Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 47


__ADS_3

Menikahi Lisa? Tidak-tidak.. Apa yang neneknya pikirkan!


"Minta apa saja selain itu," Yugyeom lekas-lekas meralat sambil mengerutkan dahinya ke arah neneknya.


Sebagai tanggapan, wanita itu sengaja menaikkan alisnya dan memberi tatapan meremehkan ke arah Yugyeom seolah-olah penilaiannya terhadap pria itu langsung turun drastis. Jenis tatapan yang dipergunakan secara efektif selama lima puluh tahun, dan selalu sukses, untuk mengintimidasi teman-temannya, membuat pelayan tunduk padanya, membuat anak-anak diam, dan membuyarkan niat orang-orang yang ingin menentangnya, termasuk suami dan anak-anaknya. Hanya Mingyu yang kebal terhadap tatapan itu. Mingyu dan ibunya.


Namun, Yugyeom tidak kebal terhadap tatapan itu sebagaimana waktu dia masih berusia dua belas tahun, ketika tatapan yang sama membuat tangisnya langsung berhenti karena dipaksa belajar bahasa latin dan atas perintah neneknya ia dengan malu naik ke lantai atas untuk belajar dengan tekun. Sekarang ia mendesah, melihat sekeliling ruangan dengan putus asa seakan-akan mencari jalan untuk melarikan diri. Dan itu memang benar.


Sang nenek menunggu sambil berdiam diri. Diam adalah senjata lain neneknya, Yugyeom tahu itu. Pada saat-saat seperti ini wanita itu selalu menunggu dalam diam. Jauh lebih baik, jauh lebih terhormat dan halus, untuk secara sopan menunggu dalam diam sampai sasarannya berhenti berusaha melarikan diri, dan bukan langsung membunuhnya dengan tembakan kata-kata yang tak berguna.


"Sepertinya kau tidak menyadari apa yang kau minta dariku," kata Yugyeom dengan marah.


Keengganan Yugyeom untuk langsung tunduk dengan terhormat membuat alis mata neneknya terangkat sedikit, seakan-akan ia bukan hanya kecewa pada Yugyeom, tapi juga kesal karena sekarang terpaksa harus memberi tembakan peringatan. Tapi ia menembak tanpa ragu-ragu, langsung menuju ke sasaran, tepat seperti yang diperkirakan Yugyeom. Dalam perang kata-kata, tembakan neneknya tak pernah meleset.


"Aku dengan tulus berharap," kata wanita itu lamat-lamat dengan dibubuhi rasa kesal dalam jumlah yang tepat, "kau tidak bermaksud berkata kau tidak tertarik kepada Lisa?"


"Dan kalau ternyata aku mengatakannya?"


Alis matanya yang putih langsung terangkat sampai ke rambutnya, memperingatkan Yugyeom bahwa ia siap untuk melakukan perang terbuka kalau pria itu berani membantah terus.


"Tak perlu mengeluarkan senjata berat," Yugyeom memperingatkan sambil memberi isyarat dengan mengangkat tangan sebagai tanda menyerah. Meskipun ia membenci kenyataan bahwa dalam setiap adu argumen, wanita itu masih bisa membuatnya menjadi anak kecil, tapi ia juga cukup dewasa dan bijaksana untuk tahu bahwa tak ada gunanya beradu pendapat dengan neneknya bila wanita itu memang benar.


"Aku tidak memungkirinya. Terlebih lagi, gagasan itu sudah terlintas di benakku lebih dari sekali."


Alis mata neneknya turun ke posisi normal dan ia menghadiahi Yugyeom dengan anggukan anggun dari kepalanya yang berambut putih. Gerakan yang berarti Yugyeom mungkin masih punya kesempatan untuk mendapatkan kembali kasih sayangnya.


"Kau bertindak dengan akal sehat." Dia selalu murah hati pada orang yang tunduk padanya.


"Aku tidak mengiyakan usulanmu, tapi aku setuju untuk mendiskusikannya dengan Lisa dan membiarkan dia yang mengambil keputusan."


"Dalam hal ini Lisa tidak punya pilihan sebagaimana dirimu, sayangku," kata sang nenek, begitu terlena karena begitu puas sehingga tanpa sadar mengucapkan kata sayang tanpa menunggu sampai seminggu atau sebulan lagi, seperti biasa, untuk memaafkan kelancangan Yugyeom karena menentang permintaannya.

__ADS_1


"Dan tak ada gunanya merisaukan kapan dan dimana kau akan mendiskusikan masalah ini dengan dia, karena aku sudah menyuruh Ramsey memanggilnya ke sini bersama kita," kalimatnya terhenti ketika terdengar ketukan pintu, "sekarang juga."


