Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 23


__ADS_3

Lisa dengan dibantu oleh dua pelayan wanita memerlukan waktu tiga jam untuk berdandan dan berpakaian. Pernikahan itu sendiri hanya memakan waktu kurang dari sepuluh menit.



Satu jam kemudian, Lisa dengan salah tingkah memegang gelas kristal berisi sampanye yang berbuih-buih. Ia bersama mempelai prianya berada di tengah ruang duduk besar bernuansa biru keemasan, sementara Mingyu menuang anggur ke gelasnya sendiri.


Meskipun telah bertekad akan mengabaikannya, pesta pernikahan tadi terasa sangat tidak nyata, tegang. Ibu dan Paman Monty datang dan hampir tidak diacuhkan oleh Mingyu dan neneknya, meskipun Paman Monty sedang dalam keadaan terbaik dan dengan bijaksana tidak melirik bokong para wanita yang datang. Yugyeom Kim dan Roseanne Park juga hadir, tapi sekarang semua orang sudah dalam perjalanan pulang.


Dikelilingi oleh keanggunan ruang duduk keemasan dan dibalut baju pengantin yang terbuat dari satin putih kekuningan berhiaskan mutiara milik ibu Mingyu, Lisa merasa lebih mirip orang yang masuk tanpa izin ketimbang waktu dia pertama kali datang ke rumah ini. Ia merasa seperti penyusup yang memasuki dunia yang tidak ramah kepadanya dan juga kepada keluarganya, semua ini nyaris membuatnya tidak bisa bernapas.


Rasanya aneh mengapa aku sekarang merasa sangat tidak aman dan nyaman, pikir Lisa. Padahal saat ini ia mengenakan gaun yang jauh lebih indah daripada yang pernah ia bayangkan, dan tampak lebih cantik daripada yang pernah ia bayangkan. Tadi pagi, perias pribadi Nyonya Kim, telah turun tangan langsung untuk mengawasi riasan Lisa. Di bawah ketelitiannya, rambut Lisa telah disikat hingga mengilap, lalu disisir menjadi sanggul di puncak kepala, dan dijepit di kanan kirinya dengan sepasang sirkam yang berhias mutiara yang senada dengan anting mutiara di telinganya yang mungil.


Lisa melihat bayangannya di cermin panjang dalam kamarnya dan diam-diam merasa senang. Bahkan perias pribadi keluarga Kim pun mundur selangkah dan menyatakan bahwa dia cukup cantik, tapi Mingyu tidak berkomentar sepatah kata pun tentang penampilan Lisa. Pria itu hanya tersenyum menenangkan ke arahnya ketika Paman Monty meletakkan tangan Lisa di atas tangan Mingyu, dan itu sudah cukup untuk membuatnya bertahan selama berlangsungnya prosesi pernikahan. Tetapi, sekarang, mereka untuk pertama kalinya hanya berdua di dalam ruang duduk sebagai suami-istri, san satu-satunya suara yang ada adalah suara para pelayan yang membawa koper-koper berat menuruni tangga lalu menaikkannya ke kereta yang akan membawa mereka dalam perjalanan bulan madu.


Tak tahu apa yang akan dilakukannya terhadap samapanye itu, Lisa memilih jalan yang lebih aman dengan meminumnya sedikit lalu meletakkannya di atas meja penuh ukiran dan bersepuh emas itu.


Ketika ia membalikkan badan, dilihatnya Mingyu sedang mengamatinya seakan-akan pria itu baru pertama kali melihatnya. Sepanjang pagi tadi tak sekali pun pria itu berkomentar tentang penampilan Lisa, tapi sekarang, ketika tatapan pria itu menyapu tubuhnya mulai dari rambutnya yang mengilat sampai keliman gaun satinnya yang berkilau, Lisa merasa pria itu akhirnya akan berkomentar, dan ia menahan nafas penuh harap.

__ADS_1


"Kau lebih tinggi dari yang ku kira waktu pertama kali melihatmu."


Komentar yang tak diduga-duga itu, berikut ekspresi bingung wajah pria itu, membuat Lisa tiba-tiba ingin tertawa. "Ku rasa aku tidak tumbuh lebih dari tiga sentimeter seminggu yang lalu."


