Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 29


__ADS_3

Mingyu tampak terkejut, pria itu lalu menoleh dan membuka mulut, seolah-olah ingin bicara, tapi entah mengapa tidak ada kata yang keluar. Mula-mula Lisa bingung melihat pria itu diam saja, tapi lalu ia pun mengerti. Ia menggelengkan kepala lalu mendesah penuh simpati. "Kau juga tidak tahu, ya kan?"


Tawa Mingyu meledak seperti tembakan pistol, kepalanya sampai tersentak ke belakang, ia tertawa terbahak-bahak sampai akhirnya berhasil menarik cukup banyak udara ke paru-parunya dan tersedak.


"Ya, Lisa... Aku tahu."


Seminggu ini semenjak bertemu dengan Lisa, aku telah tertawa lebih banyak daripada setahun, pikir Mingyu.


Sedikit tersinggung melihat reaksi Mingyu, Lisa berkata, "Well kalau begitu, bagaimana cara membuat bayi?"


Binar-binar rasa geli yang masih ada di mata Mingyu perlahan-lahan menghilang ketika ia meletakkan jemarinya di pipi Lisa dan mengelusnya ke belakang sambil merapikan rambut wanita itu. Akhirnya ia berkata dengan suara parau yang janggal, "Aku akan menunjukkan padamu caranya malam ini."


Mingyu nyaris tidak berkata apa-apa lagi ketika kereta mereka keluar dari jalan dan masuk ke halaman penginapan yang semua jendelanya terang benderang.


***


Keesokan malamnya mereka berhenti sebentar di London, dan sementara Mingyu melakukan urusan bisnisnya, kusir kereta membawa Lisa tur selama dua jam mengelilingi kota yang menurut Lisa kota yang paling menarik sedunia.

__ADS_1


Matahari telah terbenam di cakrawala lautan ketika mereka tiba di kapal keesokan harinya. Lisa dengan suka cita mereguk dalam-dalam pemandangan yang indah serta suara-suara pelabuhan, memperhatikan kuli-kuli pelabuhan berjalan naik-turun jembatan sambil dengan ringan membawa peti-peti besar di pundak mereka, sementara derek raksasa mengangkat jaring peti kemas dari pelabuhan lalu menurunkannya di atas kapal. Para pelaut bertubuh besar berjalan-jalan di sepanjang dermaga sambil menggandeng wanita yang wajahnya diberi pemerah pipi dan gaunnya begitu meriah sehingga gaun Lisa jadi tampak membosankan.


Setibanya di kapal, kapten kapal sendiri yang menyambut dan mengundang mereka untuk bersama-sama menikmati makan malam 'sederhana' di kabinnya. Makan malam 'sederhana' itu terdiri atas empat belas macam makanan, setiap makanan disajikan dengan anggur yang berbeda-beda, serta perbincangan menarik mengenai peperangan yang dilakukan Inggris terhadap Prancis dan Amerika. Di Morsham, bila Lisa membaca tentang peperangan darat yang sengit dengan bala tentara Napoleon serta pertempuran yang terjadi di laut, semua itu terasa begitu jauh dan tidak nyata. Sekarang, dengan adanya kapal-kapal perang bersandar di sekeliling mereka, peperangan terasa sebagai sesuatu yang lebih nyata dan menakutkan.


Meskipun demikian, ketika Mingyu menemaninya turun ke kabin Lisa sudah minum terlalu banyak atas bujukan sang kapten, sehingga ia sedikit pusing dan sangat mengantuk. Koper-koper Mingyu telah diletakkan di dalam kabin, Lisa tersenyum senang sambil bertanya-tanya dalam hati apakah suaminya akan bercinta lagi dengannya malam ini. Pria itu tampak agak menjaga jarak setelah pulang dari rapatnya di London kemarin malam, dan tidak mengajaknya bercinta ketika mereka berhenti di penginapan di bagian selatan kota London. Meskipun demikian, pria itu memberinya ciuman selamat tidur, dan memeluknya sampai ia tertidur.


"Apakah perahu ini oleng?" tanya Lisa, mencengkram meja kecil di dekatnya.


Mingyu terkekeh, suaranya terdengar dalam dan penuh perasaan. "Ini kapal, bukan perahu dan kaulah yang oleng, manisku. Sepertinya kau terlalu banyak minum minuman keras saat makan malam."


"Sang kapten ngotot agar aku mencicipi setiap minuman," protes Lisa. "Dia sangat baik," imbuhnya, cukup puas dengan dunianya.


Dengan sopan Mingyu membalikkan badan ketika Lisa berganti pakaian, lalu ia membawa wanita itu ke tempat tidur, menarik selimut hingga ke dagunya.


