Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 53


__ADS_3

Detik-demi detik berlalu, tapi tak seorang pun, termasuk Paman Monty, berani menjadi orang pertama yang mengangkat gelas dan meminum sampanye berusia tua yang diambil dari gudang penyimpanan bawah tanah itu untuk merayakan pernikahan yang tak pernah terjadi... Tak seorang pun termasuk Mingyu.


Seakan tak menyadari suasana tegang di dalam ruangan, Mingyu memutar gelas di tangannya, memperhatikan gelembung-gelembung bercahaya di dalam gelas kristal, lalu menenggak minumannya. Ketika ia menurunkan gelasnya, ia menatap Yugyeom dengan ekspresi mengejek. "Senang rasanya mengetahui," ujarnya dengan dingin, "kesedihanmu mengetahui aku meninggal tidak menyurutkan kesukaanmu menikmati anggur terbaikku."


Sang nenek mengernyit, tubuh Lisa menegang, tapi Yugyeom menerima sindiran tajam itu dengan senyum tak acuh. "Tenang saja, kami selalu bersulang untukmu setiap kali membuka botol baru, Hawk."


Dari bawah bulu matanya, Lisa mencuri pandangan sekilas ke arah sosok jangkung dan misterius di depan perapian itu, bertanya dalam hati dengan agak panik pria macam apa dia sebenarnya. Pria itu sepertinya tidak marah Yugyeom menyerobot gelarnya, uangnya dan istrinya, tapi dia marah karena gudang anggurnya dirampok.


Kata-kata Mingyu selanjutnya segera menghapus perkiraan awal Lisa bahwa pria itu tidak mempedulikan estatnya. "Bagaimana keadaan rumah ini selama kepergianku?" ia bertanya, dan selama satu jam berikutnya ia melancarkan pertanyaan bertubi-tubi kepada Yugyeom, mengintrogasi pria itu mengenai hal-hal detail sebelas estatnya, bisnis raksasanya, investasi pribadinya, dan bahkan kesehatan para pegawainya.


Setiap kali pria itu berbicara, suaranya yang dalam seakan menggerus urat-urat saraf Lisa yang tegang, dan kadang-kadang, ketika ia mencuri pandang ke arah pria itu, rasa takut menyergapnya, menyebabkan ia buru-buru mengalihkan tatapannya kembali. Mingyu Kim yang memakai celana ketat selutut yang menonjolkan kakinya yang kekar dan panjang serta kemeja berkerah terbuka yang membalut bahunya yang bidang, tampak benar-benar rileks, namun ada aura berkuasa yang tak terbantahkan. Sekarang masih tertahan, namun sedang mengumpulkan tenaga, menunggu untuk dilepaskan terhadapnya. Lisa mengenang pria itu sebagai pria yang tampan, tapi tidak sebegitu maskulin, atau 'sebesar' ini.


Mingyu masih sangat kurus, namun kulit kecoklatan yang dia dapat selama pelariannya dan selama berada di atas kapal membuatnya tampak jauh lebih sehat dari pada para pria bangsawan yang berkulit putih. Berdiri nyaris sejangkauan tangan Lisa, pria itu tampak menjulang seperti iblis jahat, pria raksasa yang berbahaya dan keji yang tiba-tiba memasukkan Lisa dalam kehidupannya lagi, dengan kekuasaan yang dapat menghancurkan semua kebahagiaan dari masa depan Lisa. Lisa bukanlah orang yang rendah, yang akan mengatakan ia menyesal pria itu masih hidup, tapi ia benar-benar berharap ia tak pernah berjumpa dengan pria itu.


Selama beberapa saat yang rasanya seperti berabad-abad, Lisa duduk diam tak bergerak, berusaha mengendalikan ketegangan dalam dirinya, sekuat tenaga berusaha tampak tenang, mencengkeram erat sikap tenangnya seolah-olah itu adalah selimut yang dapat dipergunakannya untuk melindungi diri dari Mingyu.


Dengan rasa takut bercampur nekat, ia menunggu saat-saat yang tak terelakkan itu, saat Mingyu mengajukan pertanyaan kepadanya. Meskipun demikian, ketika Mingyu sudah selesai mendiskusikan status bisnisnya yang lain, dan Lisa merasa kecemasannya mulai meningkat. Ketika topik itu selesai dibahas, pria itu bertanya tentang acara-acara yang sedang berlangsung di London, lalu kepanikan Lisa berubah menjadi kebingungan. Tapi ketika pria itu mengubah topik dan mendiskusikan gosip serta hal-hal sepele lainnya serta bertanya mengenai hasil pacuan kuda musim semi kemarin, kebingungan Lisa berubah menjadi rasa kesal.


