Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 6


__ADS_3

"Benar-benar tak terbayangkan, Boo, sungguh!" seru Lisa kepada pelayan tua yang tertatih-tatih masuk ke kamar tidurnya sambil membawa setumpuk kecil kayu bakar.


Boo menyipitkan matanya yang rabun ke arah majikannya yang berusia tujuh belas tahun, yang sedang berbaring telungkup di atas tempat tidur. Dagu Lisa yang mungil ditumpukan di atas tangannya, tubuhnya dibalut pakaian yang biasa dikenakannya sehari-hari, yaitu celana ketat warna coklat dan kemeja usang.


"Ini benar-benar membingungkan," ulang Lisa dengan nada suara tak senang.


"Apa yang membingungkan, Nona Bruschweiler?" tanya Boo, seraya mendekati tempat tidur. Di hadapan majikannya, di atas sprei, terbentang sesuatu yang berwarna putih dan lebar, si pelayan rabun itu menyimpulkan benda itu kalau bukan handuk mungkin surat kabar. Sambil menyipitkan mata, ia menatap benda berwarna putih itu, yang di atasnya sepertinya banyak noda-noda hitam, sehingga akhirnya dia berhasil menyimpulkan dengan benar bahwa benda itu adalah surat kabar.


"Di sini tertulis," Lisa memberitahu seraya mengetuk-ngetuk surat kabar tertanggal 2 April 1813 itu dengan telunjuknya, "Nyonya Kim mengadakan pesta dansa untuk delapan ratus orang, diikutii dengan makan malam yang terdiri atas setidaknya 45 jenis makanan yang berbeda! 45 jenis makanan! Bisakah kau bayangkan betapa borosnya itu? Lalu," Lisa melanjutkan, tanpa sadar menyapu rambutnya yang bergelombang dari tengkuk sambil memelototi surat kabar yang membuatnya kesal itu," artikel itu terus menerus menceritakan tentang orang-orang yang datang ke pesta dengan pakaian yang mereka kenakan. Coba dengar ini, Sarah," ujarnya, sambil menegadah dan tersenyum sementara Sarah berderap masuk ke kamarnya sambil membawa setumpuk pakaian yang baru disetrika.


Sarah telah bertindak sebagai pengurus rumah tangga mereka sampai ayah Lisa meninggal tiga tahun yang lalu, tapi dikarenakan memburuknya keadaan keuangan keluarga Lisa seiring kematian ayahnya, wanita itu terpaksa diberhentikan bersama beberapa pelayan lain, terkecuali Boo dan istrinya, yang terlalu tua dan lemah untuk mencari pekerjaan. Sekarang Sarah hanya datang sebulan sekali, bersama seorang gadis desa, untuk membantu mencuci baju dan membersihkan rumah.


Dengan nada tinggi karena gusar, Lisa membacakan artikel itu kepada Sarah, "Nona Jung datang bersama dengan Tuan Choi. Gaun sutra kuning pucat yang dikenakan Nona Jung dihiasi taburan mutiara dan berlian." sambil terkekeh geli, Lisa menutup surat kabar itu dan menatap Sarah. "Bisakah kau percaya ada orang yang mau membaca omong kosong seperti ini? Memangnya ada orang yang peduli gaun apa yang dikenakan seseorang atau apakah penting untuk mengetahui jika seorang tuan baru saja kembali dari perjalanan singkatnya ke Skotlandia, atau gosip bahwa dia menunjukkan ketertarikan pada seorang gadis yang sangat cantik dan berkedudukan tinggi?"


Sarah mengangkat alis matanya dan menatap tak senang kepada pakaian yang dikenakan Lisa. "Ada beberapa wanita muda yang sangat peduli pada penampilan mereka," tukasnya.

