Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 30


__ADS_3

Mingyu tahu bahwa dermaga adalah tempat yang tak aman di malam hari, terutama di saat ada kelompok-kelompok imigran gelap, kelompok yang menculik orang untuk dijadikan tentara, berkeliaran, yang tiba-tiba menyerang lalu memasukkan korban mereka yang tak sadarkan diri ke kapal perang, tempat mereka akan terbangun dan menyadari mereka mendapat 'kehormatan' menjadi pelaut selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Samapi kapal itu suatu saat nanti kembali ke pelabuhan.


Di lain pihak, Mingyu membawa senjata. Di sepanjang dermaga ia hanya melihat para pelaut masuk dan setelah berhasil selamat dari peperangan sengit bertahun-tahun di seantero Spanyol, ia merasa tak ada yang perlu ditakuti bila hanya pergi berjalan-jalan beberapa meter di dermaga sampai ke kedai minum.


"Mundur, bodoh, biarkan dia masuk ke dermaga," bisik salah satu bayangan itu kepada temannya ketika mereka bergerak tanpa suara menuruni jembatan di belakang Mingyu.


"Apa sih yang kita tunggu?" tukas bayangan kedua kepada rekannya sementara mereka menunggu di kegelapan di bawah teritis atap kedai minum, tempat sasaran menghilang. "Kita seharusnya memukul kepalanya lalu membuangnya ke laut, dan itu lebih mudah dilakukan saat dia ada di kapal."


Pria pertama tersenyum sinis. "Aku punya ide yang lebih bagus, lebih gampang, dan mendatangkan lebih banyak uang."


Mingyu keluar dari kedai minum membawa tiga cerutu besar di dalam kantong mantelnya. Sekarang setelah mendapatkan cerutu, ia tak yakin mau menyalakannya. Di belakangnya, dua bayangan tiba-tiba bergerak, sebuah papan berderit, tubuh Mingyu seketika menegang. Tanpa mengubah irama langkahnya, ia merogoh ke dalam mantelnya untuk mencari pistol, namun sebelum tangannya sempat menyentuh benda itu, kepalanya serasa pecah berkeping-keping dan amat sakit. Ia pun jatuh pingsan. Kemudian ia merasa seperti melayang terapung-apung menuju cahaya yang seakan memanggilnya di ujung terowongan.

__ADS_1


***


Lisa terbangun saat fajar oleh teriakan para awak kapal di geladak yang sedang bersiap-siap ,emgamgkat sauh. Meskipun kepalanya masih terasa seperti dijejali kapas, ia ingin berada di geladak untuk melihat sauh diangkat dan kapal mulai berlayar. Suamiku pasti punya pikiran yang sama, pikirnya sambil mengenakan gaun bersih dan menyelubungi tubuhnya dengan mantel wol warna ungu lembut yang senada dengan pakaiannya. Mingyu pasti telah bangun dan keluar dari kabin.


Ketika Lisa telah tiba di geladak, cakrawala seakan dihiasi oleh pita berwarna abu-abu dan merah muda. Awak kapal yang bergegas melakukan tugas mereka, berjalan mendahului Lisa untuk membuka gulungan tambang lalu bergegas memanjat tali. Di depannya, mualim satu berdiri dengan kaki terbentang lebar, membelakangi Lisa, meneriakkan perintah kepada anak buahnya yang sedang memanjat tiang kapal, Lisa melihat ke kanan dan kiri mencari suaminya, tapi sepertinya ia adalah satu-satunya penumpang yang berada di geladak.


Saat makan malam, ia mendengar Mingyu memberitahu sang kapten bahwa dia suka berada di geladak ketika jangkar diangkat dan layar dibentangkan. Lisa mengangkat roknya lalu berjalan menuju sang kapten ketika pria itu muncul di geladak. "Kapten, apakah anda melihat suami saya?"


"Sepertinya tidak, your Grace," jawab pria itu sambil lalu, matanya menatap langit yang mulai terang, menghitung sisa waktu yang dimilikinya hingga matahari benar-benar terbit. "Sekarang izinkan saya untuk..."


