Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 51


__ADS_3

Mingyu naik kereta kuda sewaan yang disambarnya dari depan hidung seorang nyonya bangsawan yang marah di tengah jalan di sekitar Upper Book Street. "St. Paul," teriaknya kepada kusir kereta. "Dan kau bisa tidak bekerja seumur hidup dari upah yang akan ku berikan kepadamu kalau kau bisa membawaku ke sana dalam lima belas menit."


"Tidak mungkin, Tuan," kata sang kusir. "Di sana sedang ada acara pernikahan yang membuat macet jalanan sepanjang pagi."


Selama menit-menit berikutnya, berbagai pikiran dan emosi yang saling bertentangan berputar-putar di benak Mingyu yang kacau, yang paling utama adalah ia harus buru-buru. Karena tak mungkin bisa mengendalikan arus lalu lintas, ia tak punya pilihan lain selain duduk tenang dengan muram memikirkan bencana ini.


Kadang-kadang, selama ia tidak ada, ia pernah memikirkan kemungkinan tak masuk akal bahwa setelah lewat masa berkabung setahun, Yugyeom akan bertemu seseorang dan memutuskan akan menikah, tapi entah mengapa ia tak memperkirakan hal ini. Yugyeom sama seperti dirinya, tak pernah benar-benar ingin terikat pada satu wanita, meskipun ikatan itu seperti ikatan pernikahan masa kini yang memungkinkan suami istri bebas melakukan apa pun yang mereka kehendaki.


Mingyu juga pernah mempertimbangkan kemungkinan suatu hari nanti Lisa bertemu seseorang yang ingin menikah dengannya, tapi tidak secepat ini. Tidak pada saat dia seharusnya masih berduka! Tidak pada saat dia seharusnya cinta setengah mati pada Mingyu.


Tapi satu hal yang tak pernah dibayangkannya, walau dalam mimpi terburuknya sekalipun, adalah kerumitan yang akan terjadi karena kepulangannya. Apakah Yugyeom karena ingin bersikap ksatria merasa berkewajiban menikahi janda malang Mingyu? Sialan! pikir Mingyu ketika puncak-puncak menara gereja St. Paul akhirnya mulai terlihat, apa yang telah merasuki Yugyeom sehingga mau melakukan hal bodoh seperti itu?


Jawaban atas pertanyaan itu muncul di kepala Mingyu nyaris seketika. Rasa kasihan. Rasa kasihanlah yang mungkin menyebabkan pria itu melakukannya. Rasa kasihan yang sama dengan yang Mingyu rasakan terhadap gadis ceria yang telah menyelamatkan nyawanya dan menatapnya dengan mata besar penuh kekaguman.


Rasa kasihan telah membuat semua ini hampir menjadi bencana, dan Mingyu tak punya pilihan selain menghentikan pernikahan itu dalam tahapan apa pun ketika ia memasuki gereja nanti, kalau tidak Lisa dan Yugyeom akan didakwa melakukan bigamy di depan umum. Sempat terpikir olehnya calon suami Lisa yang malang akan dirampas dari diri wanita itu untuk kedua kali, dan ia sejenak merasa menyesal karena akan kembali merusak kedamaian wanita itu.


Sebelum kereta sewaannya benar-benar berhenti di depan gereja St. Paul, Mingyu telah melompat turun dan berlari menaiki anak tangga yang panjang menuju pintu, berharap ia datang tepat waktu untuk menghentikan pernikahan terkutuk ini sebelum upacaranya dimulai.


Harapan itu pupus begitu ia menarik pintu yang berat agar  terbuka dan melihat ke dalam gereja yang diterangi cahaya lilin, pengantin wanita dan pengantin pria berdiri membelakangi para hadirin. Mingyu langsung terdiam, berbagai umpatan kasar terlintas di benaknya, dan ia tak punya pilihan selain mulai berjalan di sepanjang gang, langkah kakinya yang bersepatu bot mengetuk lantai dengan bunyi menggema bagaikan tembakan meriam di dalam gereja yang penuh sesak itu.