Tampak jelas, pria itu menganggap Lisa tidak lebih penting dari pada kuda jantan seorang Lord yang berumur dua tahun atau anak kuda bangsawan lainnya yang tampaknya menjanjikan di pacuan kuda musim berikutnya, Lisa menyadari. Bukan berarti aku harus terkejut mengetahui itu, ia mengingatkan diri sendiri dengan getir, karena seperti yang diketahuinya sejak beberapa waktu yang lalu, Mingyu Kim tidak pernah menganggapnya sebagai apa pun selain tanggung jawab yang menyebalkan.


Ketika semua hal, sampai yang terkecil sekali pun, telah selesai dibicarakan, suasana hening kembali meliputi ruangan, dan Lisa sudah tentu mengira waktunya akhirnya tiba. Tepat ketika ia mengira Mingyu akan bertanya empat mata padanya, pria itu tiba-tiba berdiri tegak dari posisinya yang membungkuk di atas perapian dan mengumumkan bahwa ia akan keluar.


Tatakrama mengharuskan Lisa untuk tetap diam, namun ia sudah tidak tahan lagi diam barang satu jam pun, apalagi sehari, menanti peristiwa mendebarkan itu. Bertekad untuk terdengar setenang dan sesantai mungkin, ia berkata, "Sepertinya ada satu hal lagi yang perlu kita bahas, Your Grace."


Tanpa repot-repot melihat ke arah Lisa, Mingyu mengulurkan tangan menyambut jabatan tangan Yugyeom. "Itu hal yang bisa menunggu," katanya dingin. "Kalau aku sudah selesai mendiskusikan masalah yang lebih penting, kau dan aku akan berbicara berdua."


Arti bahwa dirinya bukanlah sesuatu yang cukup penting sangat terlihat jelas dari kalimat itu, tubuh Lisa menegang mendengar penghinaan yang disengaja itu. Ia sekarang telah menjadi wanita dewasa, bukan anak kecil mabuk kepayang yang mudah dipermainkan dan bersedia melakukan apa pun agar dapat menyenangkan hati Mingyu. Sambil mengendalikan amarahnya sekuat tenaga, Lisa berusaha membantah dengan logis, "Tentunya manusia berhak mendapat waktumu sebagaimana anak kuda seorang Lord yang tadi kau bicarakan, dan aku lebih suka membicarakannya sekarang sementara kita semua berada di sini."


Kepala Mingyu tersentak ke arahnya, dan Lisa berhenti bernapas melihat amarah berkobar di mata pria itu. "Ku bilang berdua!" hardiknya, membiarkan Lisa terkejut karena menyadari di balik ekspresinya yang dingin dan datar Mingyu Kim amat sangat marah. Sebelum Lisa dapat mencerna hal itu atau menarik permintaannya, yang sedang akan dilakukannya, sang nenek lekas-lekas bangkit dan melambai ke arah Paman Monty dan Yugyeom agar mengikutinya keluar ruangan.


Pintu ke arah ruang duduk tertutup di belakang mereka dengan bunyi berdebam, dan untuk pertama kalinya dalam lima belas bulan, Lisa berada bersama pria yang pernah menjadi suaminya, dan dengan cemas menyadari, mereka hanya berdua.


Lewat sudut matanya ia melihat pria itu berjalan ke meja lalu menuang segelas sampanye untuk dirinya sendiri, dan Lisa memanfaatkan kesempatan itu untuk benar-benar memperhatikan Mingyu. Apa yang dilihatnya membuatnya gemetar ketakutan. Dengan panik, ia bertanya-tanya mengapa ia dulu begitu polos atau begitu mabuk kepayang sehingga membayangkan Kim Mingyu sebagai pria yang lembut. Sekarang, jika dilihat dari kacamata orang dewasa, ia tak dapat melihat tanda-tanda kelembutan atau kebaikan dalam sosok yang keras dan kasar itu. Bagaimana mungkin aku bisa menyamakan dia dengan David karya Michelangelo, pikirnya.

__ADS_1


Alih-alih lembut dan tampan, sosok Mingyu yang berkulit kecoklatan lebih tampak kejam dan angkuh, tak dapat dibantah, yang terlihat dari garis rahangnya yang keras dan hidungnya yang lurus, serta memiliki tekad kuat bila dilihat dari dagunya yang terangkat naik. Lisa menggigil di dalam hati melihat sikap sinis di mata pria itu, sindiran tajam yang didengarnya dari ucapan pria itu.


