Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 43


__ADS_3

"Berapa lama lagi?" Bisik Minghao kepada Mingyu di kegelapan.


"Satu jam, lalu kita bisa lari dari sini." Jawab Mingyu tegang, setegang otot-otonya yang kram, memaksa darah mengalir ke ototnya agar sebentar lagi kuatĀ  berlari.


"Kau yakin mendengar mereka berkata pasukanmu sedang bertempur delapan puluh kilometer di sebelah selatan tempat ini? Aku tidak suka berjalan salah arah sejauh delapan puluh kilometer, aku punya kaki palsu dan kau punya lubang di tubuhmu."


"Hanya luka kecil," jawab Mingyu, membicarakan soal luka yang diterimanya dari penjaga yang mereka taklukan kemarin.


Gua di hutan tempat mereka bersembunyi sejak kemarin dari pasuka Prancis ini begitu kecil sehingga mereka nyaris haris melipat tubuh menjadi dua. Rasa sakit menusuk kaki Mingyu yang kram, ia berhenti bergerak, bernapas tersengal-sengal. Secara otomatis ia mengingat sosok Lisa dan memfokuskan segenap sarafnya pada bayangan itu. Ia mencoba membayangkan bagaimana rupa Lisa sekarang, tapi hari ini yang tampak oleh ingatannya hanyalah gadis yang berdiri di padang rumput di tengah hutan, menatap ke arahnya sambil menggendong seekor anak anjing dengan sorot mata penuh cinta.


Dengan mata terkatup erat, Mingyu perlahan menyusuri setiap lekukan di wajah Lisa dengan benaknya. Rasa sakit di kakinya mulai menyusut hingga ambang batas pikirannya, masih ada tapi sudah bisa ditoleransi. Itu adalah teknik yang biasa ia gunakan di masa-masa penahanannya, dan teknik itu berhasil juga saat ini.

__ADS_1


Sewaktu mula-mula dipenjara, saat ia disiksa dan dikurung berminggu-minggu sehingga nyaris gila, ia memfokuskan pikirannya pada Lisa untuk melarikan diri dari rasa sakit yang mengoyak raganya dan menghilangkan kesadarannya. Dalam imajinasinya, ia mengenang, dengan perlahan, setiap detik yang dihabiskannya bersama Lisa, berusaha keras berkonsentrasi pada tiap detail di sekeliling mereka, mengingat setiap patah kata, setiap gerakan. Mengenang saat bercinta dengan Lisa di penginapan, berulang-ulang, memeluknya, mengingat betapa manisnya Lisa dan juga bagaimana rasanya Lisa yang ada dalam pelukannya.


Namun ketika minggu berubah menjadi bulan, ingatannya akan kebersamaan singkat mereka tak lagi cukup untuk melawan rasa sakit. Ia butuh senjata lain untuk membungkam suara-suara menyesatkan yang menyuruhnya menyerah dan berhenti berjuang untuk tetap hidup. Untuk membiarkannya menyerah pada kematian sehingga terbebas dari semua rasa sakit itu. Jadi Mingyu mulai menciptakan adegan-adegan lain bersama Lisa, menggunakannya untuk meningkatkan semangat hidup karena dari pengalamannya selama di Spanyol ia tahu jika keputusasaan telah bersemayam di dada, kematian tak lama lagi akan menjelang.


Dalam benaknya ia menciptakan berbagai macam adegan-adegan menyenangkan, ketika Lisa berlari ke arahnya, tertawa dengan suara merdu, lalu membalikkan badan, mengulurkan tangan ke arahnya, menunggunya datang menghampiri, bahkan adegan mengerikan ketika ia melihat Lisa diusir ke jalan oleh nenek dan Yugyeom, lalu terpaksa tinggal di pemukiman kumuh di sudut kota London, namun Lisa tetap menunggu Mingyu pulang dan menyelamatkannya.



