Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 44


__ADS_3

Keesokan harinya Lisa bangun dengan perasaan segar setelah semalaman menangisi kebodohannya sendiri. Ia tahu pengkhianatan Mingyu telah menghancurkan ilusinya, tapi ketika ia perlahan-lahan melakukan rutinitas pagi hari, mandi, dan berpakaian, ia mulai menyadari bahwa apa yang diketahuinya tadi malam telah membebaskannya dari keharusan untuk setia dan patuh, yang membuatnya terus terikat pada kenangan akan pria itu selama setahun ini.


Sekarang ia telah terbebas dari Mingyu Kim. Seulas senyum samar yang getir mengembang di bibir Lisa ketika duduk di depan meja rias dan mulai menyikat rambutnya yang panjang dan lebat. Sungguh lucu, karena berusaha dianggap layak sebagai istri Mingyu ia mengubah dirinya menjadi wanita kaku dan sopan yang cocok untuk menjadi istri pendeta, tapi tak cocok untuk menjadi istri playboy yang tak bermoral. Dan itu sungguh lucu, pikir Lisa sinis, karena sifatnya yang asli sama sekali tidak kaku dan keras.


Aku selalu seperti itu, Lisa tiba-tiba menyadari, aku selalu menjadi apa yang diharapkan oleh orang yang ku cintai. Untuk ayahnya, ia menjadi anak laki-laki dan bukan anak perempuan. Untuk ibunya, ia menjadi orang tua, alih-alih menjadi anak-anak, dan untuk Mingyu, ia menjadi sesuatu yang sama sekali lain. Lisaya, sekarang kau harus menjadi dirimu, seseorang yang memang adalah kamu.


Walaupun begitu, mulai hari ini dan seterusnya, semua itu akan berubah. Dalam susah maupun senang, Lalisa Kim akan menikmati hidupnya.


Namun, untuk itu ia perlu memperbaiki reputasinya karena telah bersikap angkuh dan bodoh di mata para bangsawan. Berhubung Yugyeom telah mengundang bangsawan pengecam yang paling vokal dan paling berpengaruh, sebaiknya ia memulai dari pria itu, mungkin ia bisa mengatakan atau melakukan sesuatu yang mengubah opini pria itu sementara ia berada di sini.


Ketika sedang memikirkan masalah itu, tiba-tiba Lisa teringat kalimat terakhir percakapannya dengan Jisoo Jeon semalam. Lady Jeon mengatakan teman-temannya menyebut Lisa orang terluguĀ  yang pernah muncul di kota London, jadi tampaknya wanita itu tahu jika Lisa orang yang dikucilkan di antara para bangsawan, namun wanita itu tetap mau berteman dengannya. Malah, wanita itu sepertinya punya maksud yang sama seperti yang dikatakan Yugyeom. Sikat rambut di tangan Lisa berhenti bergerak, dan secercah senyum takjub menghias wajahnya. Mungkin akhirnya ia akan punya teman sejati di London.


Merasa hatinya lebih ringan dari pada setahun ini, ia menjepit rambutnya di puncak kepala lalu bergegas mengenakan celana ketat serta kemeja yang biasa dipakainya setiap kali bila berlatih anggar dengan Yugyeom. Sambil menyambar pedangnya dari lemari dan mengambil penutup muka, ia berjalan keluar kamar seraya bersenandung riang, langkahnya ringan dan santai.


Yugyeom berdiri sendirian di tengah ruang dansa yang kosong tempat mereka berlatih setiap pagi, mengetuk-ngetukkan ujung pedangnya secara sambil lalu ke sol sepatunya. Ia menolehkan kepala ketika mendengar langkah cepat Lisa di lantai yang mengkilat, ekspresi wajahnya berubah lega ketika melihat penampilan Lisa.


"Aku ragu-ragu apakah kau berminat melakukan ini, setelah kejadian semalam..."


Senyum Lisa memberitahunya bahwa wanita itu tidak menyimpan dendam kepadanya karena tidak memberitahu tentang kebusukan Mingyu, tapi Lisa tidak mengatakan apa pun mengenai peristiwa semalam. Ia ingin melupakan peristiwa itu dan Mingyu Kim. Lisa mengambil pelindung dada dari lantai ruang dansa lalu memakainya, kemudian ia memasang pelindung muka, memperbaiki letaknya, dan menyentuhkan pedangnya ke dahi sebagai tanda penghormatan kepada lawan mainnya, "En garde..." katanya dengan riang.

__ADS_1


"Ya ampun, Kim," suara malas seorang bangsawan yang baru tiba membuat Lisa dan Yugyeom berhenti mendadak di tengah laga yang seru. "Bukankah masih terlalu pagi untuk melakukan sesuatu yang terlalu bersemangat?"


Memindahkan tatapan malasnya ke pasangan anggar Yugyeom yang tak ia ketahui identitasnya, dengan kagum ia berkata, "Siapa pun Anda, Anda pemain anggar yang hebat."


Menunggu napasnya sedikit tenang, Lisa berdiri berkacak pinggang, menimbang-nimbang apakah lebih baik menunjukkan dirinya sekarang juga kepada bangsawan itu, bangsawan yang ia harapkan dapat merubah image-nya di kalangan bangsawan lainnya. Atau haruskah ia menunjukkan dirinya nanti di ruang duduk, seperti rencananya semula. Teringat perkataan Yugyeom mengenai pria itu tadi malam, Lisa memutuskan untuk memberanikan diri alih-alih menjadi pengecut.


