang untuk menyentuhku."
Aku tidak mau, pikir Lisa panik.
Kau mau, Mingyu meyakinkan Lisa tanpa mengucapkannya dan tersenyum dalam hati, mengartikan dengan tepat ekspresi cemberut wanita itu. Sambil mengangkat dagu Lisa, ia menatap mata besar yang bercahaya itu lalu kelembutan mulai melingkupinya. Suatu sensasi yang selama ini asing baginya, sama seperti suara hati kecil, sampai ia bertemu dengan wanita muda polos, belum tercemar, dan sering mengejutkan ini. Selama sesaat, ia merasa seperti melihat sepasang mata bidadari, lalu tanpa sadar ia menyentuh pipi yang halus itu. "Apakah kau tahu," gumamnya pelan, "betapa memikatnya dirimu? Dan juga sangat langka?"
__ADS_1
Kata-kata yang diucapkan pria itu, ditambah lagi sentuhan jemarinya di pipi, dan suaranya yang dalam mempesona, memberi efek seduktif yang ditakutkan Lisa. Ia merasa dirinya mulai meleleh dan melayang. Ia tidak dapat mengalihkan matanya dari mata kelabu yang menghipnotis itu. Tidak ingin mencoba. Tanpa menyadari apa yang dilakukannya, ia mengangkat jemarinya yang gemetar ke rahang kokoh Mingyu, menyentuh pipinya seperti yang dilakukan pria itu terhadapnya. "Menurutku," bisiknya penuh perasaan, "kau sangat tampan."
"Lisa..." Kata yang diucapkan dengan perlahan itu mengandung kelembutan yang tidak pernah didengar Lisa sebelumnya, dan itu membuatnya ingin mengatakan segala sesuatu yang ia rasakan. Tak mennyadari dirinya merangsang Mingyu dengan sentuhan jemari dan tatapan mata hazelnya yang menawan, Lisa kembali berkata dengan penuh perasaan, "Menurutku kau setampan David-nya Michelangelo..."
"Jangan..." bisik Mingyu, lalu memagut bibir Lisa dengan ciuman yang sangat berbeda dari ciuman yang pertama. Bibirnya menyatu dengan bibir Lisa dengan kelembutan yang penuh gairah, sementara tangannya menangkup tengkuk Lisa, jemarinya mengelus kulitnya yang sensitif, lalu tangannya yang satu lagi melingkari pinggang Lisa, menariknya lebih dekat ke tubuh pria itu. Lisa yang hanyut dalam sensasi memabukkan ketika bibir pria itu mencicipi dan memagut bibirnya, menggeser tangannya ke dada Mingyu yang kokoh lalu melingkarkan tangannya di leher pria itu, bergelayut pada tubuh Mingyu untuk mendapatkan dukungan, lalu dengan polos dan tanpa sadar merapatkan tubuhnya ke tubuh pria itu.
Mingyu menurunkan tangannya ke pinggang Lisa yang ramping lalu mengangkat kepala, menatap lurus wajah belia yang memukau itu, tak dapat mempercayai betapa gadis itu tanpa disangka-sangka telah membuatnya bergairah.
Lisa yang terpesona oleh cinta dan gairah dapat merasakan detak jantung Mingyu di bawah tangannya. Ia mengangkat wajahnya menatap mulut tegas dan sensual yang dengan lembut, lalu ganas, telah menjelajahi mulutnya. Lalu matanya menatap mata kelabu yang membara itu. Dan ia tahu. Sesuatu yang indah telah terjadi. pria gagah, tampan, membingungkan dan modern ini adalah hadiah yang telah ditakdirkan untuknya. Pria itu hadiah yang diberikan kepadanya untuk dicintai.
Begitu Lisa menaikkan tatapannya Mingyu tahu sesuatu yang seperti ini akan terjadi. "Terima kasih," balasnya, berusaha menganggap pernyataan itu sebagai sekadar pujian ketimbang ungkapan perasaan yang tidak ingin ia dengar. Ia menggelengkan kepala dalam hati melihat betapa romantisnya wanita itu. Dan betapa lugu. Ia tahu yang Lisa rasakan adalah gairah. Tidak lebih. Cinta tidak pernah ada. Yang ada hanyalah gairah dalam beberapa tingkatan, yang bagi wanita romantis dan pria bodoh mereka namakan cinta.
Ia tahu ia tidak boleh mengakhiri ketertarikan wanita itu terhadapnya saat ini dengan terus terang mengatakan perasaannya tidak sama dengan perasaan wanita itu, terlebih lagi, ia tidak ingin wanita itu merasa seperti ini terhadapnya. Itulah yang tadinya ingin ia lakukan. Meskipun begitu, hati kecilnya, yang tiba-tiba menjadi cerewet setelah diam bertahun-tahun, tidak membiarkannya menyakiti hati Lisa. Bahkan meskipun ia berhati batu, sinis, dan tidak sabar menghadapi segala omong kosong ini, hatinya tidak cukup keras atau sinis untuk sengaja menyakiti hati anak kecil yang sedang menatap penuh kagum ke arahnyam seperti anak anjing.
__ADS_1
Lisa begitu mirip anak anjing sehingga secara otomatis Mingyu mengulurkan tangan lalu mengacak-acak rambutnya yang lebat dan halus. Sambil tersenyum, ia berkata, "Kau telah memanjakanku dengan semua pujian itu," lalu ia menoleh ke arah rumah, tak sabar ingin kembali ke pekerjaannya. "Aku harus selesai memeriksa pembukuan nenekku siang ini dan nanti malam," ujarnya tergesa-gesa. "Aku akan menemuimu besok pagi."
Lisa mengangguk lalu melihat pria itu berjalan keluar dari gazebo. Esok pagi, ia akan menjadi istri pria itu. Mingyu tidak bereaksi seperti yang ia harapkan ketika ia mengatakan ia mencintainya, tapi itu bukan masalah. Tidak saat ini. Nanti ia akan punya cukup banyak cinta yang memenuhi dadanya untuk membuatnya bertahan.
"Lisa?" Roseanne bergegas masuk ke gazebo, wajahnya berseri-seri penasaran. "Aku melihat dari jendela. Kau berada di sini lama sekali. Apa dia menciummu?"
Lisa duduk terenyak di bangku besi putih berukir di bawah pohon apel lalu terkekeh melihat ekspresi tak sabar temannya. "Ya."
Roseanne dengan penuh semangat duduk di sebelah Lisa. "Dan apakah kau mengatakan bahwa kau cinta padanya?"
"Ya."
"Apa reaksinya?" selidik Roseanne senang. "Apa katanya?"
__ADS_1
Lisa melemparkan senyum sendu. "Dia bilang terima kasih."