Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 22


__ADS_3

Cahaya api menari-nari ceria di pendiangan, menghalau udara dingin malam hari di musim semi dan menimbulkan bayangan yang meliuk dan melompat-lompat di dinding seperti para peri di perayaan musim gugur. Sambil menyangga badannya dengan bantal di tempat tidurnya yang besar, Lisa menonton pertunjukan itu, raut wajahnya tampak merenung. Besok adalah hari pernikahannya.


Ia menekuk lututnya ke atas lalu melingkarkan tangan ke sekeliling kakinya, menatap perapian. Meskipun baru menyadari bahwa ia telah jatuh cinta kepada calon suaminya, ia tidak cukup bodoh untuk menganggap dirinya memahami pria itu, atau cukup polos untuk percaya bahwa ia tahu bagaimana membuat pria itu bahagia.


Ia hanya yakin pada dua hal, ia ingin membuat pria itu bahagia dan entah bagaimana, entah dengan cara apa, ia akan menemukan jalan untuk melakukannya. Tanggung jawab yang berat itu membebani pikirannya, dan ia dengan tulus berharap bisa mengetahui apa saja tugas seorang bangsawan.


Pengetahuannya tentang pernikahan sangat terbatas dan tidak berguna. Ayahnya dulu seperti orang asing yang menawan dan elegan, yang bila pria itu berkenan mengunjungi mereka, disambut dengan penuh rasa sayang dan kagum oleh istri dan putrinya.


Sambil menumpangkan dagunya ke lutut, Lisa dengan pilu teringat bagaimana ia dan ibunya sibuk mengurusi ayahnya selama pria itu tinggal bersama mereka, mempercayai setiap patah kata yang diucapkannya, mengikutinya kemana-mana, dan sangat ingin menyenangkannya seakan-akan pria itu adalah dewa dan mereka adalah pengikut yang setia. Rasa terhina menusuk hatinya ketika membayangkan ayahnya pastilah menganggap ia dan ibunya sangat membosankan dan kampungan. Pria itu pasti tertawa dalam hati melihat bagaimana mereka memujanya!


Dengan tegas Lisa mengalihkan pikirannya ke pernikahannya sendiri. Ia yakin calon suaminya tidak akan suka diperlakukan istimewa seperti ibunya memperlakukan ayahnya. Kim Mingyu sepertinya suka jika ia mengatakan apa yang ada dalam pikirannya, meskipun ia mengatakan sesuatu yang sangat tidak sopan. Kadang-kadang, ia bisa membuat pria itu tertawa terbahak-bahak. Tapi bagaimana menjalani empat puluh tahun berikutnya dengan pria itu?


Satu-satunya pernikahan yang pernah ia saksikan langsung adalah pernikahan rakyat jelata. Dalam rumah tangga itu sang istri memasak, membersihkan rumah, dan menjahit pakaian untuk suaminya. Membayangkan hal-hal itu untuk Mingyu membuatnya merasa rindu, meskipun ia tahu pikiran itu adalah pikiran sentimental yang bodoh. Rumah ini dipenuhi pelayan yang sudah menyiapkan segala hal yang diperlukan penghuninya sebelum diminta dan selalu siap sedia untuk memastikan semua permintaan penghuninya langsung dilaksanakan sebelum mereka memikirkannya.


Sambil mendesah keras, Lisa menerima kenyataan bahwa Mingyu tidak memerlukan dirinya untuk mengurus segala kebutuhannya sebagaimana yang dilakukan para istri di desa. Meskipun demikian, ia mau tak mau senang membayangkan duduk di kursi depan perapian di sebrang suaminya, sambil jemarinya dengan cekatan menisik salah satu kemeja suamainya yang seputih salju. Dengan penuh harap, ia membayangkan ekspresi penuh rasa terima kasih dan senang di wajah tampan Mingyu ketika melihatnya menjahit kemejanya. Pria itu akan sangat berterima kasih....


Tawa tertahan keluar dari bibirnya ketika teringat dirinya tidak terampil menjahit. Kalau tidak menusuk jarinya sendiri dan menodai kemeja pria itu dengan darah, ia pasti akan menjahit lengan kemeja itu hingga tertutup atau melakukan sesuatu yang sama kacaunya. Bayangan kehidupan rumah tangga yang tenteram itu langsung hilang dan raut wajahnya mengeras.


Segenap perasaannya mengatakan bahwa Kim Mingyu adalah pria yang sangat rumit, dan Lisa benci pada dirinya sendiri karena masih muda dan tidak berpengalaman. Di lain pihak, ia memiliki otak yang cukup encer, meskipun Mingyu  sepertinya menganggapnya sebagai anak yang lucu. Bila perlu, ia bisa menunjukkan sikap logis dan praktis. Bukankah ia bisa mengatur rumah tangganya sejak berumur empat belas tahun?

__ADS_1


Sekarang ia dihadapkan pada tantangan. Ia harus membuat dirinya pantas menjadi istri seorang bangsawan dengan kedudukan yang begitu tinggi. Selama beberapa hari ini, nenek pria itu telah ratusan kali mengkritik tingkah laku dan tata krama Lisa, dan meskipun ia dengan keras kepala menganggap semua itu hanya kebiasaan dan tata krama yang tidak penting, namun diam-diam ia bertekad akan mempelajari semua yang perlu ia ketahui. Ia akan memastikan suaminya tidak punya alasan untuk malu beristrikan dirinya.