__ADS_1


Lisa menerima sindiran yang bermaksud baik itu dengan riang, tidak tersinggung. "Butuh lebih dari pada sedikit taburan bedak dan pemerah pipi untuk membuatku menjadi seorang nona." Sudah sejak lama Lisa berharap akan keluar dari kepompongnya sebagai gadis berambut pirang yang cantik namun hal itu tak pernah menjadi kenyataan. Alih-alih, rambut coklat tuanya yang bergelombang itu dipotong pendek, dagunya masih mungil namun angkuh, hidungnya masih kecil, dan tubuhnya masih sekurus dan selincah anak laki-laki. Kenyataannya, satu-satunya hal yang luar biasa pada dirinya adalah matanya yang besar berwarna hazel kehijauan dengan bulu mata lebat yang seakan-akan mendominasi wajahnya, wajah yang sekarang sedikit kecoklatan karena bekerja dan berkuda di bawah sinar matahari, Walaupun begitu, rupa wajahnya sama sekali tidak membuat Lisa risau, ia punya banyak hal lain yang jauh lebih penting untuk dipikirkan.


Tiga tahun lalu, sepeninggal kakeknya dan tak lama kemudian ayahnya, secara teknis Lisa, meskipun istilah ini tidak tepat, menjadi 'kepala kelularga'. Ke dalam tangan belianyalah diserahkan tugas mengurus kedua pelayan tua, mengelola keuangan kelluarga, menjamin ada makanan terhidang di meja, dan menghadapi emosi ibunya yang suka meledak-ledak.


Seorang gadis biasa, yang dibesarkan dengan cara biasa, tak kan mungkin dapat menerima tantangan itu. Tapi sama sekali tak ada yang biasa pada penampilan Lisa maupun kemampuannya. Sebagai gadis belia, ia belajar memancing dan menembak agar bisa menjadi teman ayahnya jika pria itu datang berkunjung. Sekarang dengan sikap tegar, ia dapat menggunakan keahlian itu untuk memberi makan keluarganya.


Suara berkelontang kayu bakar yang dijatuhkan ke dalam kotak kayu mengalihkan semua perhatian dari gaun pesta bertabur berlian. Sambil menggigil menahan udara dingin yang meresap lewat dinding tebal rumahnya sehingga cuaca di dalam terasa lembab dan dingin meskipun di musim panas, ia melipat tangannya di depan dada. "Jangan hambur-hamburkan itu Boo," ujarnya lekas-lekas, ketika sang pelayan membungkuk untuk menambahkan segelondong kecil kayu bakar yang dibawanya tadi ke perapian yang menyala kecil. "Di sini tidak terlalu dingin," jelasnya, "hanya sedikit berangin. Sangat bagus untuk kesehatan. Lagi pula, aku akan ke luar beberapa menit lagi untuk menghadiri pesta ulang tahun adik laki-laki Roseanne, jadi tak ada gunanya menyia-nyiakan kayu bakar yang bagus."


Boo melirik ke arahnya dan mengangguk, tapi gelondongan kayu itu terlepas dari tangannya dan bergulir di lantai kayu yang kasar. Pria itu menegakkan tubuh lalu melihat sekelilingnya. Sadar akan keterbatasan penglihatan pelayannya, Lisa dengan lembut berkata, "Kayu itu di dekat kaki meja," lalu dengan penuh simpati memerhatikan si pelayan tua tertatih-tatih ke dekat meja lalu berjongkok, meraba-raba lantai di sekitarnya untuk mencari kayu. "Sarah?" Lisa tiba-tiba bertanya, ketika suatu perasaan aneh yang mendebarkan bergemuruh di dadanya, perasaan yang pernah juga dirasakannya tiga tahun yang lalu. "Pernahkah kau merasa bahwa sesuatu yang luar biasa akan terjadi?"


Sarah dengan efisien menutup laci meja lalu dengan cepat berjalan ke lemari baju. "Tentu pernah."


"Ya"


"Benarkah?" kata Lisa, matanya yang hazel bersinar, ingin tahu. "Apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Perapian runtuh, persis seperti yang ku peringatkan kepada ayahmu jika dia tidak segera memperbaikinya."


