
Ketika tawa mereka mereda, Lady Jeon dengan lunglai terhenyak ke dinding lalu menoleh ke arah Lisa, menatap wanita itu sambil tersenyum ingin tahu. "Bagaimana kau bisa tahu pria konyol itu salah mengutip ucapan Machievalli sebagai Horace?"
"Aku pernah membaca karya keduanya," aku Lisa setelah diam sejenak karena merasa bersalah.
"Masa!" kata sang Lady, pura-pura kelihatan takut dengan memelankan suara, "Aku juga"
Mata Lisa membelalak. "Aku selama ini mengira wanita yang membaca karya klasik dianggap sebagai kutu buku."
"Biasanya begitu," aku Lady Jeon ringan," tapi dalam kasusku, kalangan bangsawan memilih untuk mengabaikan, eh, maksudku mengabaikan kesukaanku yang tidak feminin itu dibanding pakaian dan sulaman."
Lisa memiringkan kepalanya, menatap wajah di hadapannya dengan kagum. "Mengapa mereka melakukan itu?"
Suara Lady Jeon melembut penuh kasih sayang, "Karena suamiku akan membunuh semua mahluk hidup yang berani mengatakan aku bukan seorang Lady yang sempurna." Tiba-tiba ia menyipitkan mata dengan curiga kepada Lisa lalu bertanya, "Apakah kau bisa main musik? Karena kalau kau bisa, aku terpaksa memperingatkan mu, teman atau bukan, aku tidak akan datang mendengarkan kau bermain musik. Baru mendengar tentang Bach atau Beethoven saja sudah membuatku berlari mencari obat tidur, dan begitu melihat harpa aku langsung sakit parah."
Lisa setahun penuh belajar bermain piano karena kata sang nenek sebagai gadis muda dari kalangan atas ia harus bisa memainkan setidaknya satu alat musik. Ia nyaris tak percaya mendengar komentar merendahkan seperti ini dari seorang Lady yang terkenal sebagai trendsetter di antara elite bangsawan.
"Aku pernah belajar main piano, tapi aku tak bisa memainkannya dengan baik sehingga layak dipertunjukkan," aku Lisa ragu-ragu.
"Bagus," kata Lady Jeon dengan puas. "Apakah kau juga berminat berbelanja baju?"
"Sebenarnya, menurutku itu agak melelahkan."
"Bagus sekali," seru wanita itu, lalu dengan curiga menambahkan, "Kau tidak bisa bernyanyi kan?"
Lisa, yang entah mengapa enggan mengakui ketidakmampuannya bermain alat musik, sekarang dengan enggan mengakui dirinya bisa bernyanyi. "Ya, sepertinya bisa sedikit."
"Tak ada manusia yang sempurna," kata Lady Jeon ceria dan dengan murah hati memaafkan kekurangan Lisa. "Lagi pula, aku telah menunggu-nunggu ingin bertemu wanita yang membaca karya Horace dan Machiavelli, dan aku tidak akan mundur dari berteman denganmu hanya karena kau bisa menyanyi. Kecuali, tentu, kau sangat pandai menyanyi?"
Bahu Lisa mulai bergetar karena geli, karena ia sebenarnya cukup pintar menyanyi. Lady Jeon melihat jawabannya di mata Lisa dan langsung mengernyit lucu pura-pura takut. "Kau tidak sering bernyanyi, bukan?"
"Tidak." Berusaha menahan tawa, Lisa menambahkan, "dan kalau ini bisa membantu mengangkat nilaiku di matamu, aku bisa meyakinkanmu bahwa aku biasanya kehabisan pembicaraan yang sopan dalam waktu kurang dari lima menit." Setelah membeberkan beberapa persyaratan utama itu, kedua wanita tersebut kembali terpingkal-pingkal.
Di dalam mansion di Regent Street No. 45, para penari terus berdansa dan tamu-tamu terus tertawa, tak mengetahui peristiwa penting yang sedang berlangsung di luar pintu Prancis. Hanya bintang-bintang yang berkelip di langit yang menyaksikan bahwa di balkon kosong rumah itu, dua wanita yang sejiwa akhirnya menemukan satu sama lain.
