Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 27


__ADS_3

"Aku kalah karena rokku yang kepanjangan, dan bukan karena keahlianmu bermain pedang," tukasnya sambil tertawa. Setelah melepaskan diri dari pelukan Mingyu, ia melangkah mundur, dadanya naik-turun karena bernafas terengah-engah. Namun warna pipinya yang ranumlah membuat Mingyu ingin memelulknya, bukan karena nafasnya.


"Kau seharusnya bisa mengalahkan aku beberapa poin dalam pertandingan tasi," ia mengingatkan. "Lagi pula, kau dua kali lebih kuat daripada aku."


"Benar," aku Mingyu, tersenyum penuh arti, "tapi aku tidak mengambil keuntungan dari kekuatanku. Lagi pula, usiaku jauh lebih tua dari pada usiamu."


Sambil tertawa, Lisa meletakkan tangannya di pinggangnya yang ramping. "Kau memang sudah sangat tua, Your Grace. tahun depan atau dua tahun lagi, kau sudah uzur, dengan selendang melilit pundakmu dan Henry tertidur pulas di kakimu."


"Dan kau akan berada dimana?" tanya Mingyu pelan, tangannya sudah gatal ingin menarik wanita itu kembali ke dalam pelukannya.


Lisa mundur sambil tersenyum. "Di ruang bermain anak-anak, bermain-main dengan bonekaku, karena aku masih kecil."


Mingyu tertawa terbahak-bahak, penasaran apa yang akan dikatakan para bangsawan seandainya melihat ia diperlakukan tanpa hormat oleh gadis desa berusia delapan belas tahun.


"Memangnya aku akan berada dimana," goda Lisa, "kalau bukan di ruang bermain?"


Di pangkuanku, pikir Mingyu.


Lisa tiba-tiba berhenti tertawa dan menekankan tangannya ke pipi, menatap lewat bahu Mingyu. "Ya Tuhan!"


Mingyu dengan tajam membalikkan badan untuk mencari tahu apa yang menyebabkan wanita itu mendadak malu, dan melihat enam pengawal, dua penjaga kuda, dan seorang kusir berdiri berdampingan. Dari ekspresi mereka sepertinya mereka menyaksikan pertandingan anggar tadi dan sekarang mereka menyimak perbincangan antara suami-istri, atasan mereka itu.

__ADS_1


Rahang Mingyu mengeras, sorot matanya yang dingin bagai es dan tegas menusuk mereka satu per satu, dan membubarkan kerumunan itu dengan lebih efektif dari pada kata-kata mana pun.


"Sangat mengesankan," goda Lisa, membungkuk untuk mengambil pakaiannya yang tadi ia lepaskan. "Hal-hal yang kau lakukan dengan matamu," ia menjelaskan, melihat sekeliling untuk mencari Henry. "Kau dapat membunuh orang dengan tatapan matamu. Kau tidak memerlukan pedang. Apakah itu ketrampilan alami yang dimiliki para bangsawan sejak lahir, atau keahlian yang kau peroleh kemudian, agar sesuai dengan kedudukanmu?" Ia menemukan Henry sedang mengendus di bawah semak-semak lalu menggendongnya.


"Nenekmu juga bisa melakukannya. Dia membuatku agak takut. Maukah kau tolong pegang ini?" sebelum Mingyu sadar apa yang disodorkan Lisa, wanita itu sudah meletakkan topi, jaket dan seekor anak anjing penuh bulu ke tangannya. "Coba tolong balikkan badan, sementara aku akan mengenakan stoking."


Dengan patuh, Mingyu melakukan apa yang diperintahkan, tapi benaknya, seperti biasa, bisa membayangkan para bangsawan beramai-ramai menatap dengan geli dan terkejut bagaimana Mingyu Kim, Bangsawan Hawthorne ke 12, pemilik lahan yang sangat luas dan kekayaan yang sangat besar di seantero eropa, yang bukan hanya di dataran Inggris, tapi juga mencakup wilayah Eropa lainnya, sedang berdiri di padang rumput dengan tangan penuh pakaian dan seekor anak anjing menyebalkan yang sekarang dengan ngotot ingin menjilat wajahnya.


"Siapa yang mengajarimu bermain anggar?" tanya Mingyu ketika mereka berjalan kembali ke kereta.


