
Lisa menggigit bibir ketika kata-kata Will terngiang lagi di telinganya. Lima hari... Nyonya Kim sudah lima hari tidak makan. Lisa juga hanya makan sedikit sekali, tapi ia masih muda, sehat dan kuat. Sikap Lisa melembut karena ia tahu jika sang nenek tidak sanggup makan berarti menghilangnya Mingyu membawa kesedihan yang mendalam yang tidak ingin diperlihatkannya.
Sambil mendesah penuh tekad, Lisa merapikan rambut di dahinya lalu memutuskan nampan itu adalah ajakan untuk berdamai. Ia memutuskan demikian karena tak mampu membayangkan wanita berusia tujuh puluh tahun itu mati merana.
Lewat pintu ruang duduk biru yang setengah terbuka, Lisa melihat sang nenek duduk di kursi bersandaran tinggi, menatap api di perapian. Meskipun sedang sedih, wanita tua itu tetap nampak agung. Namun sesuatu dalam sikap tubuhnya yang kaku dan menjaga jarak itu mengingatkan Lisa akan ibunya ketika ayahnya baru saja meninggal, sebelum ibunya berubah menjadi getir karena datangnya istri ayahnya yang satu lagi.
Lisa perlahan-lahan masuk ke ruangan, bayangannya tertangkap mata sang nenek sehingga wanita tua itu mengangkat kepala. Wanita itu cepat-cepat memalingkan wajah, tapi Lisa sempat melihat air mata di mata pucat sang nenek.
"Your Grace?" sapa Lisa dengan lembut sambil melangkah ke depan.
"Aku tidak memberimu izin untuk menggangguku di sini," hardik wanita itu, tapi kali ini Lisa tidak terperdaya dengan nada ketusnya.
Dengan nada lembut seperti yang ia pergunakan kepada ibunya, Lisa berkata, "Tidak, Ma'am, kau memang tidak memberiku izin."
"Pergi sana."
Terpukul tapi bertekad bulat, Lisa berkata, "Aku tidak lama-lama, tapi aku harus minta maaf atas perkataanku kepadamu beberapa menit lalu. Apa yang kuucapkan tadi sungguh tidak patut."
"Aku terima maafmu. Sekarang pergilah."
Tak menghiraukan pelototan sang nenek, Lisa berjalan maju. "Ku pikir, karena kita berdua harus makan, mungkin makanan itu bisa lebih ditoleransi kalau kita makan bersama. Kita.."
"Mungkin kita bisa menerima kehadiran satu sama lain,"
Amarah memercik di mata wanita yang perintahnya diabaikan oleh Lisa itu. "Kalau kau ingin ditemani, kau seharusnya pulang ke rumah ibumu, seperti saranku lima belas menit yang lalu."
"Tidak bisa."
"Kenapa?" tanya wanita tua itu dengan ketus.
"Karena," bisik Lisa dengan suara tercekat, "Aku ingin berada di dekat orang yang juga mencintai dia,"
__ADS_1
Rasa pilu terlihat jelas pada wajah sang nenek sebelum ia berhasil mengendalikan dirinya lagi, tapi pada saat itu juga Lisa dapat melihat derita yang mendalam yang disembunyikan di bawah topeng harga diri kaku wanita itu.
Hati Lisa pilu karena iba, namun ia berhati-hati untuk tidak memperlihatkannya. Ia lekas-lekas duduk di kursi depan sang nenek lalu membuka salah satu nampan. Perutnya bergolak ketika melihat makanan, tapi ia tersenyum. "Apakah kau mau seiris ayam yang lezat ini? Atau kau lebih suka daging?"
Sang nenek ragu-ragu sejenak, matanya menyipit menatap Lisa. "Cucuku masih hidup!" tukasnya, ekspresinya seakan menantang Lisa untuk menyanggah hal itu.
"Tentu saja dia masih hidup," Lisa segera mengiyakan, tahu dirinya akan segera diusir jika mengatakan tidak. "Aku mempercayai itu dengan sepenuh hati."
Sang nenek mengamati wajah Lisa, menilai kejujurannya, lalu ia mengangguk kecil ragu-ragu dan dengan parau berkata, "Sepertinya aku bisa makan ayam sedikit."
Mereka makan dalam keheningan yang hanya sesekali diusik oleh suara derak api di perapian. ketika Lisa bangkit dan mengucapkan selamat malam barulah wanita tua itu berbicara, dan untuk pertama kalinya dia menyapa Lisa dengan namanya.
"Lisa," bisik sang nenek parau.
Lisa membalikkan badan. "Ya, Ma'am?"
"Apakah kau..." sang nenek menarik napas panjang. "Apakah kau sering berdoa?"
Lisa menelan dengan susah payah dan mengangguk. "Dengan sepenuh hati,' bisiknya.
***
Selama tiga hari berikutnya, Lisa dan sang nenek menunggu sambil berdiam diri di ruang duduk biru, mengatakan sesuatu yang tak berhubungan, berbicara sambil berbisik-bisik tidak seperti biasanya. Dua orang yang dipersatukan oleh rasa takut.
Pada suatu siang di hari ketiga, Lisa bertanya kepada sang nenek apakah dia sudah memanggil Yugyeom.