"Kalau begitu," putus Lady Jeon dengan anggun ketika mereka sudah berhenti tertawa, "Aku akan menganggap mu sebagai teman yang paling cocok dan menyenangkan." Setelah membuang segala formalitas, dengan perlahan Lady Jeon berkata, "Sahabat karibku memanggilku Jisoo."
Seketika itu juga hati Lisa diliputi kebahagiaan namun kenyataan yang getir segera menghancurkan kebahagiaan itu ketika ia menyadari teman-teman Jisoo Jeon tidak akan mau menerima Lisa dalam lingkup pergaulan mereka. Semua bangsawan, termasuk teman-teman Jisoo yang modern, terlanjur menganggap Lisa sebagai orang yang berbeda 180 derajat dengan mereka. Ia telah dihakimi oleh mereka dan sayangnya dianggap tidak sepadan. Tampak jelas Jisoo belum mengetahui segala sesuatu mengenai dirinya. Perut Lisa menegang membayangkan ekspresi sinis yang akan diterima Jisoo jika wanita itu kembali ke ruang dansa bersama Lisa.
"Teman-temanmu memanggilmu apa?" tanya Jisoo sambil memandangnya.
Aku sudah tidak punya teman, batin Lisa lalu cepat-cepat menunduk untuk menyapu roknya, dengan lihai menyembunyikan air mata yang mulai menggenangi matanya.
"Panggil aku Lisa."
Memutuskan lebih baik mengakhiri pertemanan ini sekarang, oleh dirinya, daripada dipermalukan oleh Jisoo Jeon jika mereka bertemu lain waktu. Lisa menarik napas panjang lalu dengan tergesa-gesa berkata, "Aku menghargai ajakan pertemanan mu, Lady Jeon, tapi seperti yang kau lihat, akhir-akhir ini aku sangat sibuk harus menghadiri pesta dansa, jamuan makan siang.. Dan juga berbagai macam acara, dan aku tidak yakin kau bisa.. eh kita.. bisa punya waktu, aku yakin kau sudah memiliki berpuluh-puluh teman yang akan menyita waktumu."
__ADS_1
"Maksudmu teman yang menganggapmu orang paling lugu yang pernah muncul di kota London?" ujar Jisoo lembut.
Sebelum Lisa dapat menanggapi perkataan itu, Yugyeom berjalan keluar dari kegelapan dan masuk ke balkon. Lisa dengan lega bergegas mendekati pria itu lalu cepat-cepat berbicara, "Apakah kau mencariku, Your Grace? Pasti sudah saatnya pulang. Selamat malam, Lady Jeon."
"Mengapa kau menolak ajakan berteman dari Lady Jisoo?" tanya Yugyeom marah, begitu mereka masuk ke kereta dalam perjalanan pulang.
"Aku tidak akan bisa."
Lisa sedikit mengelak, benaknya masih teringat pada kata-kata terakhir yang diucapkan wanita itu dengan suara lembut sebelum mereka berpisah.
"Seperti katamu, kami tidak dalam lingkup pergaulan yang sama."
"Aku tahu, dan aku juga tahu sebabnya," kata Yugyeom kaku. "Ada seseorang yang memiliki harga diri terlalu tinggi sehingga tak bisa menerima penolakanmu terhadapnya, dia adalah salah satu penyebabnya."
Lisa terkejut menyadari bahwa Yugyeom mengetahui dirinya tidak disukai, ia pikir, ah maksudnya ia harap pria itu tidak mengetahui situasinya yang sulit.
"Aku meminta orang itu untuk datang ke tempatku besok pagi," lanjut Yugyeom terus terang. "Kita harus melakukan sesuatu untuk mengubah opininya tentang dirimu dan kau harus membujuknya untuk melupakan peristiwa di lantai dansa pada malam debutmu itu, ketika kau meninggalkannya begitu saja."
"Membujuknya!" seru Lisa. "Yugyeom, dia mengatakan hal-hal yang buruk, ah bahkan keji tentang nenekmu!"
