
Yugyeom memenuhi panggilan neneknya melenggang masuk ke ruang duduk dan mendapati wanita itu sedang berdiri di depan jendela, memperhatikan kereta-kereta indah kembali dari Upper Brook Street dari ritual siang hari berparade di taman.
"Kemari sebentar, Yugyeom," panggil wanita itu dengan nada suara yang paling berwibawa. "Lihatlah ke jalan dan katakan apa yang kau lihat."
Yugyeom mengintip keluar dari jendela. "Kereta-kereta kuda kembali dari taman, hal yang sama setiap hari."
"Dan apa lagi yang kau lihat?"
"Aku melihat Lisa pulang dengan salah satu kereta itu bersama Joshua Hong, dan dimana kereta mereka juga diiringi oleh kereta dari berbagai kalangan keluarga bangsawan di London," Yugyeom terkekeh. "Joshua mengirim surat ingin berbicara pribadi denganku siang ini. Begitu pula selusin pemuda bangsawan lainnya. Mereka ingin melamarnya tentu saja."
"Tentu," ulang sang nenek muram, "dan persis seperti itulah maksudku. Hari ini persis seperti hari-hari lain selama nyaris sebulan ini. Para pengagum datang beramai-ramai, membuat macet jalanan, dan berdesak-desakan di ruang duduk di bawah, tapi Lisa tidak berniat menikah, dan dia menyatakannya dengan jelas kepada mereka semua. Meskipun begitu, mereka tetap berbaris ke rumah ini membawa karangan bunga, lalu berderap keluar dengan sorot mata marah."
"Nah, Grandmama," Yugyeom berusaha ingin menenangkan.
"Jangan mengatakan, 'Nah Grandmama' kepadaku," tukas wanita tua itu, mengejutkan Yugyeom dengan kemarahannya. "Aku mungkin sudah tua, tapi aku tidak bodoh. Aku dapat melihat sesuatu yang sangat tidak menyenangkan, sangat berbahaya, terjadi di depan mataku! Lisa memberikan semacam tantangan kepada kaummu yang bodoh itu. Begitu Lisa mengetahui perasaan Mingyu kepadanya, dan Seungkwan menjadi pendukungnya, hanya dalam waktu semalam dia mulai berubah dan bersinar. Ketika itu terjadi, hubungannya dengan keluarga ini berikut mas kawin yang kau dan aku putuskan harus dimilikinya, menjadi paket yang menarik bagi bujangan mana pun yang ingin memiliki istri."
Sang nenek berhenti sebentar, menunggu cucunya membantah, namun Yugyeom hanya memandangnya sambil berdiam diri. "Kalau saja Lisa menunjukkan sedikit rasa tertarik pada satu pria, atau bahkan menyukai tipe pria tertentu," lanjut sang nenek, "yang lain mungkin akan menyerah dan menyingkir, tapi dia tidak menunjukkan tanda apa pun. Dan mau tak mau aku terpaksa menyalahkan semua kaummu."
"Kaumku?" Yugyeom membeo dengan bingung. "Apa maksudmu?"
"Maksudku jika seorang pria melihat sesuatu yang sepertinya jauh di luar jangkauan orang lain, maka tentu saja, pria itu harus berusaha meraihnya untuk membuktikan dia bisa mengambilnya." Ia berhenti sejenak untuk memberengut dengan cara menuduh kepada Yugyeom yang kebingungan. "Itulah sifat buruk yang dimiliki para pria sejak mereka lahir. Coba saja kau masuk ke ruang bermain dan melihat bayi laki-laki beserta saudara-saudaranya. Tak peduli apakah anak itu lebih besar atau lebih kecil darinya, bayi laki-laki akan berusaha merampas mainan apa pun yang sedang diperebutkan anak-anak lain. Tentu saja, bukan karena mereka ingin mainan itu, dia hanya ingin membuktikan bahwa dia bisa mendapatkannya."
"Terima kasih, Grandmama," kata Yugyeom datar, "karena telah mengutuk setengah populasi dunia."
"Aku hanya menyajikan fakta. Kau tak kan pernah melihat kaumku antre mendaftar jika ada kontes konyol."
"Memang benar."
"Dan persis seperti itulah yang terjadi di sini. Para kontestan semakin bertambah karena tertarik pada tantangan dan ikut mendaftar mencoba mendapatkan Lisa. Sudah cukup buruk jika dia hanya itu, tantangan, tapi dia sekarang telah menjadi sesuatu yang lebih buruk, sangat buruk."
"Apa itu?" tanya Yugyeom, tapi ia mengerutkan dahi mendengar penilaian cerdas neneknya mengenai keadaan yang sudah semakin rumit dan melelahkan ini.