Merasa bingung sambil berusaha tak menghiraukan rasa cemas yang menjalar ke tulang punggungnya, Lisa kembali ke kabin lalu berdiri di tengah ruangan, tak tahu harus melakukan apa. Memutuskan Mingyu pastilah sedang pergi berjalan-jalan di dermaga, ia mengambil mantel coklat yang disampirkan Mingyu di punggung kursi setelah mereka naik ke kapal tadi malam. Sambil membawa mantel itu ke lemari untuk digantung, ia menggosokkan pipinya ke kain yang halus itu, menghirup aroma rempah minyak wangi Mingyu, lalu ia meletakkannya. Mingyu terbiasa mempunyai pelayan yang mengurusi bajunya, pikir Lisa sambil tersenyum sayang dan mengambil celana panjang coklat lalu membawanya ke lemari. Ketika membalikkan badan ia mencari mantel biru gelap yang dipakai Mingyu ketika pergi ke geladak tadi malam. Mantel biru itu tak tampak di mana pun. Begitu pula pakaian lain yang dikenakan Mingyu ketika terakhir dilihatnya. Artinya, Mingyu sama sekali belum kembali. Tidak mungkin ia tidur dengan pakaian bepergian.

__ADS_1


Lisa kembali pada sang kapten yang masih sibuk itu untuk menyampaikan keluhannya tentang Mingyu yang menghilang. Sang kapten bersimpati terhadap kecemasan Lisa, namun dia tidak ingin membiarkan ombak menghilang tanpa melayarkan kapalnya, dan ia sudah berkata demikian pada Lisa. Lisa sendiri dilanda firasat buruk hingga tubuhnya gemetar, tapi secara naluriah dia tahu tak ada gunanya memohon pada pria yang berdiri di depannya ini, sang kapten kapal. Ia harus menggunakan pendekatan lain, pikir Lisa.


"Kapten," katanya sambil menegakkan tubuh dan berbicara dengan nada yang ia harap cukup mirip dengan gaya angkuh nenek Mingyu, "Kalau suami saya terluka entah di mana di atas kapal ini, kesalahan ini akan ditimpakan kepada Anda, bukan hanya karena dia sampai terluka, tapi juga karena Anda lebih memilih tetap berlayar dan bukan membawanya turun dari kapal untuk diobati oleh dokter yang kompeten. Lebih jauh lagi," katanya sambil menjaga suaranya tidak gentar, "kalau saya tidak salah memahami ucapan suami saya kemarin, dia memiliki sebagian saham di perusahaan yang memiliki kapal ini. Apakah kau yakin akan tetap mengabaikan fakta menghilangnya suamiku, dan lebih memilih untuk menaikkan layar itu?" tutup Lisa dengan sikap angkuh yang berhasil ia pertahankan.


Cukup terkejut dan entah bagaimana, nada suara Lisa membuat sang kapten secara otomatis menghentikan semua kegiatan persiapannya. Dengan patuh ia, meminta beberapa awak kapal untuk menyisir semua sudut kapal untuk bisa menemukan sang bangsawan.


Waktu berlalu terasa sangat lambat. Lisa tak bisa berhenti menatap ke sekeliling. Melihat kearah kedai-kedai minum yang berderet di sepanjang dermaga. Berbagai pikiran mulai menyambangi Lisa. Membuatnya hampir kehilangan kendali.


Saat semua sudut telah diperiksa dengan teliti sebanyak tiga kali oleh setiap awak kapal, begitu pula dengan sekitaran dermaga, namun Kim Mingyu sama sekali tak terlihat. Ia seolah menghilang ditelan sesuatu. Hal ini memberikan guncangan bagi Lisa sendiri. Dan kapal dibatalkan pelayarannya.


Lisa tetap memerintahkan pencarian, dan jika perlu memperluas area pencarian, bahkan jika ke dalam laut itu mungkin. Lisa tidak ingin meninggalkan setiap kemungkinan terkecil sekalipun. Sang Kapten sendiri tak kalah cemasnya, bagaimana pun ini kasus besar dan pasti akan berpengaruh pada hidup dan pekerjaannya ke depan. Badai ini, adalah badai terbesar sepanjang karirnya sebagai seorang kapten berpengalaman.

__ADS_1


__ADS_2