Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 54


__ADS_3

Dua tahun lalu, Lisa tidak mengerti tata krama yang harus dijunjung para wanita dan pria terhormat. Ia waktu itu tidak menyadari Mingyu sedang merendahkan dirinya bila pria itu tidak mau repot-repot membungkuk di depannya, atau mencium tangannya, atau memperlakukannya dengan penuh hormat. Oleh karena itu, Mingyu tidak pernah mengizinkan Lisa memanggilnya dengan nama kecil. Sekarang, berdiri sendirian di sini di tengah-tengah ruang duduk, ia dengan marah amat sangat menyadari kekurangajaran di masa lalu itu, begitu pula tindakan tak sopan yang baru saja dilakukan Mingyu kepadanya hari ini.


Ia menunggu sampai mendengar pintu depan ditutup, lalu berjalan keluar dari ruang duduk dan naik tangga ke kamarnya sendiri. Amarah dan rasa tak percaya menyiram dirinya ketika ia menyuruh pelayannya keluar dan secara refleks membuka gaun pengantinnya.


Pria itu sudah kembali! Dan dia lebih buruk dari pada yang diingat Lisa, lebih buruk dari pada yang dibayangkannya, lebih pongah, lebih diktaktor, benar-benar tak punya perasaan. Dan ia menikah dengan pria itu. Menikah! Jeritnya dalam hati.


Pagi ini, segalanya tampak mudah dan bisa diduga. Ia bangun lalu berpakaian untuk menikah. Ia sudah pergi ke gereja. Sekarang, tiga jam setelahnya, ia menyadari ternyata menikah dengan pria yang salah.


Berusaha keras untuk melawan air matanya, ia duduk di sofa lalu melingkarkan tangannya di perut, berusaha menghalau bayangan itu, tapi tak berhasil. Bayangan-bayangan itu berkelebat di benaknya, menyiksanya dengan gambar-gambar yang begitu nyata tentang dirinya dulu sebagai gadis muda polos yang amat mabuk kepayang. Ia melihat dirinya menatap Mingyu di taman bunga di Rosemeade. "Ku rasa kau sama tampannya dengan David-nya Michelangelo!" katanya dulu. "Aku cinta padamu." Ugh!


Dan ketika pria itu bercinta dengannya, ia nyaris pingsan dalam pelukan pria itu, dan mengoceh mengenai betapa kuat, bijaksana dan tampannya dia! Lisa menggerang frustasi.


"Ya Tuhan," erang Lisa keras-keras ketika kenangan lama kembali timbul dalam ingatannya. Ia benar-benar mengatakan pada Mingyu, playboy paling terkenal di London, bahwa sepertinya pria itu tidak mengenal banyak wanita. Tak heran pria itu menyeringai lebar!


Air mata malu yang panas menetes dari matanya, namun ia menyekanya dengan marah, tak ingin menangis sekali lagi untuk pria itu, monster itu. Aku sudah menumpahkan air mata berember-ember untuk pria itu, pikir Lisa kesal!


Kata-kata yang diucapkan Yugyeom beberapa minggu lalu kembali menyiksa hatinya yang terluka, "Mingyu menikahimu karena dia kasihan padamu, tapi dia tidak berminat hidup denganmu ataupun menginginkanmu sebagai istrinya. Dia bermaksud mengirimu ke Devon sekembalinya kalian dari bulan madu, lalu dia akan melanjutkan hubungan dengan wanita simpanannya... Dia menemui wanita simpanannya setelah kalian menikah. Katanya kepada wanita itu, pernikahan kalian adalah demi kepraktisan..."


Terdengar ketukan di pintu, namun pikiran Lisa begitu terpaku pada kesedihannya sehingga ia tak mendengar apa pun sampai Jisoo masuk ke kamar tidur dan menutup pintu.


"Lisa.."


Dengan terkejut Lisa menoleh dan melihat sekeliling. Jisoo memperhatikan wajah sahabatnya yang berlinang air mata lalu bergegas ke sisinya.