Dulu sekali, ia pernah merasa mata kelabu itu begitu lembut, seperti langit setelah hujan di musim panas, sangat teduh. Namun, sekarang yang dapat dilihatnya hanyalah mata dingin dan tak bersahabat laksana lapisan es. Mata yang tidak ramah ataupun penuh pengertian. Oh, pria itu memang tampan, ia mengakui meski enggan. Amat sangat tampan, malah, tapi hanya jika kita tertarik pada pria yang misterius, kasar, licik dan sensual, dan ia yakin dirinya tidak seperti itu.


Berusaha memutar otak mencari cara terbaik untuk mengemukakan pendapatnya, Lisa berjalan mendekati meja lalu menuang segelas sampanye untuk dirinya sendiri, tak menyadari gelasnya tadi masih penuh, lalu ia melihat sekeliling berusaha memutuskan apakan ingin duduk atau berdiri. Ia memutuskan untuk berdiri supaya pria itu tidak tampak terlalu menjulang dan menakutkan.


Di perapian, Mingyu mengangkat gelas ke bibirnya sambil memperhatikan Lisa. Hanya ada dua kemungkinan mengapa wanita itu berkeras ingin berbicara denganku, pikir Mingyu. Kemungkinan pertama adalah Lisa benar-benar percaya dirinya jatuh cinta pada Yugyeom, dan itulah sebabnya dia ingin menikah dengan pria itu. Kalau memang seperti itu, wanita itu tak lama lagi pasti akan mengatakannya, dengan sederhana dan jujur, seperti kebiasaannya selama ini. Kemungkinan kedua adalah wanita itu ingin menikah dengan siapa pun yang memegang gelar kepala keluarga Kim. Jika itu kasusnya, wanita itu pasti sekarang akan berusaha menenangkan Mingyu dengan kata-kata lembut dan feminim. Tapi pertama-tama Lisa harus menunggu sebentar sampai amarah Mingyu mereda, persis seperti yang dilakukannya sekarang.


Mingyu meminum sampai habis sampanye di gelasnya lalu meletakkannya di atas perapian dengan bunyi nyaring. "Aku menunggu," bentaknya tak sabar.


Lisa terlonjak lalu membalikkan badan untuk melihat pria itu, terkejut mendengar nada suaranya yang tajam. "Aku... aku tahu," katanya, bertekad akan berbicara setenang dan sedewasa mungkin serta menjelaskan dengan sejelas-jelasnya bahwa dirinya tidak ingin lagi menjadi tanggung jawab pria itu. Di lain pihak, ia tidak ingin melakukan atau mengatakan apa pun yang membuat pria itu tahu  betapa sakit, marah dan salah ia selama ini ketika mengetahui bagaimana sebenarnya perasaan Mingyu terhadapnya, atau betapa bodohnya ia karena menangisi playboy paling tersohor di London.


Untuk menambah dilemanya, dalam suasana hati seperti sekarang ini tampak jelas Mingyu tidak akan berpikir logis jika membicarakan topik yang bisa mengundang gosip, seperti perceraian. Malah, Lisa secara naluriah tahu pria itu akan bereaksi sebaliknya. "Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya," katanya ragu-ragu.


"Kalau begitu," ejek pria itu sementara tatapannya yang tajam membelah gaun satin biru muda Lisa, "izinkan aku memberi beberapa usulan. Kalau kau bermaksud mengatakan dengan manis betapa rindunya kau padaku, sepertinya gaun yang kau kenakan itu agak tidak pantas. Lebih bijaksana kalau kau bertukar pakaian dulu. Tapi gaun itu sangat indah." Nada suaranya yang malas-malasan berubah tegas dan singkat. "Apakah dibeli dengan uangku?"


"Tidak... sebenarnya, aku tidak tahu persis.."


"Tak usah pikirkan soal gaun," potong Mingyu ketus. "Ayo kita teruskan sandiwaramu. Karena kau tidak mau melemparkan dirimu ke dalam pelukanku lalu mengeluarkan air mata bahagia melihat kepulanganku, sementara kau berpakaian sebagai pengantin, kau harus memikirkan cara lain untuk melunakkan hatiku dan mendapat maaf dariku."


