
Semua orang tersenyum ketika Lisa berjalan menuruni tangga berbusana satin tebal berwarna biru muda dengan bisban lebar bertahtakan mutiara, berlian dan batu zirkon biru, dengan garis leher berbentuk kotak yang rendah dan lengan yang melebar di bagian bawah. Lisa terlihat semakin cantik. Kulitnya yang putih susu nampak selaras dengan warna biru muda dari gaunnya.
Boo membukakan pintu untuknya seperti yang telah dilakukannya ribuan kali sepanjang hidup Lisa, namun hari ini, ketika ia siap berangkat ke gereja bergaya gothic yang besar tempat ia akan menikah dengan Yugyeom, wajah ramah pria tua itu menyunggingkan senyum lalu ia membungkuk dalam-dalam.
Mata Boo yang rabun tampak berkaca-kaca ketika Lisa membalikkan badan lalu melingkarkan tangannya di leher pria itu untuk memberi pelukan. "Jaga dirimu baik-baik," bisik pria itu di telinganya, "dan tolong jangan kotori gaunmu." Ia selalu memperingati Lisa akan hal itu dan Lisa merasa matanya yang berkaca-kaca mulai kabur. Pelayan tuanya ini yang tak pernah meninggalkannya. Betapa baiknya.
Pria tua ini juga istrinya, serta Paman Monty, adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki di Inggris. Ibunya telah menjual rumah mereka di Morsham dan pergi melancong untuk waktu lama mengunjungi pulau-pulau, jadi dia tak berada di sini untuk melihat Lisa menikah. Roseanne dan suaminya sedang menanti kelahiran bayi pertama mereka yang diperkirakan akan lahir dalam waktu dekat, jadi dia pun tak dapat datang ke London. Tapi setidaknya Paman Monty berada di sini untuk melepasnya pergi. Ini sudah teramat Lisa syukuri, paling tidak ia tidak benar-benar sendirian. Dan meskipun Jisoo baru saja mengetahui bahwa dirinya hamil, kehamilannya masih belum kentara, jadi dia dapat menjadi pendamping pengantin wanita untuk Lisa.
"Apakah kau sudah siap, Sayang?" tanya Paman Monty dengan wajah berseri-seri sambil mengulurkan tangannya. Lisa mengangguk sambil tersenyum ke arah pamannya. Namun, Lisa langsung meringis melihat raut wajah pamannya. Lisa tahu, pamannya akan menjadi sasaran empuk celoteh Nyonya Kim tua lagi pagi ini.
"Hati-hati jangan sampai menginjak ujung gaun Lisa," sang Nyonya Kim memperingatkan dengan keras, menatap tajam Paman Monty mulai dari rambutnya yang putih sampai ujung sepatu hitamnya yang disemir mengilat. Selama tiga hari, wanita itu menceramahi Paman Monty mengenai apa yang harus dilakukannya, tugasnya saat upacara pernikahan, dan pentingnya berpikiran jernih, sehingga pria itu sekarang tunduk padanya. Tiba-tiba mata sang nenek menyipit curiga melihat rona kemerahan di pipinya yang bundar.
__ADS_1
"Sir Monty," hardiknya dengan mata menyipit, "apakah kau minum wiski pagi ini?"
"Tentu saja tidak!" kilat Paman Monty dengan terkejut. "Tidak bisa minum wiski. Tidak ada minum-minum, tidak ada siapa pun," ujarnya sambil membusungkan dada seperti ayam jago yang marah, meskipun sebenarnya dia telah minum beer sepanjang pagi tadi.
"Ya sudah," sela sang nyonya tua dengan tidak sabar. "Pokoknya ingat saja apa yang ku katakan padamu. Setelah kau mendampingi Lisa ke altar, kau harus meninggalkannya di sana dan kembali ke tempat dudukmu. Kau akan duduk di sebelahku, dan tidak akan bergerak sampai aku bangun dan melangkah keluar dari gang. Semua orang harus tetap duduk sampai kita selesai melakukannya. Sudah jelas?"