"Ya Tuhan," bisik Jisoo ngeri lalu berlutut di depan Lisa dan mengeluarkan sapu tangan, ia nyaris meracau saking paniknya. "Mengapa kau menangis? Apakah dia melakukan sesuatu padamu? Apakah dia mengamuk.. Atau memukulmu?"


Lisa menelan ludah lalu menatap Jisoo, tapi ia tak mampu mengeluarkan suaranya melewati gumpalan air mata di tenggorokannya. Ia tahu suami Jisoo adalah teman baik Mingyu, dan sekarang ia bertanya-tanya kepada siapa Jisoo akan berpihak. Ia menggelengkan kepala lalu mengambil sapu tangan yang disodorkan Jisoo.


"Lisa." seru Jisoo cemas. "Bicaralah padaku, please. Aku temanmu, dan akan tetap menjadi temanmu," kata wanita itu, menerjemahkan dengan tepat ekspresi cemas Lisa. "Kau tidak bisa menyimpan semua ini dalam dirimu, wajahmu seputih kapas dan kau tampak seperti akan pingsan."


Lisa pernah bercerita kepada Jisoo bahwa dirinya benar-benar tertipu oleh Mingyu, tapi ia tak pernah mengatakan pria itu tak pernah punya perasaan terhadapnya, dan juga menyembunyikan rasa malunya dengan mengejek dirinya sendiri. Namun sekarang semua ini sudah terbuka, terpampang jelas di hadapan Jisoo. Sementara Lisa dengan ragu-ragu memaparkan semua detail memalukan mengenai hubungannya dengan Mingyu, tak meninggalkan satu hal pun.


Selama mendengarkan, Jisoo berulang kali menggelengkan kepala penuh simpati sekaligus geli mengetahui bagaimana Lisa membeberkan perasaannya kepada Mingyu, tapi ia tidak tersenyum ketika Lisa mengatakan kepadanya Mingyu bermaksud mengirimnya ke Devon.


Lisa menyelesaikan penuturannya dengan menjelaskan mengapa Mingyu selama ini menghilang, dan ketika ia sudah selesai, Jisoo menepuk tangannya. "Semua itu sudah berlalu. Bagaimana dengan masa depanmu? Apakah kau punya rencana?"


"Ya,' jawab Lisa dengan suara pelan. "Aku ingin minta cerai."

__ADS_1


"Apa?!" Jisoo terkesiap. "Kau pasti bercanda!"


Lisa benar-benar serius dan ia mengatakannya.


"Perceraian tidak bisa ditoleransi," kata Jisoo, membuyarkan pilihan itu dalam satu kalimat ringkas. "Kau akan dikucilkan, Lisa. Bahkan suamiku pun tidak akan mengizinkan aku untuk berteman denganmu lagi. Kau akan dihindari oleh masyarakat dimana pun kau berada, dibuang oleh semua orang."


"Itu masih lebih baik dari pada tetap menjadi istri pria itu dan ditinggalkan di Devon."


"Mungkin saat ini kau merasa seperti itu, tapi yang jelas jangan pedulikan perasaanmu. Aku yakin suamimu terpaksa harus setuju bercerai, meskipun aku tak dapat membayangkan dia bersedia melakukannya. Lagi pula surat cerai sangat sulit di dapat, dan kau perlu alasan dan persetujuan dari Mingyu."


"Aku sedang memikirkan itu waktu kau datang, dan ku rasa aku punya alasan untuk bercerai, dan aku tak perlu persetujuan darinya. Pertama-tama, aku terpaksa menikah karena situasi. Kedua, saat menikah, dia bersumpah akan mencintai dan menghargaiku, tapi dia tidak berniat melakukan keduanya, ku rasa itu dapat menjadi alasan cukup kuat untuk meminta pembatalan pernikahan atau surat perceraian, dengan atau tanpa persetujuan darinya. Meskipun demikian, aku tak melihat alasan mengapa dia harus tak setuju," tambah Lisa dengan sedikit marah. "Sejak awal dia tak ingin menikah denganku."


"Well," balas Jisoo, "bukan berarti dia suka semua orang tahu kau tidak menginginkannya lagi."