__ADS_1


Ketika hampir sampai di depan, ia berhenti berjalan, menunggu saat-saat yang sebentar lagi tiba, ketika ia harus berbicara. Dan pada saat itu juga, ketika ia berdiri di antara deretan tamu berpakaian mewah yang selama ini merupakan keluarga, teman dan kenalan, ia beru benar-benar terpikir mereka tampaknya tidak terlalu berduka kehilangan dirinya karena kalau mereka benar-benar berduka ia tidak perlu bermain dalam sandiwara konyol dan menggelikan yang akan ia pertunjukkan di gereja sialan ini. Pikiran itu membuatnya dijalari amarah yang dingin, namun raut wajahnya tetap tenang ketika berdiri di gang di antara bangku baris kedua, tangannya disilangkan di depan dada, menunggu saat-saat yang semakin mendekat.


Di kiri dan kanannya, para tamu mulai mengenali dirinya, dan bisik-bisik keras mulai terdengar di antara mereka, menyebar bagaikan api di semak-semak. Lisa mendengar keributan yang semakin keras di belakangnya lalu menatap ragu ke arah Yugyeom, yang sepertinya sedang berkonsentrasi mendengarkan perkataan uskup agung, yang menegaskan, "Jika ada di antara kalian hadirin yang mengetahui alasan mengapa pria dan wanita ini tidak boleh bersatu dalam ikatan perkawinan, silahkan berbicara sekarang atau diam...."


Selama sedetik suasana sunyi senyap. Keheningan menegangkan yang selalu mengiringi suatu tantangan, tapi kali ini tantangan itu dijawab, dan keheningan itu dipecahkan oleh suara bariton yang dalam dan sinis.


"Ada satu alasan..."


Yugyeom memutar tubuh, uskup agung ternganga, Lisa membeku, dan tiga ribu hadirin berputar di kursi mereka. Suara-suara ingin tahu mulai bermunculan dan menyebar ke seluruh gereja bagaikan ombak pasang. Di altar, buket mawar yang dipegang oleh Jeon Jisoo terlepas dari genggamannya. Seungkwan menyengir lebar, dan Lisa berdiri diam, yakin semua ini tidak benar-benar terjadi, ini hanyalah mimpi, pikirnya bingung, atau dirinya sudah gila.


"Atas dasar apa anda keberatan pada pernikahan ini?" akhirnya sang uskup agung bertanya dengan nada keras.


Kali ini tidak dapat dipungkiri lagi suara yang berat dan dalam itu begitu akrab dan nyata di telinga Lisa. Gelombang rasa terkejut menerjang naik-turun di tulang belakangnya, membuat seluruh tubuhnya gemetar. Hatinya penuh suka cita sehingga segala pengkhianatan dan penipuan pria itu sirna dalam ingatannya. Perlahan-lahan ia membalikkan badan, takut kalau-kalau ini hanyalah permainan takdir yang kejam, lalu ia mengangkat matanya menatap pria itu. Itu benar Mingyu! Dia masih hidup. Memandang wajahnya yang tampan, dan kasar bagai dipahat nyaris membuat lutut Lisa lemah. Pria itu berdiri di sana, menatapnya, seulas senyum samar mengembang di bibirnya yang tegas.


Seluruh tubuh Lisa seakan bersinar, dalam hati ia mencoba mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah yang amat dikasihinya itu dan menyakinkan diri bahwa pria itu nyata. Senyum pria itu menghangat seakan-akan dia dapat merasakan sentuhannya. Mata pria itu beralih menatap wajahnya, menyadari perubahan dalam penampilan Lisa, lalu entah mengapa, ekspresi Mingyu membeku, dan ia menatap tajam penuh curiga pada Yugyeom.


Di bangku deretan depan, sang nenek tak dapat bergerak, wanita itu menatap Mingyu sementara tangan kanannya menekan tenggorokan. Dalam keheningan mencekam yang menyusul kemudian, hanya Paman Monty yang sepertinya mampu berbicara. Sebotol wiski yang diminumnya diam-diam itu pasti telah membuat matanya tak dapat mengenali sosok Mingyu. Meskipun demikian, pria itu bisa dengan jelas mengingat peringatan Nyonya Kim tua bahwa ia harus menjaga etiket pada acara pernikahan ini, jadi ia merasa sudah menjadi kewajibannya untuk memperingatkan hal itu kepada pendatang baru ini. Sambil mencondongkan tubuh ke arah pengganggu yang berdiri di gang itu, Paman Monty memberi peringatan dengan suara menggelegar,


"Tolong duduk, pak! dan jangan bergerak sedikit pun sampai uskup agung berjalan keluar. Kalau tidak, anda akan diberi hukuman berat oleh Nyonya Kim!"