"Dia memang selalu mengatakan hal-hal secara objektif." senyum Yugyeom menenangkan terlihat agak tak meyakinkan. "Dia paling suka mengejutkan, mempermalukan, atau menakut-nakuti wanita, dan kalau berhasil dia akan membenci korbannya karena bersikap penakut dan bodoh. Dia seperti burung yang hinggap dari satu pohon ke pohon yang lain, menebarkan benih permusuhan kemana pun dia pergi. Kebanyakan apa yang dikatakannya cukup lucu, sepanjang yang menjadi objek bukan diri kita sendiri. Dalam situasi apa pun, kau harus berani menentangnya atau mengatakan sesuatu yang mengejutkan dia."
"Maafkan aku, aku tidak tahu itu."
"Banyak hal yang tidak kau ketahui," ujar Yugyeom geram, ketika mereka berhenti di depan rumahnya di sisi barat London. "Tapi begitu kita masuk ke rumah, aku akan memperbaiki hal itu."
"Lisa," katanya tiba-tiba, "kau seharusnya bisa sukses besar. Tuhan pun tahu, kau memenuhi segala syarat yang dibutuhkan, dalam jumlah besar. Alih-alih kau menjadi kegagalan terbesar dalam sepuluh tahun ini."
Rasa malu nyaris membuat Lisa terjatuh, tapi Yugyeom cepat-cepat menjelaskan, "Ini salahku, bukan salahmu. Aku menyembunyikan beberapa hal darimu, hal-hal yang seharusnya ku katakan padamu, namun nenekku tidak mengizinkan, beliau tidak sanggup membiarkanmu berpikir yang tidak-tidak. Namun, sekarang kami berdua sependapat kau harus diberitahu, sebelum kau menghancurkan kesempatan yang tersisa untuk mendapatkan kebahagiaan, jika itu belum terlambat."
Sambil mengangkat gelas ke bibirnya, Yugyeom menegak wiski tersebut, seolah-olah ia membutuhkan minuman itu untuk mendapatkan keberanian, lalu berkata, "Sejak kau datang ke London, kau mendengar kebanyakan teman dan kenalan Mingyu memanggilnya Hawk, bukan?" Ketika Lisa mengangguk, ia melanjutkan, "menurutmu kenapa mereka memanggilnya dengan nama itu?"
"Ku pikir karena dia cukup gagah, pemberani dan tajam, seperti elang."
"Beberapa orang memang bermaksud seperti itu, tapi dikalangan pria, terutama, nama itu mengandung arti lain. Hawk, elang, adalah burung pemangsa yang punya mata sangat tajam dan mampu menangkap buruannya sebelum buruannya menyadari dirinya berada dalam bahaya."
Lisa menatap pria itu dengan rasa tertarik yang sopan dan tidak mengerti sama sekali, bukankah ia telah benar sebagian. Lalu Yugyeom menyisirkan jarinya ke rambut tanda frustasi. "Mingyu mendapat nama itu bertahun-tahun yang lalu, ketika ia berhasil mendapatkan seorang gadis muda yang cantik yang diperebutkan separuh bujangan di London selama berbulan-bulan. Hawk melakukannya pada satu malam hanya dengan mengajaknya berdansa."
Sambil membungkuk, Yugyeom menopang tangannya di tangan kursi yang diduduki Lisa, "Lisa," katanya tajam, "kau meyakinkan dirimu bahwa kau mencintai dan dicintai pria yang kau anggap... orang suci. Kenyataannya adalah, Hawk lebih mirip iblis daripada orang suci bila berhubungan dengan wanita, dan semua orang tahu tentang hal itu. Kau mengerti maksudku kan?" tanya Yugyeom getir, wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari wajah Lisa. "Setiap orang di London yang mendengar kau membicarakan Mingyu seolah-olah dia adalah seorang ksatria berbaju zirah, tahu kalau kau itu hanya salah satu korbannya.. hanya salah satu dari para wanita, yang tak terhitung jumlahnya, yang menjadi korban daya tarik Mingyu. Walaupun dia tidak bermaksud ingin memikat mereka, biasanya dia lebih sering kesal daripada senang bila wanita jatuh cinta, persis seperti dirimu. Tapi tidak seperti korban-korban lain, kau terlalu polos untuk menyembunyikannya dari orang lain."
