
Setengah jam kemudian, dibalut gaun bepergian merah yang dijahit oleh perancang busana, Lisa melangkah masuk ke kereta mengilat berwarna hitam dan berlapis kulit yang di pintunya terpampang lambang keluarga Mingyu yang terbuat dari perak, lalu duduk di tempat duduk empuk mewah berlapis beludru kelabu.
Kusir kereta menaikkan tangga dan menutup pintu kereta lalu, nyaris tidak terasa sama sekali, kereta itu meluncur melalui jalan masuk yang panjang ditarik oleh empat kuda cokelat dan di kawal oleh enam pengawal berseragam. Lisa melihat sekelilingnya, mengagumi kenop pintu yang terbuat dari perak berat serta lampu-lampunya terbuat dari kristal dan perak. Sambil menikmati kemewahan kereta yang ternyata sangat nyaman itu, ia berusaha meyakinkan diri bahwa dia benar-benar telah menikah, benar-benar dalam perjalanan berbulan madu. Di seberangnya, Mingyu duduk sambil meregangkan kaki, menyilangkannya di pergelangan kaki, dan menatap keluar jendela, menikmati kesunyian.
Pria itu telah berganti pakaian dengan pakaian bepergian, dan Lisa dalam hati kagum melihat bagaimana celana ketatnya yang berwarna coklat biskuit dan sepatu coklat mengilat menonjolkan kakinya yang panjang dan berotot. Kemejanya yang berwarna krem terbuka di bagian leher, sedikit memperlihatkan leher yang kecoklatan, dan jaketnya yang berwarna coklat tua mempertegas bahunya yang bidang. Lisa dalam hati berdoa semoga suatu hari nanti suaminya akan menganggap dirinya menarik untuk dilihat, sama seperti yang dirasakannya terhadap suaminya saat ini, lalu ia memutuskan untuk mengobrol sedikit.
"Gaun pengantin ibumu sangat indah," katanya dengan lembut, mencoba mengobrol. "Aku sempat khawatir gaun itu rusak, tapi untunglah tak terjadi apa-apa."
Tatapan pria itu beralih ke arah Lisa. "Kau tak perlu khawatir gaun itu rusak," ucapnya datar. "Aku yakin kau jauh lebih berharga untuk memakai lambang kesucian itu dari pada ibuku."
"Oh," ucap Lisa, tahu bahwa dirinya baru saja dipuji, meskipun rasanya tidak tepat mengucapkan terima kasih untuk pujian semacam itu.
Sewaktu dilihatnya Mingyu tidak berusaha melanjutkan pembicaraan, Lisa merasa pria itu sedang menghadapi suatu masalah pelik, oleh karena itu ia membiarkan suasana hening itu tetap berlangsung, cukup puas dengan hanya melihat pemandangan hijau berbukit di balik jendela.
Pukul tiga sore, mereka akhirnya tiba untuk makan siang di sebuah penginapan besar yang dinding bata kuningnya penuh ditutupi tanaman merambat dan halamannya yang luas dikelilingi oleh pagar putih.
Sepertinya salah satu pengawal telah dikirim ke sana terlebih dahulu, karena baik pemilik penginapan maupun istrinya datang menyambut mereka lalu menemani masuk melalui ruang duduk besar dan ke ruang makan pribadi tempat berbagai makanan mewah dalam baki-baki tertutup telah dihidangkan.
"Kau tadi lapar, ya?" kata Mingyu ketika Lisa meletakkan pisau dan garpunya sambil mendesah lega.
__ADS_1
"Amat sangat," Lisa mengiyakan. "Perutku masih belum terbiasa dengan waktu makan orang kota seperti yang kau terapkan di rumah Nenek di Rosemeade. Di saat kalian makan malam pukul sepuluh, aku biasanya sudah tidur."
"Kita akan berhenti untuk makan malam sekitar pukul delapan, dengan demikian kau tidak akan menunggu terlalu lama untuk waktu makan berikutnya," usul Mingyu dengan sopan.
Ketika pria itu tampaknya ingin berlama-lama menikmati anggurnya, Lisa bertanya, "Apakah kau tidak keberatan kalau aku menunggu di luar? Aku ingin berjalan-jalan sebentar sebelum kita masuk lagi ke kereta."
"Baiklah. Aku akan menyusulmu beberapa menit lagi."
Lisa berjalan keluar, menikmati sinar matahari di bawah pengawasan mata waspada kusir kereta Mingyu. Ada dua kereta kuda lain masuk ke halaman, keduanya tampak indah dan mengilat, tapi tidak semewah kereta bepergian milik suaminya dengan lambang keluarga berwarna keperakan dan pakaian kuda berwarna perak mengilat. Para bujang kuda berlarian ke depan untuk mengambil alih kuda-kuda itu, dan selama beberapa menit Lisa hanya menonton, menikmati pemandangan yang ada.
