Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 28


__ADS_3

Lisa telah memberikan dua benda milik Lisa yang paling berharga, yaitu cinta dan jam emas. Dan yang dikatakan pria itu setiap kali hanyalah kata terima kasih yang canggung. Sepertinya hadiahku tidak membuatnya merasa nyaman, pikir Lisa.


Keheningan kikuk yang biasa muncul jika seseorang menyadari dirinya telah mengungkapkan terlalu banyak tentang dirinya sendiri terasa melingkupi kereta.


Pada akhirnya gerakan kereta yang terayun-ayun, ditambah hidangan hangat dalam porsi besar yang tadi disantap Lisa, membuatnya mengantuk. Meskipun interior kereta itu mewah, namun ia tak dapat menemukan posisi yang nyaman. Ia mencoba menyandarkan kepalanya di dinding kereta, tapi setiap kali kereta itu terlonjak, kepalanya terantuk dan ia terbangun. Sambil duduk tegak, ia menyilangkan tangannya di dada dan mencoba menyandarkan kepalanya ke kursi kereta. Lalu roda kereta menabrak selokan kecil dan tubuh Lisa dari pinggang ke atas langsung terpeleset ke kanan. Berusaha memegang tempat duduk, Lisa berusaha menegakkan tubuhnya lagi.


Di sebrangnya, Mingyu terkekeh lalu menepuk tempat duduk di sebelahnya. "Dengan senang hati aku menawarkan bahuku sebagai bantal, My Lady."


Lisa menerima tawaran itu dengan penuh rasa terima kasih dan dengan mengantuk pindah ke tempat duduk di sebelah Mingyu, tapi alih-alih hanya menawarkan bahunya, Mingyu juga menaikkan tangannya lalu melingkarkannya pada tubuh Lisa sehingga kepala wanita itu bersandar dengan nyaman di lekuk tangan dan dada Mingyu. My Lady, pikir Lisa dengan mengantuk. Betapa indahnya kata-kata itu terdengar bila diucapkan oleh Mingyu. Tak berapa lama ia langsung tertidur pulas.


Senja telah turun ketika Lisa bangun dan dengan terkejut menyadari ia berbaring nyaris di atas tubuh Mingyu. Di suatu waktu saat tertidur, Mingyu telah berganti posisi sehingga punggung pria itu bersandar di dinding kereta dan kakinya terjulur secara diagonal ke tempat duduk di sebrangnya. Lisa tidur menyamping dalam pelukan pria itu, kakinya saling mengait dengan kaki Mingyu, tangannya sendiri melingkari pinggang Mingyu.


Ngeri membayangkan Mingyu akan terbangun dan melihat ia berbaring di atas tubuhnya dengan posisi memalukan seperti ini, Lisa dengan hati-hati mengangkat pipinya dari dada kokoh pria itu. Berusaha memikirkan cara untuk memindaahkan tubuhnya tanpa membuat pria itu terbangun, ia mengintip pria itu dari balik bulu matanya. Tidur telah menghilangkan garis-garis keras pada wajah kecoklatan itu serta melembutkan garis rahanya yang keras, pikir Lisa penuh rasa sayang. Bila dilihat dalam keadaan seperti ini, pria itu tampak tidak begitu menakutkan, nyaris seperti bocah dan...


Ia bangun.


Mingyu membuka mata lalu menurunkan dagunya menatap Lisa. Selama sesaat wajahnya tampak bingung, seakan-akan tidak mengenali wanita itu, lalu ia tersenyum. Senyum pelan yang menggiurkan. "Apakah tidurmu nyenyak?"


Lisa, yang terlalu terkejut untuk bisa bergerak mengangguk dan berusaha mengangkat tubuhnya. Mingyu mengeratkan pelukannya, menahan Lisa agar tidak bergerak. "Jangan pergi," bisiknya, lalu sorot matanya yang sayu turun ke bibir Lisa yang lembut selama beberapa menit sebelum ia dengan perlahan menaikkan tatapannya ke mata hazel Lisa yang melebar. "Tetaplah di sini bersamaku."


Dia ingin aku menciumnya, pikir Lisa dengan senang bercampur cemas. Undangan itu terlihat jelas di mata kelabu Mingyu yang memukau itu. Dengan malu-malu, Lisa meletakkan bibirnya di bibir Mingyu dan merasakan pria itu meletakkan tangan di punggungnya, dan memberi semangat kepada Lisa.


Pria itu menciumnya seakan tanpa henti, ciuman yang lama dan memabukkan yang menggetarkan tubuh Lisa hingga ke sumsum tulang dan membuatnya menginginkan lagi dan lagi. Ketika merasakan tangan Mingyu sudah masuk ke balik kemeja sutranya, barulah Lisa tersentak dan berusaha melepaskan diri dari pusaran kenikmatan tempat ia membenamkan diri dengan suka rela. Tapi yang membuatnya mundur adalah rasa terkejut dan bersalah, bukan jijik.


Lisa meletakkan telapak tangannya di dada Mingyu, berusaha menarik napas, lalu ia mengangkat kepalanya, dengan malu berusaha menatap mata kelabu yang sayu itu.

__ADS_1


"Aku telah membuatmu terkejut," gumam Mingyu parau.