Wajah Lisa memerah karena malu, tapi ia merasa Mingyu tidak bisa disalahkan kalau para wanita jatuh cinta kepadanya.
"Aku menyayangi dia seperti kakakku sendiri, tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa dia terkenal sebagai playboy tak bermoral."
Sambil menyumpah pelan melihat kesetiaan dan kepolosan Lisa, Yugyeom menegakkan badan. "Kau sedang tidak percaya padaku. Benar bukan?"
__ADS_1
"Baiklah, ini ada lagi, pada malam pesta dansa pertamamu, kau secara terbuka memuji dua wanita yang kau bilang wanita paling cantik yang pernah kau lihat. Keduanya adalah wanita simpanan Mingyu. Kau mengerti apa artinya?"
Perlahan-lahan wajah Lisa memucat. Wanita simpanan berarti pernah tidur seranjang dengan Mingyu dan pria itu melakukan hal-hal intim seperti yang dilakukannya terhadap Lisa.
Yugyeom melihat wajah Lisa memucat tapi ia pantang mundur, bertekad untuk membeberkan semuanya. "Pada pesta dansa yang sama, kau bertanya apakah Mingyu suka menonton balet, dan semua orang nyaris tertawa terbahak-bahak karena semua orang tahu bahwa Jung Una, salah satu simpanan Mingyu tidak hanya mahir, tapi ia adalah profesional dalam balet. Dan masih menjadi simpanannya sampai dia meninggal. Lisa, dia singgah di London dan mengunjungi wanita itu sebelum kalian naik ke kapal, setelah kalian menikah. Orang-orang melihat Mingyu meninggalkan rumah wanita itu. Dan Una mengatakan kepada semua orang bahwa Mingyu menikahimu hanya karena alasan praktis."
Lisa melompat berdiri dan menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha menyangkal hal itu. "Kau salah. Aku tak percaya padamu. Dia bilang dia ada urusan bisnis dengan seseorang. Dia tidak akan pernah..."
"Dia bisa dan dia sudah melakukannya, brengsek! Lebih jauh lagi, dia bermaksud membawamu ke Devon dan meninggalkanmu di sana, lalu dia akan kembali ke London untuk melanjutkan hubungan dengan wanita simpanannya. Dia sendiri yang mengatakan itu padaku! Mingyu menikahimu karena terpaksa, tapi dia tak ingin dan tak berniat untuk hidup berumah tangga denganmu, istrinya. Dia hanya kasihan padamu."
Kepala Lisa tersentak ke samping seakan-akan kena tampar. "Dia kasihan padaku?" tanyanya pilu, tenggelam dalam rasa malu, sambil mencengkram lipatan roknya, ia memuntir kainnya sampai buku-buku tangannya memutih. "Dia pikir aku harus dikasihani?"
Pemahaman lain menerpanya, dan ia menutup mulutnya dengan tangan, merasa dirinya hendak muntah, Mingyu bermaksud melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan ayah Lisa kepada ibunya. Menikah, meninggalkan istri di suatu tempat terpencil, lalu kembali ke wanita simpanan yang jahat.
Yugyeom mengulurkan tangan ke arah Lisa berusaha melingkarkan tangannya ke tubuh wanita itu, namun Lisa menepiskan tangan itu dan melangkah mundur, ia menatap Yugyeom seakan-akan pria itu sama jahatnya seperti Mingyu. "Tega-teganya kau?" sergahnya, suaranya bergetar karena getir dan sakit hati. "Tega benar kau membiarkan aku menangisi pria itu dan mempermalukan diriku sendiri? Kejam sekali kau karena membiarkanku percaya dia sungguh-sungguh sayang kepadaku?!"
"Pada saat itu kami pikir itu adalah hal terbaik," kata sang nenek dengan parau dari belakang Lisa, lalu berjalan masuk ke ruangan dengan sedikit tertatih-tatih, hal yang selalu muncul bilamana wanita itu sedang cemas.
Lisa terlalu terpukul sehingga tidak mencemaskan wanita tua itu. "Aku mau pulang ke rumahku." katanya, berusaha keras mengendalikan amarah yang menyesakkan dada dan membuat ia tak dapat bernapas.