Tawa yang merdu terdengar dari bibir Lisa lalu ia menggeleng. "Bukan, bukan, maksudku bukan perasaan seperti itu." Dengan sedikit malu Lisa mengakui, "Sejak Kakek meninggal aku terkadang mendapat perasaan ini, tapi sudah seminggu ini perasaan itu bertambah kuat dan sering. Aku merasa seperti berdiri di pinggir jurang, menunggu sesuatu akan terjadi."


Terkejut mendengar suara menerawang Lisa dan sikapnya yang seperti melamun padahal biasanya gadis itu selalu logis dan penuh semangat, Sarah memperhatikannya lekat-lekat. "Menurutmu apa yang akan terjadi?"


Lisa bergidik lucu. "Sesuatu yang indah." Ia ingin berkata lagi, tapi pikirannya terpecah oles suara teriakan perempuan dari kamar tidur Paman Monty yang berada di ujung lorong, diikuti suara pintu dibanting, dan langkah kaki berlari. Lisa langsung menegakkan tubuh dan melompat turun dari tempat tidur dengan anggun, gerakan bersemangat yang lebih cocok dengan sifatnya yang sebenarnya dari pada sikap melankolis tadi. Pada saat yang bersamaan, gadis desa yang dibawa Sarah untuk membantu pekerjaan mencuci baju, berderap dengan marah ke dalam kamar tidur.


"Dia menepuk pantatku, sungguh!" sembur gadis itu, sambil menggosok pingganya. Ia lalu menaikkan tangannya dan menunjuk dengan sengit ke kamar Paman Monty. "Tidak seharusnya aku mendapat perlakuan seperti itu dari orang seperti dia, atau bahkan siapa pun! Aku gadis baik-baik, dan,"


"Kalau begitu bertingkahlah layaknya gadis baik-baik, dan jaga mulutmu!" hardik Sarah.


Lisa menghela nafas ketika menyadari tanggung jawab menjalankan keluarga ini kembali diserahkan kepadanya dan menghalau bayangan mengenai 45 jenis makanan dari benaknya. "Aku akan berbicara dengan Paman Monty," katanya kepada gadis yang sedang marah di hadapannya. "Aku yakin dia tak kan melakukannya lagi," lalu sambil tersenyum jenaka ia menambahkan, "Setidaknya, dia tak kan melakukannya lagi kecuali kau membungkuk di dekatnya. Paman Monty adalah... well... ahli menilai tubuh wanita, dan bila wanita tersebut memiliki bokong yang bulat, dia biasanya menunjukkan rasa kagumnya dengan menepuk, mirip peternak kuda yang menepuk pantat kuda yang berasal dari keturunan bagus."


Kata-kata itu dianggap sebagai pujian dan membuat kemarahan gadis itu mereda, karena meskipun tingkah laku Monty tidak gentleman, dia tetap seorang bangsawan.

__ADS_1


Sewaktu semua orang sudah pergi, Sarah menatap muram kamar yang telah kosong itu dengan majalah masih tergeletak di tempat tidur. "Sesuatu yang indah." ia mendengus, memikirkan betapa nelangsanya kehidupan gadisĀ  berusia tujuh belas tahun itu, yang berusaha, tanpa mengeluh, memikul beban keluarga yang aneh ini, yang hanya memiliki seorang kepala pelayan tua dan bungkuk yang terlalu angkuh untuk mengaku bahwa dia sudah mulai tuli serta seorang pelayan yang rabun.


Keluarga Lisa juga membebani Lisa sebagaimana para pelayannya, pikir Sarah kesal. Pamannya Monty, meskipun ramah, sangat jarang berada dalam keadaan sadar, meskipun tidak cukup mabuk untuk menyambar setiap kesempatan menunjukkan rasa sukanya pada setiap orang yang memakai rok. Nyonya Burschweiler, ibu Lisa, orang yang seharusnya mengambil tanggung jawab setelah Tuan Burschweiler meninggal, telah menyerahkan semua tanggung jawab mengelola rumah tangga ini kepada Lisa, dana itu merupakan bebas Lisa yang terbesar.


__ADS_2