"Sekarang?!" Yugyeom berseru marah. "Aku tak dapat melakukan sekarang. Di bawah ada tiga pria yang datang kemari meminta persetujuanku untuk melamar Lisa."


Neneknya menghalau masalah itu hanya dengan menjentikkan jarinya secara anggun. "Aku akan memberi tahu Ramsey agar menyuruh mereka pergi." Sebelum Yugyeom dapat memprotes, dia sudah membuka pintu dan membiarkan Lisa masuk, dan Yugyeom menatap kagum ketika melihat sikap neneknya langsung berubah 180 derajat.


"Lisa," kata wanita itu dengan tegas, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa sayang, "tingkah lakumu membuat kami benar-benar khawatir. Aku tahu kau tidak ingin membuatku cemas karena aku sudah tidak muda lagi,"


"Membuatmu cemas, Ma'am?" ulang Lisa, waspada. "Tingkah lakuku? Apa yang telah ku lakukan?"


"Aku akan mengatakan kepadamu," jawab wanita yang lebih tua itu, lalu tanpa ampun lagi melakukan serangan yang ditujukan untuk mengintimidasi, membuat cemas dan memaksa Lisa agar mau menikah dengan Yugyeom begitu ia menutup pintu.


"Keruwetan yang kami alami ini bukan semata kesalahanmu," wanita tua itu memulai kalimatnya, kata-katanya mengalir bagai rentetan peluru. "Tapi faktanya adalah jika Yugyeom tidak mendengar rencana perjalananmu ke Cadbury dengan seorang pemuda bangsawan tidak bijaksana, dan datang tepat waktu menjemputmu, kau bisa-bisa mendapati dirimu sudah berada di Wilton, dipermalukan sejadi-jadinya, dan terpaksa harus menikah dengan bajingan itu. Jalan-jalan iseng, bermain mata dengan pengagum yang satu ke pengagum yang lain, ini harus dihentikan segera. Semua orang mengira kau sedang bersenang-senang, tapi aku tahu yang sebenarnya! Kau bertingkah liar dan memalukan seperti ini hanya untuk menyakiti Mingyu. Untuk menunjukkan padanya bahwa kau bisa menandingi dia, apa yang dia perbuat bisa kau perbuat juga. Well, kau tidak bisa, sayangku! Petualangan kecilmu itu tak ada artinya bila dibandingkan dengan yang dilakukan para pria, terutama pria seperti Mingyu. Lebih jauh lagi,"


Wanita tua itu menjelaskan dengan nada suara meninggi yang menandakan dia akan menyampaikan berita yang sangat penting, "Mingyu sudah meninggal."


Lisa menatap sang nenek dengan tatapan bingung. "Aku sudah tahu."


Sambil mengangkat tangannya, wanita tua itu menembakkan amunisi terakhirnya, "Selain bersenang-senang, kau memerlukan sesuatu untuk menyibukkan pikiranmu, Lisa. Suami dan anak-anak adalah hal yang tepat untuk itu. Kau telah menari sesuai irama, sayangku, dan sekarang ku rasa sudah saatnya kau membayar peniup serulingnya. Gaun-gaun untuk menghadiri berbagai pesta itu sangat mahal harganya, dan kami bukan pabrik uang. Aku akan meninggalkan kau dan Yugyeom untuk membicarakan detailnya." Sambil tersenyum lembut kepada Lisa dan tersenyum mengancam kepada Yugyeom, wanita itu melenggang dengan anggun keluar dari pintu. Ketika membalikkan badan, ia berkata kepada mereka berdua, "Kali ini tolong rencanakan pernikahan besar-besaran di gereja, tapi secepatnya, tentu saja."


"Tentu saja," ujar Yugyeom datar. Lisa tak berkata apa-apa, hanya berdiri di tempatnya.


Sang Nyonya Kim memberengut ke arah Yugyeom dan mengarahkan kata-kata terakhirnya kepada Lisa. "Aku tak pernah mengakui ini sebelumnya, tapi aku orang yang percaya takhayul. Bagiku semua yang tidak dimulai dengan baik akan berakhir dengan tidak baik, dan pernikahanmu dengan Mingyu, well, itu upacara pernikahan yang menyedihkan dan memberiku firasat buruk. Upacara pernikahan megah di gereja adalah hal yang tepat. Masyarakat akan tertarik membicarakannya, tapi itu akan membuat mereka mengingat sesuatu yang lebih baik tentang dirimu dari pada semua skandal yang mendahuluinya. Tiga minggu dari sekarang kurasa cukup baik."


Tanpa menunggu jawaban, sang nenek menutup pintu dengan efektif menutup segala kesempatan bagi Yugyeom atau Lisa untuk memperdebatkan perkataannya. Ia tidak ingin mendengar protes semacam itu.