"Tidak, kau tidak bisa!" bentak Yugyeom. "Ibumu pergi berlayar sebulan penuh mengelilingi kepulauan Inggris. Kau tidak bisa hidup seorang diri."
"Aku tidak butuh izinmu untuk pulang ke rumahku. Dan aku juga tidak butuh dukungan finansial darimu. Menurut nenekmu, aku punya uang yang diberikan Hawk kepadaku," tukasnya getir.
"Dan itu dikontrol olehku, yang adalah walimu," Yugyeom mengingatkan.
"Aku tidak ingin dan aku tidak butuh wali. Selama ini aku bisa mengurus diriku sendiri sejak aku berusia empat belas tahun!"
"Lalisa, dengarkan aku." ujar Yugyeom tegas, mencengkram bahu Lisa lalu mengguncangnya sedikit dengan tak sabar. "Aku tahu kau marah dan salah paham, tapi kau tidak bisa melarikan diri dari kami atau bersembunyi dari London. Kalau kau melakukannya, apa yang terjadi padamu di sini akan menghantuimu selamanya. Kau tidak mencintai Mingyu..."
"Oh benarkah?" Sela Lisa dengan marah. "Kalau begitu coba katakan padaku mengapa aku menghabiskan waktu setahun penuh berusaha membuatku layak menyandang namanya?"
"Kau mencintai ilusi, bukan Mingyu. Ilusi yang kau ciptakan karena kau polos dan idealis..."
"Dan bodoh, buta, tolol!" desis Lisa.
Rasa malu dan marah membuatnya menampik rasa simpati yang ditawarkan Yugyeom, dan dengan nada putus asa, ia meminta diri lalu berlari ke kamarnya.
Baru setelah berada sendirian di kamar tidurnya ia menyerah dan menangis. Ia menangisi kebodohannya, kepolosannya, serta kerja kerasnya setahun penuh, berusaha membuat dirinya berharga bagi pria yang tidak layak disebut gentleman. Ia menangis sampai suara isakannya membuat ia benci pada dirinya sendiri karena menyia-nyiakan air mata untuk pria itu.
Akhirnya, setelah memaksakan diri untuk duduk, ia menyeka air mata sementara benaknya terus didera oleh kebodohannya sendiri. Ia melihat dirinya sendiri di taman sehari sebelum mereka menikah, bertanya, "Apakah kau akan menciumku?" tanyanya pada Mingyu kala itu, dan kala pria itu menciumnya, ia nyaris pingsan dalam pelukan pria itu, lalu seketika itu juga ia mengatakan cintanya.
Roseanne pernah berkata para pria senang jika tahu mereka dikagumi dan ia tentu percaya sepenuhnya pada sahabatnya itu. Lalu ungkapan, 'Ku rasa kau sama tampannya dengan David-nya Michelangelo," yang ia katakan pada Mingyu juga membuatnya muak.
Rasa malu menyerbu Lisa dan ia mengerang keras-keras, melingkarkan tangannya ke sekeliling perut, namun ingatan memalukan itu tak kunjung hilang. Ya Tuhan! Ia memberikan jam tangan kakeknya yang berharga kepada pria itu. Ia memberikan jam itu dan berkata bahwa kakeknya pasti akan menyukai Mingyu! Hah! Kakeknya pasti akan memalang pintu agar bangsawan berdarah biru yang angkuh dan licik itu tidak bisa masuk.
__ADS_1
Di kereta ia telah membiarkan Mingyu menciumnya berulang kali, ia tidur di atas tubuh pria itu seperti pelacur mabuk kepayang yang bodoh! Di tempat tidur ia membiarkan pria itu melakukan semua perbuatan intim yang ingin dilakukan pria itu terhadapnya, dan ketika sudah puas, pria itu keesokan malamnya melakukan hal yang sama dengan wanita simpanannya.
Alih-alih menembak orang yang merampok Mingyu pada malam mereka bertemu, ia seharusnya menembak Mingyu Kim! Pastilah dirinya yang tak berpengalaman ini dirasa amat membosankan bagi pria itu, dan tak heran kalau Mingyu tidak ingin mendengar pernyataan cintanya yang lugu.