"Aku bukan idiot, kau kan tahu itu, Madam. Aku ksatria berdarah biru."
Paman Monty naik ke kereta lalu memandang keponakannya dengan sorot mata menderita, bermaksud meminta pertolongan. Lalu entah bagaimana tatapan memelas itu berubah menjadi tatapan aneh, yang dengan jelas berkata, aku tak mengerti bagaimana kai bisa tinggal dengan macan tua yang sangat cerewet ini, anakku.
Lisa tersenyum menanggapi gelagat pamannya yang berubah-ubah antara menderita dan juga takjub pada ketangguhan Lisa dalam menghadapi sikap Nyonya Kim tua yang tangguh.
__ADS_1
Di samping itu, Lisa tahu, dan pamannya juga tahu, bahwa rona merah di pipi pria itu adalah bukti dia telah minum cukup banyak pagi ini. Mungkin sebotol wiski atau beer entahlah, Lisa hanya bisa menggeleng pasrah.
Lisa duduk bersandar di tempat duduk empuk kereta mewah yang akan membawanya ke calon suaminya, ia melihat keluar jendela menikmati pemandangan dan suara jalan-jalan kota London. Jisoo Jeon berada di dalam kereta yang berbeda dengan dirinya. Ia berada di kereta depan yang di dampingi oleh suaminya, juga Seungkwan yang akan menjadi pendamping mempelai pria bagi Yugyeom.
Di belakang dan di depan kedua kereta itu, rombongan pengiring pengantin dengan berbagai barang bawaan, semua sedang menuju ke gereja yang sama. Mereka, pikir Lisa sambil tersenyum muram, membuat jalanan macet sampai beberapa kilo meter panjangnya. Ini membuatnya sedikit terganggu, ia tidak terlalu suka membuat kegaduhan semacam ini.
Aneh, pikir Lisa, betapa ia merasa gugup, takut, dan bergairah waktu akan menikah dengan Mingyu. Lima belas bulan yang lalu, ia berjalan masuk ke ruang duduk yang senyap itu untuk memadukan hidupnya dengan Mingyu, saat itu kakinya gemetar dan jantungnya berdebar sangat keras hingga nyaris meledak. Perasaan membuncah yang tak bisa ia pahami sepenuhnya. Debaran itu bahkan telah ia rasakan dari malam sebelum pernikahannya dengan pria tinggi itu.
Namun, di sini, ketika ia akan menikah dengan Yugyeom satu jam lagi di hadapan ribuan warga kalangan atas, ia merasa biasa saja, luar biasa tenang, pasrah. Tidak takut, tidak bergairah...
Sekilas, entah bagaimana, Lisa menjadi memikirkan Mingyu. Bukan sengaja memikirkannya. Apakah kau tahu perasaan yang terbersit? Entah bagaimana menggambarkannya. Semacam firasat. Satu perasaan yang membuatnya memikirkan Mingyu. Namun Lisa sendiri juga tak mengerti jenis perasaan apa itu. Lisa juga tak tahu. Bukan rindu, bukan benci, bukan ingin bertemu, hanya debaran tipis dan ia tahu pasti itu tentang Mingyu. Ada apa? Lisa juga tak mengerti. Dan sesaat ia pun kembali teringat tentang perasaannya tentang 'sesuatu yang indah'.
__ADS_1
Lisa buru-buru menepis pikiran itu. Mungkin ia hanya sedang terpikir karena sesaat lalu tanpa sengaja, Lisa telah membandingkan pernikahannya saat ini dengan pernikahannya dahulu dengan Mingyu. Ia yakin itulah jawabannya. Namun, Lisa masih merasa resah. Bukan tentang pernikahannya. Tapi tentang Mingyu. Lisa kembali menepis pikirannya. Ia tak ingin membuat kesalahan yang akan membuat kekacauan yang pasti tak akan disukai oleh sang nenek. Lisa pun memejamkan mata sejenak. Menarik napas dalam-dalam, berusaha tenang kembali.