__ADS_1


Suara itu sepertinya memecahkan mantra yang memukau semua orang. Sang uskup agung tiba-tiba mengumumkan upacara pernikahan tidak dapat diteruskan lalu berjalan keluar. Yugyeom meraih tangan Lisa yang gemetar lalu membimbingnya berjalan ke gang. Mingyu melangkah ke samping dan membiarkan mereka lewat. Sang nenek yang anggun perlahan-lahan  bangkit dari tempat duduk, matanya menatap Mingyu lekat-lekat.


Dalam keadaan sedikit mabuk, Paman Monty dengan bahagia mengira acara sudah selesai, dan, berdasarkan instruksi selanjutnya, ia mengulurkan tangannya kepada Nyonya Kim lalu menggandengnya dengan gagah menyusuri gang di belakang mempelai, wajahnya berseri-seri ramah kepada para penonton yang juga mulai berdiri dan menatap mereka dengan bingung.


Di luar gereja, Paman Monty mencium Lisa dengan keras, menarik tangan Yugyeom lalu menjabatnya dengan penuh semangat, namun seketika suara Mingyu yang kasar membuatnya terdiam. "Dasar bodoh, upacara pernikahannya batal! Lakukan sesuatu yang berguna dan bawa istriku pulang." Sambil menggandeng tangan neneknya, Mingyu berjalan menuju kereta kuda yang sudah menunggu. Sambil menoleh ke belakang, ia berkata dengan ketus kepada Yugyeom, "Ku rasa sebaiknya kita segera pergi dari sini, sebelum gerombolan di sana itu mengerubungi kita. Surat kabar pagi akan mengulas tentang kepulanganku yang menakjubkan. Kalian bisa membacanya di sana. Kita akan bertemu di town house-ku di Upper Book Street."


"Kau tak mungkin bisa memanggil kereta sewaan Kim," kata Paman Monty, mengambil prakarsa ketika dilihatnya, baik Lisa ataupun Yugyeom sepertinya tidak bergerak. "Tidak tampak satu pun kereta sewaan. Kau akan ikut bersama kami."


Sambil menarik tangan Yugyeom dengan paksa di satu tangan dan Lisa di tangan lainnya, ia menarik mereka menuju kereta Yugyeom.


Mingyu membimbing neneknya ke kereta kudanya yang elegan, memberi perintah kepada kusir yang terpana, lalu naik ke dalam kereta dan duduk di sebelah wanita tua itu. "Mingyu...?" bisik wanita itu, menatap wajah Mingyu sambil berkaca-kaca bahagia sementara kereta kuda meluncur ke depan. "Apakah ini benar-benar dirimu?"


Seulas senyum simpatik melembutkan wajahnya yang muram. Sambil melingkarkan tangannya di bahu wanita tua yang dicintainya itu, Mingyu dengan lembut mencium dahinya. "Ya, Grandmama."


Wanita itu meletakkan tangannya di pipi Mingyu yang kecoklatan, ungkapan rasa sayang yang jarang diperlihatkannya, lalu tiba-tiba ia menarik tangannya dan bertanya marah, "Mingyu, kemana saja kau selama ini? Kami pikir kau sudah meninggal! Lisa yang malang nyaris menyia-nyiakan hidupnya karena sedih, dan Yugyeom.."


"Tak usah berbohong padaku," sela Mingyu dengan dingin. "Yugyeom tampak sama sekali tidak senang melihatku, dan istriku yang 'berduka' tampak seperti pengantin yang bahagia."


Di dalam benaknya Mingyu melihat wanita jelita yang membalikkan tubuh di altar untuk melihatnya. Selama sesaat yang menyenangkan sekaligus menakutkan, ia mengira dirinya masuk ke pernikahan yang salah, atau Yoon salah memberikan identitas mempelai Yugyeom, karena Mingyu tidak mengenali wanita itu, sampai wanita itu mengangkat matanya yang hazel kehijauan tak terlupakan itu untuk menatapnya. Baru pada saat itulah ia merasa pasti siapa wanita itu, dan ia juga tahu dengan pasti bahwa Yugyeom menikahi wanita itu bukan karena kasihan ataupun ingin  bersikap dermawan. Wanita cantik yang berdiri di altar itu bisa membangkitkan gairah dalam tubuh setiap pria, tapi bukan rasa kasihan.

__ADS_1



__ADS_2