
"Mengapa kita melambat?"
Mingyu bertanya kepada kusir kereta kuda yang ditugaskan kapten kapan untuk mengantarnya, dan sekarang sedang menjalankan keretanya dengan sangat lambat menuju rumah Mingyu di Upper Book Street.
"Saya tidak tahu, Your Grace. Sepertinya ada sesuatu terjadi di gereja di belakang kita."
Mingyu memandang matahari lagi, mencoba memperkirakan waktu. Sudah setahun lebih ia tidak merasakan nikmatnya mempunyai jam, padahal ia punya sekurangnya enam jam emas yang selama ini tidak begitu dihargainya. Ia selalu menganggap remeh barang-barang itu. Namun setelah setahun lebih hidup dalam kesengsaraan, ia rasa tak kan menganggap remeh apa pun lagi.
Pemandangan dan suara kota London, yang membuatnya sangat gembira ketika memasuki kota itu sejam yang lalu, mulai menghilang dari pikirannya ketika ia membayangkan reaksi terkejut yang akan terjadi pada orang-orang yang ia cintai.
Neneknya masih hidup, hanya itu yang didengar Mingyu dari kapten kapal, yang mengatakan pernah membaca di koran beberapa bulan lalu bahwa wanita itu berencana akan menetap di London selama berlangsungnya musim debut. Semoga saja wanita itu tinggal di rumahnya sendiri dan bukan di rumahku, pikir Mingyu, sehingga ia bisa mengabarkan wanita itu terlebih dahulu dan bukan langsung masuk menemuinya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Yugyeom, kalau dia sedang berada di London, sudah tentu akan tinggal di rumah Mingyu di Upper Book Street, merasa itu rumahnya.
Lebih dari sekali, Mingyu terpikir Yugyeom mungkin tidak akan senang melihatnya kembali dan mengambil kembali gelar yang sekarang tersemat padanya serta semua estatnya, tapi semua kemungkinan itu begitu mengerikan sama seperti gagasan bahwa Yugyeom terlibat dalam rencana pembunuhan dirinya. Mingyu tidak ingin percaya keduanya, sampai ia punya bukti-bukti yang kuat.
Ia tidak mau percaya itu, namun sayangnya ia tak mampu menghilangkan kecurigaan itu dari benaknya, ia juga tak mampu menghapus ingatannya akan suara penjahat di dermaga pada malam ia dipukul sampai pingsan. Kalimat mereka yang mengatakan, "Pria itu membayar kita untuk membunuhnya, Jamie, bukan mengirimnya ke kapal..."
Mingyu menghalau ingatan itu. Sangat mungkin pria itu adalah suami yang marah karena wanitanya lebih menyukai Mingyu, yang sangat masuk akal jika menginginkan agar Mingyu dibunuh saja. Ada banyak cara untuk mencari tahu siapa musuh yang sebenarnya. Namun, hari ini ia ingin menikmati betapa senangnya pulang ke rumah.
Ia memikirkan kepulangannya yang tak lama lagi ke Upper Book Street, dan ingin segera melakukan berbagai hal. Berjalan masuk ke rumah, lalu menyalami Yoon, memeluk neneknya sambil menghapus air mata bahagia dan lega yang ia tahu akan terlihat di mata wanita itu serta di mata kepala pelayannya jika mengetahui dirinya masih hidup. Ia akan menepuk bahu Yugyeom dan mengucapkan terima kasih karena telah berusaha mengelola kekayaan keluarga Kim. Tak peduli berapa pun buruknya Yugyeom mengelola urusan bisnis Mingyu yang rumit itu, dan Mingyu merasa yakin begitulah adanya. Ia tetap akan berterima kasih.
Setelah itu, Mingyu ingin mandi dan memakai pakaiannya sendiri, yang bersih dan hangat. Lalu ia ingin bertemu Lisa.
Dari semua hal yang akan ia temui nanti, pembicaraan dengan Lisa-nya adalah satu-satunya hal yang ia khawatirkan. Sudah pasti kesetiaan yang polos wanita itu kepadanya akan membuat wanita itu bersedih dalam jangka waktu yang lama setelah mendengar tentang kematiannya. Sewaktu terakhir kali ia melihat Lisa, wanita itu sangat kurus seperti ilalang, sekarang mungkin ia sudah seperti tengkorak. Ya Tuhan, betapa menderitanya hidup yang dijalani wanita itu sejak bertemu dengannya.
Ia tahu Lisa mungkin telah berubah selama kepergiannya, tapi mudah-mudahan tidak terlalu banyak dan drastis. Lisa pasti sudah lebih matang sebagai wanita sekarang. Wanita yang cukup dewasa untuk diberi tanggung jawab mengurus suami dan anak-anak. Ia sendiri yang akan membawa wanita itu ke London dan memperkenalkannya ke kalangan bangsawan.