Kuda-kuda Mingyu sedang ditambatkan ketika Lisa melihat seorang bocah berjongkok di sudut pagar, seperti sedang berbicara dengan sesuatu di atas tanah. Merasa penasaran, ia berjalan ke arah sana, lalu tersenyum ketika melihat bocah itu ternyata berbicara dengan sekumpulan anak anjing riang yang berbulu panjang.
"Maukah anda membeli seekor?" tanya bocah itu penuh harap. "Saya akan memberi Anda harga yang murah untuk anak-anak anjing ini. Mereka anjing ras murni."
"Apa jenisnya?" tanya Lisa, tertawa geli ketika anak anjing yang paling kecil tampak seperti bola bulu berwarna putih dan coklat memisahkan diri dari saudara-saudaranya, melompat-lompat di sekitar kakinya lalu menggigit ujung gaunnya, mempermainkan sambil menarik-nariknya.
"Anjing gembala Inggris yang bagus," bocah itu menjelaskan, ketika Lisa menunduk untuk memisahkan anak anjing itu dari keliman gaunnya. "Mereka sangat cerdas."
Begitu jemarinya menyentuh bulu yang tebal dan halus itu, ia langsung terpesona. Dulu ia pernah memelihara jenis collie, tapi setelah ayahnya meninggal, makanan menjadi terlalu berharga untuk diberikan ke binatang yang tidak bisa menghasilkan apa-apa, jadi ia memberikan anjing collie itu kepada adik Roseanne. Ia mengangkat anak anjing itu, menatapnya sejajar dengan matanya sementara kaki-kaki mungil anak anjing itu menendang-nendang di udara dan lidahnya yang berwarna pink dengan penuh semangat menjilati jemari Lisa. Ia masih menggendong anak anjing itu, membicarakan kelebihan-kelebihan anjing itu dengan pemiliknya yang antusias, ketika suaminya datang dari belakang dan berkata, "Saatnya kita berangkat."
__ADS_1
Lisa tidak pernah bermaksud meminta kepada suaminya untuk mengizinkannya memelihara anak anjing, tapi permintaan itu tanpa disadari terpancar di matanya yang besar dan senyumnya yang lembut ketika ia membalikkan badan menghadap suaminya. "Aku pernah punya anjing collie, dulu sekali,"
"Oh ya?" tanya Mingyu sekenanya.
Lisa mengangguk, meletakkan anak anjing itu ke tanah, menepuk kepalanya, lalu tersenyum kepada si bocah. "Semoga berhasil menemukan tempat tinggal untuk mereka," ujarnya.
Ia baru berjalan tiga langkah ketika tiba-tiba merasakan ujung roknya ditarik. Ia membalikkan badan, dan dilihatnya anak anjing yang tadi digendongnya melepaskan gigitannya pada rok Lisa dan duduk, lidahnya yang berwarna pink terjulur keluar, ekspresinya entah mengapa penuh harap.
"Dia suka padaku," Lisa menjelaskan, lalu tertawa. Ia membungkukkan badan lalu memutar tubuh anak anjing itu ke arah saudara-saudaranya dan menepuk pantatnya, menyuruhnya kembali ke bocah itu. Anak anjing itu dengan keras kepala tidak mau bergerak sedikitpun. Tak punya pilihan lain, Lisa tersenyum penuh rasa sayang dan penyesalan kepada bola bulu mungil itu, lalu membalikkan badan dan membiarkan Mingyu membimbingnya ke kereta.
Setelah berhenti sebentar untuk memberi instruksi pada kusirnya, Mingyu masuk ke kereta dan duduk di sebelah Lisa. Beberapa menit kemudian mereka pun berangkat.
"Jalan di sini sepertinya tidak semulus jalan di sebelah utara," komentar Lisa sedikit gugup sejam kemudian ketika kereta yang berat itu terombang-ambing dengan keras, oleng ke kiri, dan segera berdiri tegak lagi dan terus berjalan.
Mingyu yang duduk di depannya sambil menyilangkan tangan di dada dan menjulurkan kaki berkata, "Tidak."
"Lalu kenapa kereta ini terombang-ambing seperti ini?" tanya Lisa beberapa menit kemudian ketika kereta itu kembali oleng. Sebelum Mingyu dapat menjawab, ia mendengar sang kusir berteriak "Whoaa" kepada para pengawal lalu menghentikan kereta di pinggir jalan.
Lisa mengintip lewat jendela ke arah hutan di sepanjang jalan. Beberapa saat kemudian pintu kereta dibuka dan sang kusir dengan paras kesal dan menyesal muncul diambang pintu. "Your Grace," ujarnya penuh rasa bersalah, "Saya tidak bisa mengendalikan kuda sambil menjaga 'mesin yang tak mau berhenti bergerak' ini secara bersamaan. Saya nyaris menjebloskan kereta ini ke dalam lubang tadi."
__ADS_1