Mingyu tersenyum simpul mendengar jawaban itu lalu melanjutkan dengan lebih serius, "Mula-mula, aku mengira kau anak laki-laki, dan untuk ukuran anak laki-laki kau termasuk pendek."


Bertekad mulai saat ini akan menularkan keceriaan ke dalam hubungan mereka setiap kali mendapat kesempatan, sambil bergurau, Lisa berkata, "Tapi, aku bukan anak laki-laki."


Meskipun tidak ingin terlalu akrab dengan Lisa setelah ciuman kemarin, Mingyu ternyata tidak kebal terhadap senyumannya yang ceria dan menawan. Senyum itu bahkan menghalau kemuraman pesta pernikahan dari dalm hatinya. "Kau memang bukan anak laki-laki," ia setuju, balas tersenyum. "Bukan pula anak perempuan. Tapi kau juga bukan wanita dewasa."


"Sepertinya begitu," Mingyu terkekeh. "Bagaimana kau menggambarkan seorang wanita muda yang usianya belum delapan belas tahun?"


"Aku sudah delapan belas tahun." jawab Lisa dengan serius. "Hari ini hari ulang tahunku."


"Aku tidak tahu hari ini kau berulang tahun," kata Mingyu, benar-benar tampak menyesal. "Aku akan membelikan hadiah untukmu dalam perjalanan nanti. Apa yang disukai gadis-gadis seusiamu?"


"Kami suka kalau tidak terus-menerus diingatkan bahwa kami masih sangat muda," jawab Lisa ringan tapi dengan raut wajah penuh arti.

__ADS_1


Gelegar tawa Mingyu menggema di seantero ruangan, "Ya Tuhan, kau punya rasa humor yang cerdas. Luar biasa, untuk orang yang masih mud...em begitu cantik," ralatnya cepat-cepat. "Aku sekali lagi minta maaf karena telah mengolok-olok usiamu dan karena telah lupa memberi hadiah."


"Sepertinya aku suka atau tidak, kaulah hadiah ulang tahunku."


"Kau mengungkapkannya dengan kalimat yang indah," Mingyu terkekeh.


Lisa melirik jam, setengah jam yang lalu Mingyu berkata ingin bersiap-siap untuk berangkat naik kapal. "Sebaiknya aku naik ke atas dan mengganti gaunku." katanya.


"Nenekku pergi kemana?" tanya Mingyu ketika Lisa hendak berjalan keluar.


"Aku rasa beliau dibawa ke kamar tidur, terbaring nelangsa melihat pernikahanmu yang tak beruntung ini," jawab Lisa bermaksud bercanda. Dengan nada lebih serius, ia menambahkan, "Apakah dia akan baik-baik saja?"


"Perlu lebih dari sekedar pernikahan kita untuk memanggil dokter dan membawakannya tanduk rusa," jawab Mingyu dengan nada suara penuh rasa sayang dan kagum. "Nenekku bisa menundukkan Napoleon seorang diri dan keluar sebagai pemenang. Dan kalau nenekku sudah selesai menghajarnya habis-habisan, Napoleon akan memohon ampun kepadanya karena telah berperang dengan kita. Hal kecil seperti pernikahanku yang kurang beruntung tidak akan membuatnya jatuh sakit, percayalah padaku. Dan karena sekarang kau sudah menyandang namaku, dia tidak akan membiarkan satu orang pun menghinamu."


Lisa termenung sebentar, sebelum akhirnya ia kembali tersenyum. "Ya, ku rasa juga begitu," ucapnya pelan hingga Mingyu juga tak mendengarnya. Bagi Lisa, memangnya apa lagi yang harus dirisaukan dari masa lalu. Sang nenek mertua pun akan berpikir demikian. Bukankah memang akan lebih menjaga kehormatan yang kini terpampang di depan mata. Ia sendiri juga telah bertekad untuk menjaga kehormatan itu. Bagaimana pun, ia memang telah menikah dengan keluarga Kim. Maka tidak ada jalan mundur bagi Lisa.


Lisa berlalu menuju kamarnya di lantai atas untuk mengganti gaun, sementara Mingyu tampak berbicara dengan Will tentang beberapa hal yang tak membuat Lisa ingin tahu lebih banyak.

__ADS_1


__ADS_2