Meskipun begitu, mereka tidak akan tinggal lama di London. Ia telah kehilangan satu tahun lebih dalam hidupnya, tapi ia punya banyak waktu untuk memutuskan bagaimana ia akan menghabiskan sisa hidupnya. Ia sekarang sudah tahu mana yang penting dan mana yang tidak, dan ia tahu apa yang ia inginkan. Apa yang mungkin selama ini ia inginkan. Ia ingin kehidupan yang bermakna, dan pernikahan dalam arti sebenarnya. Bukan sekedar pengaturan semu seperti yang dijalani orang-orang dalam lingkup pergaulannya. Ia ingin mendapatkan lebih banyak cinta yang berusaha diberikan Lisa kepadanya, cinta yang membuatnya punya semangat hidup. Cinta yang membuatnya bertahan pada kehidupannya. Sebagai balasannya, ia ingin memanjakan wanita itu sepuasnya, dan menjaga wanita itu agar selalu berada di dekatnya, aman dari pengaruh buruk dunia luar.
Mungkin cinta tidak kebal terhadap dunia luar. Atau apakah itu gunanya saling percaya? Apakah seorang suami harus percaya bahwa istrinya tidak akan berubah dan akan tetap setia tak peduli di mana pun dia berada, atau dengan siapa? Tampaknya memang begitu, Mingyu menyimpulkan. Ia tidak tahu banyak bagaimana mempercayai orang lain, dan ia tahu lebih sedikit lagi tentang cinta. Tapi Lisa adalah cerminan dari keduanya, dan wanita itu telah menawarkan diri akan mengajarinya. Sekarang ia bersedia diajari wanita itu.
Ia berusaha membayangkan bagaimana rupa Lisa, tapi yang bisa diingatnya hanyalah wajahnya yang tertawa, yang sebagian besar didominasi oleh sepasang mata besar berwarna hazel kehijauan. Wajahnya yang muda dan cantik. Wajah Lisa yang lucu.
Ia tahu wanita itu akan berkabung selama setahun, lalu enam bulan setelahnya mempelajari tata cara kehidupan bangsawan bersama neneknya. Wanita itu baru sekarang disiapkan untuk menampilkan diri di kalangan bangsawan pada musim debut di musim gugur nanti, dengan asumsi neneknya menjalankan permintaan terakhir Mingyu untuk memoles gadis itu.
__ADS_1
Tapi kemungkinan besar, dan itu cukup menakutkan, pikir Mingyu muram, Lisa begitu sedih dan terpuruk hingga pulang ke rumah reyotnya di Morsham atau mengasingkan diri sepenuhnya dari masyarakat... Atau Ya Tuhan, menjadi gila karena semua peristiwa ini!
Kereta itu berhenti sebelum di Upper Book Street No. 3, rumah utama Mingyu. Mingyu pun keluar dari kereta, berhenti sebentar di undakan depan untuk menengadah memandang rumah batu nan elegan bertingkat tiga dengan teralis-teralis anggun dan jendela-jendela melengkung. Rumah itu tampak begitu familier, namun juga asing.
Ia mengangkat pengetuk pintu yang berat dan mengilap lalu membiarkannya jatuh, menegakkan tubuh untuk melihat Yoon membukakan pintu lalu ia akan memeluknya dengan suka cita.
Pintu itu berayun membuka. "Ya," tanya seraut wajah tak dikenal, menyipitkan mata menatapnya lewat kacamata bergagang kawat.
"Siapa kau?" tanya Mingyu dengan terkejut.
"Aku juga menanyakan hal yang sama padamu, Sir," jawab pelayan itu dengan penuh harga diri, melihat sekeliling mencari Boo, yang tidak mendengar pintunya diketuk.
"Aku Mingyu Kim," jawab Mingyu ketus, tahu bahwa ia hanya membuang-buang waktu kalau berusaha meyakinkan pelayan tak dikenal ini bahwa dirinya adalah kepala keluarga di rumah ini yang asli, bukan Yugyeom. Setelah melewati sang pelayan, Mingyu masuk ke selasar berlantai pualam.
"Panggil Yoon ke sini untuk menemuiku."
"Yoon sedang pergi."
Mingyu mengerutkan dahi, berharap Yoon atau Ramsey ada di sini untuk membantu kemunculannya yang mendadak di hadapan neneknya. Ia cepat-cepat berjalan ke depan, melihat ke dalam ruang duduk besar di bagian kanan selasar dan ruangan yang lebih kecil di sebelah kirinya. Ruangan-ruangan itu penuh bunga tapi tidak ada satu orang pun di sana. Lantai bawah rumah itu sepertinya dipenuhi keranjang bunga mawar putih dan dedaunan.
"Ya, tuan."
"Pesta itu akan menjadi pesta penyambutan kepulanganku," ramal Mingyu sambil terkekeh, lalu ia berkata sambil lalu, "Dimana nonamu?"