Lisa mengulurkan tangan ke belakang kepalanya membuka pelindung wajah dan secara bersamaan menarik jepit rambutnya. Dalam satu gerakan cepat, ia menarik pelindung wajahnya sambil menggoyangkan kepala sehingga rambutnya yang indah tergerai jatuh ke balik bahunya bagai air terjun cokelat yang berkilauan.


"Aku tak bisa mempercayai ini!" seru bangsawan itu yang tak mudah kaget sambil menatap wanita muda yang tertawa di depannya, ekspresi pria itu nyaris lucu ketika mencoba memahami fakta bahwa itik dingin dan kaku yang menikah dengan Mingyu adalah wanita yang sama dengan wanita muda mempesona yang sekarang berdiri di hadapannya.


Lisa mengenakan celana ketat berwarna kecoklatan yang secara fisik lebih menggiurkan daripada gaun dansa berleher rendah yang dilihat bangsawan itu di pesta dansa tempo hari. Terlebih lagi, mata hazel kehijauan wanita itu seakan menari-nari karena geli ketika memperhatikan ekspresi terkejut bangsawan itu.


"Pastinya begitu," ujar Lisa dengan sedikit kasihan sambil berjalan ke arah pria itu dengan keanggunan alami seorang atlet muda. "Dan kalau kau tidak terkutuk sekarang, kau akan terkutuk nanti," tambahnya, lalu dengan anggun mengulurkan tangan seakan ia barusan tidak mengutuk pria itu.


Merasa ini semacam permainan, mungkin mereka anak kembar, bangsawan itu secara otomatis menggenggam tangan Lisa. "Mengapa aku harus dikutuk?" tanyanya, marah kepada diri sendiri karena tidak dapat mengendalikan ekspresi wajahnya.


"Karena," jawab Lisa ringan, "kau telah membuatku menjadi objek lelucon, yang sebagian besar memang salahku. Meskipun begitu, mungkin kau mau mempertimbangkan untuk memperbaikinya, sehingga kau bisa menikmati suasana tenang seumur hidup?" Sebelah alisnya yang melengkung indah terangkat, seakan-akan menunggu jawaban pria itu, dan meskipun enggan, bangsawan itu nyaris tersenyum lebar.


Yugyeom berdiri di belakang tanpa bersuara dan merasa senang melihat reaksi bangsawan menyebalkan itu terhadap lawan anggarnya, persis seperti yang ia harapkan ketika memberi instruksi kepada Ramsey agar mengantar pria itu ke ruang dansa begitu pria itu tiba.

__ADS_1


"Aku menyimpulkan kau menyalahkan aku karena kurang... eh... boleh kita bilang, populer?" bangsawan itu menjelaskan, mulai memperoleh kendali dirinya kembali.


"Aku menyalahkan diriku sendiri," jawab wanita jelita itu, senyumnya begitu manis, namun ia tak menyadari betapa memikat senyum itu. "Aku meminta bantuanmu untuk mengubah keadaan.'


"Mengapa harus aku?" tanya pria itu blak-blakan.


Lisa mengangkat alisnya lalu senyumnya melebar, "Mengapa? Untuk membuktikan bahwa kau bisa melakukannya, tentu."


Tantangan sudah diajukan seringan menjatuhkan sarung tangan, dan si bangsawan tampak bimbang sebelum menjawab tantangan itu. Ia bisa menjatuhkan reputasi lusinan wanita yang penuh sandiwara hanya karena ingin iseng dan teramat bosan, tapi ia belum pernah memperbaiki reputasi yang telah ia hancurkan tersebut. Mencoba melakukannya berarti mempertaruhkan pengaruhnya terhadap bangsawan, suatu taruhan besar. Ah, tapi kalau gagal...


Namun, tantangan itu sangat menggiurkan. Nyonya Kim tua punya pengaruh cukup besar untuk memaksa generasi tua menerima Lisa, tapi hanya pria itu yang dapat membuat Lisa populer di kalangan generasi muda yang menjadi pengikutnya.


Sambil menatap Lisa, dilihatnya wanita itu memperhatikan dirinya lewat sudut mata, seulas senyum simpul yang menggiurkan menari-nari di bibirnya yang lembut. Dengan terkejut ia menyadari betapa panjang dan lentiknya bulu mata yang laksana kipas hitam itu, hingga menebarkan bayangan di pipinya yang halus. Nyaris bertentangan dengan keinginannya, dan bertentangan dengan akal sehatnya, bangsawan itu mengulurkan tangan ke arah Lisa. "Bisakah kita membicarakan strategi kita lain kali. Misalnya, malam ini, ketika aku datang untuk menemanimu ke pesta dansa nanti?"


"Kalau begitu kau mau membantuku?"


Bangsawan itu menyunggingkan senyum datar dan menjawabnya dengan kutipan filosofis, "Tidak ada yang mustahil bagi manusia, bahkan surga pun akan kami serbu. Itu dikutip dari kata-kata Homer, sepertinya," imbuh pria itu menjelaskan.


Wanita cantik berusia sembilan belas tahun yang berdiri di sampingnya menggeleng lalu tanpa gentar tersenyum sok tahu. "Horace."

__ADS_1


Bangsawan itu menatap Lisa, sejenak tak dapat berpikir. "Kau benar," ujarnya pelan, dan di matanya yang sayu mulai muncul binar kekaguman.


__ADS_2