Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 40


__ADS_3

"Mingyu, kau bisa dengar tidak? Bangun, Sobat!"


Berusaha sekuat tenaga, Mingyu mematuhi perintah yang diberikan sambil berbisik itu lalu perlahan-lahan berusaha membuka mata. Cahaya putih terang masuk dari lubang kecil di dinding sebelah atas, menyilaukan matanya, sementara rasa sakit kembali membuatnya jatuh pingsan.


Ketika Mingyu siuman, hari telah kembali berganti malam dan ia menatap wajah muram Minghao, salah seorang tawanan lain dari kapal Lancester yang tak pernah dilihatnya lagi sejak mereka diturunkan dari kapal itu tiga bulan lalu.


"Dimana aku?" tanya Mingyu dan merasakan darah merembes keluar dari bibirnya yang pecah.


"Di neraka," kata si orang Cina dengan suram.


"Di penjara bawah tanah orang Prancis, lebih tepatnya."


Mingyu mengangkat tangan dan mendapati tangannya diikat dengan rantai berat. Matanya mengikuti arah rantai itu dan dilihatnya rantai itu dipakukan ke dinding batu lalu dengan mata nanar, berusaha mengingat-ingat mengapa dirinya dirantai sedangkan Xu Minghao tidak.


Memahami kebingungan Mingyu, temannya itu berkata, "Apakah kau tidak ingat? Rantai itu hadiah untukmu karena meninju penjaga dan mematahkan hidungnya, ditambah lagi kau nyaris memutuskan urat di lehernya dengan pisau pria itu sendiri ketika mereka membawamu kemari pagi ini."


Mingyu memejamkan mata, tapi tak dapat mengingat ia pernah memukul penjaga. "Apa lagi hadiah untukku?" tanyanya, suaranya parau, terdengar asing di telinganya sendiri.


"Patah tiga tulang rusuk, wajah babak belur, dan beberapa luka yang cukup parah di punggung."


"Bagus," geram Mingyu. "Ada alasan khusus mengapa mereka tidak membunuhku alih-alih menyiksaku?"


Nada suara Mingyu yang dingin dan tak acuh membuat Minghao tertawa kagum. "Sial, tapi kalian bangsawan Inggris berdarah biru memang tak pernah mengedipkan mata ketakutan, ya kan? Tetap tenang, persis seperti yang dikatakan semua orang." Sambil mengulurkan tangan ke belakang, Minghao mencidukkannya ke dalam seember air yang nampak buruk, membuang sebanyak mungkin lumut yang mengambang di atasnya, lalu menyodorkan mangkuk itu ke bibir Mingyu yang berdarah. Mingyu meneguk air itu, lalu meludahkannya dengan jijik.


Tak menghiraukan reaksi Mingyu, Minghao kembali menekankan mangkuk itu ke bibir pria yang lemah itu dan berkata, "Aku tahu, aku tahu, rasanya tidak seenak anggur kesukaanmu, dan tempatnya bukan di gelas kristal yang bersih dan halus, tapi kalau kau tidak meminumnya, kau menghilangkan kesempatan para penjaga untuk membunuhmu, lalu mereka akan mengalihkan kekecewaan mereka padaku. Itu tidak akan menyenangkan."

__ADS_1


Alis mata Mingyu mengerut, tapi dilihatnya pria itu sedang bergurau, jadi ia meminum beberapa teguk cairan yang apek dan menjijikan itu.


"Nah, itu lebih baik. Kau memang suka cari gara-gara, Man," lanjut pria itu dengan ringan, tapi dia dengan cemas membalut dada Mingyu dengan secarik kain yang dirobek dari kemejanya. "Kau tidak perlu kena pukul kalau saja ibumu mengajarkanmu agar bersikap sopan kepada dua orang pria yang membawa pistol dan pisau, juga mereka jelas ada dalam posisi yang lebih menguntungkan."


"Apa yang kau lakukan?"


"Mencoba menjaga rusukmu agar tidak bergerak. Nah sekarang, coba untuk menjawab pertanyaanmu yang tadi mengenai mengapa mereka tidak membunuhmu, orang-orang Prancis itu berusaha menjagamu tetap hidup karena siapa tahu Inggris berhasil menangkap salah satu pejabat mereka, ku dengar salah satu perwira itu mengatakan kalau kau kartu As yang akan mereka gunakan kalau mereka ingin barter tawanan. Tentu saja kau tidak menjalankan tugasmu, yaitu tetap hidup, bila kau terus menghina para penjaga dan tanpa sopan santun mencuri senjata mereka. Dari wajahmu, sepertinya aku tidak punya andil ketika mengangkutmu dari laut dan naik ke kapal Prancis yang membawa kita ke sini."