Jadi, di dalam kungkungan penjara yang penuh cacing serta berbagai siksaan yang terus diterimanya hingga remuk, ia memejamkan mata dan menyusun rencana untuk melarikan diri, agar bisa pulang menemui Lisa. Agar ia bisa kembali bertemu dengan gadis itu, seseorang yang kini menjadi satu-satunya alasan untuk tetap bertahan pada hidupnya, untuk dia tetap berjuang dan tidak menyerah hingga ia berhasil kembali pada istrinya.


Sekarang, setelah merenungkan kembali tahun-tahun kehidupannya yang kelam di dunianya yang terdahulu, ia siap membiarkan Lisa menunjukkan bahkan membawanya kepada dunia Lisa kepadanya, dunia yang sejak lama ia tentang, dunia yang membuatnya tak ingin ia masuki. Dunia yang dimana segala sesuatunya masih segar, hidup dan tidak tercemar. Tempat yang sering disebut Lisa sebagai 'sesuatu yang indah' menunggunya. Sungguh sebuah keromantisan yang dulu selalu dihindarinya. Namun kini ia akan melakukan segalanya jika ia bisa kembali pada masa itu, dan akan membiarkan dirinya dipengaruhi oleh Lisa dengan segala bentuk romantisme dunia.

__ADS_1


Mingyu hanyut dalam kelembutan Lisa dan membiarkan dirinya dilingkupi tawa dan keceriaan yang melekat pada wanita itu. Ia ingin membersihkan dirinya dari semua kotoran di penjara lalu mengenyahkan semua kotoran dari kehidupannya yang sesat. Ah, ya, jika dipikirkan lagi, mungkinkah ini adalah penebusan dosa oleh Tuhan agar ia menjadi pantas bagi Lisa yang masih sangat murni? Mingyu bertanya dalam hatinya, bagaimana pun dunianya yang dulu memang terlalu kelam, sangat tidak cocok untuk Lisa yang masih sangat putih dan cerah.


Di atas segalanya, ia punya satu tujuan lagi, dan itu tidak terlalu mulia, tapi sangat tidak penting baginya. Ia ingin mencari tahu identitas dua orang yang telah dua kali ingin menghabisi nyawanya. Dan setelah itu ia tak akan melakukan pembalasan. Mingyu tahu, Yugyeom mendapatkan keuntungan paling besar dari kematiannya, namun ia tak ingin memikirkan itu sekarang. Tidak di dalam sini. Saat segala kesakitan selalu menderanya, pikiran-pikiran itu hanya akan menambah kepalanya semakin pening. Juga ia tak memiliki bukti apa pun. Yugyeom selama ini sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.


"Kenapa kau tak akan membalas perbuatannya?" tanya Minghao suatu hari ketika Mingyu mengatakan jika ia ingin mencari orang yang ingin mencelakainya itu.


"Bukan apa-apa. Aku memang tak ingin terlalu memperdulikan itu. Bagiku, aku cukup tahu siapa yang telah diam-diam mengkhianatiku. Lalu, aku akan dengan senang hati merubah hubungan kami sebelumnya." jawab Mingyu asal-asalan. Pada dasarnya dia memang hanya penasaran saja, sekedar ingin tahu. Ia tak merasa aneh jika ada orang yang membencinya. Namun kali ini, kebencian itu telah membuatnya kepayahan, maka ia akan mencari tahu, hanya sebatas itu.


"Ku pikir kau bukan tipe orang yang cukup murah hati," sindir Minghao pada Mingyu yang telah menjadi dekat dengannya selama pengasingan mereka.


Mingyu terkekeh pelan, benar ia memang bukan orang yang murah hati. Namun, ada kalanya ia memang tidak ingin terlalu pusing dengan urusan-urusan yang ia anggap remeh. Baginya banyak hal lain yang perlu dan harus mendapatkan perhatiannya, mengingat siapa dan apa posisinya dahulu. Maka, Mingyu juga sudah terbiasa untuk membuat prioritas, dan urusan ini menurutnya tidak terlalu menjadi prioritasnya selain karena ia memang ingin tahu, dan rasanya ia juga harus tahu.

__ADS_1


__ADS_2