Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 26


__ADS_3

Lisa yang sebenarnya hanya ingin ke kamar kecil menatap Mingyu dengan terkejut dan bingung. "Aku tak pernah membayangkan kau akan melakukannya. Mengapa pula kau ingin tidur di kamarku padahal penginapan ini begitu besar, dan kau bisa menyewa kamar untuk dirimu sendiri?"


Kali ini giliran Mingyu yang bingung. "Maaf, apa katamu?" katanya, tak dapat mempercayai pendengarannya.


"Bukannya kau tidak boleh tidur bersamaku," ralat Lisa dengan sopan, "tapi mengapa pula kau ingin melakukannya, aku tak dapat membayangkan itu. Sarah, pengurus rumah kami, selalu berkata tidurku sangat lasak seperti ikan keluar dari air, dan aku yakin akan membuatmu sangat tidak nyaman. Sekarang, apakah kau tidak keberatan kalau aku naik ke atas?"


Selama sesaat, Mingyu hanya dapat menatap Lisa, gelas anggurnya baru separuh jalan ke mulut, lalu ia menggeleng seakan-akan ingin menjernihkan kepalanya, "Tentu saja tidak," jawabnya dengan suara aneh seperti tercekat. "Silahkan."


***


Mingyu memanggil kusirnya untuk menyuruhnya menghentikan kereta di lapangan berikut di sisi jalan, dan Lisa mendesah lega. Sejak selesai makan siang mereka berkendara dengan kecepatan penuh, dan ia sudah sangat ingin meluruskan kaki dan berjalan. Meskipun demikian, suaminya tampaknya merasa nyaman dan santai di dalam kukungan kereta, mungkin karena pakaiannya lebih nyaman daripada pakaianku, Lisa menyimpulkan.


Berpakaian celana ketat berwarna coklat muda, sepatu bot coklat mengilat, dan kemeja petani yang terbuka di bagian leher, pakaian Mingyu lebih cocok untuk perjalanan jauh daripada pakaian yang dikenakan Lisa. Di lain pihak, Lisa mengenakan petticoats, semacam rok dalaman yang mengembang tak nyaman, di balik rok lebar gaun bepergian warna kuning terangnya serta kemeja sutra putih di balik jaket panjang ketat warna kuning dihiasi pita biru tua. Sebuah skarf berwarna kuning garis-garis biru dan putih terikat di lehernya, tangannya dibalut sarung tangan warna kuning, lalu sebuah bonnet kecil dari jerami berhias pita kuning dan mawar sutra bertengger di rambut coklatnya dan diikatkan di belakang kupingnya. Ia merasa kepanasan, terkurung, dan dengan sebal berpendapat wanita dianggap modis bila berpakaian sekonyol itu, sementara para pria modis, seperti suaminya bisa berpakaian semau mereka.


Begitu kereta berhenti di tempat yang luas di sisi jalan dan tangga telah diturunkan, Lisa menggendong Henry dan bertabrakan dengan Mingyu karena tergesa-gesa keluar. Alih-alih mendahului Lisa, seperti yang biasa dilakukannya, Mingyu melihat dengan penuh pengertian ke arahnya lalu kembali duduk bersandar di tempat duduk kereta. Memberi Lisa waktu yang cukup untuk melakukan kebutuhan pribadinya, yang menurut Mingyu adalah alasan mengapa wanita itu begitu terburu-buru keluar, lalu ia turun dari kereta dan berjalan melalui semak-semak di pinggir jalan menuju padang rumput kecil yang cantik.


"Rasanya menyenangkan ya, Henry?" Lisa sedang berdiri di tengah padang rumput, meregangkan tubuh, tangannya dikaitkan di atas kepala, anak anjingnya duduk di dekat kaki. Untuk kedua kalinya, Mingyu berharap ada pelukis yang bisa mengabadikan wanita itu di atas kanvas. Dalam balutan pakaian kuning cerah dikelilingi lereng bukit yang ditutupi bebungaan berwarna putih dan pink, wanita itu cerminan keanggunan, jiwa muda, dan semangat seorang peri hutan periang yang berpakaian modis.

__ADS_1


Mingyu tersenyum lebar ketika pikiran puitis itu terlintas di benaknya lalu berjalan ke padanga rumput.


"Oh ternyata kau!" kata Lisa, lekas-lekas menurunkan tangannya ke samping, tapi tampak lega.


"Memangnya ada siapa lagi?"


Berusaha mengulur waktu untuk kembali ke kereta, Lisa membungkukkan badan lalu mematahkan sebatang ranting panjang dari sebuah pohon mati. "Tidak ada, tapi kalau kita bepergian bersama dua kusir kereta, dua penjaga kuda, dan enam pengawal, rasanya susah menerka siapa yang akan datang. Benar-benar sepasukan besar." Ia tertawa lalu, dengan secepat kilat, ia melakukan gerakan memberi hormat dengan pedang ranting dan menghunuskannya ke dada Mingyu. "En garde!" serunya bercanda, lalu mengarahkan pedang kayu itu ke tanah, dan dengan santai menyilangkan kakinya di depan kaki yang lain, tampak seperti pemain pedang muda yang sangat cantik.