Itu benar, tapi Lisa melihat kilat geli di mata Mingyu dan dengan keras kepala berusaha tidak mengakuinya. Ia menerima tantangan tanpa kata-kata itu, kembali menyentuhkan bibirnya ke bibir Mingyu, dan kali ini tubuh Lisa telah tahu bagaimana cara merespon setiap sentuhan yang pria itu lakukan.


Sewaktu akhirnya Mingyu melepaskannya, napas pria itu nyaris sama tersengal-sengal seperti napas Lisa. pria itu mengangkat tangannya lalu mengelus pipi Lisa yang panas dengan buku-buku jarinya. "Begitu halus," bisiknya. "begitu polos."


Lisa menginterpretasikan kata polos berarti naif dan langsung melepaskan diri dari pelukan Mingyu dengan marah dan terluka. "Pastilah aku sangat membosankan bagi pria berpengalaman seperti dirimu."


Jemari Mingyu mencengkram tangan Lisa dan menariknya mendekat. "Itu adalah pujian," kata pria itu ketus, wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari wajah Lisa. Nada suaranya yang ketus membuat Lisa bertanya-tanya bagaimana sikap pria itu jika betul-betul marah. Dengan sedikit mengguncang tubuh Lisa, Mingyu menjelaskan. "Tak tercemar, murni, tanpa tipuan atau kepura-puraan. Kau mengerti?"


"Dengan sangat baik." balas Lisa, bereaksi terhadap nada suara Mingyu dan bukan kata-katanya, lalu semua itu terasa menggelikan sehingga ia tertawa keras-keras. "Apakah kita bertengkar mengenai betapa baiknya aku?"


Senyum Lisa yang sangat manis saat itu juga memadamkan api amarah Mingyu dan secercah senyuman berkelebat dimatanya. "Sepertinya begitu," jawabnya pelan, lalu dengan hati pasrah, Mingyu akhirnya menghadapi kenyataan bahwa ia tak dapat lagi berpura-pura bahwa tidak ada hasrat yang mendesak dan menggelegak di dalam diri Mingyu. Lisa membaringkan pipinya di dada Mingyu dan pria itu menatap lurus-lurus ke depan dari atas kepala wanita itu, dalam hati mengingatkan dirinya sendiri agarĀ  berpikir logis dan ia akan melakukan kesalahan jika membawa wanita itu ke ranjangnya malam ini.


Aku sama sekali tidak seperti itu.


Dia ingin memberi cintanya padaku.


Yang kuinginkan hanyalah tubuhnya.


Dia ingin dicintai olehku.


Satu-satunya cinta yang ku tahu adalah sesuatu yang berada di tempat tidur.


Dia tergila-gila padaku.

__ADS_1


Aku tidak ingin dibebani oleh anak yang tergila-gila padaku.


Di lain pihak,


Dia menginginkanku.


Aku menginginkannya.


Keputusan sudah diambil, Mingyu melihat ke bawah, "Lisa?" Ketika wanita itu mengangkat wajahnya dengan ekspresi bertanya, Mingyu berkata dengan nada tenang namun tegas, "Apakah kau tahu bagaimana bayi dibuat?"


Pertanyaan tak terduga itu membuat Lisa tertawa malu bercampur kaget dan saat itu juga pipinya bersemu merah. "Apakah.. Apakah kita harus membahasnya?"


Sudut bibir Mingyu terangkat, menertawakan diri sendiri. "Kemarin, aku akan berkata kita tidak perlu membahasnya. Satu jam yang lalu, aku mungkin akan berkata seperti itu juga. Sekarang, sepertinya kita harus membahasnya."


"Apa yang membuatmu berubah pikiran?"


Sekarang giliran Mingyu yang tampak bingung. "Ciuman tadi," jawabnya terus terang, setelah diam beberapa saat.


"Apa hubungannya ciuman itu dengan bayi?"


Mingyu menyandarkan kepalanya ke belakang, memejamkan mata, lalu mendesah letih bercampur geli. "Entah mengapa, aku tahu kau akan berkata seperti itu."


Lisa memperhatikan ekspresi janggal di wajah Mingyu, lalu ia duduk tegak dan dengan salah tingkah merapikan bajunya. Roseanne pernah berusaha meyakinkannya dua tahun lalu bahwa cara membuat bayi manusia hampir sama dengan cara membuat anak anjing, tapi otak cerdas Lisa menolak informasi itu bulat-bulat. Ia tahu manusia tidak akan berperilaku seperti itu, dan hanya orang lugu seperti Roseanne yang mau percaya omong kosong seperti itu. Lagi pula Roseanne juga percaya kalau kita memunggungi pelangi, kita akan tertimpa nasib sial, dan peri-peri bertempat tinggal di bawah jamur-jamur di hutan. Itulah sebabnya Roseanne berjalan mundur bila hujan dan tidak mau makan jamur.


Lisa mencuri pandang ke arah suaminya lalu memutuskan akan menanyakan satu pertanyaan sederhana mengenai hal yang tidak boleh diketahui para gadis, tapi menurutnya harus ia ketahui. Kakeknya sering berkata bahwa ketidak tahuan adalah penyakit yang hanya bisa diobati dengan bertanya, jadi, dengan penuh rasa ingi tahu, ia bertanya, "Bagaimana cara membuat bayi?"

__ADS_1


__ADS_2