"Di gereja," jawab sang pelayan sambil menyipitkan mata melihat pria jangkung yang berkulit kecoklatan itu.
"Dan tuanmu?" tanya Mingyu, yang dimaksud adalah Yugyeom.
"Juga di gereja, tentu saja."
"Berdoa untuk arwahku, pasti," gurau Mingyu. Tahu bahwa Yugyeom pasti akan mempertahankan jasa Hong, pelayan pribadi Mingyu, ia bertanya, "Apa Hong ada?"
"Ada," jawab pelayan itu tegas, lalu ia terpana melihat anggota keluarga Kim yang tak dikenalnya itu naik tangga, memberikan perintah lewat atas bahunya seolah-olah dia adalah pemilik rumah ini. "Panggil Hong untuk menemuiku secepatnya. Aku akan berada di kamar tidur biru. Katakan padanya aku ingin mandi dan segera bercukur. Serta berganti pakaian. Kalau bisa pakaianku sendiri, kalau masih ada. Kalau tidak ada, aku akan memakai pakaian Yugyeom, atau pakaian Hong, atau pakaian siapa pun yang bisa diambilnya."
__ADS_1
Mingyu melangkah cepat melewati kamar tidur utama, kamar yang tentunya dipakai oleh Yugyeom, lalu membuka pintu menuju kamar tidur biru untuk tamu. Kamar itu tidak begitu mewah, tapi untuk saat ini kamar itu rasanya kamar terindah yang pernah ia lihat. Sambil melepas jas kebesaran yang dipijamkan oleh kapten kapal padanya, ia mengempaskan diri ke kursi lalu mulai membuka kemejanya.
Ia melepas kemeja itu lalu melemparnya ke atas jas, dan sedang melepas kancing celana panjang ketika Hong menerobos ke kamar seperti seekor pinguin marah, buntut mantel hitamnya berkibar-kibar di belakangnya.
"Sepertinya ada kesalahpahaman dalam nama anda, Tuan..."
"Ya Tuhan!"
Pelayan pribadi itu berhenti di tempatnya sambil melongo. "Ya Tuhan, Your Grace.. Ya Tuhan!"
Mingyu menyeringai. Ini lebih mirip acara penyambutan yang selama ini dibayangkannya. "Aku yakin kita semua berterima kasih pada Tuhan karena aku bisa kembali, Hong. Tapi, untuk saat ini, aku akan sangat berterima kasih kalau bisa mandi dan berganti pakaian bersih."
"Tentu saja, Your Grace. Segera, Your Grace. Dan kalau boleh saya berkata, saya amat sangat gembira, amat sangat senang melihat... YA TUHAN!" seru Hong, kali ini karena ketakutan.
Mingyu, yang tak pernah melihat pelayannya yang tegar ini menunjukkan rasa gugup walau dalam situasi paling sulit sekalipun, menatap heran ketika pelayan pribadinya berlari menyebrangi koridor, menghilang di dalam kamar tidur utama, lalu berlari keluar lagi sambil membawa salah satu kemeja Yugyeom dan sepasang celana berkuda Mingyu, serta sepatu bot.
"Saya menemukan ini," kata Hong terengah-engah. "Cepat! Anda tidak boleh buang waktu," katanya cepat-cepat. "Ke gereja!" ujarnya tak jelas. "Pernikahan...."
"Pernikahan, jadi itu sebabnya semua orang berada di gereja," kata Mingyu, bermaksud membuang celana panjang yang disodorkan Hong dan berkeras ingin mandi terlebih dahulu. "Siapa yang akan menikah?"
"Tuan Yugyeom," jawab Hong dengan wajah pucat dan bersuara tercekat, menyodorkan kemeja dan berusaha memasukkan tangan Mingyu ke dalam lengan baju secara paksa.
Mingyu menyeringai, tak mengacuhkan kemeja yang berkibar-kibar di belakangnya seperti bendera. "Dengan siapa dia akan menikah?"
"Istri anda."
Selama sesaat, Mingyu tak dapat mencerna berita mengejutkan itu. Ia dengan sedih membayangkan kalau Yugyeom akan menikah, berarti pria itu juga telah menandatangani persetujuan pernikahan sebagai kepala keluarga Kim dan memberi janji kepada tunangannya dan keluarganya, yang sekarang tak dapat ia tepati lagi.
"Bigamy!" seru Hong.
Kepala Mingyu terangkat dan melihat sekeliling ketika arti penting informasi yang didengarnya itu menghantamnya.
"Pergi ke jalan dan panggil apa pun yang bisa bergerak."
__ADS_1
Perintah Mingyu singkat, menyambar kemeja dan memakainya. "Pukul berapa acaranya dan dimana?"
"Dua puluh menit lagi di gereja St. Paul."