Gerakan menghunus dengan pedang kayu itu dilakukan tanpa kesalahan sedikitpun sehingga Mingyu tidak percaya wanita itu sedang meniru sesuatu yang pernah dia lihat. Di lain pihak, ia juga tak percaya Lisa memiliki pengetahuan atau keahlian bermain anggar.


Lisa mengangguk pelan, senyumnya melebar. "Mau coba?"


Mingyu ragu-ragu, sadar matahari turun dengan cepat, tapi rasa terpukaunya mengalahkan akal sehatnya. lagi pula, ia terlalu lelah dikurung di dalam kereta kuda yang tak terlalu besar itu. "Aku akan mempertimbangkannya?" jawab Mingyu, sengaja menggiring jawaban Lisa, "Apakah kau cukup pandai bermain pedang?"


"Hanya ada satu cara untuk mengetahui jawabannya." jawab Lisa percaya diri.


Mingyu menerima tantangan itu dengan mata berkilat geli, ia membalikkan badan mencari ranting yang cocok untuk dijadikan pedang. Ketika Mingyu telah menemukan ranting dengan panjang dan besar yang sesuai, Lisa telah membuka topi dan jaketnya. Dengan terpana Mingyu memperhatikan Lisa membuka skarf yang mengikat lehernya, menariknya lepas, lalu membuka kancing paling atas kemeja sutranya. Ketika mendengar, suara Mingyu datang mendekat, Lisa membalikkan badan hingga rok kuningnya melambai-lambai, nuansa warnanya begitu cerah, matanya yang berwarna hazel kehijauan bersinar penuh antisipasi. "Ku harap aku bisa membuka petticoat dan sepatuku," keluhnya. Ketika berbiacra ia mengangkat roknya, memperlihatkan betis yang tanpa disangka-sangka sangat indah dan langsing sambil menggoyang-goyangkan telapak kaki karena kesal pada sepatu kuning yang menutup kakinya. "Sepertinya kalau aku membuka sepatu aku bisa merusak stokingnya bukan?"

__ADS_1


Ia melirik Mingyu untuk meminta pendapat, namun saat itu Mingyu sedang memikirkan betapa cantiknya Lisa dalam pose seperti itu, dan juga, satu kesadaran lain, yaitu gairah. Tanpa peringatan terlebih dahulu, ia merasakan panas mulai berdenyut di dalam dirinya, tak terduga, tak disambut, namun tak dapat disangkal.


"My Lord?"


Mingyu menatap Lisa lekat-lekat.


"Mengapa kau memelototi aku seperti itu?"


Dengan susah payah, Mingyu mengalihkan pandangan dan pikirannya dari situasi memalukan itu, namun jauh di dalam pikirannya ia tahu dirinya tidak akan bisa menahannya lagi, tak kan bisa menepati apa yang sudah dia rencanakan semenjak menikahi Lisa.


"Kalau kau khawatir stokingmu rusak, lepaskan saja," katanya, lalu dalam hati menggelengkan kepala melihat kepolosan Lisa ketika wanita itu dengan sopan membalikkan badan lalu melepaskan stokingnya sehingga Mingyu bisa melihat sekilas betis dan pergelangan kakinya yang mulus.


Setelah selesai, Lisa memungut pedang buatan itu dan menyentuhkannya ke dahi dalam gerakan menghormat yang ahli. Mingyu membalas hormat itu, meskipun pikirannya terpukau melihat keindahan mata Lisa dan pipi merah jambunya yang halus.


Lisa telah mendapat dua angka ketika akhirnya Mingyu berhasil berkosentrasi bermain pedang, dan saat itu Lisa telah membuktikan dirinya adalah lawan yang tangguh. Kekalahannya dalam hal tenaga ditebusnya dengan gerakan yang cepat dan langkah kaki yang lincah. Tapi pada akhirnya langkah kakinya itulah yang membuatnya kalah. Ia mendesak Mingyu hingga ke tengah lapangan, menghunus dengan cepat, dan bertahan, tak pernah mundur kecuali Mingyu mengerahkan tenaganya. Sewaktu tinggal satu angka lagi untuk menentukan pemenangnya, Lisa tanpa disangka-sangka melihat celah kosong dan langsung maju ke arah Mingyu. Malangnya, ia menginjak ujung roknya, sehingga terjungkal langsung ke arah Mingyu.


"Kau kalah," kata Mingyu sambil terkekeh ketika menangkap Lisa dalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2