Suamiku, renung Lisa ketika membaringkan diri di  bantal. Pria  bangsawan yang bertubuh besar, tampan dan elegan itu akan menjadi suaminya.


Keesokan harinya, Yugyeom yang duduk bersandar di sofa bersandaran tinggi mengamati sepupunya dengan kagum sekaligus tak percaya. "Hawk," katanya sambil terkekeh, "Aku berani bersumpah, apa yang dikatakan semua orang tentang dirimu memang benar, kau tak punya urat saraf. Ini hari pernikahanmu, tapi aku malah yang lebih gugup dari pada dirimu."


Sambil memakai kemeja putih berempel, celana panjang hitam, dan rompi bersulam benang perak, Mingyu secara simultan melakukan rapat mneit-menit terakhir dengan manager estat neneknya dan berjalan hilir-mudik di dalam kamar tidur sambil mengerling dari atas kertas laporan salah satu bisnisnya. Satu langkah di belakangnya, pelayannya yang kebingungan membuntuti dengan patuh, merapikan kain yang sedikit kusut dari kemeja yang dijahit rapi itu lalu menyapu benang yang tak kasat mata dari kaki celana Mingyu.


"Jangan bergerak, Mingyu," kata Yugyeom, tertawa penuh simpati kepada sabng pelayan. "Will yang malang bisa mati di tempat karena capek."


"Hmm?" Mingyu berhenti sebentar lalu melihat dengan bingung ke arah Yugyeom, dan pelayan yang setia itu segera meraih kesempatan yang ada untuk mengambil jas hitam elegan dan mengangkat tinggi-tinggi sehingga Mingyu tak punya pililhan selain memasukkan tangannya ke dalam lengan baju.


"Maukah kau memberitahuku bagaimana kau bisa begitu tak acuh terhadap pernikahanmu? Kau sadar, bukan kau akan menikah lima belas menit lagi?"


Yugyeom tersenyum mendengar gurauan itu lalu Mingyu melanjutkan dengan nada lebih serius, "Lisa tidak akan menuntut macam-macam, pernikahanku dengannya pun tidak akan membawa banyak perubahan. Setelah mampir di London untuk menemui Una, aku akan membawa Lisa ke Pantai dan kami akan berlayar menyusuri pantai sehingga aku bisa mencoba kapal penumpang rancangan terbaru kami, lalu aku akan mengantarnya ke rumahku di Devon. Dia akan menyukai rumah itu. Rumah itu tidak terlalu besar sehingga tidak membuatnya kewalahan. Aku pastinya akan sering berkunjung ke sana."


"Pastinya," ujar Yugyeom sinis.


Tanpa repot-repot membalasnya, Mingyu mengangkat laporan yang tadi dibacanya lalu kembali membaca.

__ADS_1


"Simpananmu yang cantik itu tak kan senang, Hawk," kata Yugyoem setelah beberapa menit.


"Dia akan menerima," Ujar Mingyu sekenanya.


"Jadi!" kata sang nenek masam, melenggang masuk ke ruangan dalam balutan gaun satin cokelat yang elegan berhias renda berwarna krem. "Kau sungguh-sungguh ingin melaksanakan pernikahan konyol ini? Kau benar-benar ingin mengenalkan gadis dusun itu ke dalam pergaulan bangsawan sebagai gadis terpelajar dan berdarah biru?"


"Sebaliknya," tukas Mingyu lugas. "Aku berencana akan menyuruhnya tinggal di Devon dan menyerahkan tugas itu kepadamu. Tapi, tak perlu tergesa-gesa. Kau dapat mengajarinya selama setahun atau dua tahun agar dia dapat menjalankan tugasnya sebagai istriku."


"Aku tak kan dapat menyelesaikannya dalam satu dekade," tukas neneknya.


Sampai saat ini, Mingyu masih dapat menoleransi keberatan neneknya tanpa merasa sakit hati, tapi kalimat terakhir itu membuatnya sampai di batas kesabaran, dan suaranya meninggi mirip bentakan yang biasanya ditujukannya untuk menakut-nakuti pelayan dan orang lain. "Memang apa susahnya mengajari seorang wanita cerdas untuk menjadi perempuan membosankan dan bodoh!"


Wanita tua yang tak tergoyahkan itu tetap mempertahankan harga dirinya, tapi ia mengamati ekspresi keras cucunya dengan sesuatu yang mirip rasa terkejut. "Apakah seperti itu pendapatmu mengenai wanita kelas atas? Membosankan dan bodoh?"


"Tidak," jawab Mingyu ketus. "Aku menganggap mereka seperti itu waktu mereka seusia Lisa. Setelah itu, sebagian besar dari mereka menjadi tidak menarik."


Seperti ibumu, kata sang nenek dalam hati.


Seperti ibuku, kata Mingyu dalam hati.

__ADS_1


"Tidak semua wanita seperti itu."


"Tidak," Mingyu setuju tanpa benar-benar percaya atau tertarik, "Mungkin tidak."


__ADS_2