"My Lord," ujar Lisa, "Apakah kau tidak tidur denganku?" Lisa berharap ia tidak perlu memanggil pria itu dengan sebutan Your Grace atau My Lord, tapi sang nenek telah menceramahinya dengan keras bahwa ia harus memanggil suaminya dengan sebutan itu, kecuali jika suaminya mengizinkan untuk tidak melakukannya. Dan pria itu belum memberinya izin.


"Aku akan naik ke dek sebentar untuk mencari angin," ujar Mingyu, berhenti sebentar untuk mengecek pistol dari dalam kantong jaket lalu menyelipkan di ban pinggang celana panjangnya yang berwarna biru gelap.

__ADS_1


Lisa sudah tertidur pulas sebelum Mingyu sampai di ujung gang sempit yang mengarah ke tangga menuju dek atas. Di susuran tangga, Mingyu merogoh kantongnya lalu mengambil sebuah cerutu ramping yang biasa ia nikmati setelah makan malam. Sambil menutupi ujung satunya, ia menyalakan cerutu itu lalu berdiri memandangi lautan di depannya, memikirkan masalah rumit mengenai Lisa. Setelah bertahun-tahun berhubungan dengan para wanita berpengalaman, mata duitan, dan tak bermoral, hingga Mingyu menganggap semua wanita sama seperti itu, ia menikah dengan seorang gadis polos, lucu, pintar, dan berhati mulia.


Dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya terhadap wanita itu. Lisa punya anggapan konyol bahwa ia seorang pria yang mulia, baik dan tampan. Sementara dirinya, tentu, tahu dengan baik bahwa ia sinis, logis dan tak bermoral. Dalam hidupnya yang singkat ini, sudah tak terhitung jumlahnya orang yang ia bunuh dan jumlah wanita yang ia tiduri.


Lisa percaya pada sikap terbuka, mempercayai orang lain, dan cinta. Dan dia berusaha membuat Mingyu juga mempercayai hal itu. Sedangkan Mingyu tidak ingin berurusan dengan keterbukaan, mempercayai orang lain, ataupun cinta.


Lisa adalah pemimpi yang lembut, sedangkan ia logis dan keras. Malah, wanita itu pemimpi yang parah sehingga benar-benar percaya bahwa sesuatu yang indah akan terjadi, dan itu tidak begitu mengejutkan, karena Lisa juga menganggap tanah basah di musim semi beraroma seperti parfum.


Lisa ingin membuat Mingyu melihat dunia seperti itu, segar, hidup dan tidak tercemar, tapi itu sudah terlambat. Yang dapat Mingyu lakukan hanyalah berusaha menjauhkan dunia keji itu dari Lisa selama yang ia bisa. Tapi ia tidak ingin berada di dalam dunia khayalan itu bersama Lisa. Itu bukan tempatnya.


Di Devon nanti, Lisa akan aman dari efek buruk kalangan bangsawan, aman dari sikap berfoya-foya dan tidak bermoral dunianya, dunia tempat Mingyu merasa nyaman, tempat ia tidak diharapkan merasakan sesuatu seperti cinta, tempat ia tidak diharapkan mempercayai orang lain, atau mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran dan perasaannya yang terdalam.


Ia takut akan melihat rasa terluka di wajah Lisa bila wanita itu tahu ia tidak berencana tinggal di Devon bersamanya, karena ia tidak akan tinggal di sana. Tidak bisa tinggal di sana.


Di depannya, lautan membentang sejauh mata memandang, permukaan lautnya yang hitam disinari cahaya kuning besar dari rembulan. Dengan kesal, Mingyu membuang cerutunya ke sisi kapal, lalu ia teringat itu adalah cerutunya yang terakhir. Ia telah meninggalkan kotak pipih kemasan bersama seluruh isinya di rumah Una di London kemarin malam.


Letih karena berhari-hari terkurung di dalam kereta dan tak berhasil menemukan jalan keluar terhadap masalahnya dengan Lisa, ia membalikkan badan dari susuran tangga lalu melihat ke sepanjang dermaga, tempat cahaya lampu keluar dari kedai-kedai minum dan para pelaut bermulut kotor berjalan tertatih-tatih, tangan mereka di lingkarkan ke pelacur yang berjalan di samping mereka.

__ADS_1


Tak sampai dua puluh meter dari tempatnya berdiri, dua pria dengan gesit berlari ke bawah bayang-bayang kapal lalu berjongkok di antara dua gulungan tali agar tak terlihat oleh Mingyu/


Berharap bisa membeli beberapa cerutu di kedai minum di sebrang dermaga, Mingyu berjalan di sepanjang geladak menuju ke tangga jembatan. Dua bayangan keluar dari persembunyiannya di antara gulungan tali dan membuntutinya, diam sejenak, mengawasi.


__ADS_2