"Bagaimana kali kau mulai dengan mengatakan betapa sedihnya dirimu ketika pertama kali mendengar aku pergi selamanya?" lanjut Mingyu tanpa ampun, tak mengacuhkan amarah Lisa. "Itu lebih enak didengar. Lalu kalau kau bisa meneteskan air mata satu atau dua bulir, kau bisa memberitahuku bagaimana kau kehilangan aku, dan menangis serta mendoakan..."


Itu nyaris tepat seperti kenyataan sehingga suara Lisa bergetar karena malu dan marah. "Hentikan! Aku sama sekali tidak mau melakukan hal-hal seperti itu! Lagi pula, dasar pria munafik sombong, maaf darimu sama sekali tidak ku pedulikan."


"Tindakanmu sungguh bodoh sayangku," kata pria itu malas-malasan, berjalan menjauhi perapian. "Pada saat seperti ini perlu menunjukkan sikap yang lembut dan meneteskan air mata, bukan menghina. Lagi pula, melembutkan hatiku seharusnya menjadi tujuan nomor satumu. Para wanita dari keturunan yang baik dan ingin menjadi nyonya Kim harus membuat diri mereka disukai para keturunan sah keluarga Kim yang lajang setiap waktu. Nah, karena kau tidak bisa mengganti gaunmu dan kau tak bisa menangis, bagaimana kalau kau mengatakan padaku kau amat merindukan aku," ejek pria itu kurang ajar. "Kau merindukanku, bukan? Amat sangat, aku berani bersumpah. Amat sangat merindukanku sehingga kau mau menikah dengan Yugyeom hanya karena dia sedikit mirip denganku. Pasti begitu, ya kan?" ejeknya.


"Mengapa kau bertingkah seperti ini?" teriak Lisa.


Tak mau repot-repot menjawab pertanyaan itu, Mingyu berjalan mendekat, menjulang di atas Lisa seperti awan hitam yang berbahaya. "Dalam satu atau dua hari ini, aku akan memberitahu apa yang akan ku lakukan terhadapmu."


Amarah bercampur bingung berkecamuk di dalam pikiran Lisa, membuat kepalanya pusing. Mingyu Kim tak pernah peduli padanya dan pria itu tidak berhak, tak punya alasan untuk bersikap seperti suami yang marah dan merasa serba benar! "Aku bukan benda mati yang tak punya otak!" serunya marah. "Kau tidak bisa membuangku begitu saja seperti perabot!"


"Tidak bisa?Coba saja?" tantang pria itu.

__ADS_1


Benak Lisa berputar keras mencari cara meredakan amarah tak masuk akal pria itu dan menenangkan egonya yang mungkin terluka. Sambil menyusurkan jari ke rambutnya yang tebal, ia dengan putus asa mencari penjelasan logis. Ia adalah pihak yang tak bersalah dan menderita dalam hubungan ini, tapi pada saat ini pria itu pihak yang berkuasa dan berbahaya, jadi ia berusaha memberi penjelasan masuk akal padanya. "Aku bisa melihat kau sedang marah..."


"Kau cermat sekali," ejek Mingyu keji.


Tak mempedulikan sindiran itu, Lisa meneruskan dengan nada suara yang diharapkannya cukup tenang, "Dan aku bisa melihat tak ada gunanya beradu argumentasi denganmu pada saat suasana hatimu seperti ini..."


"Teruskan dan coba saja," ajak Mingyu, tapi sorot matanya menyiratkan hal yang berlawanan ketika pria itu melangkah mendekati Lisa dengan gaya mengancam.


Lisa buru-buru mundur selangkah. "Tak ada gunanya. Kau tak kan mau mendengarkan penjelasanku. Amarah menutup akal sehat..."


Kutipan kata-kata Ingersoll itu membuat Mingyu terperanjat, ia jadi teringat kembali pada gadis mempesona berambut bergelombang yang mengutip kata-kata Budha atau John the Baptis, tergantung situasi. Sayangnya, itu hanya membuat Mingyu bertambah marah, karena sekarang wanita ini sudah bukan gadis yang dulu. Wanita itu sekarang telah menjadi oportunis licik. Kalau Lisa  benar-benar ingin menikah dengan Yugyeom karena mencintai pria itu, Lisa pasti sekarang sudah mengatakannya, Mingyu tahu itu. Tapi karena wanita itu belum mengatakan apa-apa, tampaknya wanita itu ingin tetap menjadi menantu di rumah ini, dan menjadi nyonya Kim selamanya.