"Memangnya seburuk apa tampang ku?" tanya Mingyu tak antusias.


"Aku berani bilang kalau kau mendapat pukulan seperti ini lagi, kedua wanitamu tidak akan tergila-gila padamu seperti ketika kau meninggalkan mereka."


Ketidaksadaran kembali melilitkan sulurnya ke sekeliling tubuh Mingyu, berusaha menariknya kembali ke kegelapan, dan ia melawan, lebih suka merasakan sakit yang tak terperi. "Dua wanita siapa?"


"Ku rasa kau lebih tahu dari pada aku. Yang satu namanya Una. Apakah dia istrimu?"


"Dan Lisa?"


Mingyu mengerjap, berusaha menjernihkan otaknya yang berkabut. Lisa. Lisa...


"Anak kecil." katanya sementara bayangan sama seorang gadis berambut coklat gelap menghunuskan pedang-pedangan ranting menari-nari di depan matanya. "Bukan," bisiknya dengan penuh penyesalan, sementara kehidupannya berkelebat cepat di depan matanya. Kehidupan sia-sia berisi afair-afair hampa dan tindakan tak bermoral, kehidupan tanpa makna yang berpuncak pada pernikahannya yang lucu dan tergesa-gesa dengan wanita mempesona yang hanya satu kali berbagi ranjang dengannya. "Dia istriku."


"Benarkah?" tanya Minghao, tampak terkesan. "Punya simpanan, istri dan anak? Orang yang punya segalanya."


"Tidak," Mingyu membetulkan dengan nanar, "TIdak punya anak. Satu istri. Beberapa wanita simpanan."

__ADS_1


Minghao menyeringai lalu mengelus-elus dagunya yang kotor. "Aku bukannya tak percaya. Aku mengagumi orang yang menikmati hidup. Tapi," lanjutnya dengan tampang terkejut meski tak ingin, "beberapa wanita simpanan?"


"Tidak," Mingyu membetulkan sambil menggertakkan giginya melawan rasa sakit, "tidak pada saat yang bersamaan."


"Dimana mereka menahanmu selama ini? Aku tidak melihatmu sejak pasukan Prancis menurunkan kita dari kapal mereka tiga bulan lalu."


"Aku mendapatkan akomodasi pribadi dan perhatian khusus," jawab Mingyu sinis, yang dimaksudnya adalah lubang gelap di bawah penjara bawah tanah tempat ia ditahan setelah disiksa dan dipukuli hingga nyaris gila karena kesakitan.


Teman satu selnya menatap tubuh Mingyu yang babak belur sambil mengerutkan dahi, tapi dia berusaha menjaga suaranya tetap ringan. "Apa yang kau katakan pada orang-orang Prancis itu sehingga mereka lebih membencimu dibandingkan aku?"


Mingyu terbatuk lalu menggertakkan giginya melawan rasa sakit yang menusuk dada. "Aku memberi tahu namaku kepada mereka."


"Dan?"


"Dan mereka ingat," ia terengah-engah, berusaha tetap sadar, "peristiwa di Spanyol."


Alis mata Minghao bertaut bingung. "Mereka melakukan ini padamu karena sesuatu yang kau lakukan terhadap mereka di Spanyol?"


Pria yang setengah sadar itu mengangguk sedikit, matanya mulai menutup. "Dan karena.... mereka masih mengira aku punya... informasi. Tentang militer."


"Dengar Mingyu," kata Minghao putus asa, "kau bergumam tentang rencana melarikan diri ketika kau tiba di sini beberapa waktu yang lalu. Apakah kau punya rencana?"


Satu lagi anggukan lemah.


"Aku ingin ikut. Tapi Mingyu, kau pasti mati kalau dipukuli seperti ini lagi. Aku bersungguh-sungguh, Man. Jangan lagi membuat marah para penjaga."

__ADS_1


Kepala Mingyu terkulai ke samping ketika akhirnya ia kalah melawan sebuah ketidaksadaran.


Sambil berjongkok, Minghao menggeleng putus asa. Kapal perang Prancis telah kehilangan banyak awaknya dalam peperangan, sehingga sang kapten menggunakan mereka sebagai tambahan tenaga bagi kapalnya yang kekurangan awak kapal. Hanya dalam waktu beberapa hari saja, sudah ada beberapa yang mati karena luka-lukanya. Minghao  bertanya-tanya apakah teman satu selnya ini akan menjadi korban kedua?


__ADS_2