"Ayahku, kami biasanya berlatih berjam-jam bila dia datang ke rumah. Bila dia sudah pulang, aku biasanya berlatih dengan saudara laki-laki Roseanne atau dengan siapa pun yang bersedia, sehingga jika ayahku datang lagi, diaa akan kagum melihat keahlianku. Ku rasa karena aku tidak akan cantik seperti layaknya anak perempuan, ayahku akan lebih menyenangkan kalau mengubahku menjadi anak laki-laki. Di sisi lain, mungkin juga dia memang suka bermain anggar, dan dia menggunakan pertandingan itu sebagai cara untuk menghabiskan waktu. "Lisa sama sekali tak menyadari bahwa rasa pilu dan benci yang ia rasakan kepada ayahnya terdengar nyata dalam nada suaranya.


***


Lisa mengalihkan tatapannya dari pemadangan pedesaan yang bergulir di luar jendela kereta. Sejak duel mereka dua jam yang lalu, Mingyu menatapnya dengan sorot penuh penilaian aneh, sehingga Lisa semakin lama menjadi sangat tidak nyaman.


"Ya?"


"Kau bilang ayahmu jarang pulang ke rumah. Dimana ia menghabiskan waktu?"


Bayangan kelam meredupkan binar di mata Lisa, lalu dengan sekejap bayangan itu menghilang dihapus sennyum yang segera muncul. "Dia pulang dua atau tiga kali setahun dan tinggal bersama kami sekitar dua minggu. Dia menghabiskan waktunya di London. Dia lebih mirip tamu yang datang berkunjung."

__ADS_1


"Aku turut menyesal," cetus Mingyu, meminta maaf karena membuat Lisa membicarakan seseorang yang tampak jelas telah menyakiti hatinya.


"Kau tidak perlu meminta maaf, tapi kalau bisa tolong jangan terlalu membenci ibuku, aku akan sangat berterimakasih untuk itu. Ibuku dulunya wanita yang menarik dan ceria, namun setelah ayahku meninggal, dia seperti hancur berkeping-keping."


"Dan menyerahkan beban rumah tangga beserta semua pelayan ke pundak anak berusia empat belas tahun," Mingyu menyelesaikan kalimat itu dengan setengah hati. "Aku telah melihat rumahmu, dan bertemu dengan ibu dan pamanmu. Aku bisa membayangkan dengan jelas apa yang kau rasakan."


Lisa mendengar nada marah namun penuh dengan rasa sayang dalam suara pria itu. rasa cintanya kepada Mingyu semakin bertambah karena ia tahu pria itu peduli kepadanya, tapi ia menggelengkan kepala, menolak dikasihani. "Tidak seburuk yang kau bayangkan."


Rasanya sangat menyenangkan, begitu aman, dan terlindungi mendapati ada seseorang yang peduli padanya, karena Lisa sama sekali tidak tahu bagaimana menyimpan kelembutan dan terima kasih yang ia rasakan pada pria itu. Tak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata, ia melakukan hal terbaik lain yang ada dalam pikirannya. Ia merogoh ke dalam tas tangan kecil berwarna kuning cerah yang serasi dengan rok dan jaketnya, lalu dengan penuh kasih sayang mengeluarkan sebuah jam saku berantai. Bagi Lisa itu benda keramat, benda paling berharga milik orang yang ia kagumi. Ia mengulurkannya kepada Mingyu dan sewktu pria itu menerimanya dengan pandangan bingung, ia menjelaskan, "Jam ini milik kakekku. Diberikan kepadanya oleh seorang bangsawan Skotlandia yang mengagumi pengetahuannya tentang para filsuf."


Hanya memandang jam tangan itu ada di tangan Mingyu, membuat matanya berkaca-kaca. Suaranya tercekat penuh kenangan, lalu ia berkata, "Kakekku pasti ingin kau menjadi pemiliknya. Dia pasti suka padamu."


"Aku tidak yakin," jawab Mingyu sangat yakin.


"Oh, tapi dia pasti suka! Dia bilang aku harus mencintai pria yang mulia."


"Dia menyuruhmu untuk mencinati pria bangsawan?" ulang Mingyu tak percaya.


"Bukan. Bukan. Tapi pria berhati mulia. Seperti dirimu."


Tanpa mengetahui bahwa Mingyu sudah punya beberapa jam emas yang jauh lebih indah, Lisa berkata, "Aku mengirim salah satu pelayanmu ke rumahku, lalu Boo mengambil jam itu. Kata nenekmu tidak apa-apa."

__ADS_1


Mingyu menggenggam jam itu. Ia hanya bisa mengatakan, "Terima kasih."


__ADS_2