Dan itulah masalah yang harus dihadapi Lisa, pikir Mingyu dengan sinis. Lisa tidak dapat melemparkan dirinya ke dalam pelukan Mingyu dengan gaya meyakinkan lalu menangis bahagia padahal Mingyu baru saja menyaksikan dia nyaris menikah dengan pria lain, tapi wanita itu juga tidak bisa mengambil resiko membiarkan Mingyu keluar dari rumah ini tanpa mengambil langkah-langkah untuk rekonsiliasi. Tidak, jika wanita itu ingin tetap dihargai dan dihormati oleh teman-temannya. Untuk mempertahankan hal itu, masyarakat bangsawan harus melihat dia berhubungan baik dengan kepala keluarga Kim yang sekarang.


Lisa telah menjadi wanita yang ambisius selama lima belas bulan terakhir ini, pikir Mingyu dengan penuh kebencian. Juga cantik. Apalagi bila dilihat dari dekat, dengan rambut coklat gelapnya yang mengilat jatuh sampai ke pundak dan tergerai di punggungnya seperti ombak yang bergulung-gulung, kontras dengan kulitnya yang putih gading, mata hazel cerah, serta bibir kemerahan yang lembut. Bila dibandingkan dengan wanita berambut pirang yang pernah dilihat Mingyu, yang biasanya dianggap paling cantik, lisa amat sangat menarik dan tak membosankan.


Ia menatap wanita itu lekat-lekat, yakin Lisa seorang oportunis licik, namun dengan semua bukti itu ia tak dapat menemukan bekas-bekas kepolosan dalam mata yang berkilat marah dan wajah yang tertengadah ke arahnya itu. Geram pada dirinya sendiri karena tak mau melihat Lisa seperti sekarang, Mingyu membalikkan tubuh dan berjalan menuju pintu.


Lisa melihat pria itu berjalan pergi, berbagai macam emosi berkecamuk dalam dirinya termasuk amarah, lega, dan cemas. Pria itu berhenti sejenak di ambang pintu dan tubuh Lisa seketika menegang.


"Aku akan pindah ke sini besok. Sementara itu, aku akan meninggalkan beberapa instruksi padamu. Kau tidak boleh pergi dengan Yugyeom kemana pun!"


Nada suara pria itu memberi isyarat pada Lisa bahwa ia akan menerima hukuman berat jika menentang perintahnya, dan meskipun ia tidak dapat membayangkan hukuman macam apa yang akan diterimanya, atau mengapa ia mau menyerah dan menghadapi berbagai macam gosip, Lisa selama beberapa saat cukup gentar mendengar nada mengancam itu. "Malah, kau tidak boleh meninggalkan rumah ini. Kau mengerti?"


Berusaha keras menunjukkan sikap tak acuh yang sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dirasakannya, Lisa mengangkat bahu sedikit dan berkata, "Aku berbicara dengan fasih dalam tiga bahasa, Your Grace. Salah satunya adalah bahasa inggris."


"Kau mau mengguruiku?" tanya Mingyu pelan dengan nada mengancam.


Keberanian Lisa bertempur dengan akal sehatnya, tapi tak satu pun yang menang. Takut untuk melanjutkan tapi tak bersedia mundur, ia berusaha bertahan dengan memberanikan diri berbicara dengan nada yang biasa dipakai orang dewasa jika ingin menenangkan anak kecil yang sedang marah, "Aku tak ingin membicarakan itu ataupun hal lain bila kau sedang dalam suasana hati tak masuk akal seperti ini."


"Lisa," kata Mingyu dengan nada keji, "kalau kau ingin tahu seberapa jauh kau bisa mendorongku, kau baru saja sampai di batas. Dalam suasana hatiku yang tidak masuk akal? Seperti sekarang ini? Tak ada yang paling memuaskanku selain menutup pintu ini dan menghabiskan sepuluh menit ke depan untuk membuatmu tak bisa duduk selama seminggu. Kau mengerti apa artinya itu?"


Diancam akan dipukul seperti anak kecil meruntuhkan rasa percaya diri Lisa dan membuatnya merasa tak berdaya dan lemah seperti setahun yang lalu di hadapan Mingyu. Ia mengangkat dagunya dan tidak berkata apa-apa, tapi rona merah karena malu muncul di pipinya, dan air mata frustasi membakar matanya.

__ADS_1


Mingyu menatap wanita itu sambil berdiam diri, lalu puas karena wanita itu berhasil dijinakkan, tanpa mempedulikan sopan santun ia berjalan keluar tanpa menganggukkan kepala kepada Lisa.


__ADS_2