"Lisa telah menjadi 'hadiah'," jawab sang nenek muram. "Dia sekarang menjadi hadiah yang akan diperebutkan, atau didapat, oleh pria pertama yang cukup nekat dan cerdas." Yugyeom membuka mulut, namun neneknya mengangkat tangannya yang penuh perhiasan lalu melambai untuk membungkam protes Yugyeom.
__ADS_1
"Tak usah repot-repot mengatakan kepadaku bahwa itu tak kan terjadi, karena aku tahu itu sudah terjadi. Seperti yang ku ketahui, tiga hari yang lalu, seorang pemuda mengajak jalan-jalan singkat ke Cadbury dan Lisa setuju untuk pergi bersamanya."
"Salah satu pengagumnya yang ditolak mendengar itu menggembar-gemborkan rencananya untuk membawa Lisa ke rumah pedesaannya di Wilton alih-alih Cadbury, dan akan membuatnya menginap di sana semalaman. Pria itu menyampaikan berita itu kepadamu. Kau, setahuku, menyusul pemuda sialan itu dan Lisa yang jaraknya satu jam dari sini, sebelum mereka sampai ke Wilton, dan membawanya pulang, serta mengatakan kepada pemuda itu bahwa aku minta ditemani Lisa. Dan menurutku tindakanmu itu cukup bijaksana. Kalau saja kau terbawa emosi dan mengajak berduel, kau bukan hanya memperburuk reputasi Lisa tapi juga menambah masalah kita sepuluh kali lipat."
"Tapi pokoknya," Yugyeom angkat bicara, "Lisa sampai sekarang sama sekali tidak tahu rencana pemuda brengsek hari itu. Aku tak melihat alasan mengapa harus membuatnya takut. Aku memintanya agar tak menemui pria itu lagi, dan dia setuju."
"Lalu bagaimana dengan pemuda lainnya? Aku dengar ada yang akan membawa Lisa ke pasar malam! Seluruh kota London membicarakan hal itu."
"Waktu kecil Lisa suka ke pasar malam. Dia sama sekali tidak tahu bahwa dia tidak boleh ke sana."
"Pemuda-pemuda itu harusnya bersikap gentleman," kata sang nenek ketus. "Mereka tahu lebih baik. Apa yang mempengaruhi mereka sehingga mau membawa gadis lugu seperti Lisa ke tempat seperti itu!"
"Kau baru saja sampai ke inti persoalan," jawab Yugyeom letih sambil mengusap tengkuknya. "Lisa seorang janda, bukan gadis. Beberapa sikap gentleman baik-baik kadang kala tidak berlaku bila berurusan dengan wanita yang sudah berpengalaman, terutama kalau wanita itu membuat mereka mabuk kepayang, seperti yang dilakukan Lisa."
"Aku sama sekali tidak bisa mengatakan Lisa wanita yang berpengalaman! Dia bahkan belum menjadi wanita."
Meskipun masalah itu begitu rumit, Yugyeom tersenyum lebar mendengar deskripsi neneknya yang tidak tepat mengenai wanita muda memikat dengan senyum menawan dan lekuk tubuh indah. Namun cengirannya segera menghilang ketika masalah tersebut kembali muncul di permukaan.
"Apakah mereka sudah melakukannya?"
"Hanya dua atau tiga orang, tapi mereka sibuk berbisik ke telinga orang yang tepat. Kau dan aku tahu betapa mudahnya gosip yang satu memicu gosip yang lain, dan jika dikipasi, gosip itu akan menyebar ke segala arah. Pada akhirnya semua orang akan mendengarnya dan mulai percaya gosip itu benar."
"Seberapa burukkah?"
"Tidak begitu buruk, belum. Pada saat ini semua pengagum yang ditolak sudah berhasil menyebarkan peristiwa kecil yang tak berbahaya yang dilakukan Lisa."
"Misalnya?"
Yugyeom mengangkat bahu. "Lisa menghabiskan akhir minggu di Southeby, menghadiri pesta. Dia dan seorang gentleman sepakat akan berkuda pagi hari dan meninggalkan kandang sekitar pukul delapan pagi. Mereka belum pulang sampai senja hari, dan ketika mereka akhirnya pulang, pakaian Lisa tampak sobek dan acak-acakan."
"Ya Tuhan!" seru sang nenek mencengkram dadanya dengan ngeri.
Yugyeom tersenyum lebar. "Usia pria itu tujuh puluh tahun dan dia seorang pendeta di Southeby. Pria itu ingin menunjukkan lokasi pemakaman tua yang tak sengaja ditemukannya minggu lalu, sehingga Lisa bisa mengagumi pahatan di batu nisan yang pernah dilihat pria itu di sana. Sayangnya, pria itu tidak bisa mengingat dengan tepat lokasinya, dan ketika mereka menemukan pemakaman itu beberapa jam kemudian, Lisa benar-benar tersesat dan pria tua itu terlalu letih karena terlalu lama berkuda sehingga dia takut naik ke kudanya. Sudah tentu Lisa tidak dapat pulang tanpa bersama pria itu, meskipun dia ingin, tapi tentu tidak dilakukannya."