"Jika dia punya waktu untuk memikirkan rencana ini, dia pasti lega bisa melepaskan aku dari tanggung jawabnya."


Jisoo menggelengkan kepala. "Aku tidak begitu yakin dia mau kau lepas dari dirinya. Aku melihat caranya menatap Lord Yugyeom waktu di gereja siang ini, dia tidak tampak lega, dia tampak sangat marah."


"Dia memang pemarah," Jawab Lisa dengan kesal, teringat pembicaraannya dengan Mingyu di bawah. "Dia tak punya alasan untuk marah padaku atau Yugyeom."


"Tak punya alasan?" ulang Jisoo tak percaya. "Kau nyaris menikah dengan pria lain!"


"Tapi bukan berarti dia ingin pria lain menikah denganmu," jawab Jisoo dengan bijaksana. "Lupakan saja. Perceraian tak mungkin dilakukan. Pasti ada jalan keluar lain. Suamiku akan kembali dari Skotlandia hari ini," ujar Jisoo penuh semangat. "Aku akan meminta nasihat dari Wonwoo. Dia sangat bijaksana." Lalu wajahnya tiba-tiba muram. "Sayangnya, dia juga teman baik Mingyu, jadi nasihatnya sedikit banyak pasti akan berpihak pada pria itu. Meskipun begitu," kata wanita itu penuh tekad, "perceraian sama sekali tak dapat dipertimbangkan. Harus mencari jalan lain."


Ia diam selama beberapa saat, larut dalam pikirannya, dahinya berkerut. "Tak heran kau langsung bertekuk lutut di kakinya," kata Jisoo sambil tersenyum penuh empati. "Lusinan wanita yang paling trendi di Inggris tergila-gila padanya," lanjut Jisoo sambil merenung. "Tapi dia tidak pernah membalas perasaan mereka, selain menjalin afair sekali-sekali dengan salah satu dari mereka. Karena sekarang dia sudah kembali sudah sewajarnya semua orang berharap kau akan masuk ke dalam pelukannya. Terutama karena kalangan bangsawan, pada saat ini, ingat betapa mabuk kepayangnya kau padanya ketika kau masih baru datang ke kota."


Kenyataan bahwa apa yang dikatakan Jisoo benar adanya membuat Lisa merasa mual. Sambil menyandarkan kepalanya di sofa, ia menelan ludah lalu memejamkan mata penuh derita. "Aku tak pernah memikirkan itu, tapi kau memang benar."


"Tentu saja aku benar," Jisoo sekenanya menyetujui. "Di lain pihak," ia menjelaskan, matanya mulai berbinar-binar, "bukankah akan lebih menyenangkan kalau yang terjadi adalah kebalikannya!"


"Apa maksudmu?"


"Pemecahan paling ideal untuk masalahmu adalah membuat Mingyu jatuh cinta padamu. Dengan demikian kau bisa mempertahankan harga diri dan suamimu."


"Jisoo," kata Lisa lesu. "Pertama-tama, ku rasa tak seorang pun bisa membuat pria itu jatuh cinta, karena dia tidak punya hati. Kedua, meskipun dia punya hati, hatinya sudah kebal terhadapku. Ketiga..."


Jisoo tertawa lalu menggaet tangan Lisa dan menariknya dari sofa, membawanya ke depan cermin. "itu dulu. Coba lihat ke cermin, Lisa. Wanita yang balas memandangmu saat ini menguasai kota London! Pria bertengkar memperebutkanmu,"

__ADS_1


Lisa mendesah, menatap bayangan Jisoo di cermin dan bukan bayangannya sendiri. "Hanya karena aku menjadi semacam tren konyol, seperti rook basah. Untuk saat ini pria menganggap dirinya trendi jika jatuh cinta padaku."


"Betapa menyenangkan," kata Jisoo, tampak lebih gembira dari pada sebelumnya. "Mingyu pasti sangat terkejut kalau mengetahui itu."


Sekelebat rasa geli bersinar di mata Lisa, namun sinar itu tiba-tiba meredup. "Tak ada gunanya."