"Aku sudah menulis surat kepadanya agar menyusul kita ke sini, tapi dia..." kalimatnya terputud ketika Will tiba-tiba muncul di pintu, "Ya, Will,"
"Sir Choi sudah tiba, Your Grace,"
Lisa dengan cemas melompat berdiri sehingga sulaman yang dipaksa sang nenek untuk dibuatnya jatuh berantakan, namun ketika pria terpandang bermata tajam itu masuk ke ruangan beberapa menit kemudian dan Lisa melihat raut wajah tanpa ekspresi itu, seluruh tubuhnya langsung gemetar ketakutan.
__ADS_1
Di sebelahnya, sang nenek sepertinya menarik kesimpulan yang sama karena wajah wanita itu berubah pucat pasi dan perlahan-lahan bangkit, bertumpu pada tongkat yang digunakannya sejak mereka tiba di rumah ini.
"Kau membawa berita, Coups? Ada kabar apa?"
"Para penyelidik sudah memastikan bahwa seorang pria dengan ciri-cirinya mirip Mingyu terlihat di sebuah kedai di dermaga tepat pukul sebelas pada malam ia menghilang. Dengan dibantu sogokan dalam jumlah besar, pemilik kedai itu juga ingat bahwa pria itu sangat jangkung, well kira-kira lebih dari 180 senti meter, dan berpakaian layaknya gentleman. Pria itu membeli beberapa batang cerutu lalu pergi. Kedai itu letaknya tepat di sebrang dermaga tempat kapal mereka bersandar dan kami yakin pria itu adalah Mingyu Kim.
S.Coups berhenti sejenak lalu dengan sedih berkata, "Apakah tidak lebih baik kalian duduk sambil mendengarkan ini?"
Usul yang mendebarkan itu membuat Lisa mencengkram pinggir kursi untuk bertumpu, tapi ia menggelengkan kepala.
"Lanjutkan," perintah Nyonya Kim dengan suara parau.
"Dua kelasi di kapal sebelahnya, yang bersandar tak jauh dari kapal yang akan dinaiki Mingyu, bersaksi bahwa seorang pria yang sangat jangkung dan berpakaian bagus pergi meninggalkan kedai, lalu ia dibuntuti oleh dua orang yang tampak seperti dua pemabuk biasa. Pelaut di kapal itu tidak terlalu memperhatikan karena mereka merasa sudah cukup mabuk. Tapi salah satu dari mereka merasa melihat pria jangkung itu dipukul kepalanya oleh salah satu pemabuk. Pelaut yang satunya tidak melihat kejadian itu, tapi dia melihat pria itu, yang disangkanya pingsan karena terlalu banyak minum, dibopong oleh salah satu penjahat lalu dibawa ke dermaga."
"Dan mereka tidak melakukan apa pun untuk menolongnya?" Lisa berteriak.
"Tak satu pun dari pelaut itu dalam kondisi yang siap menolong, ataupun terpikir untuk ikut campur dalam kejadian itu, yang sayangnya, sering terjadi di pelabuhan."
"Ada lagi, bukan?" sang nenek memperkirakan, matanya mengamati wajah suram pria itu.
Sir Choi, atau S.Coups, menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan-lahan. "Kami semua sedari awal sudah tahu bahwa press gangs, kelompok yang memaksa orang untuk masuk ke angkatan bersenjata, sedang beraksi pada malam kejadian itu, dan setelah kami mengadakan penyelidikan lebih lanjut, kami menemukan bahwa salah satu geng itu membeli seorang pria yang deskripsinya persis dengan Mingyu. Karena dia tidak punya kartu identitas apa pun mereka mengira dia hanyalah pria yang pingsan karena mabuk, mereka membayar para penjahat itu untuk mendapatkan Mingyu lalu mengirim dia ke salah satu kapal perang kerajaan Lancaster."
"Terima kasih Tuhan!" seru Lisa dengan penuh suka cita. Tanpa berpikir panjang ia meraih tangan sang nenek yang sedingin es lalu menggenggamnya erat-erat. Namun kata-kata Scoups berikutnya menjatuhkan semangat Lisa ke lubang yang dalam. "Empat hari lalu," ujarnya muram, "Lancester terlibat pertempuran dengan kapal perang Prancis. Salah satu kapal kita, yang sedang berlayar pulang dengan bantuan kabut tebal, rusak parah berkat pertempuran dengan kapal Amerika. Karena tak mampu membantu kapal satunya, Kapten kapalnya menyaksikan pertempuran itu lewat teropongnya. Ketika pertempuran selesai, kapal dari Prancis rusak parah.."
"Dan Lancester?" cetus Lisa.
Sir Choi berdeham. "Dengan sedih saya memberitahukan bahwa Kapal dari Lancester karam, dan semua awaknya tidak dapat ditemukan, termasuk His Grace, Mingyu Kim."
Lisa merasa ruangan itu seakan berputar, dadanya sesak ingin menjerit dan ia menekankan tangannya ke mulut, matanya dengan panik melihat ke wajag sedih sang nenek. Dilihatnya tubuh sang nenek limbung dan ia secara otomatis melingkarkan tangannya ke tubuh wanita yang menangis itu, membuainya seakan-akan wanita itu anak kecil, mengelus punggungnya, membisikkan kata-kata penghiburan yang hampa, sementara air matanya sendiri mengalir deras ke pipi.
Seakan-akan dari jarak yang sangat jauh, ia mendengar Sir Choi berkata akan memanggil dokter, dan sayup-sayup ia merasa seseorang dengan lembut namun tegas menarik nenek Mingyu yang sedang menangis itu dari pelukannya, sementara Will memegang tangannya dan membimbingnya ke atas.
__ADS_1