__ADS_1
"Bagaimana dengan gaunnya?"
"Keliman gaun berkudanya sobek."
"Kalau begitu kejadian itu tak berharga untuk diceritakan."
"Tepat sekali, namun cerita itu telah diulang-ulang dan dibumbui di sana-sini sehingga sekarang menjadi sesuatu yang tidak senonoh. Jalan keluar yang terbaik bagi kita adalah mempekerjakan wanita tua yang galak untuk menjadi pendamping Lisa kemana pun dia pergi. Tapi kalau kita melakukan itu, terutama di tengah gosip yang sedang beredar, semua orang akan berpikir kita tidak percaya lagi padanya. Lagi pula, itu akan merusak kesenangan Lisa."
"Omong kosong!" kata sang nenek keras kepala. "Lisa tidak bersenang-senang, dan itulah tepatnya mengapa aku memintamu untuk datang menemuiku di sini. Dia bepergian ke sana kemari, menggoda, tersenyum, dan membuat para pria bertekuk lutut di hadapannya hanya untuk satu alasan, yaitu membuktikan kepada Mingyu dia dapat melakukannya. Untuk menunjukkan kepada mendiang Mingyu bahwa dia bisa mengalahkan pria itu dalam permainannya sendiri. Kalau semua pengagumnya jatuh tersungkur ke tanah, dia tak kan tahu, dan kalaupun dia tahu, dia tak kan peduli."
Yugyeom menegakkan badan. "Aku sama sekali tidak merasa jalan-jalan biasa ke pasar malam, atau balap kuda di Hyde Park, atau berbagai tindakan kecil tak berbahaya yang dilakukan Lisa itu bisa dibilang 'mengalahkan Mingyu dalam permainannya sendiri'."
"Meskipun begitu," ujar sang nenek, tak mau kalah, "itulah yang dilakukannya, meskipun ku rasa dia tidak menyadari hal itu. Apa kau tidak sependapat?"
Yugyeom ragu-ragu lalu dengan enggan menggeleng. "Tidak, ku rasa apa yang kau katakan sungguh tepat."
"Tentu saja," kata neneknya dengan sepenuh hati. "Apakah kau juga setuju bahwa situasi Lisa saat ini bisa membuat reputasi dan masa depannya terancam, terlebih lagi, bukankah keadaan ini sepertinya akan bertambah buruk?"
Menghadapi tatapan galak neneknya dan penilaiannya yang tepat atas kenyataan yang ada, Yugyeom hanya dapat memasukkan tangannya ke saku lalu mendesah. "Aku setuju."
"Bagus," kata wanita itu, anehnya tampak puas. "Kalau begitu aku tahu kau akan mengerti bila aku tidak ingin tinggal di London selamanya terutama karena rumah ini sudah diserbu para pengagum Lisa, menunggu dengan cemas kapan salah satu dari mereka berhasil melakukan apa yang ingin dilakukan pemuda-pemuda yang menjebak Lisa, atau melakukan sesuatu yang lebih buruk lagi terhadapnya, terhadap kita sekeluarga. Aku ingin menghabiskan sisa umurku di Rosemeade. Tapi aku tak dapat melakukannya karena Lisa pasti akan menemaniku di sana, dan itu akan membuat masa depannya lebih kelam daripada di sini, namun dengan alasan yang bertolak belakang. Satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah membiarkannya tinggal di sini bersamamu, dan itu sama sekali tidak masuk akal. Itu hanya akan menimbulkan skandal besar." Wanita itu diam sejenak, menatap Yugyeom lekat-lekat, menunggu jawaban pria itu seakan-akan itu adalah saat yang sangat penting.
"Kedua jalan keluar itu tidak dapat dilakukan," Yugyeom setuju.
Sang nenek menyambar kesempatan itu dengan rasa gembira yang tidak bisa ditutupi. "Aku tahu kau akan melihat situasi ini tepat seperti aku. Kau pria yang sangat pengertian dan penuh perasaan, Yugyeom."
"Eh, terima kasih Grandmama," Kata Yugyeom, tampak jelas terkesima mendengar pujian dari neneknya yang biasanya ketus itu.
"Dan sekarang karena kita tahu kita sependapat," lanjut sang nenek, "Aku ingin minta bantuanmu."
"Silahkan, minta apa saja."
"Nikahi Lisa."
__ADS_1