"Oh, ya ada!" Jisoo tertawa. "Coba pikirkan ini. Untuk pertama kali dalam hidupnya Mingyu punya saingan. Dan itu untuk memperebutkan istrinya! Coba pikirkan apa tanggapan para bangsawan jika membayangkan playboy paling ternama di Inggris, berusaha merayu dan menundukkan istrinya sendiri tapi tak berhasil."


"Ada satu alasan lagi mengapa rencana itu tidak akan berhasil," kata Lisa tegas.


"Apa itu?"


"Aku tak mau melakukannya. Meskipun aku mungkin bisa berhasil, dan aku tak kan bisa, aku tak mau mencoba."


"Tapi kenapa?" cetus Jisoo. "Mengapa tidak mau?"


"Karena," Lisa menjelaskan dengan berapi-api, "aku tidak suka padanya! Aku tidak ingin dia jatuh cinta padaku, aku bahkan tidak ingin dia dekat-dekat denganku." Setelah mengatakan itu, ia berjalan menuju tarikan bel untuk meminta teh.


"Meskipun begitu, itu satu-satunya cara dan pemecahan terbaik untuk keruwetan ini." Sambil mengambil sarung tangan dan tasnya jisoo mencium dahi Lisa. "Kau terkejut dan masih sangat letih sehingga tak bisa berpikir jernih. Serahkan semuanya padaku."


Wanita itu sudah separuh jalan menyeberangi ruangan ketika Lisa menyadari Jisoo sepertinya punya rencana khusus dalam benaknya dan wanita itu tampak tergesa-gesa inginĀ  pergi dari situ.


"Kau mau kemana, Jisooya?" tanyanya curiga.


"Menemui Seungkwan," jawab Jisoo sambil membalikkan badan di ambang pintu. "Dia bisa diandalkan untuk segera mungkin meyakinkan Mingyu bahwa kau bukan lagi tikus kampung lugu dan tak berpengalaman seperti yang selama ini dia kira. Seungkwan akan sangat suka melakukannya," ramal Jisoo ceria. "Dia paling suka memprovokasi dengan cara ini."


"jisoo tunggu!" seru Lisa letih, tapi ia tidak sungguh-sungguh menentang rencana Jisoo, tidak saat ini ketika keletihan mulai menguasainya. "Berjanjilah padaku kau tidak akan melakukan apa pun tanpa memberitahuku lebih dulu."


"Baiklah," janji Jisoo ringan lalu setelah melambaikan tangan ia menghilang.


Lisa menyandarkan kepalanya lalu memejamkan mata sementara kantuk mulai menguasainya.


Jam berdentang sepuluh kali, diikuti suara yang mengumumkan kedatangan para tamu yang tak habis-habisnya di aula utama lantai bawah, akhirnya membuat Lisa benar-benar terbangun. Ia menumpukan badannya pada siku lalu mengerjapkan mata di kamar tidurnya yang gelap diterangi cahaya lilin, terkejut melihat dirinya entah bagaimana tertidur di sofa pada malam selarut ini. Ia mendengarkan kegaduhan di lantai bawah, suara menutup dan membuka pintu depan yang tiada henti, lalu ia duduk dan dengan bingung bertanya-tanya mengapa semua masyarakat kalangan atas sepertinya muncul di pintu rumahnya... Lalu ia teringat.


Mingyu sudah kembali.


Buktinya semua orang mengira dia berada di sini, dan mereka ingin bertemu dan berbicara dengan pria itu untuk menunjukkan sopan santun, dan itu berarti mereka setidaknya harus menunggu sampai besok baru bisa bertemu.

__ADS_1


Mingyu pasti sudah memperkirakan ini, Lisa menyimpulkan dengan kesal, lalu bangun dan berganti dengan gaun tidur sutra lalu naik ke tempat tidur. Mungkin itulah sebabnya pria itu memilih menghabiskan malam ini di rumah sang nenek, membiarkan orang lain menghadapi serbuan para tamu.


Suamiku, pikir Lisa dengan yakin, pasti sedang tidur lelap di tempat tidurnya dan menikmati malam yang tenang.


__ADS_2