Ketika wanita tua itu sudah pergi, Lisa mencengkram sandaran kursi untuk mencari dukungan dan perlahan-lahan menoleh ke arah Yugyeom, yang sedang meringis ke arah pintu yang tertutup. "Dia ternyata lebih kejam daripada yang ku bayangkan selama ini," cetusnya dengan campuran rasa sayang dan putus asa sambil membalikkan badan untuk melihat Lisa.


"Hawk satu-satunya orang yang tidak bisa diintimidasi olehnya. Ayahku pun sangat takut padanya, begitu pula ayah Mingyu. Dan kakekku..."


"Yugyeom," sela Lisa dengan sedih, dicengkeram rasa bersalah dan bingung. "Apa yang telah ku lakukan? Aku tak tahu aku telah mempermalukan kita semua. Dan mengapa kau tidak memberitahu bahwa aku menghabiskan terlalu banyak uang untuk membeli gaun?" Rasa malu meliputi dirinya yang baru dengan sangat jelas, hidup berfoya-foya dalam kemewahan namun tanpa tujuan.

__ADS_1


"Lisa." Wanita itu membalikkan badan untuk menatap senyum Yugyeom dengan tatapan tak mengerti, "Kau baru saha menjadi objek pemerasan emosi yang paling hebat yang pernah ku saksikan sehingga kau mau tak mau menjadi merasa bersalah. Nenekku tidak meninggalkan celah sedikitpun." Yugyeom mengangkat tangan, tersenyum meyakinkan. Lisa meletakkan tangannya di telapak tangan pria itu dan Yugyeom menggenggamnya untuk menenangkan.


"Kesehatan nenekku baik-baik saja, kau juga tidak membuat kami jatuh bangkrut, dan kau tentu saja tidak memalukan nama keluarga Kim."


Lisa tidak yakin. Banyak hal dari perkataan sang nenek juga sering terlintas di benaknya. Sudah lebih dari setahun ia tinggal dengan orang-orang yang memperlakukannya seperti keluarga sendiri dan mengurusnya seperti seorang Nyonya muda, padahal ia bukan dua-duanya. Pada mulanya, ia membungkam akal sehatnya karena beranggapan sang nenek benar-benar ingin ditemani olehnya untuk menjalani bulan-bulan setelah Mingyu meninggal. Tapi akhir-akhir ini Lisa sudah tidak pernah lagi menemani sang nenek, sepertinya mereka tak punya waktu untuk satu sama lain, selain saling melambaikan tangan ketika kereta mereka berpapasan di jalan atau di tangga, sewaktu akan pergi ke acara masing-masing.


"Bagian tentang pergi ke Cadbury itu benar kan?" tanya Lisa sedih.


"Ya."


"Dia tidak menunjukkan rasa sukanya padaku layaknya para pria muda lainnya. Aku tak mengerti mengapa dia hendak menculikku."


"Nenekku punya teori menarik tentang hal itu. Ada hubungannya dengan anak laki-laki dan mainan. Coba tanyakan padanya suatu saat nanti."


"Tolonglah, jangan berteka-teki denganku!" Lisa memohon. "Ceritakan saja apa yang terjadi."


Yugyeom menjelaskan versi ringkasnya tentang percakapannya dengan neneknya. "Faktanya adalah," ia menyimpulkan, "kau terlalu menarik sehingga membahayakan keselamatanmu dan mengganggu ketentraman pikiran kami."


"Kau melebih-lebihkan!" Lisa terkekeh. "Pasti ada lagi selain itu."


"Seberapa besar kau menyukai masa debutmu?"


"Persis seperti yang kau gambarkan, menarik, elegan, dan semua orang begitu, elegan, menarik, dan aku belum pernah melihat kereta kuda yang begitu elegan atau..."


Bahu Yugyeom bergetar karena tertawa. "Kau benar-benar tak bisa berbohong."


"Aku tahu," jawab Lisa sedih.


"Kalau begitu kita bicara jujur saja, antara kau dan aku."


Lisa mengangguk, tapi masih ragu-ragu. "Seberapa besar aku menyukai musim ini di London?" ulang Lisa, kali ini mempertimbangkan pertanyaan itu dengan serius. Seperti semua wanita muda kalangan atas di London selama musim debut, ia tidur hingga tengah hari, sarapan di tempat tidur, lalu berganti pakaian setidaknya lima kali sehari untuk menerima kunjungan pagi hari, berjalan-jalan di taman, pergi ke pesta, acara makan malam, dan juga berbagai pesta dansa. Ia tidak pernah benar-benar sibuk. Namun selama menjalani pekerjaan yang seharunya menyita seluruh waktunya, yaitu bersenang-senang, satu pertanyaan terus menerus muncul di benaknya. Apakah hanya ini? Apakah tidak ada yang lain?

__ADS_1


__ADS_2